
Arya bekerja hingga pukul sepuluh malam, ia baru saja keluar dari gedung karena beberapa karyawan mengajaknya untuk duduk bersama sembari menikmati makanan yang sudah dibeli salah satu di antara mereka.
Langkahnya menuju halte, tempat di mana ia sudah membuat janji dengan seseorang.
Baru saja sampai, sebuah mobil datang dan membuka pintu yang berada di hadapannya. Ia menunduk sekilas, lalu
masuk.
“Terima kasih,” ujar Arya dengan datar karena tadi ia menyuruh Putri menghubungi pria itu untuk meminta tumpangan karena pulang cukup larut malam.
Ya, tadi Bagus hari ini memang kerja sampai malam karena berniat untuk segera mengumpulkan uang agar bisa kembali ke kampung halaman.
Ia berencana untuk kembali ke daerah asalnya setelah melunasi utang dan membuang kenangan menyakitkan di Jakarta karena sebentar lagi akan kehilangan Putri.
Tentu saja ia tahu jika beberapa bulan lagi, Putri akan melahirkan, jadi harus langsung menceraikan Putri saat itu terjadi. Kemudian setelah semua urusan beres, akan kembali ke kota kelahirannya dan menjadi orang tua tunggal untuk putra dan putrinya.
Saat tadi ia melihat nomor Putri yang menghubungi, berpikir bahwa sang istri ingin berbicara dengan Putra. Namun, merasa kecewa saat apa yang ditebak salah karena Putri awalnya bertanya apa sudah pulang. Kemudian saat ia menjawab belum, langsung meminta bantuan untuk menjemput Arya di halte.
Hati suami mana yang tidak sakit ketika istri menyuruh untuk menjemput pria saingan yang tidak mungkin ia kalahkan. Terpaksa, mungkin itu yang sangat mewakili perasaannya saat ini.
Namun, ia berusaha untuk bersikap biasa karena tidak tega pada Putri yang sedang hamil. Ia Tahu jika wanita hamil harus selalu dijaga perasaan agar tidak berdampak buruk pada bayi di dalam kandungan.
Itulah mengapa saat ini akhirnya bisa menjemput Arya dan berusaha untuk bersikap biasa karena tidak ingin ada keheningan seperti semalam ketika berada di dalam satu mobil.
“Baik. Semua berjalan baik.” Arya kali ini sudah tidak seperti kali terakhir bertemu Bagus karena sikapnya lebih bersahabat.
Bagus yang saat ini melihat Arya di sebelah kiri, menaikkan alis sambil menebak-nebak apa pekerjaan pria yang lebih muda darinya tersebut sangat berat.
Ia bukanlah orang yang tahu dunia perkantoran, sehingga begitu melihat wajah Arya, mengungkapkan pertanyaan.
__ADS_1
“Baguslah, tapi kenapa wajahmu terlihat lusuh begitu? Apa pekerjaanmu sangat berat? Tidak?" tanya Bagus yang tidak tahu Arya bekerja di mana karena tidak bertanya apapun pada Putri.
Berpikir jika bertanya tentang Arya pada Putri malah akan dicurigai dan ia tidak ingin ada kesalahpahaman.
Sementara Arya yang baru saja memasang sabuk pengaman, kini merasakan pertanyaan pria itu seperti sedang menginterogasi dan hanya dijawab dengan seadanya seraya beberapa kali mengembuskan napas.
“Ya, dunia perkantoran. Apa yang lebih parah dari kata lembur? Jika sudah ada kata itu, pasti segala sesuatu akan menjadi rumit.”
“Aku tidak paham dunia kerja perusahaan karena hanyalah seorang supir. Bagaimana keadaan Putri? Bukankah sebentar lagi ia akan melahirkan?” Bagus mencoba untuk membahas tentang wanita yang saat ini hanyalah status semata menjadi istrinya.
Arya yang awalnya menatap ke arah jalanan yang dilalui mobil taksi itu, kini beralih perhatian pada Bagus dan langsung mengungkapkan sebuah pujian karena sangat bangga memiliki Putri.
Menegaskan bahwa ia sama sekali tidak menyesal telah meninggalkan rumah dan memilihnya. Bahkan saat ini sudut bibirnya melengkung ke atas saat membicarakan kelebihan Putri.
“Ya, ia sangat baik. Putri tidak berhenti untuk bekerja di rumah. Meski dilarang, sungguh seenaknya tanpa memikirkan keadaan perut yang semakin membesar."
Tentu saja Bagus tidak ingin kalah dengan Arya dalam masalah menjadi seorang suami yang bertanggungjawab karena dari dulu tidak mengizinkan Putri bekerja karena ingin sang istri fokus pada rumah tangga sendiri.
“Ya, aku sudah tahu itu karena ia menceritakan padaku semuanya. Namun, ia sama sekali tidak pernah menyesal melakukan apapun karena mengerti bahwa aku bukanlah pria biasa sepertimu." Arya yang awalnya tertampar, seolah kini langsung bisa membalikkan keadaan.
Bahkan ia melanjutkan perkataannya untuk membuat Bagus tidak menyalahkannya. "Aku terlahir dari keluarga kaya raya dan tidak pernah bekerja kasar. Jadi, Putri memutuskan untuk membantu perekonomian keluarga saat aku sedang down dan masih belum terbiasa dengan hidup miskin."
“Seperti itulah istriku, sangat mencintaiku dan bisa memahami keadaanku," seru Arya dengan seulas senyuman dan wajah berbinar.
Hingga tanpa terasa, mereka sampai di depan gang untuk masuk ke rumah kontrakan.
Bagus hanya mengantarkan sampai di sana karena merasa sangat kesal serta cemburu dengan pengakuan Arya. Ia juga tidak ingin bertemu dengan Putri yang mungkin akan bersikap romantis di hadapannya.
***
__ADS_1
Seperti hari sebelumnya, Arya melakukan kegiatan yang sama. Dengan mandi dan mengganti pakaian di kamar tamu.
Kemudian ia makan makanan yang sudah disiapkan istrinya di meja makan. Kali ini tidak ada catatan kecil, hanya saja saat Arya berbalik badan untuk kembali ke kamar, Putri berdiri tepat di sana.
“Astaga! Kamu mengejutkan aku, Sayang. Kenapa kamu masih belum tidur?” tanya Arya dengan mengusap dadanya yang masih berdetak kencang karena efek terkejut.
Putri yang tadi terbangun karena haus, pergi ke ruang makan dan melihat pria yang tak lain sang suami sudah pulang dan mengungkapkan nada protes.
“Kenapa kamu tidak menggunakan kamar mandi di kamar kita? Lalu, bukankah ini pakaian yang sudah lama tidak kamu kenakan? Ini dari kamar tamu, bukan?”
“Sayang, aku tidak ingin mengganggumu.” Arya selalu beralasan hal yang sama. Meskipun ia sebenarnya sedang menyembunyikan sesuatu dari Putri.
“Tidak biasanya kamu seperti ini. Katakan padaku, apa yang terjadi?” ujar Putri yang merasa ada hal ditutupi oleh sang suami saat selalu pulang larut malam dan diam-diam seperti tidak ingin ketahuan.
Arya hanya mengusap bahu Putri, lalu menyuruh wanita itu duduk. Kemudian menghela napas, mengatur kalimat yang akan dikatakan setelah ini.
“Aku pulang malam karena lembur, mengambil bonus untuk tambahan agar ada biaya saat kamu melahirkan nanti. Aku sengaja tidak ingin mengganggumu dengan suara berisik dari kamar mandi."
"Aku tahu, kamu sangat lelah setelah bekerja. Maaf jika selama ini aku tidak bisa membantu.” Arya kini merengkuh tubuh Putri yang terlihat gemuk saat hamil dan memeluk pada posisi miring agar tidak terganggu dengan perut buncit itu.
Seakan tidak biasa mendengar kalimat yang dikatakan sang suami. Putri menyentuh dahi Arya, lalu berkata, “Arya, kamu baik-baik saja, kan? Kenapa berkata seakan-akan ini bukan kamu?”
Arya tersenyum, lalu mencium kening Putri perlahan. Ia mengajak Putri untuk kembali ke kamar dan beristirahat. "Kamu sepertinya masih belum sadar dari mimpi. Jadi, berpikir yang ada di hadapanmu bukan aku."
“Tidur, besok kita akan bekerja lagi. Jangan sampai kamu kesiangan karena berdebat tentang malam ini.”
Setelah mengatakan kalimat itu, Arya tidak mengizinkan Putri untuk menjawab. Pria itu meletakkan jarinya tepat di bibir sang istri, lalu mengusap keningnya dengan lembut. Kemudian mengajak ke tempat peraduan nyaman mereka.
To be continued...
__ADS_1