
Sudah dua minggu Putri dan Arya berada di rumah kontrakan baru. Kebutuhan yang semakin banyak, sedangkan Arya hanya bermalas-malasan di rumah.
Pria itu bahkan tidak perduli saat Putri mengeluh ingin memeriksakan kehamilannya. Arya justru mengomel dan berkata hal-hal yang membuat Putri sakit hati.
Setiap hari, Arya tidak pernah mau makan makanan yang dimasak Putri. Makanan yang sederhana membuat Arya selalu murka dan tidak selera untuk memakannya. Bahkan, Arya lebih sering keluar saat Putri memasak dengan menu sederhana.
Arya benar-benar sangat frustasi karena sang ayah tidak kunjung menyuruhnya pulang dan memilih untuk melampiaskan pada Putri karena berpikir bahwa semua adalah salah wanita itu.
Seperti pagi ini, Putri sengaja hanya menggoreng telur saja, hidangan itu dilempar hingga berserakan di lantai. Putri hanya bisa menatap Arya kesal.
“Itu makanan, kenapa kamu buang? Sudah susah cari uangnya, sekarang makanan kamu buang!” Putri mengomel sembari membersihkan makanan yang berserakan.
“Makanya, masak itu yang bener! Ini apa? Kamu pikir aku ini anakmu yang bisa makan makanan seperti ini?” Arya yang kini sudah tidak bisa bersabar menghadapi semuanya, dengan wajah memerah berteriak hingga suara memecahkan keheningan di kontrakan.
“Kalau tidak mau makan, sebaiknya kamu kerja dan cari uang lebih untuk bisa memasak menu yang sesuai seleramu! Jangan seperti ini!” Putri masih berusaha untuk bersabar menghadapi sikap Arya yang benar-benar sangat keterlaluan karena sama sekali tidak menghargai usahanya.
Merasa bertambah kesal, Arya kini menggebrak meja. “Argh! Banyak omong kamu! Kenapa bukan kamu saja yang bekerja? Jangan paksa aku karena orang tuaku nanti pasti akan memanggilku untuk kembali memimpin perusahaan keluarga!”
Putri yang baru saja bangkit berdiri, berjenggit kaget hingga langkahnya sedikit terhuyung setelah mendengar teriakan Arya. Rasa sakit yang dirasakan di dalam hati, membuatnya berkaca-kaca. Jika seperti ini, mereka bisa saja mati kelaparan.
Keegoisan Arya tidak bisa ditoleransi, tetapi ia sendiri tidak bisa melepaskan suaminya demi kehidupannya dan anak yang ada di dalam rahimnya.
Pasrah, Putri memilih diam. Langkahnya kini menuju keluar rumah, dengan wajah sedih dan bingung, ia mencoba untuk datang ke beberapa rumah yang terlihat mewah.
Putri memutuskan untuk mencari pekerjaan di rumah-rumah orang kaya yang ada di sekitar rumah sewanya.
Satu persatu pintu diketuknya untuk bertanya, tetapi belum ada yang menerimanya.
Hingga akhirnya, sebuah rumah yang berjarak tiga ratus meter dari rumahnya memberikan kesempatan.
Putu menceritakan kebutuhannya untuk bisa pergi ke rumah sakit dan menabung untuk persiapan melahirkan. Mendapatkan suami pengangguran, membuatnya menjadi wanita kuat dan berpikir mandiri.
“Jadi, kamu sedang hamil empat bulan?”
“Iya, Nyonya.”
“Ya sudah, pekerjaannya tidak banyak. Hanya mencuci pakaian, di belakang sana. Lalu dijemur dan disetrika. Jika kamu masih bisa melakukan kegiatan lainnya, menyapu dan mengepel bagian ruang tamu hingga dapur. Untuk lantai dua dan kamar sudah ada asisten rumah yang lain.”
“Terima kasih, Nyonya.” Wajah Putri seketika berbinar begitu mendengar ia diterima bekerja di rumah yang sebenarnya tidak lebih besar dari keluarga Arya.
Namun, ia terpaksa harus rela hidup menderita di awal-awal pernikahan dengan harapan suatu saat nanti Arya kembali diterima oleh orang tuanya dan pastinya akan mengubah seluruh hidupnya.
“Kamu bisa memulainya hari ini dan pulang setiap pukul lima sore.”
“Baik, Nyonya. Sekali lagi terima kasih karena sudah mau menerima saya bekerja di sini,” ucap Putri dengan binar wajah penuh kebahagiaan sekaligus kelegaan.
Wanita itu memanggil asisten rumahnya yang lain untuk menunjukkan apa saja yang akan dikerjakan di sana.
“Sini! Ini tempat mencuci pakaian, menjemur, lalu di sana keranjang baju kering yang siap disetrika.”
“Iya.”
“Jangan lupa untuk memisahkan pakaian yang berwarna di sebelah sini, lalu pakaian putih di sini.”
__ADS_1
Mengerti dengan penjelasana asisten rumah itu, Putri mulai bergerak mencuci pakaian di sana. Meski terasa lelah dan terkadang perutnya mengeras seperti kram, ia tidak menyerah untuk bisa mendapatkan uang demi anaknya.
“Kalau capek, berhenti sebentar, ya? Kasihan kandunganmu," ujar wanita yang selama ini bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah itu dan merasa senang ada teman yang akan meringankan pekerjaannya.
“Terima kasih.” Putri sebenarnya merasa sangat miris dengan nasibnya karena harus bekerja saat posisinya sedang hamil benih pria yang merupakan keturunan konglomerat.
Menyadari bahwa dulu ia hanya fokus mengurus rumah tangga sendiri tanpa bekerja karena Bagus tidak pernah mengizinkannya bekerja.
Tentu saja ada penyesalan yang diam-diam menggerogoti hatinya, tetapi menyadari tidak bisa berbuat apapun selain menerima semuanya.
Di tengah pekerjaannya, ponselnya berdering. Ada nama Arya di sana.
Di kontrakan, Arya sedang mencari keberadaan Putri yang menghilang begitu saja dari rumah.
Sementara itu, Putri tidak memperdulikan panggilan telpon itu dan memilih untuk mematikan ponselnya selama bekerja.
Satu persatu pekerjaan selesai, Putri merasa lega dan ingin segera melakukan pekerjaan lainnya. Akan tetapi, tiba-tiba saja perutnya terasa sakit karena duduk terlalu lama.
Ia pun melakukan beberapa gerakan untuk melemaskan tubuhnya. Ini adalah kehamilan ketiganya, tentunya sudah terbiasa dengan keadaan ini.
Mencuci dan menjemur menghabiskan waktu hampir tiga jam. Putri bahkan melewatkan waktu makan siangnya dan memilih untuk melanjutkan pekerjaan selanjutnya.
Namun, asisten utama di sana menyarankan padanya untuk makan terlebih dahulu. Asisten rumah itu memberikan satu piring nasi dan lauk.
“Makan dulu! Kasihan bayimu kalau tidak ada makanan yang masuk.”
“Terima kasih.” Putri menerima piring itu dan mulai menikmati makanan yang diberikan padanya. Saat ini, ia bahkan tidak perduli dengan Arya yang ada di rumah.
Pria itu pasti bisa mendapatkan makanannya sendiri. Setelah makanan habis, ia kembali bekerja dan menyelesaikan semua tugas sebelum jam lima.
“Kalau masih ada pekerjaan lain, bisa saya lakukan, Nyonya.”
“Ya sudah, kamu sendiri yang tahu batas kemampuan tubuhmu. Kamu bisa menyapu dan mengepel di sana, alat-alatnya ada di belakang.”
“Baik, Nyonya.” Putri tampak bersemangat untuk mencari uang di sana. Bagaimana pun, ia memerlukan banyak biaya demi kehamilannya dan juga kebutuhan rumah.
Tepat pukul lima, Putri selesai dengan pekerjaannya. Pemilik rumah itu memanggilnya dan memberikan beberapa lembar uang.
“Ini untuk hari ini, jika mau datang lagi, lusa saya membutuhkan tenaga untuk melakukan pekerjaan yang sama seperti hari ini.”
“Terima kasih, Nyonya. Saya akan datang kemari.”
“Oh, ya. Ada rumah yang di ujung jalan membutuhkan bantuan juga. Jika kamu mau, langsung saja ke sana besok pagi.”
“Baik. Sekali lagi terima kasih atas informasinya, Nyonya.” Putri berpamitan dan berjalan kembali ke rumahnya setelah sang majikan menganggukkan kepala.
Wajahnya tampak senang menerima beberapa lembar uang untuk makan dan memeriksakan kandungannya.
Sampai di depan rumah, ia masuk dan tidak menemukan Arya di manapun. Ia teringat bahwa ponselnya dalam keadaan mati.
Putri segera menghidupkan lagi ponselnya dan melihat ada banyak sekali pesan masuk dari Arya Pria itu sangat murka dengan kepergiannya yang tanpa berpamitan.
Putri membalas pesan dari Arya. Tidak lama kemudian, pesan itu terbalas dengan singkat dan sebuah permintaan untuk makanan yang layak pun disematkan di sana.
__ADS_1
“Baru saja aku dapat uang, Arya sudah memintanya untuk makan-makan yang enak. Dasar anak manja!” gerutu Putri sembari menyiapkan bahan makanan yang disimpan di lemari pendingin.
Ya, ia masih menyimpan beberapa bahan premium di lemari penyimpanan tanpa Arya tahu. Putri menggunakan akalnya untuk membuat Arya percaya bahwa memang tidak ada makanan di rumah.
Hanya saja, kali ini sedang senang, tangannya dengan terampil memotong daging dan menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.
Makan malam tersedia di atas meja. Namun, Arya masih belum menampakkan batang hidungnya di sana. Entah ke mana sang suami pergi seharian ini, selalu saja pikiran Putri merasa ada yang mencurigakan dari gelagat suaminya.
Tidak lama setelah itu, Arya datang dengan membawa camilan. Putri sudah percaya diri bahwa makanan itu pasti untuk dirinya, tetapi nyatanya sangat pahit. Arya bahkan tidak membagi makanan ringan itu.
“Makan dulu. Aku sudah susah payah memasak ini dan mencari uang untuk bisa makan semua ini.”
“Nah, ini baru makanan. Terima kasih, Sayang. Kamu memang sangat pandai dalam segala hal, tidak hanya di atas ranjang, tetapi juga urusan rumah dan makanan.” Arya tersenyum puas saat memuji Putri dan melayangkan satu kecupan singkat di bibir.
Putri hanya diam dan bergabung dengan Arya di sana, duduk dan menikmati makanan yang sudah dimasak sendiri. Di tengah kegiatan makan itu, Putri meminta Arya untuk menemaninya ke dokter.
Sudah waktunya untuk memeriksakan kandungan. Ia hanya ingin memastikan bahwa bayi yang dikandungnya dalam keadaan baik-baik saja.
“Kita periksa besok sore. Aku akan mengantarkanmu.”
“Ya, tapi apa kamu memiliki uang lebih untuk membayar tagihan obat dan vitaminnya?”
Arya hanya menggelengkan kepala sambil menikmati makanan. “Tidak, bukankah kamu memiliki uang itu?”
Hati Putri seakan diiris dengan pisau. Bagaimana bisa Arya berkata kejam tentang keuangan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Putri yang merasa kesal, hanya bisa menghela napas dan menenangkan diri.
Selesai dengan kegiatan di meja makan, ia memilih untuk segera beristirahat. Pekerjaan lain sedang menunggunya besok.
Namun, Arya menghalanginya untuk kembali ke kamar. Pria itu menyuruh istrinya untuk memijat punggungnya yang terasa lelah setelah berada di luar seharian.
“Aku capek! Aku kerja seharian tadi," ucap Putri dengan wajah masam.
“Pijat sebentar saja tidak mau? Aku ini suamimu, jadi kamu harus menurut padaku!” Arya berbicara sambil merebahkan tubuh di atas ranjang pada posisi tengkurap karena bersiap untuk menerima pijatan.
Meski berdecak kesal, kini tangan Putri yang terasa kaku harus kembali bekerja memijat bahu Arya
Beberapa menit berlalu, ia sudah merasa sangat lelah dan ingin segera memejamkan matanya. Ia pun menghentikan kegiatan memijat itu dan berkata pada Arya bahwa tangannya sangat sakit jika terus memijat.
“Tidur sana! Besok jangan lupa memasak yang enak, seperti hari ini. Aku yakin, uang hasil pekerjaanmu masih bisa digunakan untuk hal lainnya, bukan?” Arya kini membalikkan badan dari tengkurap menjadi telentang.
“Arya, uang itu akan aku tabung. Aku juga membutuhkan biaya untuk melahirkan. Jika kamu terus seperti ini, bisa-bisa aku melahirkan tanpa bantuan dokter.”
“Nah, itu lebih baik karena akan lebih murah. Jika memang kamu bisa, kenapa tidak?” Kemudian Arya melenggang pergi. langkahnya terhenti saat Putri bertanya mengenai kepergiannya.
“Mau ke mana? Ini sudah malam!” Putri yang belum selesai berbicara, kembali merasa kesal karena Arya selalu pergi sesuka hati.
“Aku punya urusan, tidur saja dulu. Jangan tunggu aku! Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau besok harus bekerja?” Arya kembali melangkah dan menghilang di balik pintu.
Hingga Putri mengacak rambutnya, kesal dan ingin sekali mengumpat. Namun, tidak bisa melakukan apapun. Kini, ia yang merasa sangat lelah, memilih untuk kembali berbaring dan mencoba memejamkan mata, agar keesokan harinya bisa kembali bekerja dengan baik di rumah tetangga.
Ia merasakan tulang-tulangnya seperti mau terlepas dari tempatnya karena seharian bekerja. Berharap dengan beristirahat akan mampu memulihkan tenaganya di esok hari, agar bisa kembali bekerja.
Meskipun saat mata terpejam, bulir air mata kini lolos membasahi pipi putihnya dan mewakili perasaannya yang terluka karena sikap Arya yang sama sekali tidak memberikan perhatian padanya.
__ADS_1
To be continued...