Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
168. Menyempurnakan kebahagiaan


__ADS_3

Arya dengan sangat berhati-hati memperlakukan istrinya yang sedikit kesusahan saat berbaring karena efek perutnya yang semakin membesar, sehingga bercinta dengan gerakan yang lembut, tetapi berirama.


Keduanya seolah ingin menikmati malam ini dengan mengungkapkan perasaan masing-masing dengan percintaan panas mereka dan meledakkan hasrat dalam puncak kenikmatan hakiki.


Hingga keduanya kelelahan dan akhirnya tertidur di bawah selimut tebal dengan posisi saling berpelukan tanpa sehelai benang pun di tubuh mereka.


Kini, hanya suara napas teratur menghiasi ruangan kamar yang menjadi saksi bisu percintaan panas sepasang suami istri itu hingga kelelahan setelah memforsir tenaga mereka.


***


Keesokan paginya, Putri terbangun lebih awal dan langsung menyiapkan semua seorang diri. Mulai dari berbelanja, lalu memasak. Bahkan, untuk hari pertama suaminya bekerja, ia menyiapkan minuman hangat, dan makanan spesial yang sangat disukai Arya.


Dengan penuh semangat, Putri membuat semuanya. Semua bahan-bahan yang akan dimasak sudah dipotong dan dibersihkan.


Wanita dengan perut buncit itu menyiapkan alat memasak di atas kompor, lalu mulai meracik bumbu untuk membuat beberapa menu pada pagi ini.


Hampir saja kegiatannya selesai, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Siapa lagi jika bukan Arya—pria yang sangat ia cintai dan merupakan segalanya baginya.


Arya memberikan kecupan-kecupan lembut di leher Putri. Tangannya berada di perut yang terlihat semakin membesar itu, diusap perlahan, hingga timbul rasa nyaman.


Baru saja Arya menikmati kegiatan barunya, bayi di dalam perut pun ikut memberikan respon dengan menendang perut ibunya.


Arya bisa merasakan tendangan kecil itu, lalu ia membalikkan tubuh Putri dan merendahkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan perut buncit istrinya.


“Hai, jagoanku. Kamu sangat pandai menendang.” Arya berbicara dengan anak yang ada di perut Putri.


Wajahnya yang masih terlihat sayu karena efek bangun tidur, tetapi terlihat bersemangat saat merasakan pergerakan kuat dari calon keturunannya di perut buncit itu.

__ADS_1


Seolah melihat itu, membuatnya merasa sangat bersemangat untuk menyambut pagi dan juga hari pertamanya saat akan pertama masuk bekerja hari ini. Meskipun ia tidak tahu posisi apa yang akan diberikan oleh sang ayah, tapi merasa yakin jika pekerjaannya tidak akan berat di kantor nanti.


Tentu saja karena ia bisa meminta bantuan dari para staf perusahaan yang pastinya akan sangat menghormatinya. Melihat pergerakan bayi yang ada di dalam perut itu semakin kuat, hingga membuat sudut bibir melengkung ke atas karena sangat bersemangat.


Arya bahkan sudah memberikan kecupan lembut pada perut buncit itu. "Papa sangat menyayangimu, Sayang. Baik-baik di sana, ya. Sampai nanti kamu dilahirkan di dunia ini, kamu harus selalu sehat, oke!"


Sementara itu, Putri tidak berhenti tersenyum melihat interaksi dari sang ayah yang sedang mengungkapkan kasih sayang pada calon buah hati mereka.


Bahagia, hanya itu kata yang saat ini mengungkapkan isi hatinya. Air matanya menetes tanpa permisi, lalu Arya berdiri dan mengusap air matanya.


“Kenapa menangis?” ujar Arya yang kini masih sibuk mengusap air mata sang istri saat menangis tersedu-sedu di hadapannya hingga tubuh bergetar hebat dan membuatnya langsung merengkuh ke dalam pelukannya agar lebih tenang.


Putri semakin menangis tersedu-sedu dengan meluapkan perasaannya saat berada dalam dekapan hangat Arya. Hari ini merupakan yang paling membahagiakan baginya. Seolah ia ingin memuaskan diri untuk mengungkapkan apa yang saat ini dirasakannya.


Bahagia, terharu, mungkin sangat mewakili perasaannya saat ini ketika melihat sikap Arya yang sudah lebih baik padanya. Beberapa saat kemudian, ia yang sedikit lebih tenang, mulai membuka mulut untuk menjawab pertanyaan dari Arya.


Tentu saja Arya yang saat ini bisa mengerti semuanya karena memang dulu ia menjadikan Putri sebagai pelampiasan saat hidupnya berubah dari seorang tuan muda menjadi pria tidak punya apa-apa. Hal itulah yang membuat ia membiarkan Putri bekerja saat hamil karena berpikir impas karena sama-sama hidup menderita.


Hal itulah yang membuatnya dulu sama sekali tidak merasa iba pada Putri karena satu-satunya hal di otaknya adalah wanita itu membuatnya hidup menderita sebagai orang miskin.


Namun, saat waktu semakin berlalu dan melihat kandungan Putri yang membesar dan sering kesusahan saat berjalan. Bahkan ia bisa melihat jika kaki istrinya membengkak jika banyak bergerak dan berjalan, membuatnya tidak tega.


Apalagi saat merasakan pergerakan dari calon keturunannya, membuat ia benar-benar menyadari kesalahannya.


“Maafkan aku, Sayang. Aku sungguh berdosa sudah membuatmu tersiksa. Aku akan bekerja dengan baik di perusahaan mulai hari ini. Aku janji akan membuatmu dan anak kita bahagia mulai sekarang."


Putri yang kini sudah tidak menangis tersedu-sedu seperti tadi, tapi hanya sesekali sesenggukan. Ia yang kali ini menganggukkan kepala dan mempercayai semua perkataan dari pria dengan tangan kuat masih mendekapnya penuh kehangatan dan berhasil menenangkannya.

__ADS_1


“Ya, aku tahu kamu pasti bisa melakukannya, Sayang. Aku percaya padamu," ucap Putri yang kini merasa sangat bahagia tak terperi.


Sementara Arya yang dari tadi sibuk mengusap lengan Putri, kini merasa lega karena sang istri sudah berhenti menangis.


Mereka menyudahi aksi mengharukan dan memilih untuk duduk di kursi ruang makan. Keduanya menikmati makan pagi bersama. Kali ini Arya memilih untuk menyuapi Putri untuk mengungkapkan rasa cintanya.


Putri yang semakin bahagia, kini tidak berhenti tersenyum dan sudah membuka mulut, lalu mengunyahnya.


"Kamu sangat romantis, Arya. Sama seperti ketika pertama kali bertemu dulu. Hingga membuatku tergila-gila dan hilang akal."


Arya yang baru saja selesai mengunyah makanannya, kini hanya tertawa kecil saat mendengar suara Putri yang berkomentar atas tindakannya.


"Sama, aku juga merasa seperti itu dulu. Itulah kenapa aku bisa berbuat gila meninggalkan semuanya hanya demi bisa menikah denganmu walaupun hanya pernikahan siri. Kamu bagaikan seorang penyihir, Sayang." Arya mengedipkan mata untuk menggoda sosok wanita yang kini sudah memerah wajahnya.


"Kita sama-sama gila, Sayang," sahut Putri dengan tak berhenti mengulas senyuman.


Pagi ini, ia benar-benar selalu dipenuhi dengan senyuman karena merasa sangat bahagia hari ini setelah melihat Arya kembali seperti dulu lagi dan sangat berterima kasih pada bayi yang ada dalam kandungannya karena telah berhasil membuat seorang ayah jadi bertanggungjawab.


Mereka menikmati makanan hingga piring terlihat bersih dan makanan di atasnya habis tidak tersisa.


Kini, Arya mengamati makanan di atas meja yang masih banyak dan beralih menatap Putri. “Kenapa masak banyak hari ini? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan harus berhemat?”


Refleks Putri menggelengkan kepalanya karena tidak sependapat dengan pemikiran dari Arya.


“Aku bahagia melihat suamiku bekerja. Aku hanya ingin menyempurnakan kebahagiaan ini dengan menyambutmu menggunakan makanan ini. Apalagi nanti kamu akan mendapatkan penghasilan yang aku tahu tidaklah sedikit saat bekerja di perusahaan. Berbeda dengan gaji asisten rumah tangga yang hanya cukup untuk makan, bahkan terkadang kurang."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2