
Beberapa saat lalu, Putri yang terdiam dan mengamati ruangan cukup luas di hadapannya yang dari tadi sama sekali tidak diperhatikan.
Ruangan hotel yang dihiasi sofa dan lemari kaca dengan di dalamnya.
Ia kemudianmengerjapkan mata beberapa kali begitu melihat raut wajah penuh keseriusan dari Arya dan membuat degup jantungnya berdetak kencang karena merasa tatapan pria yang lebih muda darinya itu berhasil menghunus tepat di jantungnya.
"Aku ingin hubungan kita dipenuhi tantangan, Sayang." Arya mengamati reaksi dari sosok wanita yang ada di hadapannya.
Berharap Putri mengerti dengan apa maksudnya. Namun, pertanyaan Putri sudah menjelaskan bahwa wanita di hadapannya tersebut sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan olehnya.
"Apa maksudmu? Penuh tantangan yang bagaimana? Jangan membuatku pusing seperti ini," ujar Putri yang berharap Arya berbicara langsung ke intinya.
Tidak ingin membuang waktu, kini Arya memilih untuk mengungkapkan rencananya. Bahwa saat memikirkan orang tuanya, ia harus menyusun rencana sebaik mungkin.
"Buat pria itu menceraikanmu karena aku butuh alasan untuk membuat orang tuaku menerimamu. Jika kamu menggugat cerai dia karena berselingkuh denganku, aku yakin orang tuaku tidak akan menyukaimu. Akan berbeda jika dia yang menceraikanmu, berarti kamu adalah janda dan pantas untuk dimuliakan."
Arya berpikir bahwa seorang janda yang diceraikan suami akan membangkitkan rasa iba daripada seorang istri yang menuntut cerai. Jadi, ia berencana untuk diam-diam menjalin hubungan dengan Putri.
"Jangan menggugat cerai suamimu. Biarkan dia menceraikanmu. Dia pasti akan menceraikanmu saat mengetahui kamu berselingkuh denganku. Namun, kamu tidak boleh berhubungan **** dengannya mulai hari ini. Buat dia muak padamu dan memilih untuk menceraikanmu."
Penjelasan panjang lebar dari Arya kini telah dimengerti oleh Putri dan membuatnya kembali mengiyakan apapun perintah pria yang sangat digilainya tersebut.
"Jadi, kita akan berhubungan secara diam-diam seperti ini?"
"Jika kamu tidak keberatan, Sayang. Lagipula hubungan seperti ini jauh lebih menantang dan memicu adrenalin," ujar Arya dengan terkekeh.
"Suatu saat nanti, aku akan membebaskanmu dari pria lemah itu, Sayang. Apapun akan kulakukan demi bisa bersatu denganmu karena setelah kita saling menikmati satu sama lain, kamu adalah milikku," ucap Arya yang saat ini tengah menunggu jawaban dari wanita yang sangat ingin dinikahinya.
__ADS_1
Arya masih terdiam beberapa saat begitu menyadari bahwa Putri sedang merasa ragu. Kemudian ia memilih berbisik di dekat daun telinga wanita yang terlihat sangat seksi di hadapannya tersebut.
"Sekarang kita lanjutkan sesuatu yang tadi tertunda, Sayang. Aku akan berhenti jika kamu menyuruhku berhenti."
Mulut Arya memang sangat mudah mengatakannya, sementara respon tubuhnya yang sangat ingin segera mencapai puncak bersama Putri. Seolah berontak dan kini mulai memainkan sesuatu di bawah sana .
Putri yang tengah merasa kebingungan karena seolah pernyataan Arya malah menjerumuskan hidupnya.
Kini Putri terlihat menunduk ke bahu pria itu ketika merasakan wajahnya semakin memanas dan napasnya bahkan tersengal ketika Arya sangat lihai menggodanya.
Otak Putri seakan meleleh dan ia sadar telah menyambutnya dengan penuh gairah saat merasakan semua perbuatan Arya yang penuh kelembutan padanya.
Saat sudah tidak kuasa menahan kendali diri lebih lama, kini tangan Arya semakin bergerak dan menatap parau sambil mengeluarkan suara seraknya.
"Kamu adalah wanita pertama untukku dan juga terakhir karena aku hanya menginginkanmu di sepanjang hidupku, Sayang. Katakan padaku jika aku harus berhenti."
'Apa yang harus kulakukan di hadapan pria seseksi ini yang membuat seluruh urat syarafku menegang,' gumam Putri dengan degup jantung tidak beraturan karena benar-benar merasa sangat gugup.
Arya kini tidak membuang waktu. Ia bahkan sedikit membungkuk untuk mendorong lembut tubuh wanita yang dari tadi tidak mengeluarkan sepatah kata pun, seolah tidak bisa berpikir sama sekali.
Perasaan bergejolak yang kini tengah dirasakan oleh Putri benar-benar membuatnya seperti berubah menjadi orang lain, yaitu wanita pengkhianat yang mengkhianati pernikahan.
Ia bahkan merasa seolah-olah telah dilahirkan kembali karena menjadi orang lain saat bersama dengan Arya.
Saat ini, ia bisa melihat dengan jelas saat Arya menjulang di atas tubuhnya dengan lengan yang kuat dan tubuh mereka kini sudah saling bersentuhan. Hatinya semakin meleleh dan tidak sanggup berpikir saat pria dengan bahu lebar nan kokoh itu memblokir semuanya.
Dengan menelan kasar salivanya, Putri yang sangat mendambakan setiap sentuhan dari pria yang dari tadi menggoda tubuhnya, membuatnya seperti kecanduan dan menginginkan sentuhan yang membuat ia tidak bisa berpikir jernih karena telah kehilangan kendali diri.
__ADS_1
Tangan dengan jemari lentiknya kini menyentuh dada bidang itu dan semakin bergerak turun ke sisi tubuh Arya. Bahkan kini menggapai sekeliling punggung kokoh itu dan meluncur di atas otot-otot kencang yang setiap hari terlatih itu.
Perbuatan nakal Putri seketika membuat Arya mengerang keras. "Aku sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi, Sayang."
Arya kali ini seperti sedang menunggu sebuah keputusan dari wanita yang sudah terbaring di atas sofa tersebut dengan perasaan berkecamuk yang sangat luar biasa karena saat ia mendengar Putri menjawab berhenti, harus siap dan menahan diri.
Sementara itu, begitu mendengar pertanyaan Arya dengan nada suara serak itu, tentu saja membuat jantung Putri berdebar kencang dan respon tubuhnya menggelenyar mendengar permohonan serak dari Arya.
Putri yang kini memejamkan mata dengan sibuk memikirkan berbagai macam kemungkinan di otaknya. Apalagi pertanyaan dari pria dengan tatapan parau itu harus segera dijawabnya.
Merasa sangat lemah saat melihat wajah tampan pria di atasnya sudah memerah, membuatnya tidak tega dan hanya memberikan jawaban sebuah gelengan kepala.
Merasa sangat senang pikiran buruknya tidak terjadi, Arya sudah tidak membuang waktu karena ingin segera kembali mengulangi malam panas dan liar bersama wanita yang sangat dicintainya.
"Nikmati semuanya, Sayang," bisik Arya di dekat daun telinga Putri.
"Kita seperti pengantin baru, Arya? Tidak akan pernah puas meskipun melakukannya berulang kali. Apa kau mau menghajarku sampai besok pagi? Lalu aku tidak bisa berjalan." Putri saat ini tengah berpikir keras untuk mencoba mengalihkan perhatian Arya yang dipenuhi oleh kegiatan liar mereka.
Namun, ia gagal melakukannya saat Arya sama sekali tidak menanggapi apa yang baru saja ditanyakan.
Hingga ia berteriak dengan suara serak. "Arya!"
"Menjeritlah dan keluarkan padaku, Sayang," ucap Arya yang saat ini tengah tersenyum smirk pada Putri.
To be continued...
To be continued...
__ADS_1