
Beberapa saat yang lalu, Arya sudah memberikan kabar pada Putri jika hari ini sepulang kerja, ia akan langsung ke rumah sakit—tempat sang ibu dirawat.
Pukul dua siang, pria itu baru selesai bertemu dengan klien di luar dan setelah itu ia lanjut ke kantor untuk mengurus beberapa berkas jual beli bangunan yang sudah berhasil dijual pada customer.
Kemudian pukul empat sore, ia baru menyelesaikan pekerjaannya. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk langsung ke rumah sakit.
Akan membutuhkan waktu yang cukup lama jika ia harus pulang ke rumah terlebih dahulu karena jarak antara tiga tempat tersebut berjauhan.
Seperti yang dikatakan oleh sang istri, bahwa tidak mempermasalahkan hal tersebut karena mereka sudah membicarakan semua itu sebelumnya. Sang istri hanya berpesan agar Arya tidak sampai melupakan makan malamnya.
Saat tiba di rumah sakit, Arya melihat jika sang ayah belum ada di sana.
Hanya ada seorang suster yang memang ditunjuk khusus untuk menjaga sang ibu.
Sesampainya di ruangan ICU, Arya segera melakukan prosedur seperti biasa sebelum ia masuk ke dalam ruangan di mana sang ibu dirawat.
Seperti biasa, Arya menyapa dan mengajak berbincang wanita paruh baya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dan masih enggan untuk membuka mata sampai detik ini.
Banyak hal yang Arya ceritakan pada wanita tersebut. Arya juga menceritakan kisah masa kecilnya dulu.
Arya berusaha menceritakan hal-hal menyenangkan yang telah ia dan kedua orang tuanya lalui.
“Aku dan papa masih menunggumu, Ma. Kita akan pergi piknik bersama lagi jika nanti Mama sudah sembuh."
"Apakah Mama tidak ingin pergi piknik bersama kami lagi?” tanya Arya yang tentu saja tidak mendapat jawaban dari sang ibu yang masih belum membuka mata tersebut.
Ia baru keluar dari ruangan tersebut setelah suster yang berjaga mengatakan jika sang ayah sudah datang. Arya keluar dan bergantian dengan sang ayah untuk masuk ke dalam ruangan.
Sama halnya seperti yang dilakukan putranya, Ari Mahesa juga melakukan hal yang sama.
Ia melakukan berbagai cara agar wanita yang sudah puluhan tahun menemaninya itu bisa kembali sadarkan diri dan sembuh seperti sedia kala.
__ADS_1
Sama seperti hari-hari kemarin, Rani masih belum menunjukkan tanda-tanda pergerakan apapun.
Namun, Ari tidak akan pernah menyerah. Bahkan jika harus menunggu sampai beberapa tahun ke depan pun, akan ia lakukan.
Arya tidak langsung pulang saat sang ayah masuk ke dalam ruangan sang ibu.
Pria paruh baya tersebut berpesan agar putranya menunggunya di sana. Beberapa saat kemudian, Ari Mahesa keluar dari ruangan ICU saat suster mengingatkan jika jam besuk sudah berakhir dan mereka diminta untuk kembali lagi esok hari.
Arya mengikuti langkah sang ayah yang berjalan lebih dulu.
Hari ini sang ayah mengajaknya untuk makan malam terlebih dahulu dan ada hal penting yang akan pria paruh baya itu sampaikan.
Sebenarnya Arya sangat penasaran dengan apa yang ingin ayahnya katakan karena tidak seperti biasanya, pria paruh baya tersebut memesan meja yang cukup privasi untuk mereka makan malam.
Namun, Arya mencoba menahan diri untuk tidak bertanya, sampai mereka menyelesaikan makan malam.
Arya mengerutkan kening, tidak mengerti kenapa sang ayah justru menyodorkan sebuah amplop yang berlogokan sebuah rumah sakit di depannya.
Untuk menjawab rasa penasarannya, Arya akhirnya membuka amplop di atas meja itu dengan perlahan dan mengeluarkan isinya.
Berulang kali Arya membaca isinya, tetapi hasilnya tertap sama. Saat ini, ia merasakan sesak di dada. Ada sesuatu yang tak kasat mata tengah menghujam hatinya dengan begitu keras.
Hingga membuat aliran darahnya memanas dan tubuhnya terasa begiu lemas seketika.
Kini, Arya berucap dengan begitu lirih. Ia masih ingin menampik dengan apa yang ia baca. “Pasti ada yang salah dengan hasil tes DNA ini.”
“Maksud kamu, pihak rumah sakit ternama seperti itu akan melakukan kesalahan se-fatal ini?” tanya sang ayah dan mendapat anggukan pelan dari Arya.
“Arya, Papa tahu, pasti sangat sulit untuk menerima kenyataan ini, tapi kamu tidak bisa mengelak ataupun menampik kebenarannya.”
“Aku yakin ada yang salah dengan hasil ini, Pa” Kembali Arya menampik atas kenyataan yang baru saja diterima.
__ADS_1
“Terserah. Kamu bisa cari tahu sendiri kebenarannya pada pihak rumah sakit yang melakukan tes DNA tersebut.”
Kini, tidak ada lagi sanggahan yang Arya berikan untuk ucapan sang ayah. Ia hanya menatap tidak percaya pada kertas di tangannya.
Hasil tes DNA yang sengaja dilakukan oleh sang ibu satu minggu yang lalu telah menyatakan jika Arya bukanlah ayah biologis dari bayi yang dilahirkan oleh wanita yang selama ini dicintai.
Kebenaran itu seakan membalikkan keadaan dengan begiu cepat. Satu minggu belakangan dan terakhir ini seperti mejadi hari yang begitu berat dalam kehidupannya.
Belum lama ia bahagia karena menyambut kelahiran buah hatinya bersama istri tercinta dan juga restu yang ia dapat dari sang ibu untuk hubungan mereka, tetapi tiba-tiba saja dipukul oleh keadaan dan dipaksa untuk menerima kenyataan jika sang ibu terlibat kecelakaan yang membuat wanita paruh baya tersebut belum juga sadarkan diri hingga detik ini.
Sekarang, di saat ia bahagia karena pencapaian dalam pekerjaannya dan Putri yang mendukung kesembuhan sang ibu, tetapi di saat ini pula, harus mendapatkan kenyataan jika ternyata bukan ayah biologis dari Xander.
Tidak. Kenyataan macam apa lagi ini? Kenapa takdir seolah sedang bermain-main dengannya?
Bagaimana mungkin bayi mungil yang terlihat begitu mirip dengannya itu bukan anak biologisnya? Putri tidak mungkin mengkhianati cintanya.
Bukankah selama ini mereka hidup bahagia tanpa ada masalah yang berarti sedikit pun? Putri bahkan tidak pernah mengeluh selama mereka hidup bersama.
Segala macam pikiran berkecamuk dalam benak Arya. Ia masih saja terus mencoba untuk mengingkari kenyataan.
“Inilah alasan kenapa Papa dan mama kamu tidak pernah merestui hubungan kalian. Kami tahu, dia bukanlah wanita baik-baik. Bahkan rasanya untuk sekadar menyebut namanya saja, merasa jijik,” ucap Ari Mahesa dengan sorot mata yang dingin.
Arya menggeleng perlahan. bahkan terlihat sangat lirih. “Putri tidak mungkin mengkhianati aku, Pa."
"Kami saling mencintai dan aku percaya jika Xander adalah darah dagingku,” tukas Arya dengan penuh keyakinan.
“Papa tahu, kamu sangat mencintai wanita itu, tetapi jangan sampai menjadi bodoh dan dibutakan oleh cinta itu sendiri, Arya. Jangan sampai kamu hanya diperbudak atas nama cinta. Gunakan otak dan kecerdasanmu itu!"
“Putri bukan wanita seperti itu, Pa! Dia tidak mungkin bermain api di belakangku.” Arya masih saja terus membantah ucapan sang ayah.
“Di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin!” Ari Mahesa meninggikan satu oktaf lebih tinggi pada suaranya .
__ADS_1
To be continued...