Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
57. Tidak mungkin berselingkuh


__ADS_3

Refleks Aryaz mengerjapkan matanya begitu mendengar suara bariton bernada ancaman yang membuatnya menggaruk tengkuk belakang.


"Saya tidak akan berani, Tuan. Anda tenang saja karena saat wanita itu ke sini, saya akan bersembunyi di belakang rumah, agar tidak melihat dan jatuh cinta. Sepertinya kekasih Anda sangat cantik, Tuan."


"Tentu saja!" Arya yang kini meraih ponsel miliknya di atas nakas, mencari galeri foto yang menunjukkan beberapa gambar dari Putri yang diambil saat makan di Mall tadi. Kemudian menunjukkan pada pelayannya.


"Lebih baik kau melihat fotonya saja. Bagaimana menurutmu? Ingat, ini rahasia dan tidak ada yang boleh tahu karena aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk diperkenalkan pada orang tuaku," ucap Arya yang kini ingin meminta pendapat dari pria yang seumuran dengannya.


Selain itu, ia ingin mencari tahu seperti apa tipe wanita dari pelayannya yang merupakan putra dari supir keluarganya yang diajak bekerja di sini.


Saat mengamati beberapa foto dari layar ponsel, Aryaz tidak berkedip ketika menatapnya.


"Kekasih Anda terlihat sangat dewasa dan juga keibuan, Tuan. Pantas saja Anda sangat memujanya dengan memujinya. Ternyata memang fotonya sangat cantik. Pasti aslinya jauh lebih cantik."


Aryaz kini mengembalikan ponsel majikannya dan mendapatkan pertanyaan yang membuatnya kesulitan untuk menjawab.


"Bagaimana tipe wanita idamanmu? Apakah seperti kekasihku yang dewasa dan keibuan seperti katamu. Atau wanita yang manja dan manis serta kekanakan?" Menaruh ponselnya kembali di atas nakas dan beralih menatap ke arah pelayannya untuk menunggu jawaban.


Aryaz kini terdiam beberapa saat sambil menggaruk tengkuknya karena tengah memikirkan jawaban atas pertanyaan yang membuatnya harus memutar otak untuk mencari jawaban.


"Sepertinya saya harus bertemu dulu dengan seorang wanita, Tuan. Baru bisa menilai seorang wanita. Lagipula perasaan kita tidak bisa ditentukan karena saat merasa nyaman dengan seseorang, pasti akan langsung mengatakan iya. Bukankah Anda juga merasa demikian?"


Meskipun usia antara ia dan pelayannya sama, tetapi Arya merasa bahwa pemikiran dari pelayannya jauh lebih dewasa darinya, sehingga kini terlihat menganggukkan kepala tanda setuju.


"Kau benar. Perasaan manusia tidak bisa dipaksa maupun diatur dan selalu sesukanya. Bahkan tidak mempedulikan apapun saat memilih. Tidak mempedulikan perkataan orang yang menyalahkan atau membenarkan karena semua seperti air mengalir."


"Nanti saat kau menemukan wanitamu, jangan pernah melepaskannya jika tidak ingin menyesal." Menepuk pundak pelayannya dan tersenyum simpul. "Setelah mendapat pijatanmu, tubuhku sekarang sudah lebih baik dan tidak sakit semua."

__ADS_1


"Pergilah, aku mau tidur karena besok ada pekerjaan besar yang harus kukerjakan." Arya kini sudah mendapatkan ide untuk memberikan ujian tahap kedua pada Putri dan akan dikatakan besok pagi.


Malam ini, ia ingin beristirahat total untuk melemaskan otot-ototnya dan ingin menghemat tenaganya agar saat ia berniat untuk mengurasnya dengan Putri di apartemen sepupunya, tidak terlihat lemah dan mengecewakan wanitanya.


***


Suasana pagi di rumah kontrakan yang menjadi tempat tinggal Putri kini sangat berbeda karena saat ini terlihat Bagus tengah berada di dapur untuk memasak nasi dan menggoreng telur untuk bekalnya nanti.


Semalam, Putri sudah berpesan agar tidak membangunkan pagi-pagi sekali karena mengeluh lelah, sehingga ia yang bangun pagi dan langsung menyiapkan menu sarapan sendiri karena merasa kasihan dengan sang istri.


Mengerti bahwa sang istri sangat lelah karena semalaman menunggu putranya di klinik dan membiarkan Putri bangun sesukanya.


Hanya ada telur dan cabe di kulkas, akhirnya Bagus hanya menggoreng telur yang sudah diberi cabe dan bawang merah. Menu makanan paling praktis dan hemat yang selalu menjadi andalannya saat akhir bulan.


Ia selalu membawa bekal dari rumah, agar tidak makan di warung karena itu malah akan boros dan tidak bisa memberikan uang lebih pada sang istri. Apalagi menurutnya, makan masakan sang istri jauh lebih nikmat dan sehat dari pada setiap hari makan makanan di warung.


Sebenarnya ia ingin bertanya pada Putri, kenapa belum berbelanja kebutuhan dapur, sedangkan uang sudah diberikan beberapa hari yang lalu. Namun, ia yang mengerti bahwa mood sang istri sedang tidak baik, membuatnya memilih diam dan membiarkan Putri berbuat sesukanya agar tidak menyulut api amarah.


'Rasanya sangat aneh pergi tanpa pamit seperti ini dan tidak mencium istriku. Baru sehari saja rasanya rumah tangga kami sangat hambar. Bagaimana jika Putri terus berlanjut marahnya sampai beberapa hari, pasti akan sangat menyiksa.'


Bagus masih terdiam di tempatnya dan melihat pintu ruangan kamar masih tertutup. Di dalam hati, ia merapal doa agar sang istri segera menyadari kesalahan yang diperbuat dan tidak marah lagi padanya.


Hingga saat ia merasa sudah terlambat untuk bekerja, akhirnya menutup pintu rumah dan berjalan menuju ke arah yang menuju jalan utama.


Seperti biasa, ia naik ojek menuju ke tempat kerja karena selama ini bekerja sebagai supir taksi.


Pergi pagi, pulang malam selalu menjadi rutinitasnya karena ia tidak mempunyai mobil sendiri dan ikut orang. Sebenarnya ia bermimpi bisa mempunyai mobil sendiri, agar bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar karena tidak menyetorkan pendapatan pada bos.

__ADS_1


Namun, sudah sembilan tahun merantau di Jakarta, jangankan membeli mobil, untuk biaya hidup saja pas-pasan.


Bagus kini sudah naik ojek online menuju ke arah tempat yang menjadi ia mengambil taksi dan letaknya setengah jam lebih dari kontrakan.


Selama dalam perjalanan naik motor, ia tidak bisa melupakan perubahan sikap Putri. Semalaman ia memikirkannya dan sempat terlintas bahwa wanita yang sangat dicintai berubah karena godaan dari pria lain.


'Tidak, Putri adalah seorang wanita yang setia dan tidak mungkin berselingkuh. Lagipula, istriku selama ini hanya sibuk mengurus rumah dan anak. Bahkan ia tidak pernah keluar rumah.'


'Mungkin karena stres yang diakibatkan lelah dalam mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, membuatnya menjadi seperti itu. Selama ini, ia sepertinya menahan diri dan memendamnya di dalam hati. Kemarin semuanya meledak saat ia merasa stres karena lelah tubuh dan pikiran.'


Selama bergumam di dalam hati, Bagus kini mencoba untuk membesarkan hatinya, agar tetap bersabar pada Putri. Apalagi ia mengetahui bahwa usia Putri jauh lebih muda dengannya.


Ia ingin lebih dewasa dalam menyikapi semua sikap sang istri, agar rumah tangganya tidak dihantam prahara. Menganggap bahwa kesabaran akan membawa kebaikan dalam rumah tangganya.


Beberapa menu kemudian, Putri sudah tiba di tempat kerja dan langsung mendapatkan job untuk menjemput penumpang.


Begitu ia mengemudikan taksi menuju ke tempat tujuan, yaitu area kompleks perumahan mewah yang membuatnya selalu iri pada nasib orang-orang kaya yang dengan gampang mencari uang.


Sementara ia sudah bekerja pagi sampai malam hanya pas-pasan dan tidak pernah mempunyai tabungan banyak karena hanya sedikit dan terkadang selalu diambil jika ada keperluan mendadak.


Seperti kemarin, ia terpaksa mengambil uang tabungan untuk membeli rumah demi bisa membayar perawatan putranya di klinik.


Kini, ia tengah menunggu di depan sebuah rumah mewah dan di saat bersamaan terlihat seorang pria muda tengah memakai celana pendek dan kaos casual tanpa lengan dengan sepatu berwarna hitam.


Bagus yang awalnya menunggu di dalam mobil, melihat pria muda dengan paras rupawan tersebut tengah berjalan menghampirinya. Kemudian ia langsung keluar dari mobil untuk menyapa.


"Selamat pagi, Tuan. Saya menunggu Minah."

__ADS_1


Sementara itu, sosok pria yang tak lain adalah Arya Mahesa, berniat untuk gym seperti biasa. Namun, hari ini ia kesiangan karena tubuhnya yang pegal sudah jauh lebih baik setelah dipijat semalam oleh pelayan, sehingga membuatnya tidur nyenyak.


To be continued...


__ADS_2