Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
46. Gagal menjadi ibu yang baik


__ADS_3

Putri yang merasa sangat khawatir jika putranya mengalami kejang demam dengan tubuh berguncang hebat diiringi gerakan menyentak di lengan dan tungkai, serta kehilangan kesadaran.


Sebagai seorang ibu, ia sangat tahu bahwa penyakit step memang biasanya dipicu oleh demam tinggi yang dialami oleh anak. Namun, tidak menutup kemungkinan juga anak akan mengalami kejang sekali pun demamnya tidak terlalu tinggi.


Bahkan ia sempat mencari tahu informasi mengenai beberapa hal yang dapat membuat anak menderita penyakit step, yaitu Infeksi, baik infeksi virus maupun bakteri.


Arya yang kini memicingkan mata melihat sosok wanita di sebelahnya terlihat sangat pucat. Khawatir ada hal buruk yang terjadi, ia pun langsung bertanya dan menatap wajah Putri.


"Apa yang terjadi, Sayang? Putramu diculik?"


Putri yang terlihat menghubungi kontak wanita yang telah menjaga putranya, menunggu panggilannya diangkat dan memberi jawaban pada Arya.


"Rumah sakit, antarkan aku ke sana. Putraku demam tinggi dari semalam. Wanita itu dari semalam ternyata mengirimkan pesan dan menelpon. Memberitahu bahwa putraku sakit."


Di saat bersamaan, panggilannya diangkat dan membuatnya langsung menghujani wanita di seberang telepon dengan beragam pertanyaan.


"Halo. Bagaimana dengan keadaan putraku? Kamu membawanya ke rumah sakit mana? Aku sekarang ada di depan rumahmu. Beritahu rumah sakitnya mana." Putri terlihat pucat dan cemas saat mengkhawatirkan keadaan putranya.


Masih berbicara dengan wajah pucat karena merasa bersalah telah meninggalkan putranya semalaman dan malah bersenang-senang dengan Arya.


Rasa bersalah kini menyeruak di dalam hatinya dan membuat ia merasa sangat berdosa dan menyesal.


"Putramu sudah mendapatkan penanganan dari dokter. Nasib baik aku langsung membawanya ke klinik terdekat karena jika terlambat sedikit saja, mungkin akan berakibat buruk. Aku akan mengirimkan alamatnya. Cepatlah datang karena putramu dari semalam mencarimu," sahut wanita di seberang telpon.


Putri yang belum menjawab, melihat sambungan telepon sudah terputus dan menunggu hingga wanita yang merawat putranya mengirimkan pesan. Begitu melihat notifikasi masuk, ia langsung menyebutkan agar Arya segera mengemudikan mobil ke sana.


"Ayo, Arya. Antarkan aku ke klinik yang kusebutkan tadi!"


Sebenarnya saat melihat raut wajah yang tadinya selalu terlihat bahagia itu berubah penuh kesedihan, membuat Arya seolah menyesal telah membuat Putri bersedih karena semalam melarangnya pulang.


Namun, jauh di lubuk hati terdalam, ia merasa cemburu melihat kasih sayang Putri pada sang anak. Seolah ia tidak ingin dikalahkan oleh anak kecil yang merebut kasih sayang Putri.

__ADS_1


Merasa bahwa nanti Putri akan lebih mempedulikan putranya daripada dirinya, hal itulah yang membuatnya menjadi cemburu dan kesal.


'Seharusnya aku tidak mencintai wanita yang telah mempunyai anak. Aku yakin setelah hari ini, ia akan lebih mempedulikan putranya daripada aku,' gumam Arya yang kini tidak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya mengemudikan mobil meninggalkan kawasan pemukiman padat tersebut.


Putri yang sebenarnya merasa sangat aneh melihat Arya, sama sekali tidak berkomentar apapun tentang putranya, kini seolah tidak bisa berpikir jernih untuk mencari penyebab dari diamnya pria yang tengah fokus menatap ke arah depan tersebut.


Satu-satunya hal yang saat ini ada di pikirannya adalah nasib putranya dan membuatnya benar-benar merasa sangat khawatir.


'Kenapa Arya diam saja? Apa ia marah padaku? Lebih baik nanti saja aku bertanya karena sekarang harus fokus pada putraku dulu.'


Lamunan Putri seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari pria di balik kemudi.


"Aku ada urusan penting. Jadi nanti aku akan menurunkanmu di depan rumah klinik." Arya berbicara tanpa menatap ke arah wanita yang kini tidak menjawabnya. Hal itu membuatnya merasa semakin kesal.


Sementara Putri yang saat ini tidak bisa berakting untuk bertanya pada Arya mengenai hal yang menjadi penyebab perubahan sikap pria itu. Hanya satu kata yang kini lolos dari bibirnya.


"Baiklah."


Putri yang masih terlihat pucat wajahnya, kini melepaskan sabuk pengaman dan bergerak turun. "Terima kasih, Arya. Nanti aku akan menghubungimu."


Sebelum berpisah, Putri menyunggingkan senyumnya pada Arya dan keluar setelah membuka pintu. Kemudian melambaikan tangan begitu mobil kembali melaju meninggalkan ia dan semakin menjauh dari pandangan.


"Kenapa dengan Arya? Apa ia marah padaku? Memangnya marah karena apa? Apa karena putraku sakit? Astaga, aku benar-benar bisa pusing memikirkannya."


Tidak ingin semakin merasa pusing, Putri kini memilih untuk berjalan menuju ke arah pintu masuk klinik dan bertanya pada salah satu perawat yang ditemuinya tentang ruangan kamar yang tak lain adalah ruang anak.


Kemudian berjalan menuju ke arah yang ditunjukkan, yaitu di lantai dua. Saat ia naik anak tangga, mendengar ponselnya berbunyi dan begitu memeriksa, jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal.


"Bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan padanya? Bahwa putra kami sedang dirawat di klinik."


Putri yang tidak berani mengangkat telpon, membiarkannya dan memilih untuk berjalan menuju ke ruangan yang tadi diberitahu oleh wanita yang menjaga putranya.

__ADS_1


Namun, suara notifikasi terdengar dan membuatnya membacanya. Seketika ia membulatkan kedua mata begitu membacanya pesan yang dianggapnya sangat konyol dari pria yang tak lain adalah sang suami.


Jika kamu tidak mengangkat telpon, aku akan lapor polisi.


Putri yang saat ini tengah memijat pelipis, kini memilih untuk mengumpat. "Apa dia sudah gila? Memangnya aku penjahat? Sampai-sampai mau melaporkan aku ke polisi?"


Tidak ingin melibatkan polisi dan membuatnya ketahuan berselingkuh, akhirnya Putri kini menghubungi sang suami.


"Halo." Putri berbicara dengan nada kesal.


"Halo, Sayang. Kamu tidak apa-apa, kan? Kamu baik-baik saja, kan? Apa yang terjadi padamu? Kamu sekarang ada di mana?" tanya Bagus yang merasa sangat khawatir semalaman. Bahkan tidak bisa tidur.


Putri yang saat ini berjalan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling area rumah sakit untuk mencari ruangan putranya dan kini telah menemukannya.


"Aku baik-baik saja dan sekarang ada di klinik, menunggu putra kita karena badannya panas."


"Klinik? Putraku demam? Kamu ada di klinik mana? Aku akan langsung ke sana sekarang."


"Aku akan mengirimkan alamatnya padamu!"


Putri kini mematikan sambungan telepon dan mengirim alamat klinik. Kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan yang menjadi tempat putra dirawat.


Di saat ia masuk, melihat putranya yang terbaring lemah di sudut ruangan dengan tangan diinfus dan membuatnya merasa sangat bersalah.


'Putraku, maafkan ibu. Pertama kali ibu meninggalkanmu, sekarang kamu berakhir di rumah sakit. Aku telah gagal menjadi seorang ibu yang baik untuk putraku,' lirih Putri yang kini langsung berjalan masuk dan mendapat laporan dari wanita berbadan gemuk yang merawat putranya.


"Putri, akhirnya kamu datang juga."


"Bagaimana dengan putraku?" Putri menatap ke arah bocah laki-laki yang tertidur di atas ranjang dengan wajah pucat.


"Sebenarnya putramu ...."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2