
Selama di dalam mobil dengan Bagus, Arya hanya diam sambil menatap ke lain sisi karena tidak ingin berbincang sama sekali.
Tentu saja terasa sangat aneh suasana di antara mereka karena keduanya sama sekali tidak membuka mulut untuk menguraikan keheningan di dalam mobil.
Seolah saat ini mereka sedang memikirkan sesuatu di kepala dan memilih untuk fokus dengan pikiran sendiri.
Aneh, mungkin itu yang terlihat di dalam mobil. Bagus sangat tahu itu dan ia tadi menolong karena atas nama perikemanusiaan saja. Berpikir bahwa sesama manusia harus saling tolong menolong.
Namun, jika boleh jujur, sebenarnya saat ini ada banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Bagus pada pria yang merupakan suami kedua Putri. Namun, ia seperti merasa bahwa saat ini suaranya tercekat di tenggorokan, sehingga hanya bisa mengungkapkan di dalam hati.
'Bagaimana kabar Putri saat ini? Apa ia sehat? Ia seperti memutus hubungan dengan kami karena tidak pernah menelpon. Apa ia tidak merindukan Putra? Padahal juga putranya.'
'Apakah ia akan melupakan dua anaknya setelah melahirkan anak dari pria ini? Bahkan Putra setiap hari selalu mengatakan ingin bertemu dengan ibunya, tapi aku harus selalu membohonginya.'
'Aku tidak mungkin membawa putraku pada kesedihan karena Putri seperti tidak mau berhubungan dengan kami lagi setelah hidup bahagia bersama dengan pria ini.'
Jika Bagus dulu sering menghubungi Putri karena putranya yang merengek karena merindukan sang ibu.
Akan tetapi, setelah ia mendengar suara tidak suka dari Arya yang mengomel di seberang telpon dan menuduhnya ingin menggoda istrinya, membuatnya tidak mau lagi menghubungi.
Meskipun ia tahu jika menghindar malah akan terlihat benar tuduhan dari Arya, tapi memang tidak ingin membuat mereka ribut. Ia bukan pria dengan jiwa muda menggebu, sehingga memilih untuk mengalah.
Meskipun sebenarnya sadar jika yang bersalah adalah pria di sebelahnya, ia memilih untuk merelakan semua yang terjadi pada rumah tangganya dengan menganggap bahwa ujian yang sedang dialami merupakan cara Tuhan untuk menaikkan derajatnya.
'Sabar, semoga aku bisa selalu menahan diri saat berhadapan dengan pria yang telah merebut istriku. Aku pun tidak bisa menyalahkan pria ini sepenuhnya karena perselingkuhan bisa terjadi karena dua belah pihak.'
'Putri dengan sadar memilih untuk berselingkuh dengan mengkhianati ikatan suci pernikahan yang sudah terbina selama lebih dari sepuluh tahun dengan pria yang selalu disebut sempurna ini. Apakah Arya memang sangat sempurna seperti yang dari dulu disebutkan?'
Bagus akui bahwa pria yang terlihat seperti enggan menatapnya tersebut memang masih muda, memiliki paras rupawan dan berasal dari keluarga konglomerat.
Pastinya sekali dilihat saja sudah bisa dinilai bahwa Arya adalah seorang pria yang sempurna, tapi mengetahui bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna.
__ADS_1
Mungkin hanya waktu yang bisa menjawab segala pertanyaan yang dari tadi dipendam di dalam hati.
Bagus tadi hanya bertanya alamat saja dan begitu Arya membuka suara, membuatnya langsung menghentikan mobil.
"Itu rumahnya." Arya mengarahkan jari telunjuk pada rumah kontrakan dan bersiap turun karena sudah melepaskan sabuk pengaman.
Ia merasa tidak nyaman dan sesak saat berada di dalam satu mobil dengan suami sah Putri, tetapi terpaksa bertahan karena kakinya serasa mau patah, sehingga seolah langsung bisa bernapas lega saat sudah sampai di depan rumah kontrakan.
"Terima kasih atas tumpangannya. Ini gratis, kan? Aku tidak punya uang untuk membayarmu," ucap Arya tanpa merasa malu karena memang pada kenyataannya demikian.
Sementara itu, Bagus yang awalnya hanya diam, terpaksa membuka mulut begitu mendengar suara bariton Arya yang seolah menganggap kebaikannya menginginkan imbalan.
Padahal ia sama sekali tidak berpikir akan hal itu. Namun, merasa kecewa saat kebaikannya seolah tidak dihargai.
"Lebih baik kau cepat masuk karena Putri sudah menunggumu."
Begitu menutup mulut, ia kembali mengemudikan mobil taksi meninggalkan area tempat tinggal Putri dengan rasa sakit di dada.
Sementara itu, Arya masih berdiri di tempatnya dan membuat ia saat ini menatap mobil taksi yang dikemudikan oleh Bagus semakin menjauh.
"Dia pasti tadi berusaha keras untuk menahan diri agar tidak bertanya padaku. Aku yakin itu."
Merasakan suasana malam yang membuatnya sedikit nyaman karena peluh membasahi tubuhnya tadi sudah tidak membuatnya merasa panas.
Arya berharap Putri sudah terlelap saat ini. Ia membuka pintu dengan sangat perlahan agar tidak mengganggu istrinya. Langkah kakinya juga sangat hati-hati sampai di kamar tamu.
Ya, ia ingin membersihkan diri di sana dan bisa menunjukkan wajah segar saat sudah berada di kamarnya sendiri.
Arya melihat ada makanan di atas meja makan dan catatan kecil dari Putri. Di sana tertulis ‘selamat makan, Sayang’, sungguh kalimat yang membuatnya terharu.
Langkah pria itu kembali berlanjut ke arah kamar tamu yang ada di dekat dapur. Terlihat Arya ini tengah melepaskan semua pakaiannya dan masuk kamar mandi. Tubuhnya terasa nyeri dan lelah karena pekerjaan hari ini yang benar-benar sangat menguras tenaga.
__ADS_1
Beberapa kali ia tampak mengeluh pada bagian tangan dan kaki. Bibirnya tidak bisa berbohong tentang rasa itu.
Hingga beberapa saat kemudian, setelah selesai melakukan ritual membersihkan diri. Begitu merasa tubuhnya telah bersih, segera mengakhiri kegiatannya.
Ia meraih handuk yang ada di kamar itu, lalu mengambil salah satu pakaian dengan asal di lemari. Itu adalah kumpulan pakaian yang hampir dibuang oleh Putri karena sangat jarang digunakan lagi.
Arya melihat makanan yang ada di atas meja lagi. Ia menarik kursi, lalu mulai melahap makanannya. Meski perutnya terasa kenyang karena sudah makan nasi goreng di pinggir jalan tadi saat pulang, tapi tidak ingin membuat sedih istrinya yang sudah bersusah payah untuk menyiapkan makanan untuknya.
Saat menikmati makanan itu, teringat dengan pembicaraan dengan Putri semalam setelah bercinta yang mengeluh kelelahan. Ia bertanya pada sang istri, apa dulu saat hamil anak Bagus juga melakukan pekerjaan rumah.
Namun, Putri menceritakan mengenai masa kehamilan. Bahwa tidak sekali pun Bagus menyuruh untuk melakukan pekerjaan rumah.
Itu semua dilakukan karena Putri mudah lelah dan juga sering merasa mual jika terlalu banyak kegiatan. Semua itu tidak diketahui Arya selama ini. Apa saja yang dirasakan Putri, ia tidak pernah sekali pun bertanya.
Sebuah helaan napas membuat Arya merasa kasihan dan ingin mengubah semuanya.
Selesai dengan kegiatan makan di sana, ia berjalan masuk ke kamar.
Ia membuka pintu dengan perlahan tanpa mengeluarkan suara. Arya bisa melihat Putri terlelap dengan posisi miring ke kiri. Pria itu perlahan naik ke ranjang dan dengan sangat pelan, merebahkan tubuhnya agar Putri tidak terganggu. Arya tahu, wanita itu sangat sensitif terhadap gerakan.
Benar saja, Putri membuka mata dan melihat suaminya tersenyum dan memberikan sebuah kecupan hangat di bibirnya.
“Tidurlah, maaf sudah mengganggumu, Sayang.” Arya berbicara setelah mengungkapkan rasa cintanya.
Sebenarnya Putri ingin banyak bertanya mengenai hari pertama bekerja sang suami, tapi ia sangat mengantuk, sehingga membalas dengan tersenyum, lalu kembali memejamkan mata.
Arya juga melakukan hal yang sama, sadar jika keesokan harinya akan ada pekerjaan yang melelahkan menanti kehadirannya.
“Selamat malam, Sayang.”
Rasa lelah dan pegal pada tubuh Arya membuatnya bisa langsung tertidur pulas tanpa menunggu waktu yang lama. Hingga suara napas teratur kini memenuhi ruangan kamar pasangan suami istri yang sudah terbuai dalam alam bawah sadar tersebut dengan saling memeluk erat.
__ADS_1
To be continued...