
Memang pada awalnya, Rendi sangat menentang hubungan antara Arya dengan seorang wanita yang masih berstatus sebagai istri orang, tetapi hari ini ia mengerti bahwa wanita bernama Putri itu memang sangat mencintai sahabatnya yang sekarang tak lebih dari seorang gelandangan.
Bagaimana tidak disebut gelandangan jika sahabatnya itu sama sekali tidak punya apa-apa dan bingung harus makan apa saat kartu kredit yang selalu dibanggakan sudah disita oleh sang ayah.
Sementara ia tidak bisa meminjamkan uang karena diancam oleh sang ayah karena takut perusahaan bangkrut jika membantu sahabatnya. Jujur saja Rendi saat ini menyesalkan perbuatan orang tua seperti itu karena mengandalkan emosi dan sangat egois saat tidak mau menyetujui hubungan putranya.
Mendengar ibu dari sahabatnya berkata seolah seperti sangat jijik pada Putri yang saat ini masih tetap mau menerima sahabatnya, tentu saja malah membuat Rendi merasa bertambah sangat kesal.
Hingga ia mati-matian memilih untuk membela wanita itu karena berpikir bahwa kekasih sahabatnya jauh lebih baik dari para wanita yang selama ini dekat dengan Arya karena matrealistis karena meminta dibelikan ini dan itu.
Sementara Putri sama sekali tidak melakukan hal itu karena kata Arya, selalu dipaksa untuk memilih barang yang diinginkan. Dari situ sudah terlihat jika Putri memang tidak memanfaatkan Arya karena benar-benar mencintai.
Sementara itu di seberang telepon sana, sosok wanita yang terlihat masam wajahnya karena mendengar komentar pembelaan dari sahabat putranya pada wanita yang sama sekali tidak disukai.
'Sabar ... sabar. Wanita murahan itu telah berhasil membuat putraku dan Rendi tertipu. Lebih baik aku fokus pada alamat wanita itu karena ingin segera melihat keadaan putraku. Bagaimana keadaan dia sekarang. Apa putraku sudah makan? Apa putraku baik-baik saja?'
Berbagai macam pertanyaan dan rasa khawatir memenuhi pikiran Rani Paramita saat ini. Tidak ingin menunda-nunda untuk bertemu dengan putranya, ia memilih untuk mengikuti alur dengan cara seolah-olah mendukung dan membenarkan penilaian dari Rendi.
"Benarkah itu? Berarti putraku tidak salah pilih mencintai wanita itu. Aku jadi menyesal karena menganggapnya wanita murahan. Kalau begitu, kirimkan alamatnya sekarang karena aku ingin menemui mereka. Wanita itu berarti sangat mencintai putraku."
"Hingga melakukan apapun untuk Arya, termasuk mengajak tinggal bersama dengan suaminya."
__ADS_1
Rani berkata seperti itu sambil membuat gerakan mengipasi wajah dengan tangan. Ia merasa sangat mual memuji wanita yang dianggapnya sangat tidak tahu malu tersebut.
"Baiklah, Tante. Hanya saja, untuk alamat jelasnya, aku tidak paham karena tadi hanya mengantar sampai di depan gang. Arya tidak ingin terlihat mengenaskan saat aku melihatnya menumpang tinggal di kontrakan Putri. Mungkin nanti Tante bisa bertanya pada tetangga sekitar sana."
Masih merasakan hal yang sama, yaitu tertohok dengan perkataan dari Rendi karena ia sebagai orang tua membiarkan putranya hidup sengsara di luar sana tanpa memiliki pegangan uang, Rani kini hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat membayangkan Arya hidup menderita.
Namun, tetap saja ia berpikir bahwa semua itu terjadi karena Arya mengenal wanita yang merupakan istri orang itu.
'Seandainya putraku tidak bertemu dengan wanita murahan itu, mana mungkin Arya keluar dari rumah ini dengan membuang segala kemewahan. Ini semua gara-gara wanita sialan itu. Lihat saja nanti, aku akan membuatnya menyesal karena berani merebut putraku dan membuat Arya menderita.'
Rani yang kini berjanji akan menghancurkan wanita bernama Putri dengan menyusun siasat dan tidak ingin sampai putranya mengetahui rencananya.
Ia kini memilih untuk tidak mempermasalahkan hal yang dikatakan oleh Rendi karena satu-satunya keinginannya sekarang hanyalah ingin segera melihat bagaimana keadaan putranya yang sangat dikhawatirkan serta dirindukan.
Hari ini, ia berharap bisa mengajak putranya untuk kembali ke rumah dan meninggalkan wanita itu karena tidak rela melihat satu-satunya penerus keluarga Mahesa hidup di luaran sana dengan penuh penderitaan.
Kemudian Rendi mengatakan area tempat tinggal kekasih sahabatnya dan menutup telpon, begitu wanita yang sangat dihormatinya tersebut mengatakan akan segera berangkat.
Rani Paramitha kini buru-buru mengambil tas jinjing miliknya yang merupakan keluaran terbaru dari salah satu koleksi tas mahalnya. Ia ingin tampil sempurna dengan menunjukkan status sosial pada wanita yang dianggapnya tidak lebih dari sampah karena merupakan orang miskin.
Kasta yang berbeda antara ia dan wanita itu membuatnya ingin menyadarkan bahwa putranya sangatlah berharga dan berhak mendapatkan seorang wanita yang lebih baik segalanya dari Putri.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus mencari seorang wanita yang sesuai dengan selera putraku. Aku harus mengetahui apa yang membuat wanita bernama Putri itu sangat dicintai putraku."
"Aku harus bertanya sendiri pada Arya agar bisa mencari kelemahannya dan membuatnya berpisah dengan Putri. Aku benar-benar tidak rela memiliki menantu sepertinya."
Rani yang sudah berjalan keluar dari ruangan kamar, kini menapaki anak tangga dan menyuruh supir untuk mengantarkan ke tempat yang tadi dikatakan oleh sahabat dari putranya.
Kini, mobil mewah berwarna hitam yang membawanya mulai meninggalkan area rumah dan menembus jalan ibu kota yang dipenuhi oleh kendaraan yang melintas.
Masih berpikir bahwa ia hari ini harus berakting dengan baik di depan putranya, Rani menatap ke arah sang supir yang fokus mengemudi.
"Kita mampir ke restoran langganan keluarga dulu karena aku ingin membeli makanan."
"Baik, Nyonya," sahut pria berusia 35 tahun tersebut yang sekilas menatap ke arah spion, di mana sang majikan duduk di belakang.
Sementara ia kini berpikir ingin membawakan makanan favorit putranya karena merasa iba dengan nasib Arya yang dianggapnya tidak makan dengan baik saat tinggal di kontrakan wanita itu.
'Pasti Arya akan merasa sangat senang saat melihatku membawakan makanan kesukaannya. Semoga dengan aku membawakan makanan favoritnya, ia mau ikut pulang ke rumah bersamaku dan meninggalkan wanita murahan itu.'
'Dengan begitu, aku tidak perlu repot-repot untuk bersikap munafik dan berakting menyukai wanita murahan itu,' gumam Rani yang saat ini tengah menatap lalu lintas kendaraan yang ada di sebelah kanan.
Suasana jalanan ibu kota yang kali ini tidak macet seperti biasanya, membuatnya merasa sangat lega karena akan segera tiba di rumah kontrakan yang menjadi tempat tinggal sementara putranya.
__ADS_1
Tentu saja karena saat ini bukan jam kerja, sehingga jalanan tidak ramai dan terlihat lebih lancar hari ini, jadi tidak terjebak macet dan bisa segera menemui putranya.
To be continued...