
Jam istirahat memang sangat cepat berlalu. Arya dan Calista kini sudah berada di kursi kerja.
Menatap layar empat belas inci yang menampilkan laporan pekerjaan. Tabel-tabel kosong itu perlu diisi, satu persatu angka dan huruf mereka ketik.
Permainan jari di atas keyboard menandakan bahwa mereka sedang sibuk dan tidak sempat untuk kembali melanjutkan percakapan saat ini.
Hingga seseorang memanggil Calista untuk bertemu dengan presiden direktur di ruangannya.
Orang tersebut menyuruh Calista membawa beberapa laporan yang sudah selesai. Sebenarnya, itu hanyalah alasan semata.
Ari Mahesa hanya ingin berbincang dengan wanita itu mengenai pekerjaannya sebagai penggoda putranya.
“Kamu mau aku temani?” tanya Arya dengan maksud menawarkan diri.
“Tidak, aku akan ke sana sendiri. Jangan kerjakan milikku! Aku tidak mengizinkannya.”
"Baiklah.” Arya hanya mengibaskan tangan tanda menyuruh Calista segera pergi menghadap sang pemimpin perusahaan.
Calista berjalan menjauhi Arya dan menuju ruang kerja yang ada di lantai atas.
Tangan Calista mengetuk pintu beberapa kali, hingga suara dari dalam mengizinkannya untuk masuk. Calista tersenyum melihat presiden direktur dan di depannya seorang wanita yang tak lain adalah istri bosnya tersebut.
Rani berdiri, lalu menyambut Calista dengan pelukan dan ciuman pada kedua pipi.
“Duduk! Tante mau mengobrol denganmu.”
Calista duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Rani ingin tahu perkembangan mereka saat ini dan tentu saja hal itu langsung diceritakan oleh Calista dengan senang hati.
“Arya mulai percaya padaku, Tante. Saat ini, ia menganggapku seperti seorang teman baik, tapi aku yakin jika sebentar lagi akan jatuh cinta padaku."
“Ini adalah perkembangan yang bagus. Aku senang, akhirnya ada wanita yang bisa dipercaya oleh putraku. Bagus, kamu sangat cerdik sekali, Calista.”
Rani kali ini sangat yakin jika Calista telah mendapatkan kepercayaan putranya. Jadi, akan dengan mudah merebut hati putranya. Kemudian meninggalkan Putri yang sama sekali tidak ia sukai sebagai menantu.
“Terima kasih, Tante.”
“Seperti yang sudah aku infokan, Arya pasti memiliki masalah dengan istri sirinya itu. Coba kamu dekati dia, hingga mau mengakui tentang pernikahannya yang tidak membahagiakan itu."
"Aku heran sekali pada Arya. Sepertinya putraku sudah mendapat guna-guna wanita tidak tahu diri itu.”
Rani tampak kesal jika membahas Putri. Ia pun berusaha membuat Calista mengerti keadaan putranya yang tidak bahagia.
“Tenang saja, Tante. Aku yakin, sebentar lagi Arya akan mengakui semuanya.”
“Hari ini kalian lembur? Nanti aku kirim orang buat pesan makanan untuk kalian,” sahut Ari Mahesa dengan senang hati.
“Wah, terima kasih, Om. Aku senang sekali mendapatkan perhatian seperti ini.”
“Kamu sudah membantu kami. Jadi, sudah sepatutnya kami membalas dengan lebih baik.”
Calista hanya mengangguk. "Terima kasih, Om." Lalu ia pun kembali ke ruang kerjanya.
Di sana, Arya masih berkutat dengan pekerjaan di hadapannya. Tiba-tiba Calista duduk di sampingnya dengan membawa berkas baru.
“Itu … tambahan?” tanya Arya secara langsung.
“Tidak, ini untuk besok. Katanya ini akan dikirim siang. Jadi, pagi kita harus segera mengerjakan dan mengirim berkas ini ke klien siang hari, tepat jam makan siang.”
__ADS_1
“Oh, jadi … besok kita makan siang di luar kantor?”
“Iya. Benar sekali.”
“Baiklah. Kita lanjutkan pekerjaan ini.” Arya kembali fokus pada layar laptop di hadapannya tanpa berpikir panjang atau pun curiga pada sosok wanita yang duduk di sebelahnya tersebut.
***
Suasana kantor mulai sepi dan sunyi. Hanya ada beberapa orang saja yang masih bertahan di sana karena pekerjaan yang belum selesai.
Arya memutuskan untuk berhenti sejenak dan meregangkan tubuhnya sekilas. Ia menengok ke samping, di sana Calista tertidur pulas karena lelah.
Ia menarik berkas yang ada di meja wanita itu, lalu mengerjakannya sendiri.
Tidak lama setelah itu, ada seorang pria datang dengan membawa makanan. Pria itu mengatakan bahwa makanan itu pesanan Calista untuk makan malam.
Ia menerimanya dan meletakkan makanan di atas meja yang ada di belakang mereka.
Tidak tega, tetapi Calista harus mengisi perut agar tidak sakit setelah bekerja keras hari ini. Perlahan, ia menepuk pundak wanita itu.
“Hei, makananmu sudah datang. Bangun.”
"Astaga! Aku tertidur rupanya. Maafkan aku.” Calista berpura-pura meluruskan otot-otot yang kaku dan sesekali menguap.
“Tidak masalah, makan saja dulu. Laporanmu sudah selesai, tersisa milikku saja.”
“Apa? Kenapa kamu mengerjakannya?”
“Sudahlah, cepat makan!”
Calista meraih makanan itu, lalu membuka satu persatu bungkusan yang ada di dalam tas plastik.
Arya tersenyum, lalu menghentikan kegiatannya. Mereka duduk bersama dan makan malam di sana.
“Arya, kalau pulang kerja, kamu di rumah langsung tidur?”
“Iya. Hanya membersihkan diri dan membereskan pekerjaan rumah yang belum selesai.” Arya berwajah bingung, tetapi setelah itu, yakin dengan dirinya dan akhirnya mengungkapkan statusnya pada Calista.
“Aku sudah memiliki istri.”
“Oh, maaf. Aku tidak tahu. Apa kalian sudah memiliki anak?” Calissa yang berpura-pura sangat terkejut sambil membekap mulut dan membulatkan mata.
“Istriku sedang hamil. Ia menunggu waktu untuk melahirkan saat ini.”
“Aku mengerti. Karena itu wajahmu selalu lesu dan lelah saat pagi hari.”
“Ya. Di sisi lain, awalnya pernikahan kami tidak mendapatkan izin dari orang tuaku. Itu semua karena ia sudah memiliki suami.”
“Apa? Siapa? Istrimu?”
“Ya, dia memiliki seorang suami dan akhirnya kami menikah siri.”
"Astaga. Jadi, kalian berselingkuh awalnya? Lalu? Sekarang bagaimana? Apa kalian baik-baik saja?”
Arya tidak menyangka jika Calista akan menanggapi dengan santai perihal pernikahannya. Bahkan. Calista tidak menunjukkan tanda-tanda ilfil atau tidak nyaman dengan kedekatan mereka saat ini.
“Kami tidak sedang baik-baik saja. Ekonomi dalam keluarga kecilku ini membuat kami sering sekali bertengkar dan beradu mulut, tapi sekarang semua jauh lebih baik."
__ADS_1
"Hanya saja, sampai sekarang, aku masih tidak memiliki hubungan yang baik dengan orang tuaku. Entahlah, sampai kapan aku akan bertahan dengan semua ini.”
“Aku bisa mengerti apa yang kamu rasakan. Kamu pasti sangat tertekan dengan keadaan, bukan? Satu sisi adalah orang tua yang membesarkanmu dan merawatmu. Satu sisi wanita yang kini sedang hamil anakmu."
"Kamu benar."
"Tapi, maafkan jika aku bertanya ini. Apa kamu yakin itu anakmu? Bukankah wanita itu memiliki suami?”
“Ia meyakinkanku bahwa itu anakku. Putri namanya, memiliki masalah dalam berhubungan saat bersama suaminya.”
“Begitu rupanya. Aku ikut prihatin mendengarnya. Hei, jangan berhenti makan, kamu harus mengisi tenaga juga. Kamu adalah pria yang baik untuk menjadi seorang suami.”
“Tidak, tapi istriku yang terlalu baik karena mau berkorban untukku dengan bekerja saat sedang hamil," ucap Arya dengan penuh penyesalan.
“Semua tergantung dari kepala keluarga. Maaf, aku memang belum menikah dan belum memiliki kekasih. Hanya saja, aku berkaca pada teman-teman yang sudah memiliki keluarga sepertimu.”
Calista kini tersenyum simpul karena merasa sangat senang saat Arya mulai percaya sepenuhnya, Hingga mau menceritakan rahasia besar yang selama ini ditutupi.
Arya hanya mengangguk saja.
Setelah makan malam mereka selesai, perasaannya jauh lebih baik setelah berbagi kisah dengan Calista. Wanita itu sangat baik karena mau mendengarkan setiap penjelasan dan kisah yang diceritakan Arya.
“Kamu mau aku antarkan pulang? Aku lihat kamu menggunakan kendaraan umum, bukan? Kamu bisa menghemat biaya jika menerima tawaranku. Atau kita bisa berangkat dan pulang bersama, tapi tentu jika istrimu mengizinkannya.”
“Jika kamu menerima tawaranmu itu, bagaimana jika kamu menungguku di halte saja? Kita bisa pergi bersama jika kamu mau.”
“Baiklah. Itu bisa menguntungkanku. Terima kasih. Kamu baik sekali padaku.”
“Santai saja. Kamu adalah pria yang baik. Jadi, sudah sewajarnya aku juga melakukan hal yang sama."
Setelah percakapan singkat itu, mereka menyelesaikan pekerjaan tepat pukul sembilan malam.
Tidak langsung kembali ke rumah, Calista mengajak Arya untuk minum kopi di sebuah café. Duduk berdua dengan suasana malam yang begitu menenangkan.
Sudah lama sekali Arya tidak melakukannya. Bahkan, ia tidak tahu kapan terakhir kali mendapatkan ketenangan seperti saat ini.
Di tengah percakapan mereka, ponsel Arya berdering. Di sana sudah ada nama Putri yang menghubungi.
Arya memilih untuk tidak menerima panggilan itu karena nanti sang istri malah memberondong dengan banyak pertanyaan. Ia akan menjelaskan nanti setelah sampai di rumah saja.
Hal itu membuat Calista mengajukan pertanyaan.
“Kenapa tidak kamu terima?”
“Tidak, nanti saja saat di rumah, agar tidak mendengarkannya berbicara dua kali.”
“Benar juga. Terkadang kita sudah lelah, tetapi orang yang bersama kita tidak mau tahu.”
“Malam ini sungguh melelahkan. Bahkan tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika selalu seperti ini.”
“Kamu bisa mampir jika memerlukan tempat tenang. Aku tinggal di apartemen yang ada di pusat kota. Tepat di samping Mall.”
“Terima kasih. Baiklah. Sekarang kita pulang. Aku ingin segera tidur untuk merehatkan tubuh dan pikiranku." Arya beranjak dari posisinya karena ia tidak ingin sang istri berpikir macam-macam padanya.
Calista sebenarnya masih ingin bersama dengan Arya, tapi tidak bisa melakukannya karena akan membuat pria itu ilfil, sehingga lebih menuruti keinginan pria itu dan beranjak dari posisinya untuk berjalan menuju ke arah pintu keluar.
'Sabar, aku pasti sebentar lagi akan mendapatkan hati Arya karena ia telah percaya padaku,' lirih Calista yang kini sudah berjalan mengekor di belakang pria dengan tubuh tinggi tegap penuh dengan sejuta pesona itu.
__ADS_1
To be continued...