
"Masih bayak teman laki-laki yang lain. Lagipula aku sudah punya istri. Aku tidak ingin istriku salah paham nantinya."
"Dengan mereka, aku tidak sedekat dengan kamu. Rasanya canggung kalau harus membawa mereka. Kalau dengan kamu, aku tidak perlu latihan untuk pendekatan diri atau apapun karena kita memang sudah dekat dan aku rasa kita bisa bersandiwara layaknya pasangan kekasih tanpa ada rasa canggung lagi. Teman-temanku pasti tidak akan curiga." Calista mencoba untuk menjelaskan.
Arya terlihat berpikir sembari terus mengemudikan mobil milik Calista.
Calista berharap, Arya benar-benar akan menolongnya kali ini. Akan sulit jika ia harus mencari pria lain, meski itu kekaksih bayaran sekalipun. Calista benar-benar bingung harus membawa siapa.
Ia memang berniat ingin mengenalkan Arya pada teman-temannya karena ia yakin jika suatu saat nanti akan benar-benar menjadi kekasihnya. Bahkan Calista menyebutkan ciri-ciri fisik Arya pada mereka.
Namun, ia tidak menyangka jika waktunya akan secepat ini. Mereka tampaknya sangat penasaran dengan kekasihnya yang selama ini selalu disembunyikan.
Teman-temannya juga pasti akan curiga jika Calista membawa pria yang berbeda.
"Baiklah, tapi aku harus bicara dulu dengan istriku," jawab Arya singkat.
"Apa? Gila kamu. Itu sama saja kamu tidak membantuku. Mana ada istri yang mengizinkan suaminya untuk berpura-pura menjadi kekasih wanita lain," tukas Calista dengan geram.
Ia membulatkan mata tidak percaya dengan jawaban yang diberikan Arya.
"Kamu tenang saja. Istriku adalah wanita yang baik. Dia pasti akan mengerti, asalkan aku jujur padanya. Apalagi kalau dia tahu kamu adalah orang yang mengenalkan Pak Gilbert denganku."
"Karena aku juga sudah menceritakan tentang penjualan apartemen itu. Kalau perlu, aku kenalkan kamu dengan istriku."
"Pasti kamu akan senang bisa mengenal istriku." Arya terlihat antusias dan bangga memuji istrinya.
Calista kembali memutar dan menegakkan tubuhnya. Wanita itu melengos malas, memilih untuk menatap jalanan di depannya. "Terserah kamu, tapi aku tidak mau bertemu degan istrimu sekarang. Kapan-kapan saja."
"Baiklah." Arya mengulas senyum dan tidak menyadari kekesalan Calista.
Setengah jam kemudian mobil itu mulai memasuki komplek perumahan sederhana di kawasan kota tersebut. Arya sempat menyapa satpam yang berjaga di depan pintu masuk.
Karena sudah mengenal Arya, satpam itu pun membukakan portal untuk memberikan akses masuk pada pria itu.
Setelah melewati satu blok, mobil yang dikendarai Arya masuk ke arah lain dan berhenti di depan sebuah bangunan sederhana berbentuk minimalis tanpa pagar.
Calista menatap bangunan sederhana di luar sana. Bangunan itu sama dengan bangunan yang berjajar di sampingnya.
Hanya ada beberapa rumah saja yang terlihat sudah di renovasi dan diubah bentuknya menjadi berlantai dua. Bangunan di depan rumah kontrakan Arya berukuran lebih besar dan sudah direnovasi semua.
Itu terlihat dari bentuk bangunan yang sudah berbeda dan semuanya berpagar.
"Cukup nyaman," gumam Calista, tetapi masih bisa didengar oleh Arya.
"Walaupun hanya sebuah kontrakan, tetapi aku ingin memberikan kenyamanan untuk istri dan anakku. Ya, aku harap sebelum anak kami besar, sudah bisa memberikan mereka tempat tinggal yang jauh lebih baik dari ini dan tentunya sudah milik sendiri," timpal Arya yang kini menatap kontrakan.
__ADS_1
Calista tidak ingin menanggapi ucapan Arya. Ia justru mengumpat dan mendoakan agar pasangan tersebut cepat berpisah.
Arya kemudian membuka pintu dan berjalan menuju belakang mobil untuk mengeluarkan barang-barang belanjaannya, sedangkan Calista ikut membantu dan membawa beberapa kantong belanjaan dan menaruhnya di depan teras kontrakan Arya.
Setelah menurunkan semua barang, Arya mengucapkan terima kasih pada Calista karena sudah banyak membantunya hari ini.
Ia pun masih menunggu Calista sampai wanita itu masuk ke dalam mobil dan kendaraan itu menghilang tikungan blok rumah kontrakan yang ia tempati.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Arya tiba di rumah kontrakannya. Pria itu langsung masuk karena ia mempunyai satu kunci cadangan.
Ia terkadang pulang malam karena harus bertemu dengan klien.
Bahkan sering mengantar mereka untuk melihat lokasi bangunan yang ditawarkan oleh Arya atau sekadar bertemu klien untuk memperkenalkan produk dari perusahaannya.
Maka dari itu, ia sengaja membawa satu kunci cadangan agar tidak perlu membangunkan istri saat ia pulang cukup larut.
Arya memasukan semua belanjaannya ke dalam rumah sebelum ia kembali menutup dan mengunci pintu.
Keadaan rumah cukup sepi. Sepertinya sang istri sedang berada di kamar mereka. Rumah sederhana itu hanya memiliki dua kamar tidur. Satu kamar mereka gunakan untuk kamar tidur mereka.
Satu kamar lagi digunakan untuk menaruh lemari pakaian dan beberapa barang mereka karena anak mereka masih bayi.
Jadi, kamar yang mereka gunakan untuk tidur hanya satu saja.
Arya memindahkan belanjaannya ke meja yang ada di dapur. Ia kemudian berjalan pelan menuju kamar mereka dan membuka pintu yang sedikit terbuka.
Arya tersenyum lembut pada istrinya dan memberi isyarat lewat tangan dan bibirnya jika ia akan mandi terlebih dahulu.
Kemudian Putri membalas senyuman suami tercinta dan mengangguk pelan.
Setelah selesai memberikan ASI dan meletakkan bayinya yang sudah terlelap ke dalam box bayi di samping tempat tidur mereka, Putri pergi ke dapur untuk menyiapkan secangkir teh hangat untuk sang suami.
Namun, cukup terkejut begitu ia melihat banyak sekali kantong belanjaan di atas meja dapur.
“Kenapa banyak sekali belanjaannya?” ujar Putri yang menatap ke arah berbagai macam belanjaan sang suami.
Ia mengecek satu persatu kantong yang ada di atas meja. Semuanya terlihat sangat lengkap.
Mulai dari sayur, ayam, daging, buah, aneka bumbu dapur lainnya dan juga susu, serta vitamin khusus untuk ibu menyusui. Tidak lupa aneka macam camilan sehat.
Saat sedang memeriksa barang belanjaan tersebut. Tiba-tiba saja lengan kekar suami sudah melingkar di perutnya.
Putri bisa merasakan embusan napas Arya di lehernya dan juga tetesan air yang berasal dari rambut pria itu yang masih basah.
“Sayang. Keringkan dulu rambutnya." Putri mengusap pipi suaminya yang tengah bersandar di lehernya.
__ADS_1
“Kita ke ruang tamu saja.” Putri kemudian menggandeng tangan Arya dan mengajak pria yang sangat dicintainya itu menuju ruang tamu.
Arya pun mendaratkan tubuhnya di lantai, tepat di depan Putri yang duduk di atas sofa.
Kemudian Putri menggosok pelan dan lembut rambut suaminya dengan handuk kecil yang ia ambil dari jemuran di dekat pintu kamar mandi.
“Kamu belanja banyak sekali, Sayang? Bukannya pengeluaran kita bulan ini sangat banyak?” tanya Putri yang masih menggosok rambut suaminya agar cepat kering.
“Kamu ingat dengan apartemen mewah yang aku ceritakan itu, kan?”
Alih-alih menjawab pertanyaan suami, Putri jusru memberikan pertanyaan lain. “Apakah apartemen yang harganya hingga Miliaran itu?”
“Iya, tepat sekali, Sayang. Ternyata ingatanmu sangat tajam." Arya mengangguk dan tersenyum.
Hal itu membuat Putri menghentikan kegiatannya begitu mendengar sebuah kabar baik.
"Aku berhasil menjual satu unit apartemen yang ada di sana."
“Kamu serius, Sayang?” tanya Putri yang masih terlihat tidak percaya.
“Iya, Sayang. Klien aku yang namanya Gilbert pernah bertemu denganku waku itu. Ia benar-benar membeli satu unit apartemen yang kutawarkan.”
Arya menjawab sembari meraih tangan sang istri dan meletakkan kembali ke atas kepala.
Hingga akhirnya membuat sang istri kembali menggosok lembut rambutnya.
“Selamat, Sayang. Aku ikut bahagia mendengarnya.”
“Iya, Sayang. Terima kasih. Ini semua juga berkat Calista karena dia yang sudah memberikan kartu namaku pada Gilbert dan meyakinkan pria itu kalau bangunan yang kutawarkan tidak akan mengecewakan,” ujar Arya dengan penuh antusias.
“Calista teman kantor kamu itu?”
Arya memang beberapa kali menyebut nama wanita itu ditengah obrolan mereka tentang pekerjaan.
Selama ini, yang Putri tahu, Calista adalah salah satu teman kantor suaminya yang juga beberapa kali memberikan klient.
Sebenarnya Putri sangat penasaran dengan wanita bernama Calista.
“Iya. Aku ingin mengenalkan kamu dengannya. Dia juga pasti senang bisa mengenal bidadariku yang cantik ini.”
Arya meraih tangan Putri dan melingkarkannya di leher wanita itu. “Oh, ya, Sayang. Ada sesuatu yang ingin aku katakan.”
Arya teringat jika ia harus menyampaikan permintaan Calista saat di mobil tadi.
“Tentang apa, Sayang?”
__ADS_1
To be continued...