
Arya memang bukanlah pria pertama yang menyentuh Calista. Akan tetapi, mampu membuat ia merasa nyaman dan melupakan traumanya karena seseorang di masa lalu yang pernah sangat dipercaya sepenuh hati.
Hingga Calista mau menyerahkan kesuciannya pada pria tersebut. Siapa sangka, pria yang ia cintai adalah seseorang yang menciptakan trauma dan meninggalkan luka yang menganga untuk Calista.
Butuh waktu untuk Calista bangkit dan kembali menatap hatinya yang sangat kacau dan berantakan. Luka itu memang sembuh, tapi masih meninggalkan bekas yang begitu besar bagi Calista.
Mungkin sampai kapan pun, bekas luka itu tidak akan pernah hilang dan ingatan akan segala rasa sakit sudah terpatri dalam memorinya yang paling dalam. Hingga kapan saja bisa kembali muncul ke permukaan.
Calista mendesah berat. Ia tidak bisa menyalahkan Arya sepenuhnya karena juga menikmati permainan pria itu.
Arya terlalu pandai mengalihkan perhatiannya. Hingga membuatnya tidak menyadari jika Arya melakukan itu karena pria itu merindukan istrinya.
Merasa nyaman bersama Arya, Calista semakin yakin jika ia tidak akan pernah melepaskan pria itu. Jika ia tidak bisa memiliki Arya, tidak ada wanita lain yang boleh memiliki pria itu. Termasuk Putri sekalipun.
Jika perlu, Calista akan membuat hubungan mereka semakin merenggang dan akhirnya berpisah.
Arya sudah menyentuhnya dan menghilangkan ketakutan pada diri Calista selama ini. Pria itu mampu membuat Calista merasakan kembali cinta.
Calista bertekad akan menyingkirkan siapapun wanita yang dekat dengan Arya.
Rasa cinta sepertinya sudah berubah menjadi sebuah obsesi yang besar untuk memiliki seutuhnya.
Tidak peduli Arya mencintainya atau tidak, yang terpenting pria itu menjadi miliknya sseutuhnya dan bisa memberikan kepuasaan dan kenyaman untuk Calista.
Perlahan Calista melepaskan tangan kekar Arya yang melingkar di tubuhnya. Ia memungut pakaian miliknya yang Arya empaskan di lantai.
Dengan perasaan perih di hatinya, Calista segera meninggalkan kamar tersebut dengan seringai di sudut bibirnya.
***
Pagi telah menyapa, mengajak penghuni bumi utuk segera beranjak dari tidur mereka yang lelap. Kembali beraktifitas dan mengais rezeki dengan cara masing-masing. Jalanan sudah mulai padat, meskipun ini adalah hari libur.
Arya mengerjapkan mata saat silau cahaya mentari pagi masuk melalui celah jendela yang masih tertutup.
Ia memegang kepalanya yang terasa begitu pusing. “Aku ada di mana?” tanya Arya sembari mengerjapkan kedua mata dan melihat ke sekeliling.
Arya mencoba mengingat apa yang terjadi. “Bukankah semalam aku ada di club malam?” tanya Arya lagi pada diri sendiri .
Arya menyandarkan tubuhnya di punggung ranjang king size itu. Pria itu sedang berusaha mengingat apa yang terjadi malam tadi.
“Calista.” Arya ingat, malam tadi ia meminta Calista untuk menemaninya minum di club malam yang mereka datangi.
Segera ia menyingkap sedikit selimut yang menutup tubuhnya dan memastikan sesuatu.
“Tidak mungkin.”
__ADS_1
Arya mengacak kasar rambutnya saat ia berhasil mengingat apa yang terjadi malam tadi. “Bagaimana mungkin kau bisa melakukan itu? Bodoh, sekali aku.” Arya mengumpat, memaki diri sendiri.
Pria itu segera beranjak dari tempat tidur dan memakai kembali pakaian yang semalam ia tanggalkan. Arya memanggil dan mencari Calista di setiap sudut ruangan yang ada di sana.
Arya sekarang tahu jika Calista membawanya ke aparteman milik wanita itu.
Arya bisa tahu karena ia melihat foto Calista yang terpampang sangat besar di dinding kamar yang bersebelahan dengan kamar tempatnya tidur. Sepertinya itu adalah kamar pribadi wanita itu.
“Calista … Calista!"
Arya terus mencari wanita itu, tetapi tidak menemukan keberadaannya. Arya menyerah dan mengempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.
Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dan menengadah, menatap langit-langit ruangan tersebut.
“Dasar, Bodoh! Calista sudah membantumu dengan memberikan tempat untuk kau tidur malam tadi, tetapi kenapa malah melakukan hal bodoh?” Kembali Arya memaki diri sendiri.
Malam tadi, yang ada dalam pikirannya hanyalah Putri. Ia sangat merindukan istrinya itu. Ia sangat ingin melepaskan hasrat yang sudah lama ditahan pada istrinya.
Akan tetapi, Arya tidak menyangka, ternyata wanita yang ia anggap Putri adalah Calista.
“Apa Calista marah padaku?” tanya Arya dengan perasaan berkecamuk.
Pria itu segera beranjak dari tempat duduk dan masuk kembali ke kamar untk mencari ponsel miliknya di sana.
Arya berusaha untuk menghubungi Calista, tetapi wanita itu tidak mengangkat teleponnya.
Hanya ada satu pesan dari wanita itu. Arya melihat pesan itu dikirim pukul lima pagi tadi.
***
Beberapa saat lalu, Calista bangun dengan kepala yang masih pusing karena ia hanya tidur dua jam saja. Ia melirik jam yang menempel di dinding kamar dan waktu menunjukkkan pukul lima pagi.
Dengan malas, Calista menyeret kakinya untuk melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya.
Bukan untuk membersihkan diri, melainkan hanya membasuh muka saja.
Ia mengganti baju tidur yang dikenakan dengan dress di bawah lutut yang simple dan sederhana. Mengikat asal rambutnya dan meraih tas kecil yang ada di atas meja.
Seorang security yang berjaga di pintu loby meyapa wanita cantik itu saat turun.
Calista tersenyum tipis, membalas sapaan security. Sebuah taksi online yang Calista pesan sudah menunggu di depan pintu loby dan ia segera masuk ke dalam mobil tersebut.
Sepanjang perjalanan, Calista mencoba untuk memejamkan mata karena ia memang masih sangat mengantuk.
Hingga panggilan dari sopir taksi menyadarkan dari tidurnya yang baru sebentar.
__ADS_1
“Sudah sampai, Nona,” ujar sopir taksi tersebut.
Setelah mengucapkan terima kasih, Calista segera turun dari mobil itu dan berjalan dengan terkantuk menuju pos satpam yang menjaga gerbang rumahnya.
“Nona Calista?” Pria berusia 40 tahun itu tampak terkejut melihat nonanya yang berjalan terkantuk saat pintu gerbang sudah terbuka.
Seorang wanita paruh baya yang sudah tampak cantik menyambut kedatangan Calista di dekat tangga.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya wanita itu dengan penuh khawatir.
Ia menangkup pipi putrinya dan menelisik wajah cantik Calista.
“Aku sangat mengantuk, Ma.” Calista menaiki tangga menuju kamarnya.
Tentu wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Calista tidak membiarkan putrinya berjalan meniti tangga seorang diri dalam keadaan seperti itu.
“Mama antar kamu ke kamar.” Wanita paruh baya itu menggandeng tangan Calista dan menuntunnya menuju kamar.
"Kamu istirahat, ya.” Wanita itu membantu menutupi tubuh putrinya dengan selimut.
“Iya," awab Calista, bergumam.
'Apa yang sebenarnya terjadi dengan putriku? Bukankah ia pergi bersama Arya malam tadi dan mengatakan akan tidur di apartemennya?'
'Lalu kenapa ia pulang ke rumah sepagi ini?' gumam wanita itu yang bertanya pada udara dan tidak mendapat jawaban apapun.
Beberapa jam kemudian, Calista baru terbangun pukul sepuluh pagi saat matahari sudah mulai meninggi dan sinarnya terasa begitu menyengat di kulit. Cuaca akhir-akhir ini memang sangat panas.
Calista menggeliat, mengangkat tangan ke atas kepala, meregangkan otot-otot di tubuhnya. Rasa pusing sudah tidak ia rasakan lagi. Sepertinya pagi tadi ia hanya kurang tidur.
Calista beranjak dari atas ranjang dan berjalan menuju sofa yang ada di kamarnya. Wanita itu mengambil ponsel yang ia letakkan di dalam tas.
Dua puluh panggilan tak terjawab dari Arya dan beberapa pesan yang pria itu kirimkan.
Calista, kamu di mana?
Maafkan aku, Calista.
Tolong segera balas pesanku, jika kamu sudah membacanya. Aku menunggu.
Kita harus bicara.
Calista membaringkan tubuhnya di atas sofa, bibirnya mengulas senyum membaca chat yang dikirimkan oleh Arya
“Kita lihat apa yang akan kamu lakukan, Arya.”
__ADS_1
To be continued...
To be continued...