Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
134. Aku akan menghabisinya


__ADS_3

Saat Putri menahan rasa panas di kulit kepala, serta rambut yang ditarik oleh sosok wanita dengan wajah memerah dan menjelaskan bahwa ibu dari Arya saat ini benar-benar murka padanya hanya karena kecerobohan.


Semua itu karena akibat ia tidak bersih ketika membersihkan pecahan gelas yang tadi dilempar oleh Bagus.


Tidak hanya kesakitan secara fisik, tetapi secara psikis ia juga terluka karena indra pendengarannya menangkap suara-suara dari para tetangga yang berkomentar buruk ketika melihat pemandangan hari ini di kontrakannya.


Jika ia berpikir bisa menyembunyikan mengenai perselingkuhannya dengan Arya, tetapi hari ini menyadari bahwa semuanya gagal dan hancur karena ulah dari wanita yang semakin menarik kuat rambutnya.


Sudah merasakan secara fisik serta psikis, saat ini tidak kuasa menahan bulir air mata yang sudah lolos dari bola mata dan menganak sungai di pipi putihnya ketika mendengar hinaan dari para tetangga saat bergunjing dan sampai di telinganya.


"Oh ... jadi Putri berselingkuh dengan pria lain?"


"Padahal Bagus adalah seorang pria yang sangat sabar dan baik hati, tapi dia memilih untuk diam-diam berhubungan dengan pria itu?"


"Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika Putri adalah seorang wanita yang hina karena berselingkuh dan mengajak pria selingkuhannya tinggal bersama."


"Di mana otak wanita itu? Apa dia tidak punya hati karena menduakan suaminya dan mengajak selingkuhan tinggal di sini bersama?"


"Benar-benar sangat menjijikan dan juga memalukan."


"Ini benar-benar mempermalukan kampung ini. Lebih baik kita usir wanita rendahan sepertinya karena akan membawa pengaruh buruk bagi semua orang yang ada di sini."


Putri masih bisa mendengar komentar-komentar buruk lainnya dari para tetangga. Namun, ia sama sekali tidak bisa berkomentar ataupun membantah karena menyadari bahwa semua itu memang benar adanya.

__ADS_1


Apalagi posisinya saat ini yang tidak bisa melawan ataupun membantah hinaan itu. Tentu saja ia hanya bisa memilih pasrah.


Ia menunggu hingga pria yang dicintainya tersebut menyelesaikan masalah dengan cara menghentikan ulah dari wanita paruh baya dengan tangan masih menarik rambutnya sangat kuat.


'Apa yang akan dilakukan oleh Arya untuk menghentikan ibunya agar tidak terus-menerus menyakitiku karena aku sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit pada kepala dan juga rambutku mungkin sudah rontok.'


Entah mengapa, saat ini ia mengingat sosok pria yang menurutnya memiliki sifat dewasa dan bisa menyelesaikan masalah tanpa mengandalkan emosi.


'Bagus, kenapa dia belum kembali dari tadi? Apa dia benar-benar berbohong seperti perkataan dari Arya tadi? Jika benar begitu, apa yang harus kulakukan karena tidak memiliki siapapun yang bisa menolongku. Aku berharap ia segera datang dan menyelamatkan aku dari wanita sialan ini.'


Saat Putri masih sibuk menahan rasa sakit dan hanya bisa mengumpat di dalam hati tanpa berbuat apapun karena menunggu apa yang akan dilakukan oleh Arya untuk menghentikan sikap barbar sang ibu.


Di sisi lain, pria tak lain adalah Arya saat ini sudah memegangi tangan wanita yang telah melahirkannya, berharap bisa menghentikan ulah sang ibu karena berhasil membuat para tetangga datang berkerumun untuk menonton.


"Astaga, Mama! Hentikan! Jangan seperti ini karena semua orang melihat perbuatan Mama. Putri pun saat ini sangat kesakitan, Ma. Nanti terjadi hal yang buruk pada kandungannya!"


Bahkan sebenarnya ia sangat malu, serta merasa heran pada sikap memalukan dari sang ibu yang biasanya selalu bersikap elegan dan tidak pernah mempermalukan diri sendiri di depan orang lain.


Apalagi saat ini berada di tempat asing dan banyak orang berkerumun untuk melihat, seolah mereka adalah tontonan gratis.


'Mama benar-benar sangat keterlaluan karena mempermalukan diri sendiri dan juga aku, serta Putri di depan mereka semua. Padahal tadinya aku berpikir akan bisa tinggal di sini dengan tenang, tapi sepertinya semua itu tidak mungkin bisa setelah semua orang mengetahui hubunganku dengan Putri.'


'Mereka semua pasti akan bergunjing dan menghina kami. Mama benar-benar telah membuat kacau rencanaku dengan Putri. Jika tadi satu masalah telah selesai karena pria itu sudah setuju untuk menerimaku di sini dan juga mau membawa orang yang akan menikahkan kami, tetapi sekarang malah mama yang menghancurkan semuanya.'

__ADS_1


Sementara itu, Rani yang seolah meluapkan semua kemurkaan yang membuncah di dalam hati semenjak dari kemarin, tidak memperdulikan larangan dari putranya dan tetap memberi perhitungan pada wanita yang sudah ditarik rambutnya dengan sangat kencang.


Bahkan saat ini, di tangannya sudah ada helaian rambut berwarna hitam milik wanita yang sangat dibenci karena merebut satu-satunya putra kebanggaannya.


"Jangan melarang Mama karena hari ini aku tidak akan melepaskan wanita sialan dan murahan sepertinya. Dia telah mencuci otakmu hingga tidak bisa berpikir rasional karena memilih pergi dari rumah dan meninggalkan semua fasilitas hanya demi wanita sepertinya."


Teriakan dari Rani sudah memecahkan keheningan yang biasa terjadi di dalam kontrakan. Berganti dengan suara teriakan penuh kemurkaan dari bibirnya.


Wanita dengan wajah memerah tersebut seperti gunung berapi yang siap memuntahkan lahar panas dan menghancurkan siapapun yang berani mendekat.


Meskipun ada pengecualian, yaitu putra kesayangannya. Ia tadi mendorong pria yang tak lain adalah sang supir ketika berani mendekat padanya. Sementara untuk putranya, ia hanya berteriak tanpa mengarahkan pukulan seperti yang dilakukan kepada sang supir.


Bahkan saat merasakan tangannya ditahan dan berusaha dilepaskan oleh Arya, masih tetap saja tidak melepaskan rambut berwarna hitam milik wanita yang saat ini terdengar merintih kesakitan. Malah membuatnya merasa sangat puas karena bisa membalas dendam pada wanita dengan penampilan kampungan dan terlihat memuakkan tersebut.


Masih tidak ingin menyerah untuk menghentikan aksi memalukan dari seorang wanita yang selama ini sangat disayangi, Arya dengan sekuat tenaga sudah menarik tangan dari sang ibu dan berhasil membuat kuasa tersebut lepas.


Meski untuk itu, ia melihat respon dari Putri saat kesakitan dan membuatnya merasa iba.


"Aaargh ... sakit!" Putri yang tadinya sampai terhuyung ke belakang karena rambutnya semakin ditarik ketika Arya menghentikan ulah sang ibu.


Sebenarnya, saat ini ia ingin sekali mengumpat dan membalas dengan cara melakukan hal yang sama. Namun, ia yang hampir jatuh terhuyung ke arah kanan, berhasil menjaga keseimbangan dan sudah berpegangan pada dinding.


Hingga ia kembali mendengarkan umpatan dari wanita yang seolah belum puas untuk menyakitinya. Meskipun rambutnya sudah banyak yang rontok dan kulit kepala sangat nyeri serta panas.

__ADS_1


"Lepaskan aku! Aku akan membunuhnya sekarang karena telah berhasil merebutmu dari Mama!" sarkas Rani masih dengan wajah penuh kemurkaan.


To be continued...


__ADS_2