Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
118. Rasa terkejut Amira


__ADS_3

Seolah putranya itu kini sedang melarang ia agar tidak berbuat gila seperti yang baru saja ditunjukkan.


Refleks ia kini meraup tubuh bocah laki-laki yang sangat disayanginya tersebut ke pangkuannya..


"Maafkan, Ayah. Ayah tidak akan menyakiti diri sendiri lagi, Sayang."


Baru saja menutup mulut, ia kali ini mendengar suara putranya yang masih belum begitu jelas berbicara, tapi mengerti apa yang dimaksud, yaitu mengatakan ingin es krim.


Refleks kini menepuk jidatnya karena sempat melupakan janjinya. "Maafkan Ayah, Sayang karena melupakan janji. Sekarang, ayo kita pergi membeli es krim."


Bagus yang memilih untuk melupakan hal-hal buruk di otaknya, kini bangkit berdiri dan memilih menggendong putranya menuju ke arah supermarket waralaba yang ada di sudut sebelah kanan halte.


Ia melangkahkan kaki panjangnya menyusuri jalanan dengan kerikil-kerikil kecil di bawahnya dan beberapa saat kemudian tiba di tempat yang dituju. Saat baru saja ingin membuka pintu, ia mendengar suara dering ponsel miliknya.


Refleks ia menurunkan bocah laki-laki tersebut agar duduk di kursi dan mengangkat telpon yang tidak lain adalah dari Amira Tan.


"Sorry, aku tadi sedang menemui seorang klien dan ponselku ketinggalan di mobil. Apa yang terjadi? Oh ya, aku sekarang ada dalam perjalanan dan kebetulan di sekitar kontrakanmu. Apa kamu masih libur?"


Bagus yang kali ini membulatkan kedua mata karena mereka khawatir jika tiba-tiba Amira Tan datang ke kontrakan tanpa sepengetahuannya, sehingga ia memilih untuk mengatakan hal yang tadi ingin dibahas.


"Berhentilah di depan mini market yang berada pada area sekitar tempat tinggalku? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Aku tunggu kamu di sini."


Tanpa menunggu jawaban dari seberang telpon, langsung mematikan sambungan telpon begitu ia melihat putranya turun dari kursi dan berjalan masuk ke dalam minimarket karena tadi duduk tepat di depan area es krim.


Meskipun dihalangi oleh kaca, tetap saja bisa melihat bahwa di depannya ada freezer berisi beraneka ragam jenis es krim dengan berbagai rasa, mulai dari coklat, jagung, strawberry dan aneka jenis buah lainnya.


"Sayang, tunggu!" Bagus yang berhasil mengejar putranya saat berlari, kini sudah berjalan menuju ke arah pintu masuk dan kembali menggendong.


Entah berapa menit berlalu, ayah dan anak itu sudah membawa satu kantung plastik berisi es krim dan beberapa camilan. Bagus kembali duduk di depan mini market karena di sana disediakan tempat duduk.

__ADS_1


Seolah memberikan kesempatan pada customer yang ingin beristirahat untuk duduk sejenak, meskipun hanya sekedar melihat orang-orang lewat.


Terlihat ia sudah membuka kemasan es krim dan memberikan pada putranya. Kemudian mendengar suara klakson mobil, sehingga langsung bisa menebak itu adalah Amira Tan yang merupakan saudara tiri sang istri.


Bagus hanya diam ketika melihat sosok wanita keluar dari mobil dan membuatnya merasa seperti seorang pria yang tidak berguna karena akan mengungkapkan niatnya untuk meminjam uang.


Jika Putri mengatakan bahwa ia tidak boleh mengatakan sejujurnya, tetapi kali ini memilih untuk jujur saja, agar tidak ada masalah ke depannya lagi.


Tanpa memperdulikan Putri karena terpaksa dilakukan demi bisa segera menikahkan keduanya agar tidak melakukan dosa terus menerus jika terus menundanya.


Sementara itu, Amira Tan yang baru saja menemui klien penting, kini melambaikan tangan pada Bagus dan mendaratkan tubuhnya di depan pria itu. Sekilas ia melirik ke arah sosok bocah laki-laki yang wajahnya mirip dengan Putri.


"Putramu seperti merupakan Putri versi laki-laki. Wajahnya bahkan sangat mirip dengan ibunya, sedangkan wajahmu hanya sedikit saja menurun pada gen putramu."


Dengan sangat santai, Amira Tan mendaratkan tubuhnya di kursi besi itu dan menunggu hingga sosok pria yang kini lebih sering menghubungi tersebut segera mengungkapkan keinginan padanya.


"Cepat katakan karena aku harus menemui klien satu jam lagi."


Termasuk gaya duduk saja bisa terlihat sangat tenang, tetapi terkesan elegan.


Bagus kini ingin mengatakan tentang sesuatu yang ada di pikirannya karena dari tadi sedang sibuk menimbang-nimbang.


"Apa aku boleh meminjam uang? Saat ini, aku benar-benar membutuhkan uang."


Merasa bahwa sikap yang ditunjukkan oleh seorang pria di hadapannya itu jujur dan tulus, kini ia memilih untuk mengeluarkan ponselnya. Kemudian membuka m-banking untuk langsung mentransfer sejumlah uang.


"Berapa?"


Bagus yang kini mengerjapkan mata begitu melihat respon sangat santai dari sosok wanita di hadapannya tersebut karena sama sekali tidak bertanya untuk apa ia meminjam uang.

__ADS_1


'Astaga, wanita ini kenapa begitu tenang sekali saat ada orang yang baru mengenal meminjam uang.'


"Ehm ... berapa apanya? Uangnya atau nomor rekeningku?" tanya Bagus yang sebelumnya berdehem sejenak untuk menguraikan suasana penuh ketegangan ketika dirasakannya saat berhadapan dengan seorang Amira Tan yang sangat tenang.


Saat Amira Tan baru saja membuka salah satu aplikasi untuk menstranfer sejumlah uang, ia kini mengangkat pandangannya dari layar ponsel beralih pada wajah pria yang malah terlihat sangat gugup di hadapannya.


Merawat sangat aneh dengan ekspresi wajah pria yang ada di hadapannya, Bagus memicingkan mata.


"Kamu kenapa? Seperti berhadapan dengan seorang penjahat saja. Katakan berapa uang yang kau butuhkan dan sekalian nomor rekening karena aku akan langsung kutransfer. Aku harus segera pergi menemui klien lain."


Kini, malah Bagus yang merasa ragu untuk menyebutkan berapa nominal uang yang akan dipinjam. Mungkin jika orang lain yang mendapat pertanyaan seperti itu, akan langsung mengatakan nominal uang sebanyak-banyaknya.


Sementara itu, ia malah ragu dan takut tidak bisa membayar utang. Memang kebanyakan orang suka sekali kala meminjam uang, tapi berbeda saat harus membayar yang terasa sangat berat.


Jadi, ia tidak ingin terlalu dibebani oleh utang yang malah serasa mencekiknya, tetapi berniat untuk menceritakan lebih dulu untuk apa meminjam uang karena tidak ingin dianggap sebagai pria yang memanfaatkan orang lain, terutama wanita seperti Amira Tan.


"Kamu harusnya bertanya dulu padaku, untuk apa aku meminjam uang. Jadi aku harus mengatakan dulu tujuanku saat meminjam uang padamu karena terpaksa dan tidak ada yang bisa menolong selain kamu."


Amira Tan yang kini memilih untuk menaruh benda pipih di tangannya ke atas meja, kini menatap intens wajah pria di hadapannya.


"Bagiku, itu tidak penting karena aku sudah tahu siapa kamu, di mana tempat tinggalmu dan terakhir adalah karena aku seorang pengacara yang bisa mengirimmu ke penjara jika macam-macam dan berbohong karena ingin memanfaatkanku."


"Mana mungkin aku berani padamu. Itu sama saja bunuh diri," sahut Bagus yang kini sambil membersihkan bekas lelehan es krim yang menghiasi mulut putranya.


Kemudian kembali menatap ke arah Amira Tan begitu memberikan Snack berupa keripik kentang pada putranya agar diam dan tidak lari kesana-kemari.


"Aku harus segera menikahkan Putri dan pria itu hari ini karena pria itu sudah berada di kontrakan. Aku tidak ingin mereka selalu berbuat dosa tanpa ada ikatan pernikahan, jadi memutuskan untuk mencari orang yang akan menikahkan mereka."


Bagus yang baru saja mengakhiri ceritanya, kini seketika menutup telinga begitu ia mendengar suara teriakan penuh terkejut dari sosok wanita yang langsung menggebrak meja.

__ADS_1


"Apa? Apa kau sudah gila? Apa kau sadar sedang berurusan dengan siapa? Ari Mahesa akan menghancurkanmu saat ini juga jika mengetahui hal ini," umpat Amira Tan yang kali ini sangat terkejut dengan pengakuan luar biasa dari Bagus.


To be continued...


__ADS_2