Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
149. Pembicaraan belum selesai


__ADS_3

Putri juga cukup sadar diri untuk tidak meminta barang-barang yang mahal meskipun sebetulnya ia sangat ingin. Rasa iri terkadang membuncah di dalam hati ketika melihat teman-teman lamanya yang pamer kemesraan dengan sang suami beserta kekayaan mereka di sosial media.


Sementara ia hanya bisa duduk diam di rumahnya sembari menjaga Putra ketika menunggu Bagus untuk pulang ke rumah.


Membosankan sekali, bukan kesehariannya itu? Sungguh tidak pernah ada perubahan dalam beberapa tahun ini. Ia harus selalu terpaksa menerima hidupnya yang selalu pas-pasan.


Dulu Putri memilih menikah dengan Bagus karena pikirnya, ia bisa hidup bahagia bersama laki-laki itu sampai akhir hayatnya.


Namun, siapa sangka bahwa semakin ke sini, yang dirasakan hanya kehampaan semata. Ia tidak lagi bisa merasakan bahagia, terutama untuk urusan ranjang.


Salah satu kelemahan Bagus yang pada akhirnya membuat Putri berpaling dan tidak bisa lagi bertahan untuk tetap setia adalah karena hal itu.


Nyatanya tidak ada perubahan sedikit pun dari Bagus yang membuat Putri kian muak sampai tidak bisa lagi menahan diri untuk menjauh.


Seharusnya semua orang tidak bisa hanya menyalahkannya saja karena masalah utama dari rumah tangga mereka berasal dari Bagus.


Laki-laki itulah yang tidak bisa memberikan kepuasan padanya. Akhirnya bertemu dengan Arya yang bisa memberikan segala hal.


Semua yang dimiliki oleh Arya selalu membuatnya bahagia. Hingga terkadang turut merasakan kekayaannya.


Namun, yang paling penting adalah Arya berhasil memberikan kepuasan yang sudah lama tidak Putri rasakan selama sisa hidupnya.

__ADS_1


Ia seperti merasa mendapatkan kehidupan masa mudanya kembali karena tiap kali sedang bersama Arya, selalu merasa bahagia.


Bahagianya yang telah redup itu bisa kembali karena laki-laki lain.


Sosok Arya tidak akan semudah itu bisa Putri usir dalam hidupnya. Ia justru ingin laki-laki itu tetap bersamanya dan melanjutkan hubungan mereka dalam waktu yang lama.


Apa yang sudah terjadi memang tidak akan bisa dibatalkan lagi, Putri sendiri tidak tahu bahwa pernikahannya akan berakhir seperti ini.


Siapa sangka bahwa Arya akan diusir dari rumah setelah memilih menikah dengannya dan tidak diberikan apapun lagi oleh keluarga besarnya, sehingga pada akhirnya, laki-laki itu harus berakhir di kontrakan sempit milik suami pertamanya.


Semua yang terjadi dalam satu minggu ini benar-benar tidak bisa disangka-sangka.


“Tolong gendong Putra. Aku harus berangkat sekarang.”


Wanita itu memang terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini. Padahal yang seharusnya paling pusing di sini adalah Bagus. Entah mengapa wanita itu bersikap seolah-olah yang paling tersakiti.


“Kamu sudah mau berangkat?” tanya Putri sebagai basa-basi.


Tidak mungkin ia mengabaikan kalimat suaminya tadi karena sangat tidak sopan jika mengabaikannya.


“Iya, aku harus berangkat sekarang," jawab Bagus singkat. Bahkan terkesan sedikit dingin.

__ADS_1


Sekarang, tiba-tiba saja sikap Bagus berubah menjadi dingin kepadanya.


Tentu saja wajar jika Bagus bersikap seperti itu.


Rasa bersalah kembali merambat memenuhi hati Putri. Membuatnya sesak tak tertolong, yang ia tahu pada saat itu hanyalah dirinya telah bersalah dan melukai perasaan pria itu sangat dalam.


“Masih ada waktu untuk menyiapkan kopi. Apa kamu mau aku menyiapkan kopimu sebelum berangkat?” Putri masih berusaha menawarkan diri, berusaha bersikap baik karena rasa bersalahnya.


Namun, pada saat itu Bagus enggan menatapnya.


Laki-laki itu hanya berjalan. Kemudian menyerahkan Putra yang masih berada di gendongannya.


Bocah laki-laki itu sudah tidak menangis lagi, tapi belum kembali tertidur. Di dalam hati, Bagus meminta maaf karena telah membuat sedikit kericuhan di depan putranya sendiri.


“Tidak perlu. Aku langsung pergi saja. Jangan habiskan waktumu hanya untuk membuatkan kopi untukku.”


Setelah mengatakan itu, Bagus segera mengambil barang-barangnya dan langsung beranjak pergi dari rumah untuk berangkat bekerja.


Laki-laki itu sedang merasa takut, jika ia masih berada di ruangan yang sama dengan Putri sampai beberapa menit ke depan, yang ada, akan meledak dan marah kepada wanita itu.


Akan tetapi, tidak mau jika hal itu sampai terjadi, sehingga pada akhirnya memilih untuk pergi saja walaupun pembicaraan mereka belum selesai.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2