
Seulas senyum terbit dari bibirnya. "Berani sekali dia tadi memberikan aku sebuah hukuman. Sekarang aku sudah gila karena jatuh cinta pada seorang wanita dan sangatlah menginginkannya hingga tidak mempedulikan statusnya."
"Putri ... aku tidak akan pernah melepaskanmu. Akan aku lakukan apapun demi bisa menikahimu."
Arya kini terlihat membuang puntung rokok yang hanya tertinggal sedikit itu ke bawah dan terlihat jatuh terhempas ke tanah dengan cahaya dari nyala ujungnya yang masih terlihat.
Kakinya yang panjang kini melangkah ke dalam kamar dan mengunci pintu.
Tentu saja ia tidak ingin berniat untuk membalas pesan dari suami Putri yang dianggapnya sama sekali tidak penting. Namun, ia yang berniat untuk menaruh benda pipih tersebut ke atas nakas, membuatnya sangat terkejut karena berbunyi.
'Sial! Gara-gara aku membaca pesannya, dia sekarang menelpon.'
Suara dering ponsel yang sangat nyaring, berhasil membuat tidur pulas Putri terganggu dan ia perlahan membuka mata.
Sementara Arya tadi berniat untuk menekan mode silent agar tidak menggangu tidur Putri, tapi semuanya terlambat karena sang kekasih sudah terbangun.
"Apa pria tua itu yang menelpon?" tanya Putri yang buru-buru bangun dan merebut ponsel miliknya di genggaman Arya.
Melihat Putri baru bangun langsung menyebut pria itu, tentu saja membuatnya merasa sangat kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa dan seperti biasa selalu menahan diri.
Putri kini memilih untuk menaruh jari telunjuk di bibir. Saat ini yang dipikirkannya hanyalah Bagus tidak menaruh curiga padanya.
"Tolong jangan membuka suaramu!"
Masih dengan wajah memerah karena kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, Arya hanya berjalan menuju ranjang dan membanting tubuhnya di sana.
Meskipun ia tidak menjawab keinginan Putri, tapi memang berencana untuk tetap diam dan menuruti apapun yang diinginkan oleh wanita yang mulai menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo."
"Kenapa kamu tidak membalas pesanku saat sudah membacanya, Sayang?"
__ADS_1
"Apa?"
Mengerti dengan apa yang terjadi, Putri kini sudah membuka pesan Bagus yang ditebaknya telah dibaca oleh pria yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi menghadapnya dan mengarahkan tatapan mengintimidasi.
Namun, ia sama sekali tidak mempedulikan hal itu karena ingin mengatasi Bagus terlebih dulu.
'Baru begini saja sudah membuat Arya menatapku seperti hendak memangsa'' gumam Putri yang kini kembali mencari alasan pada Bagus agar tidak curiga padanya, bahwa saat ini sedang tidak berada di kontrakan.
Arya yang terlihat tengah berbaring dengan posisi menghadap ke arah sosok wanita yang sedang berbicara di telpon dengan pria yang diketahuinya adalah suami dan sekaligus saingannya.
Tentu saja sebagai seorang pria yang normal, ia benar-benar merasa cemburu saat melihat wanita yang sudah berstatus sebagai istri orang tersebut berbicara dengan pria lain tepat di hadapannya.
Meskipun itu adalah salahnya karena mencintai wanita yang sudah bersuami.
Sebenarnya ia mengetahui konsekuensi dari pilihannya, tetapi tetap saja merasa cemburu melihat Putri berbicara dengan sang suami di telepon.
Saat ini, ia hanya bisa mengumpat di dalam hati karena tidak mungkin meluapkannya pada Putri yang mungkin akan membuat mereka kembali bertengkar seperti beberapa saat lalu.
'Hanya melihatnya berbicara di telpon saja, sudah membuatku merasa sangat cemburu. Apalagi jika sampai melihat dengan mata kepalaku sendiri saat Putri dan suaminya tinggal serumah.'
Masih terdiam dan mengamati Putri yang terlihat asyik berbicara di telpon, beberapa saat kemudian, ia melihat wajah sayu dari sosok wanita yang terdengar bergetar suaranya.
Mengerti apa yang terjadi, refleks segera bangkit dan bergerak untuk mendekati Putri Tentu saja niatnya adalah ingin memeluk wanita yang sangat dicintainya tersebut agar tidak menangis. Meskipun ia tidak tahu apa yang membuat Putri menangis.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena sudah mendapatkan ancaman dari Putri beberapa saat lalu agar tidak membuka suara. Bahkan saat ini ia terlihat mengusap lembut punggung di balik rambut panjang itu.
Berharap perbuatannya bisa menenangkan perasaan Putri.
'Kenapa harus mengangkat telpon jika hanya membuatnya bersedih seperti ini. Dasar bodoh!' umpat Arya yang hanya bisa mengungkapkannya di dalam hati.
Beberapa saat kemudian, ia melihat Putri sudah mematikan sambungan telpon dan seperti dugaannya, kini menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.
__ADS_1
"Arya, aku bahkan telah menghina ibuku seorang wanita murahan. Apakah aku berdosa? Ibu pasti di sana akan menangis karena putrinya baru saja mengumpatnya," lirih Putri dengan suara serak dan tubuh bergetar karena efek menangis sesenggukan di dada bidang pria yang masih mengusap lembut punggungnya.
Saat beberapa saat lalu Bagus membahas mengenai masa lalu wanita yang telah melahirkannya, membuatnya benar-benar bersedih.
Tanpa sadar ia berkata bahwa seorang wanita yang tertarik pada pria yang telah bersuami adalah seorang wanita murahan dan beberapa saat melupakan bahwa wanita yang telah melahirkannya telah berbuat hal seperti itu dan ia lahir dari hubungan terlarang.
Ibunya dulu berselingkuh dengan seorang pria dan akhirnya hamil dirinya. Ia bahkan tidak pernah menyangka akan meneruskan jejak buruk sang ibu.
Saat ia menyadari bahwa perkataannya seperti menampar diri sendiri, tidak kuasa untuk melanjutkan pembicaraan dan memilih untuk mengakhiri sambungan telpon secara sepihak tanpa mendengarkan jawaban dari pria di seberang telepon.
Kini, ia masih menangis tersedu-sedu dan merasakan bahwa perbuatannya berhasil membasahi dada telanjang pria yang memeluknya dengan sangat erat.
Sebenarnya Arya merasa sangat iba dan tidak ingin melihat Putri menangis tersedu-sedu saat bersamanya, tetapi menyadari bahwa seorang wanita selalu melampiaskan semua kesedihan dengan cara mengeluarkan air mata.
Berbeda dengan kaum pria yang memilih untuk melampiaskan dengan kemurkaan. Masih memeluk erat serta sibuk mengusap lembut punggung belakang Putri, Arya memilih untuk menghibur sebisanya.
"Menangislah dan jangan menahan perasaan karena itu jauh lebih baik dan akan membuatmu tidak terpuruk dalam kesedihan. Aku akan mendengarkan saat kamu siap untuk menceritakan padaku."
"Sebenarnya aku tidak ingin menangis karena ini adalah hari bahagia yang harusnya dipenuhi dengan senyuman, tapi tidak bisa menahannya."
Arya kini mengarahkan jarinya pada dagu lancip wanita dengan wajah dipenuhi oleh bulir air mata tersebut.
Kemudian ia mengecup lembut kening Putri
I love you. Katakan kau mencintaiku."
Putri yang saat ini masih bersedih dengan wajah sembab, mengerutkan kening karena merasa permintaan dari Arya sangat konyol.
"Saat aku sedang bersedih seperti ini, kau ingin aku untuk mengatakan i love you?"
Posisi keduanya yang terlihat sangat dekat dan bisa saling bertatapan, kini Arya langsung terlihat menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Jika kamu bisa melakukannya, aku akan memberimu hadiah. Aku yakin kamu pasti akan sangat senang dengan hadiah dariku. Cepat katakan!" Menatap intens wajah sembab di hadapannya sambil menunggu jawaban dari Putri.
To be continued...