Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
132. Penampilan kampungan


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, mobil mewah yang membawa sosok wanita paruh baya dengan penampilan sangat elegan karena semua yang dipakai merupakan barang-barang mewah mulai dari ujung kaki hingga kepala.


Sosok wanita yang tak lain adalah Rani tersebut menyuruh sang sopir untuk bertanya pada orang yang berada di depan rumah area sekitar kontrakan yang menjadi tempat tinggal wanita bernama Putri, begitu memasuki gang yang tadi dikatakan oleh sahabat dari putranya.


Tentu saja ia tidak ingin repot-repot untuk turun dari mobil dan berinteraksi dengan orang-orang yang dianggapnya tak lebih dari kuman karena menganggap tidak sederajat dengannya.


Ia yang masih duduk di dalam mobil, mengamati suasana rumah-rumah kecil yang berdekatan dan tentu saja sangat berbeda dengan area tempat tinggalnya yang merupakan perumahan mewah dan elit dari para konglomerat.


Hanya dengan membandingkan rumah-rumah yang terlihat di depan mata dengan area tempat tinggalnya, tentu saja membuatnya merasa sangat muak.


Apalagi jika membayangkan penerus dari keluarga Mahesa memilih tinggal di rumah kecil dan sempit itu, tentu saja membuatnya merasa sangat iba pada nasib putranya.


'Astaga, Arya. Bagaimana mungkin kamu memilih tinggal di tempat kumuh seperti ini dan mempermalukan nama baik keluarga besar kita yang selama ini dihormati oleh banyak orang.'


'Kamu pasti saat ini sangat menderita, tetapi menahan diri karena wanita itu telah mempengaruhimu. Wanita bernama Putri itu benar-benar telah berhasil mencuci otak putraku.'


'Aku benar-benar akan membuatnya menyesal pernah dilahirkan di dunia ini karena telah merebut satu-satunya putra yang merupakan kebanggaan keluarga kami.'


Saat baru saja selesai mengumpat di dalam hati, ia melihat sang sopir sudah berjalan masuk ke dalam mobil dan mendaratkan tubuhnya di depan kemudi.


"Bagaimana? Apa orang itu tahu di mana rumah wanita murahan yang telah membuat putraku berakhir di tempat kumuh seperti ini?"


Sang supir kini langsung menoleh ke arah belakang untuk menanggapi pertanyaan dari sang majikan yang terlihat kesal.


"Iya, Nyonya. Tadi kata wanita itu, ada di depan sana dengan jarak lima rumah. Rumah kontrakan itu berwarna hijau dan berbeda dari rumah yang lain karena paling kecil di antara lainnya.


"Astaga!"

__ADS_1


Lagi-lagi Rani memijat pelipisnya karena membayangkan nasib malang putranya yang tinggal di rumah kecil seperti yang dikatakan oleh sang supir.


"Malangnya nasibmu, putraku. Belum apa-apa saja sudah diawali dengan penderitaan seperti ini. Bagaimana jika kamu benar-benar menikah dengan wanita murahan itu? Pasti akan semakin bertambah menderita."


Sementara itu, sang sopir yang masih menunggu perintah dari wanita di kursi belakang tersebut, hanya bisa diam dan memaklumi kekesalan dari seorang ibu yang menyayangkan ulah putranya saat berhubungan dengan orang yang tidak sederajat.


'Beginilah para orang tua yang berasal dari keluarga kaya, memandang hina orang miskin saat menganggap tidak sederajat. Kasihan sekali wanita itu jika nanti benar-benar menikah dengan tuan Arya dan harus memiliki seorang mertua yang sangat cerewet dan kejam seperti nyonya.'


'Pasti nasibnya akan sama seperti kisah yang ada di sinetron. Kisah seorang istri yang selalu menangis ketika memiliki mertua jahat. Hal inilah yang harus dipikirkan oleh orang-orang miskin ketika berani masuk ke dalam kekuasaan para konglomerat. Harta memang selalu dianggap menjadi kasta dari seseorang.'


Lamunan dari pria yang merupakan sang supir tersebut seketika buyar begitu mendengar suara mengintimidasi dari majikannya.


"Cepat jalan! Kenapa hanya diam saja!" umpat Rani yang saat ini tengah menatap kesal pada sang supir.


Ia sudah tidak sabar untuk menemui putranya dan melihat bagaimana nasib dari satu-satunya penerus keluarga Mahesa tinggal di kontrakan bersama seorang wanita murahan.


"Putraku pasti belum makan. Aku harus segera memberikan makanan ini agar gizinya terpenuhi karena beberapa hari tidak makan makanan yang layak."


"Baik, Nyonya."


Sang supir kembali menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya dengan kecepatan lambat karena berada di area gang dan mengamati satu persatu rumah yang dilewati.


Begitu melihat rumah dengan dinding berwarna hijau seperti yang dikatakan oleh seorang wanita berbadan gemuk tadi, langsung menepikan mobil di depan rumah tersebut.


"Ini tempatnya, Nyonya." Sang supir buru-buru berjalan keluar dan membuka pintu mobil sang majikan.


Begitu pintu mobil terbuka, Rani yang mengambil paper bag berisi makanan untuk putra kesayangannya, tidak membuang waktu langsung keluar dan mengamati rumah berukuran sempit dan menurutnya sangat mengenaskan karena dianggap tidak layak ditempati.

__ADS_1


"Jadi, putraku tinggal di gubuk reyot seperti ini? Astaga, Arya Kenapa kamu memilih hidup menderita saat bisa bergelimang harta dan tinggal di tempat nyaman? Hanya karena wanita miskin dan murahan itu, membuatmu berakhir mengenaskan di sini."


"Mama benar-benar tidak rela melihatmu hidup penuh dengan penderitaan di tempat yang hanya seperti tempat sampah ini."


Tidak sabar ingin melihat putranya yang sangat dirindukan dan dikhawatirkan, Rani sudah melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah pintu berwarna coklat tua yang hampir pudar dimakan panas dan hujan.


Ia menyuruh sang sopir untuk mengetuk pintu karena tidak ingin menyentuh apapun di rumah itu. Menganggap bahwa segala sesuatu yang ada di hadapannya saat ini hanyalah kuman yang harus dihindari.


Sementara sang sopir langsung melaksanakan perintah dan sama sekali tidak mengeluarkan suara karena majikannya memberikan kode agar ia tidak membuka mulut ketika mengetuk pintu.


Rani masih mengarahkan jari telunjuk pada bibirnya agar pria di hadapannya tersebut mematuhi perintah.


'Arya dan wanita murahan itu tidak akan membuka pintu jika mengetahui aku yang datang,' gumam Rani yang masih tidak mengalihkan pandangannya pada pintu berwarna pudar di hadapannya.


Masih menunggu hingga pintu terbuka, ia merasa kesal karena cukup lama berdiri di sana dan tak kunjung dibuka oleh wanita yang tinggal di sana.


"Coba ketuk pintu lagi! Apa yang mereka lakukan di dalam? Atau tidak ada orang di rumah ini?" lirih Rani dengan suara yang tertahan karena tidak ingin sampai terdengar dari dalam rumah dan melihat sang supir kembali mengetuk pintu.


Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara dari dalam, yaitu kunci yang diputar dan membuatnya langsung mengibaskan tangan pada pria di hadapannya agar segera pergi karena ingin berbicara dengan Arya dan wanita yang sangat dibencinya.


Beberapa saat kemudian, pintu yang tadinya tertutup tersebut kini telah terbuka dan menampilkan sosok wanita dengan penampilan khas ibu-ibu.


Hal itu tentu saja membuat Rani semakin merasa muak melihat penampilan dari wanita yang telah merebut putra kesayangannya hingga lupa segalanya.


Ia saat ini melihat penampilan dari wanita di hadapannya mulai dari ujung kaki hingga kepala dan pastinya sangat jauh berbeda dengan apa yang dipakainya.


'Astaga, wanita ini bahkan terlihat sangat kampungan penampilannya. Benar-benar sangat memalukan dan tidak pantas menjadi istri dari penerus keluarga Mahesa. Apa yang hari ini dia pakai? Bagaimana bisa putraku menyukai wanita seperti ini?'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2