
Arya melirik ke arah sosok wanita yang dari tadi hanya diam saja dan membuatnya mengerutkan kening.
"Apa kamu sedang memikirkan pria itu? Aku bisa melihat bahwa pria brengsek tadi tertarik padamu."
Mendengar perkataan bernada over posesif dari pria tampan yang membuatnya tergila-gila, membuat Putri seketika terdiam. Otaknya mulai mencerna semua perkataan tersebut, dan membuatnya mengungkapkan di dalam hati.
'Sepertinya Arya benar-benar sangat cemburu melihatku berbicara dengan pria lain. Cemburu tandanya cinta dan aku benar-benar sangat bahagia.'
Puas beragumen sendiri di dalam hati, kini Putri tersenyum simpul pada pria yang diketahuinya sedang cemburu itu. "Jangan merusak kebahagiaan kita dengan sesuatu yang tidak penting, Arya."
"Bukankah tujuanmu mengajakku ke sini adalah karena ingin aku bersenang-senang?"
"Itu memang benar, tapi kedatangan pria itu membuatku kesal." Arya masih belum bisa menghilangkan sesuatu yang dipikirkannya.
"Sudah, lupakan saja karena hari ini kau harus menepati janjimu yang menyuruhku membeli apapun yang kuinginkan."
"Baiklah. Belilah apapun yang kamu inginkan, Sayang."
Refleks Putri tersenyum dan mengajak Arya mengelilingi area Mall terbesar di Jakarta itu. Kemudian membeli beberapa barang, seperti tas, sepatu, gaun.
Mereka pun bersenang-senang dengan menghabiskan waktu seharian penuh berkeliling Mall. Keduanya tampak berbahagia dengan sesekali tertawa kecil saat membahas sesuatu berbau intim.
"Kakiku rasanya pegal-pegal. Kita duduk di cafe itu, saja! Atau kita sekalian makan karena jam makan siang sudah lewat dari tadi." Putri mengusap perutnya yang datar, untuk menunjukkan bahwa ia sudah kembali lapar.
"Salah sendiri kamu dari tadi tidak mau berhenti. Lihat nih belanjaanmu sampai membuat tanganku penuh."
Arya menunjukkan beberapa paper bag yang diletakkan di salah satu kursi sebuah food court dan mendaratkan tubuhnya di sana.
"Masalahnya, aku baru pertama kali bisa berbelanja tanpa harus memikirkan uang dan nominal angkanya. Selama ini, kan aku nggak pernah beli barang-barang mahal seperti ini karena menghemat pengeluaran."
"Namun, sekarang bisa membeli semua barang yang aku inginkan tanpa harus menghemat uang lagi."
__ADS_1
"Apapun untukmu, Sayang. Asal kekasihku senang, aku pun juga senang. Di sini ada berbagai macam aneka jenis makanan. Kamu mau makan apa?"
"Aku ingin makan yang belum pernah kumakan. Spaghetti, aku ingin merasakannya sekarang
"Sebenarnya aku sangat suka udang, kepiting, cumi-cumi, tapi karena harganya yang sangat mahal, membuatku tidak pernah membelinya. Cuma saat aku benar-benar ingin saja membelinya."
Arya sebenarnya merasa bosan mendengar keluhan dari wanita yang terdengar sangat mengenaskan dalam menjalani hidup. Namun, ia tidak menampilkannya karena tidak ingin membuat Putri kesal.
"Sayang, asal kamu tahu, sebenarnya menghemat dan pelit itu hanya beda tipis. Sebenarnya kamu itu pelit atau menghemat?"
Arya mengacak rambut panjang yang tergerai di bawah bahu tersebut, seraya terkekeh begitu melihat wajah Putri yang ditekuk dan mengerucutkan bibir sensual yang sudah menjadi candunya.
"Kata kakakku sih aku pelit, tapi menurutku, hanya ingin menghemat agar tidak sampai pinjam bank seperti yang kebanyakan dilakukan para tetanggaku. Apalagi bank dengan bunga tinggi yang beberapa hari datang ke rumah, itu rasanya sangat mencekik."
Sementara itu, Arya hanya mendengar cerita dari wanita yang menceritakan tentang sesuatu yang baru pertama kali diketahui karena ia selama ini tidak pernah berhubungan dengan bank karena rekeningnya selalu bertambah karena tiap bulan mendapatkan jatah jajan dari sang ayah.
"Saat aku bingung bagaimana cara menghabiskan uangku, tapi kamu malah kebalikannya. Harus menghemat, agar uang tidak cepat habis. Kasihan sekali." Arya kini meraih telapak tangan Putri dan menatap dengan tatapan intens.
Saat Putri ingin membuka mulutnya untuk menanggapi, tapi ada satu pelayan wanita yang datang menghampiri mejanya.
"Selamat datang Tuan dan Nona. Silakan, mau pesan apa?"
"Aku pesan menu udang, kepiting dan cumi, tapi semuanya jangan terlalu pedas, minumannya orange jus saja."
"Baik, Tuan. Lalu apa ada lagi yang mau dipesan?"
"Spaghetti bolognese dan jeruk hangat saja." Putri menyahut dan beralih menatap ke arah Arya. "Sayang kamu tidak suka pedas? Kamu masih muda, harusnya kuat makan pedas," ujar Putri yang masih menatap intens wajah dengan pahatan sempurna di hadapannya.
"Aku sangat suka pedas, jadi nanti aku ingin mencicipi seafood pesananmu. Kalau tidak pedas, aku mual."
"Kamu meragukan kemampuanku? Tentu saja aku kuat, lah! Membuatmu puas di atas ranjang saja aku kuat, apalagi cuma makan pedas. Arya terbahak setelah menggoda wanita yang terlihat bersungut-sungut itu di depannya.
__ADS_1
Kemudian ia mengibaskan tangan pada waiters. "Itu saja pesanannya, jadi rumah sangat pedas, ya!"
"Iya, Tuan. Silahkan tunggu sebentar!"
Sementara itu, Putri yang masih mengerucutkan bibirnya, langsung mencubit lengan kekar Arya begitu sang pelayan restoran pergi dari hadapan mereka.
"Dasar menyebalkan! Apa yang akan dipikirkan oleh pelayan tadi saat kamu berbicara mesum seperti itu? Pasti dia menganggap aku adalah wanita murahan."
"Kita tidak mengenal dan tidak akan pernah bertemu dengan wanita itu lagi. Jadi, tidak perlu merasa khawatir tentang pikiran waiters itu."
"Menyebalkan sekali." Putri kembali kesal dengan tanggapan Arya yang tidak memahami apa yang dirasakan olehnya.
"Jangan marah, Sayang. Nanti aku akan memuaskanmu empat ronde." Arya mengedipkan mata untuk semakin menggoda sang kekasih yang terlihat menggemaskan di hadapannya.
Refleks Putri meraih buku menu dan mengangkat tangan untuk mengarahkan pada kepala Arya, tetapi ia tidak jadi melakukannya saat melihat ada Early yang berjalan bersama tiga temannya masuk ke area cafe.
'Kenapa harus bertemu mereka di sini? Apa dia akan membalas dendam pada Arya dan juga aku karena mempermalukan di apartemen kemarin?'
"Sayang, lihatlah di belakangmu! Sepertinya wanita tidak tahu diri itu ingin menuntut balas kepadamu. Awas saja jika sampai ia menyalahkanku dan juga menuntut balas kepadaku. Aku akan menghabisinya."
Putri menunjuk ke arah empat wanita yang sudah berjalan semakin mendekati tempat duduk mereka.
Sedangkan Arya refleks menoleh ke belakang dan melihat para wanita berjalan semakin mendekat. Dengan ekspresi yang sangat tenang, Arya kembali melihat ke arah sang kekasih.
"Dia tidak akan berani macam-macam padamu selama ada aku. Jadi kamu tenang saja. Kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan?"
"Astaga... kenapa kamu bisa sesantai itu?" Putri menepuk dahinya begitu melihat wajah Arya yang terlihat sangat tenang.
'Untung Arya tidak mempunyai rasa lagi pada wanita bernama Early itu, sehingga aku tidak merasa khawatir jika ia akan kembali pada wanita itu jika digoda karena sangat mencintaiku dan membelikan apapun yang kusukai hari ini.'
'Sebenarnya aku ingin membelikan sesuatu untuk putraku, tapi pasti nanti pria tua itu curiga dan bertanya uang dari mana. Jadi, lebih baik cari aman saja,' gumam Putri yang kini menunggu Early dan teman-temannya berbuat apa padanya
__ADS_1
To be continued...