Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
153. Pindah


__ADS_3

Arya baru saja kembali ke kontrakan saat suasana sudah gelap. Sejak pagi, keberadaannya menjadi tanda tanya untuk Putri.


Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, kedatangan Arya disambut tatapan tajam oleh Putri.


Tidak merasa bersalah, Arya yang terlihat mabuk itu hanya melepaskan sepatu yang dikenakan, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


“Arya, kamu dari mana? Jam berapa ini baru kembali?” Pertanyaan Putri tidak terjawab dan pria itu sudah terlelap.


Bau menyengat dari alkohol membuat Putri kesal. Ternyata pria itu tidak bekerja seperti yang dikatakan. Putri menahan emosi dan tidak ingin ribut di tengah malam.


Ya, sadar dengan keberadaan Bagus dan anaknya, membuat Putri mengurungkan niat untuk beradu mulut. Ia benar-benar sangat kesal melihat suami keduanya itu hanya menjadi beban baginya.


Apalagi ia benar-benar sangat malu pada Bagus karena selalu meminta uang untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, ia tidak ada pilihan lain karena memang keadaan yang memaksanya harus seperti itu, yaitu membuang rasa malu pada suami pertamanya yang masih menerimanya, meski sudah menyakiti hati pria itu.


Keesokan paginya, Putri bangun awal seperti biasa. Hanya saja, kali ini Bagus sudah mengenakan pakaian rapi untuk berangkat bekerja. Sudah ada makanan yang dihidangkan di atas meja, sebelum pergi Bagus bertanya seputar keberadaan Arya kemarin.


“Jadi, ke mana dia pergi semalam?” tanya Bagus dengan tatapan menyelidik.


“Aku tidak tahu, semalam pulang sangat larut.” Putri menjawab dengan menundukkan kepala karena lagi dan lagi merasa tidak punya muka di depan pria yang ada di hadapannya tersebut.


“Sebaiknya kamu beritahu dia untuk bertanggung jawab sebagai suami, agar kondisi kandunganmu juga tidak terganggu karena memikirkan sikapnya yang seperti anak kecil.”


“Sudahlah! Aku tidak ingin ribut pagi ini. Sebaiknya kamu segera berangkat agar rezekinya tidak dipatuk ayam.”


Bagus tersenyum masam mendengar pesan istrinya. Sebenarnya ia ingin sekali seperti dulu, selalu ada satu kecupan mendarat di kening sang istri, lalu melangkah pergi untuk bekerja.


Namun, ia sadar bahwa itu semua hanya tinggal kenangan dan tidak mungkin akan melakukannya karena menyadari bahwa hati wanita itu bukan untuknya lagi.


Putri melihat sudah ada makanan di atas meja, pekerjaan paginya berkurang satu. Hanya saja, masih ada kegiatan lain yang harus diselesaikan segera agar bisa kembali bersantai.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan, Arya masih belum membuka mata. Sementara itu, anak laki-lakinya sudah terbangun dan setelah itu Putri memandikannya.


“Ibu, ayah mana?”


“Sudah berangkat, Sayang,” jelas Putri pada anak laki-lakinya tersebut.


“Ibu, lapar. Makan apa?”


“Ayah sudah masak nasi goreng untukmu, cepat makan, ya?”


“Hmm, pasti enak.”

__ADS_1


Putri tersenyum dan menemani anaknya untuk makan pagi di ruang makan. Mereka duduk bersebelahan, dengan penuh perhatian Putri mengusap bibir anaknya yang terlihat kotor karena sisa makanan.


“Ibu, sudah makan?”


“Sudah, Putra makan saja.”


Putri melihat satu porsi makanan di atas meja. Ia tahu bahwa Bagus hanya memasak untuk tiga orang saja. Memilih untuk mengalah adalah hal yang seharusnya tidak dilakukan, tetapi ia juga tidak ingin ada keributan di pagi ini hanya karena seporsi makanan.


Terlihat dari kamar, Arya keluar dan menguap beberapa kali. Wajahnya yang tampak lelah itu hanya menatap Putri sekilas, lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Ibu, kenapa paman itu ada di sini? Kenapa tidak pergi?” tanya anak kecil yang masih belum mengerti tentang kehidupan ibu dan ayahnya.


“Sayang, paman itu juga ayahmu. Putra panggil dengan sebutan lain selain paman. Apa kamu bisa?”


Anak itu menggeleng, ada pemberontakan di sana dengan wajah yang menatap tajam pada ibunya, lalu bibirnya mengerucut.


“Ayahku cuma satu! Aku tidak mau panggil paman itu ayah!” protes anak laki-laki itu yang menolak memanggil Arya dengan sebutan yang sama seperti sang ayah.


“Ya sudah, setidaknya kamu jangan nakal atau mengganggu paman itu, oke.”


“Sayang, ambilkan handuk!” teriak Arya dari kamar mandi.


Putri yang mendengar teriakan Arya, segera berlari mengambil handuk dan memberikannya.


Setelah selesai dengan kegiatan di kamar, Arya berjalan menghampiri Putri dan anak tirinya.


“Ada makanan apa?” tanya Arya dengan menatap ke atas meja.


“Nasi goreng. Kamu makan dulu. Aku antar anakku ke kamarnya untuk bermain.”


Arya kemudian duduk dan langsung saja melahap makanan itu tanpa bertanya mengenai Putri yang sudah makan atau belum. Pria itu menghabiskan makanan di atas meja tanpa menyisakan sedikit pun untuk sang istri.


Kesal, hanya saja Putri memilih untuk tidak memperdebatkannya. Hingga akhirnya sebuah pertanyaan yang sudah ditahan sejak semalam keluar begitu saja dari mulutnya.


“Kemarin kamu ke mana? Kenapa pulang larut malam? Kamu mabuk? Uang dari mana bisa beli minuman?”


“Cerewet sekali istriku ini. Bukan urusanmu aku ke mana dan apa yang kulakukan di luar sana.”


“Arya, aku berhak tahu! Kamu pergi dan mengatakan akan mencari pekerjaan, lalu mana buktinya kalau memang bekerja di luar sana?”


Tanpa membuang waktu, Arya mengeluarkan uang dari saku celananya dan melemparnya ke atas meja. Perbuatannya membuat Putri terdiam dan meraih uang yang berserakan di atas meja.

__ADS_1


“Uang dari mana ini ini?”


“Sayang, kamu bertanya mengenai pekerjaan, bukan? Itu adalah hasil dari pekerjaanku!”


“Serius? Maafkan aku yang tidak percaya ini. Astaga! Ini banyak sekali. Kita bisa saja makan enak setiap harinya jika kamu bekerja seperti ini.”


“Aku mau makan enak hari ini. Kamu masak daging dan makanan lain yang biasa aku makan di rumahku.” Arya mendorong piring kosong yang sudah tidak tersisa nasi goreng karena sudah berpindah ke perutnya.


“Ya, aku akan memasak untukmu.” Airin terlihat berbinar begitu melihat uang beberapa lembar sudah berada dalam genggaman.


“Oh ya, kita perlu menyewa rumah untuk tinggal berdua. Aku tidak ingin di sini terus dan bersama pria itu.” Arya merasa muak dengan tatapan tajam mengintimidasi yang setiap hari ditujukan padanya jika berhadapan dengan Bagus.


Airin refleks menganggukkan kepala tanda setuju karena memang merasa tidak enak jika tinggal bersama suami pertama terus menerus.


“Baiklah, kita akan mencari rumah untuk disewa. Terima kasih, ya. Aku bahagia sekali bisa melihatmu bekerja. Baiklah, aku akan belanja untuk memasak hari ini.”


“Satu lagi! Makanan itu untukku!”


“Ya, tentu saja.” Putri berjalan menuju kamar untuk mengambil tasnya dan pergi ke pasar. Ia juga mengajak sang anak agar ikut bersamanya.


Berjalan menuju pasar membuat Putri berkeringat karena cuaca hari ini sangat panas. Akan tetapi, hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk berbelanja.


“Ibu, panas. Aku haus,” keluh anak balita yang ada di sampingnya.


“Iya, kita beli minum, ya.” Putri membeli satu botol air untuk anaknya, lalu kembali menawar beberapa bahan makanan di pasar. Wanita itu tidak lupa membeli daging yang akan dimasak untuk Arya yang pertama kali memberinya uang.


Tanpa memperdulikan dari mana Arya mendapatkan uang tersebut, yang penting tidak akan lagi merasa malu karena harus meminta pada Bagus.


Tidak hanya itu, bahkan Putri rela mencari resep makanan yang biasa digunakan untuk memasak makanan mewah seperti di restoran.


“Sepertinya daging bulgogi ini yang Arya suka. Aku akan memasak ini untuknya hari ini.”


Setelah selesai membeli daging dan bahan pelengkap lainnya, Putri dan anaknya kembali pulang ke rumah.


Ia tidak menemukan Arya di rumah. Bahkan sudah mencari ke seluruh rumah, tetapi tidak ada. Mungkin, Arya sudah berangkat bekerja, pikir Putri yang kini tersenyum memikirkan pekerjaan suami.


“Paman itu sudah tidak ada, ya?” tanya anak balita yang kini terlihat mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah.


“Paman sedang bekerja, sama seperti ayahmu.” Putri tersenyum, lalu mulai mengeksekusi bahan makanan yang sudah dibeli. Dengan bersemangat, Putri memasak untuk Arya.


Hingga dering ponsel membuatnya mengalihkan pandangan dan melihat ada pesan masuk di sana. Pesan itu dari Arya yang menjelaskan tentang rumah sewa yang akan mereka tempati.

__ADS_1


Kemasi barang-barangmu dan milikku. Kita akan segera pindah ke rumah baru yang sudah aku sewa.


To be continued...


__ADS_2