
“Tentang ….” Arya tidak melanjutkan kalimatnya saat ia mendengar suara ponsel yang berdering cukup nyaring, menandakan ada panggilan masuk.
"Sebentar, Sayang.”
Arya beranjak dari tempat duduknya dan bangkit berdiri. Bahkan ia sudah melangkah untuk mengambil ponsel yang diletakkan di atas meja televisi ruangan depan itu.
"Halo ….”
Arya terdiam beberapa saat dengan mata melebar, seperti sedang menyimak penjelasan orang di seberang sana.
“Baiklah, aku akan sgera ke sana.”
Arya kemudian menutup panggilan telpon dan meletakkan kembali benda pipih di tangannya ke atas meja.
“Ada apa, Sayang?” Putri yang menyadari ada sesuatu hal penting, mendekat menghampiri suaminya.
“Asisten pribadi papaku mengatakan kalau mama empat menggerakkan jarinya,” jawab Arya dengan wajah berbinar.
“Aku harus segera ke rumah sakit. Masih ada waktu satu setengah jam sebelum waktu jenguk pasien berakhir. Apakah tidak masalah?” Arya menatap wajah istrinya dengan sorot penuh harap.
“Kalau aku tidak mengizinkan, apa kamu akan tetap pergi?” tanya Putri yang ingin memastikan sesuatu.
Arya menggeleng pelan. “Aku tidak akan pergi jika kamu tidak memperbolehkan. Kamu dan Xander adalah proritasku saat ini.”
Putri menatap dalam suaminya, mencoba menyelami iris tajam berkilat yang sangat indah milik pria tersebut.
Putri lalu tersenyum dan mengusap lembut pipi suami tercinta. “Pergilah, Sayang. Aku tidak akan menahanmu."
"Asalkan kamu berjanji akan pulang ke rumah ini, aku tidak akan mencegah bertemu dengan orang tuamu,” ucap Putri dengan mengulas senyuman.
“Tentu saja aku akan kembali ke rumah ini, Sayang. Kalian adalah rumah untukku. Kalian hartaku yang paling berharga.” Kemudian Arya menarik tubuh Putri ke dalam pelukan dan mendekapnya.
“Terima kasih, Sayang.” Ia memberikan sebuah kecupan di pucuk kepala istrinya.
Arya kemudian bergegas berganti pakaian. Sebelum pergi, ia terlebih dahulu masuk ke dalam kamar untuk menemui putranya yang masih terlelap di dalam box bayi.
“Papa pergi dulu, ya, Sayang.” Arya mencium pipi merah sang buah hati dengan pelan agar tidak sampai membangunkan bayi mugil tersebut.
Kemudian Putri mengantar suaminya sampai depan pintu utama rumah. “Hati-hati, ya Sayang. Jangan lupa makan, kamu belum sempat, kan tadi?" Putri mengingatkan suaminya karena merasa khawatir jika pria itu nanti akan sakit.
“Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati, ya, di rumah. Pastikan semua pintu dan jendela sudah terkunci. Jangan menerima tamu sembarangan!"
"Jangan membuka pintu jika ada yang mengetuk kalau kamu sendiri tidak tahu itu siapa. Apalagi malam-malam. Aku membawa kunci cadangan, jadi tidak akan mungkin mengetuk pintu.”
__ADS_1
Arya kembali mengecup kening sang istri. Itu adalah pesan yang selalu Arya ucapkan berulang kali sebelum pergi keluar rumah.
“Iya, Sayang.” Putri mengangguk dan tersenyum mendengar pesan yang diberikan suaminya.
Arya pun pergi setelah taksi pesanannya datang, sedangkan Putri segera masuk dan mengunci pintu sesuai dengan pesan yang diberikan oleh suaminya.
Wanita itu segera masuk ke dalam kamar dan bersandar di atas tempat tidur.
Tiba-tiba saja ia teringat pada Bagus dan berpikir harus bertemu dengan pria itu dan segera menyelesaikan urusan diantara mereka.
Mungkin Putri yang akan lebih dulu mengajukan surat gugatan cerai ke Pengadilan setempat agar segera diproses oleh pihak pengadilan.
Ia juga harus meminta Bagus agar pria yang masih sah menjadi suaminya tersebut mau bekerja sama untuk memudahkan proses perceraian mereka.
***
Sementara itu di tempat berbeda, setengah jam kemudian, terlihat Arya melangkah menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar di mana sang ibu dirawat.
Ia tidak ingin kehabisan waktu jenguk pasien yang memang masih dibatasi. Sudah tiga hari berlalu dan belum juga ada perkembangan tentang keadaan wanita yang telah melahirkannya tersebut.
Hari ini, ia mendapatkan kabar baik yang kembali membuat harapan akan kesembuhan sang ibu semakin besar.
Arya segera menghampiri asisten sang ayah yang sedang menunggu di luar.
Dari balik kaca yang ada di sana, Arya melihat sang ayah yang sedang duduk disamping istri tercinta sembari menggenggam tangan sang ibu.
“Tadi nyonya sempat menggerakkan satu jarinya. Setelah itu, tidak ada respon apa-apa lagi. Dokter juga sudah memeriksa keadaan nyonya,” jawab Putra. “Tuan besar tadi meminta saya agar segera menghubungi Anda.”
Sementara itu, Ari Mahesa yang menyadari kehadiran Arya di luar ruangan ICU, beranjak dari tempat duduknya. Sebelum melangkah meninggalkan ruangan tersebut, pria paruh baya itu sempat mencium punggung tangan sang istri yang lemah tidak berdaya.
“Masuklah! Sebelum waktu besuk habis,” titah Ari yang mendapat anggukan kepala dari putranya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Arya yang ditemani seorang perawat, bergegas untuk mensterilkan diri dan mengenakan pakaian khusus untuk masuk ke dalam ruangan tempat sang ibu dirawat.
Kabel, suara menderu dari alat dan bunyi monitor adalah pemandangan yang pertama kali Arya lihat saat memasuki ruangan tersebut.
Beberapa peralatan tersebut terlihat menempel di tubuh sang ibu untuk membantu dan memantau kondisi pasien.
Arya duduk di sebuah kursi yang ada di sana, tepat di samping ranjang Rani.
Mata pria itu memupuk cairan bening saat melihat bagaimana kondisi sang ibu. Ia sungguh tidak tega melihat beberapa alat yang terpasang di tubuh lemah wanita yang telah melahirkannya tersebut.
“Ma, aku datang. Apakah Mama menunggu kedatanganku?”
__ADS_1
Arya menatap mata yang tengah terpejam dengan rapat. Setetes air mata akhirnya berhasil meluncur bebas.
Hening, hanya ada suara menderu dari alat-alat yang ada di sana, saat tidak ada kalimat lain lagi yang Arya utarakan. Pria itu tengah mengatur deru napasnya yang tidak beraturan karena menahan sesak di dada.
“Ma, ini aku. Apakah Mama tidak mau melihatku?"
"Maafkan aku, Ma.” Arya menyentuh tangan sang ibu, menggenggamnya tidak terlalu erat, agar tidak menyakiti wanita itu.
Rasa bersalah memang mencuat di hatinya. Meskipun semua yang terjadi pada sang ibu adalah takdir yang memang sudah ditetapkan oleh Tuhan.
Namun, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia juga merasa bersalah karena sudah meminta wanita itu untuk datang ke klinik—tempat istrinya melahirkan.
Arya selalu berandai-andai, kalau saja sang ibu tidak datang ke klinik itu, mungkin tidak akan terlibat dalam kecelakaan maut tersebut.
Menyesali keadaan yang sudah terjadi memang tidak ada gunanya. Apalagi terus terpuruk dalam kesedihan. Semua yang sudah terjadi, tidak akan bisa dikembalikan lagi karena semua memang ada ketetapannya.
Bukankah tidak ada yang bisa melawan takdir dan mencegah musibah yang memang sudah seharusnya menimpa diri kita?
Arya terus bergumam dan mengajak bicara sang ibu, berharap wanita paruh baya tersebut akan memberikan respon padanya.
Bahkan ia menceritakan semua yang telah terjadi dan ia lalui.
Bagaimana ia dan Putri pada akhirnya harus kembali ke rumah kontrakan mereka karena sang ayah yang tidak percaya dengan semua yang dikatakan.
Bagaimana keberhasilannya menjual satu unit apartemen mewah yang merupakan bagian dari proyek perusahaan sang ayah. Ia yakin jika Rani sadar, wanita itu pasti akan bangga padanya.
“Mama tahu, aku tidak akan berhenti untuk terus berusaha mencapai target penjualan yang papa minta. Tentu saja agar aku bisa naik jabatan di perusahaan. Aku akan buktikan pada papa jika bisa sukses dengan hasil kerja kerasku sendiri.”
Arya masih menggenggan tangan sang ibu. Sebuah senyum getir terulas di bibir pria tersebut. “Cepatlah bangun, Ma. Agar juga bisa melihat pencapaianku ini.”
Arya bergantian menatap tangan dan wajah sang ibu yang tidak menunjukkan reaksi apapun.
Seorang perawat menghampirinya dan mengingatkan jika waktu jenguk untuk pasien sudah habis.
“Aku pergi dulu, Ma. Aku pasti akan kembali lagi." Arya berhenti sejenak sambil menatap intens wajah pucat sang ibu.
Kemudian mulai kembali membuka suara, "Aku harap saat kembali nanti, sudah bisa melihat Mama membuka mata.”
Arya segera beranjak dari tempatnya dan menghela napas berat sembari menatap wajah sang ibu.
‘Lekas sadar, Ma, agar bisa menyaksikan cucumu tumbuh besar,’ lirih Arya dalam hati dengan penuh pengharapan sebelum benar-benar keluar dari ruangan tersebut di waktu yang sudah ditentukan.
To be continued...
__ADS_1