Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
178. Bertahan


__ADS_3

“Siapa kamu?” tanya Arya dengan tatapan penuh selidik karena baru pertama kali melihat sosok wanita yang berseragam sama sepertinya.


Wanita itu mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.


Hanya saja, uluran tangan itu ditepis oleh Arya. Pria itu tidak ingin ada yang mencari muka di depannya hanya karena ia anak dari pemilik perusahaan. Ia seolah sudah terbiasa dengan sikap dari semua orang yang memperlakukan seperti layaknya cleaning service.


“Aku Rani," ucap wanita yang saat ini tengah memberikan bantuan karena tadi melihat jika pria di hadapannya itu seperti kelelahan dan haus.


“Aku tidak peduli.” Arya memalingkan wajah dan tidak mau lagi menanggapi sosok wanita yang tiba-tiba datang tersebut.


“Tapi, kamu tanya siapa aku tadi.” Rani kini merasa sangat kesal dengan jawaban pekerja baru tersebut.


Arya berdiri dan melanjutkan pekerjaannya. Kini ia harus bekerja di lobi, membersihkan seluruh tempat, mulai dari jendela, lantai, hingga mengelap dan juga pajangan di sana.


Arya terlihat seorang diri di sana, tidak ada yang membantu. Satu pertanyaan muncul di kepala pria itu. Ke mana semua cleaning service yang seharusnya bekerja di sekitarnya?


Arya melihat ada satu orang yang keluar dari pintu darurat, melihat keberadaan dirinya di sana, orang tersebut kembali masuk dan tidak lagi terlihat.


Ia mengerutkan kening karena merasa ada sesuatu yang sangat aneh. “Mau ke mana orang tadi? Jadi, ini cuma aku saja yang mengerjakan?”


Arya ingin bersikap acuh dengan semua itu, tetapi tiba-tiba saja ada beberapa orang dengan seragam sama datang dari arah lift.


Seperti sebelumnya, hanya saja mereka menghindar dari Arya yang kini tengah mengelap jendela di dekat pintu masuk.


“Mereka kenapa menghindariku? Apa yang terjadi? Kenapa semuanya sangat aneh?"


Mencoba untuk tidak peduli, ia masih berusaha tenang dan mengerjakan semua pekerjaannya. Tiba-tiba saja, di samping kiri, muncul sosok wanita dengan alat-alat kebersihan.


Wanita itu kini mengikuti gerakannya dengan mengelap kaca jendela.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Arya tanpa menatap wanita di sampingnya.


“Bekerja. Bukankah kamu bisa melihat jika aku juga seorang cleaning service?” tanya wanita yang tak lain adalah Rani dan merasa kasihan pada staf baru itu, sehingga memilih untuk membantu.


Sementara Arya yang merasa sangat kesal karena berpikir jika wanita itu sedang mencari muka dan berniat untuk mendekatinya karena merupakan putra dari pemilik perusahaan.


“Ada banyak tempat untuk melakukannya. Apa yang membuatmu mengambil tempatku?”


“Aku membantu, tidak ada pikiran untuk mengambil bagianmu.”


Rani masih terus melakukan gerakan membersihkan.


Kemudian berpindah tempat ke area meja yang terdapat vas bunga di atasnya. Pandangan matanya mengedar dan sesekali memperhatikan Arya.


Sementara itu, Arya yang malas berdebat karena sedang tidak mood dan berpikir lebih baik mendapatkan bantuan, daripada harus mengerjakan sendiri. Ia membiarkan wanita itu membersihkan apapun untuk meringankan pekerjaannya.


Pekerjaan selesai saat Arya sadar bahwa jam istrirahat sudah lewat. Pria itu berjalan menuju ruang loker untuk menikmati bekal yang sudah disiapkan sang istri. Ia membuka tutup kotak makan, tetapi selera makannya berkurang saat melihat wanita tadi melakukan hal yang sama.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Arya dengan tatapan tajam mengintimidasi pada wanita yang membuatnya merasa risi.


Rani kini mengangkat kotak bekal dan menunjukkan pada pria yang seolah tidak menyukai didekati. Sebenarnya ia beberapa hari ini mengamati pria yang merupakan pekerja baru dan berpikir jika belum terbiasa untuk menyesuaikan diri di perusahaan dan bekerja berat.


Apalagi melihat selalu sendiri, tanpa ada teman, membuat Rani merasa iba, sehingga memilih untuk mendekat dan berteman. Ia dari dulu selalu respect pada pegawai baru, khususnya karyawan cleaning service sepertinya.


Tentu saja bukan karena apa-apa, hanya saja kasihan melihat karyawan baru yang belum punya teman. Ia akan mengurangi kedekatan setelah karyawan baru mulai mempunyai teman. Seperti itulah hal yang ia lakukan selama ini dengan niat baik. Namun, ia sadar jika pria itu seperti tidak suka didekati.


“Makan. Aku juga belum istirahat sejak tadi.”


“Aku tidak peduli! Sebaiknya kamu cari tempat lain!”

__ADS_1


“Mana bisa. Aku yang bekerja lebih lama di sini. Jadi, terserah aku mau duduk di mana!” Rani masih bersikap sangat santai dan tetap menikmati bekalnya.


Arya merasa kesal dan memilih untuk berpindah tempat. Pria itu kini duduk seorang diri dan mulai melahap makanan yang sudah dingin sejak beberapa jam lalu.


Sayangnya, saat tengah menikmati makanan itu, ia tersedak dan lupa membawa minum.


Beruntung Rani bergerak cepat dengan menyodorkan sebotol air mineral padanya. Tanpa pikir panjang, Arya meraih botol itu dan meminum air di dalam botol hingga tersisa separuh.


“Makan pelan saja. Tidak ada yang mau memintanya,” sindir Rani sambil kembali duduk di tempatnya.


Arya hanya tersenyum masam dan meletakkan botol kosong itu, lalu menyelesaikan kegiatan makannya. Pria itu segera beranjak dari sana agar tidak lagi bertemu dengan wanita aneh yang pastinya tahu siapa Arya.


“Arya, ada pekerjaan. Lantai lima.” Seorang cleaning service lain memberitahu mengenai pekerjaan selanjutnya.


“Oke.”


“Rani, kamu juga ke sana! Ajari Arya cara membersihkan sofa yang ada di sana.”


“Siap!” Rani kini melakukan gerakan mengangkat tangan seperti sedang hormat pada pria yang baru saja memberikan perintah tersebut sambil tersenyum.


Arya melirik tajam pada Rani, sungguh itu tatapan kebencian pada seseorang yang hanya ingin mencari muka di depannya.


Pekerjaan mereka berlanjut di lantai lima. Arya berusaha untuk menjauh dari Rani, tetapi justru wanita itu melakukan hal sebaliknya. Beberapa kali ia menolong dan memberikan perhatian ringan.


Arya selalu menolak bantuan yang diberikan Rani dan memilih untuk bersikap kasar. Semua tindakannya tidak berarti apa-apa, dan wanita itu masih tidak menyerah untuk hari ini.


Ia yakin jika Rani tengah merencanakan sesuatu, tapi ia berpikir bukan orang bodoh yang mudah tertipu.


“Malam ini tidak ada lembur, kamu bisa pulang sesuai jadwal,” ujar seorang kepala cleaning service.


“Baik. Terima kasih.” Wajah Arya berbinar senang karena berpikir jika ia bisa pulang cepat.


***


Arya membersihkan diri di kamar, beberapa kali Putri bertanya mengenai pekerjaan, ia selalu menjawab akan bercerita setelah membersihkan diri.


Di dalam kamar mandi, Arya berharap Putri tidak akan bertanya mengenai bagaimana pekerjaannya hari ini. Sungguh kekesalan terhadap wanita bernama Rani membuatnya ingin sekali menyingkirkannya.


Sayang, Arya tidak akan bisa bertindak lebih dari sebuah ucapan untuk mengusir. Ia segera menyelesaikan kegiatan di sana.


Pandangan mata Arya mengedar, mencari keberadaan Putri di kamar. Namun, tidak ada di sana, membuatnya harus segera mengenakan pakaian dan keluar dari kamar.


“Sayang, apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Arya dengan memeluk Putri dari belakang.


Istrinya terlihat sibuk dengan bahan makanan di dapur. Seperti sedang membuat sesuatu yang spesial untuk sang suami.


“Aku memasak semua ini untukmu.”


“Sudah aku katakan, tidak perlu memasak terlalu berlebihan saat ini. Jika uang yang kita miliki habis karena hal ini, tidak akan memiliki biaya untuk anak kita kelak.”


“Kamu benar. Baiklah, ini yang terakhir.”


Arya tersenyum, lalu membantu istrinya di sana.


“Jadi … pekerjaanmu hari ini bagaimana?”


“Tidak ada yang istimewa. Pekerjaan seorang karyawan biasa, sama dengan karyawan lainnya.”


Putri mengangguk, lalu meraih sendok untuk merasakan makanan yang masih berada di atas kompor.

__ADS_1


“Oke, sudah pas. Duduk sana! Aku siapkan semua makanan di atas meja.”


Arya hanya menurut apa yang dikatakan Putri. Tidak lama setelah ia menempati kursinya, Putri datang dengan dua piring di kedua tangan.


Mereka makan malam bersama dan menghabiskan waktu hingga kedua mata tidak bisa lagi terbuka sesukanya.


“Arya, aku harap kamu bisa bertahan bekerja sebagai karyawan biasa di sana. Jangan menyerah, meski ada banyak gunjingan atau perkataan kasar dari pimpinanmu saat ini. Mereka melakukan semua itu, mungkin saja untuk mengujimu.”


“Ya, aku mengerti.” Arya menjawab sambil mengunyah makanan di dalam mulut.


“Jadi, setelah kamu membuktikan bahwa semua yang dikerjakan dengan baik. Aku yakin, papamu akan berubah pikiran dan menempatkanmu pada posisi yang seharusnya.”


Putri masih berusaha untuk membuat Arya tetap bekerja dengan semangat meski tidak menjadi CEO. Ia sebenarnya kasihan saat melihat wajah lelah Arya karena setiap malam selalu memperhatikan ketika terjaga.


“Jangan terlalu berharap dengan semua itu. Aku sendiri ragu, apalagi setelah perkataannya tidak main-main.”


Arya masih ragu, apakah sang ayah akan memberikan kursi kepemimpinan padanya setelah melihat apa yang dilakukan padanya dengan menyuruh menjadi cleaning service.


“Jangan berkata seperti itu. Aku yakin, semua akan berubah. Apalagi sebentar lagi mereka mendapatkan cucu.” Putri yang tidak patah semangat untuk memberikan nasihat pada Arya, kini menatap intens dan mengusap tangan dengan buku-buku kuat itu.


“Ya. Aku akan selalu mengingat itu, Sayang." Arya mengecup lembut kening Putri dan tersenyum simpul.


“Apa kamu sudah mengantuk?” tanya Putri yang kini melihat wajah lelah sang suami dan membuatnya tidak tega.


“Iya, aku sangat lelah,” jawab Arya yang selalu beralasan untuk tidak membahas masalah pekerjaan kantor.


“Ayo kita tidur.” Putri bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar setelah sang suami memeluknya pinggangnya.


Alih-alih menghindari pertanyaan dan pernyataan lain istrinya, Arya memilih untuk segera memejamkan mata saat berada di atas ranjang mereka


Tidak butuh waktu lama, beberapa menit kemudian, keduanya terlelap karena efek kelelahan.


***


Keesokan harinya, Arya tampak terburu-buru. Bahkan ia tidak sempat untuk menghabiskan makan pagi.


Keduanya terbangun pukul tujuh. Tidak biasanya Putri bangun kesiangan. Merasa bersalah pada suami, ia hanya menghidangkan makanan instant yang berujung tidak dimakan hingga habis.


“Arya, kamu tidak membawa bekal?”


“Aku sudah terlambat. Tidak apa-apa, nanti aku makan di kantin saja!”


“Ya sudah.” Putri sungguh tidak bisa tenang. Apalagi pagi ini makanan yang masuk ke perut Arya tidak banyak. Ingin rasanya ia mengantarkan makan siang, sembari melihat pekerjaan suami.


Namun, hal itu pasti akan memicu pertengkaran dan membuat Arya marah.


"Tidak, aku harus percaya bahwa dia akan baik-baik saja.”


Putri kembali melanjutkan pekerjaan rumah. Seperti membersihkan kamar, menyapu dan mencuci. Semua dilakukannya seorang diri.


Tidak lagi bekerja, membuatnya sibuk di rumah, sehingga membuat wanita hamil itu bekerja lebih keras dari biasa.


Bagaimana tidak, semua yang ditinggalkan selama bekerja di rumah dua nyonya kaya raya, menumpuk.


“Aku harus bisa menyelesaikan semua ini.”


Ia sesekali mengusap perut dan memegangi pinggang. Tentu saja karena saat hamil besar, membuatnya lebih sering sakit pinggang.


Apalagi saat kakinya mulai bengkak, membuat ia harus banyak istirahat dan tidak banyak berjalan karena malah akan semakin bertambah besar kakinya.

__ADS_1


To be continued...



__ADS_2