Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
204. Sebuah nama


__ADS_3

Setelah lagi-lagi ancamannya tidak berpengaruh pada Putri, Rani semakin murka dan mencari cara lain untuk memisahkan putranya dengan wanita yang disebut murahan itu.


Ia sudah memutuskan untuk membuat rencana baru, selain tes DNA, pasti ada cara lain yang bisa membuat Arya berpaling dari wanita yang kini menjadi istri itu.


“Tidak boleh! Arya harus berpisah dengan wanita sialan itu! Aku tidak rela putraku satu-satunya memiliki masa depan yang hancur seperti ini. Arya tidak pantas mendapatkan semua ini. Apalagi seluruh harta keluarga seharusnya jatuh ke tangannya.”


Di dalam kamar, ia berjalan mondar-mandir dan memikirkan cara lain. Hingga ponselnya berdering karena notifikasi dari sosial media, sebuah rencana muncul di kepalanya.


“Lusa ada arisan, seharusnya aku bisa dengan mudah mendapatkan menantu yang sederajat.”


Rani mulai berkutat dengan ponsel, melihat beberapa akun milik teman yang memiliki anak gadis yang siap untuk menikah.


Kebanyakan dari teman sosial medianya memiliki perusahaan dan juga bisnis yang bisa dikatakan hampir sama dengan milik keluarganya, sehingga bisa memilih mana yang cocok untuk menjadi menantu di keluarga Mahesa.


Setelah melihat-lihat, ternyata ada beberapa yang memiliki anak perempuan dan sesuai dengan keinginan Rani. Wanita itu sudah memasukkan nama-nama temannya ke daftar calon besan.


Hanya saja, kriteria yang disukai Arya memang sedikit berbeda dari pria seusianya. Arya lebih suka wanita yang dewasa, keibuan, dan juga cantik. Rani memikirkan untuk melakukan pertemuan bersama teman-temannya saat arisan.


“Aku harus turun tangan sendiri, yang jelas wanitanya harus jauh lebih cantik dari Putri. Pasti Arya akan suka dengan salah satunya.”


Rani sudah sangat senang kali ini, pasti rencananya untuk mendatangkan wanita lain akan berhasil, pikirnya.


Tepat setelah itu, Rani melihat grup pesan yang ada di ponsel mahal keluaran terbaru yang baru semalam ia beli.


Di sana sudah ada beberapa orang yang menanyakan perihal arisan untuk lusa. Ia yang tidak sabar segera menjawab semua pertanyaan dengan jelas.


Lusa, arisan di rumahku, ya. Oh ya, jangan lupa bawa anak gadis kalian yang sudah siap menikah. Aku mau mencarikan jodoh untuk putraku.


Setelah mengirim pesan itu, seketika ada beberapa yang menanggapi dengan antusias. Siapa yang tidak mau menjadi calon besan dari pengusaha kaya raya di antara mereka.


Hanya Rani sajalah yang memiliki status terkaya dari teman-teman sosialitanya.


Wah, tentunya aku mau menikahkan putriku dengan putramu. Putriku, Chaca sudah siap. Lusa aku akan mengajaknya."


Anakku masih ada di kota sebelah, tapi jangan salah, Melisa sudah siap menikah. Saat ini saja bekerja di salah satu perusahaan besar dan menjadi seorang wakil direktur.

__ADS_1


Sayang sekali. Anakku masih kuliah. Tidak mungkin mau dijodohkan.


Pesan dari teman-temannya, membuat Rani semakin bersemangat untuk melancarkan rencana yang muncul di otak. Ia pun menyiapkan hal lain yang perlu dilakukan.


Apalagi jika bukan mengundang putranya.


Rani mengirim pesan kepada Arya mengenai acara arisan yang akan dilakukan di rumah pada hari Minggu.


Rani juga berpesan untuk Arya hadir di sana karena ada banyak yang menanyakan dirinya. Tentu sebagai ibu, Rani ingin membanggakan keturunan di depan teman-teman dan memamerkan ketampanan putranya.


Awalnya, pesan dari Rani tidak mendapat jawaban. Hingga akhirnya sebuah pesan masuk dan putranya bersedia hadir. Hanya saja, pria itu ingin datang bersama istrinya.


Membaca pesan tersebut, membuat Rani kesal dan langsung saja membalas dengan ketus.


Tidak. Putri tidak bisa datang karena mayoritas yang datang adalah teman-teman sosialita mommy. Jangan buat mommy kesal dengan kehadiran istrimu itu. Kamu sendiri tahu alasan mommy tidak menyukai Putri.


Sementara itu di sisi lain, Arya sedang bekerja seperti biasa. Hanya saja, saat ini adalah jam istirahat untuknya, sehingga bisa membaca pesan yang masuk ke ponsel.


Pesan yang dikirim sang ibu, membuat Arya memicingkan mata. Tidak ada pikiran apapun yang muncul karena semua teman dari sang ibu adalah wanita sosialita yang senang memamerkan apapun, mulai dari hal terkecil hingga besar.


Seperti tas, sepatu, jam tangan, liburan ke luar negeri dan masih banyak lagi hal lainnya yang dipamerkan. Bahkan semua itu tidak akan ada habisnya dan hanya berakibat iri dengki saja.


Namun, hati Arya sedikit tersakiti kala Rani menolak kedatangan sang istri di sana. Sepertinya, rasa kesal sang ibu masih sangat kuat karena masalah pernikahan dan kehamilan itu.


Mencoba untuk mengerti, Arya memutuskan akan membalas pesan itu saat sudah berada di rumah. Ia ingin bertanya pada Putri tentang acara yang akan diadakan ibunya di rumah.


Kembali bekerja, seperti sebelumnya, Arya masih saja membuat Rani kesal dengan tingkah lakunya.


Beberapa kali ada peralatan milik Rani yang disembunyikan dan hal itu menjadi suatu hiburan untuk Arya agar tidak bosan saat bekerja.


Saat ini, Arya sedang duduk di kantin seorang diri dengan menikmati makanan yang ia beli di salah satu penjual di sana.


Ya, semakin besar perut Putri, tidak bisa membuatkan bekal.


Sebenarnya sang istri biasa bekerja dengan cepat. Bahkan, beberapa kali Arya membantunya untuk bisa bangun dari tempat tidur dan juga menyiapkan makanan di atas meja.

__ADS_1


Namun, saat waktu persalinan semakin dekat, melarang sang istri agar tidak kelelahan.


Tentu saja karena waktu untuk melahirkan semakin dekat, Arya mulai mengerti dengan kondisi Putri yang tidak bisa melakukan apapun lebih cepat dari sebelumnya.


Pikiran tentang kekhawatiran pada saat ini hanya tertuju untuk Putri. Beberapa kali Arya mengirim pesan dan bertanya mengenai keadaan di rumah. Sang istri selalu memberitahu bahwa baik-baik saja dan tidak panik.


Lamunan Arya seketika buyar karena makanan yang baru saja dimakan kini tampak penuh dengan air yang tumpah dari nampan milik Rani.


Arya tampak murka dengan kejadian saat ini. Ia berdiri dan membalas Rani dengan mengguyur minumannya ke seluruh tubuh wanita itu.


“Arya, kamu gila!” teriak Rani yang kini basah dan tubuhnya terasa lengket karena Arya membalasnya.


“Gila? Tidak salah kamu bicara seperti itu? Bukankah kamu yang gila?"


Arya berlalu begitu saja, tidak peduli dengan Rani yang kini memakinya dengan disaksikan oleh seluruh karyawan yang ada di sana.


Hingga jam pulang, ia tidak bertemu dengan Rani. Ia pun memutuskan segera pulang karena memiliki janji dengan Putri untuk bisa memasak bersama di rumah.


Selama perjalanan, Arya tidak peduli dengan tatapan para karyawan di ruang cleaning service.


Meski tadi Rani tidak sengaja, tetapi tetap saja karenanya, Arya tidak bisa makan siang hari ini. Hal itu membuat ia merasa sangat murka.


Sampai di halte, ia melihat Rani baru keluar dari pintu lobi perusahaan. Ya, halte berada tidak jauh dari gedung tinggi itu, sehingga bisa melihat siapa saja yang ada di area depan lobi.


Arya memalingkan wajah saat Rani melihat ke arahnya. Beruntung saat itu juga bus datang dan Arya bisa kembali ke rumah tanpa perlu berbicara dengan wanita yang membuatnya kesal.


Selama perjalanan, ia menikmati pemandangan di luar jendela. Hingga ia melihat taksi yang dikendarai Bagus melintas.


“Kami selalu bertemu tanpa sengaja. Sepertinya takdir yang membuat kami selalu terhubung. Apa pria itu akan menikah lagi setelah Putri melahirkan?"


"Setelah Putri melahirkan, baru bisa bercerai dengan pria itu. Setelah itu, aku bisa menikah secara resmi agar putraku mendapatkan status yang pasti. Putraku yang akan kuberi nama Xander Caesar Mahesa merupakan cahaya yang bersinar paling terang di antara lainnya."


"Putraku akan bersinar di antara yang lain dan menjadi cahaya bagi kehidupanku yang berada di titik paling terendah sepanjang sejarah hidupku. Putraku, Xander. Aku ingin segera bisa melihatmu, Sayang. Semoga kamu lahir dengan tiada suatu kekurangan."


Sudut bibir Arya melengkung ke atas saat membayangkan sebentar lagi bisa melihat keturunan yang merupakan buah cintanya dengan Putri—wanita yang berhasil membuatnya hilang akal karena cinta.

__ADS_1


Hingga meninggalkan segala kemewahan miliknya hanya demi bisa bersama dengan Putri yang telah telah hamil benihnya.


To be continued...


__ADS_2