Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
55. Nama wanita


__ADS_3

"Kamu mau ke mana, Sayang?"


"Ke depan. Putra akan merengek jika melihatku dan mungkin tidak mau makan jika tidak kusuapi. Bisa tidak, membiarkanku untuk beberapa menit beristirahat? Aku benar-benar lelah, bukan kamu saja yang lelah bekerja, tapi aku juga. Pekerjaan rumah memang terlihat sepele, tetapi sangat membuatku lelah."


"Jika boleh memilih, aku ingin bekerja daripada setiap hari sibuk mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya dan tidak digaji karena uang darimu hanya cukup untuk makan. Aku seperti seorang sukarelawan yang bekerja untuk sosial."


Puas menumpahkan segala keluh kesahnya yang selama ini hanya ditahan di dalam hati, Putri tidak membutuhkan komentar maupun tanggapan dari pria yang sama sekali tidak berkomentar apapun.


Sementara putranya sudah memanggil-manggilnya sambil merengek dan membuatnya bertambah stres hari ini. Tanpa mempedulikan panggilan dari putranya karena ingin berbagi peran dengan suami, Putri memilih untuk berjalan menuju ke ruang depan untuk menikmati makanannya.


Berharap ancamannya tadi membuat sang suami tidak lagi muncul di hadapannya dan membuatnya makan dengan tenang.


Bosan menjadi seorang istri dan ibu yang dirasakannya malah seperti pembantu, Putri kali ini bertekad untuk mengubah nasibnya agar lebih baik.


'Aku masih belum terlalu tua dan harus mengubah takdirku menjadi orang kaya karena sudah muak hidup miskin dan seperti seorang pembantu. Seandainya aku menikah dengan Arya, ada pembantu yang akan melayaniku nanti. Bahkan saat mempunyai anak, pasti ada baby sitter yang membantuku.'


'Tidak seperti sekarang ini, hanya dimanfaatkan oleh pria tua tidak berguna itu. Sepertinya pertanyaan Tomy menjelaskan bahwa ia sebenarnya sangat mencintaiku dan tidak aku berbagi kasih sayang dan tidak menomorsatukannya.'


Saat berada di dalam kamar tadi, Putri sibuk memandangi wajah putranya dan memikirkan pertanyaan Arya. Tentu saja ia menimbang-nimbang keputusannya antara memilih putranya atau pria yang sangat dicintai dan dipuja. Hingga ia akhirnya memutuskan.


'Putraku bisa hidup tanpaku dan saat aku bercerai dengan Bagus. Dia akan hidup bersama ayahnya karena setelah aku menikah dengan Arya dan tinggal di rumah keluarganya, tidak mungkin aku mengajak putraku tinggal bersamaku.'


Putri yang kini melihat ke arah belakang, yaitu sang suami yang masih sibuk menyuapi putranya, kini meraih ponsel dari saku piyama dan mengirimkan pesan.


Aku sudah memiliki jawaban atas pertanyaanmu. Aku memilihmu dan akan selalu menomorsatukanmu. Putraku bisa hidup tanpaku dan tinggal bersama ayahnya. Sementara aku tidak bisa hidup tanpamu karena sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku karena kemurkaan dari pria tua itu. Aku mencintaimu.

__ADS_1


Setelah mengirimkan pesan, Putri tidak berkedip menatap ke arah layar ponsel dan menunggu hingga dibaca oleh Arya dan mendapatkan balasan karena ia akan langsung menghapusnya.


Hingga detik demi detik berlalu dan ia menunggu sambil menyendok makanan dan mengunyahnya karena tidak ingin sang suami curiga saat tidak makan nasi yang dibelikan.


Beberapa saat kemudian, ia melihat pesannya sudah dibaca dan tulisan sedang mengetik. Menandakan bahwa Arya sedang membalas pesannya.


Begitu melihat pesan masuk, langsung membacanya dan mengerjapkan kedua mata.


Kamu telah lulus ujian pertama untuk menjadi calon suami Arya Mahesa. Akan ada ujian lain yang menantimu, Sayang. I love you.


Antara senang dan perasaan berkecamuk kini telah bercampur menjadi satu dan membuat Putri merasa bahwa ia sedang berburu harta karun dan harus mengalami banyak rintangan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang besar.


'Arya memang merupakan sesuatu yang sangat berharga dan membuatku harus banyak berjuang jika ingin mendapatkannya. Semangat, Putri. Kamu pasti bisa lulus ujian menjadi calon istri seorang pria tampan keturunan keluarga konglomerat itu.'


***


Pria yang tak lain adalah Arya, kini telah berjalan menuju ke arah meja untuk menyalakan laptop miliknya.


Ia benar-benar merasa sangat kesal dan marah begitu mendengar jawaban dari Putri saat ia menyuruh wanita yang telah beberapa kali bercinta dengannya tersebut untuk memilih.


"Sial! Jika ia benar-benar mencintaiku, tanpa berpikir, pasti tidak akan ragu untuk memilihku daripada anaknya. Apa ia akan mengajak anaknya setelah kami menikah nanti? Apa Putri sudah gila? Aku sengaja mengancamnya agar takut dan akan menunggu apakah akan mengubah jawabannya."


Arya yang merasa sangat kecewa, memilih untuk melampiaskan kekesalannya dengan menonton video percintaan panasnya dengan Putri pagi tadi.


Sebenarnya tanpa sepengetahuan Putri, ia yang pukul empat pagi bangun, merekam diam-diam tanpa sepengetahuan wanita yang tadinya tidur dan dibangunkannya dengan mencumbu setiap sudut tubuh telanjang itu.

__ADS_1


Hingga berakhir bercinta untuk kesekian kalinya dan membuatnya merasakan puncak kenikmatan.


Kemudian setelah selesai, ia mengambil rekamannya ketika Putri sedang membersihkan diri di kamar mandi. Kemudian melanjutkan tidurnya karena kelelahan setelah banyak memforsir tenaga.


Arya yang kini tidak berkedip menatap video percintaan panas dengan Putri, kini merasakan aliran darah seketika mengalir sangat cepat hingga membuat urat syarafnya menegang saat mendengar suara ******* seksi wanita yang sangat agresif bergerak di atas tubuhnya.


Ia benar-benar sangat terkejut saat melihat Putri yang agresif dan mengambil alih permainan. Membuatnya merasa semakin gila pada sosok wanita dengan tubuh seksi yang sangat cantik dan pintar dalam memuaskannya.


"Aku hanya menginginkanmu. Kamu sudah membuatku gila."


Belum selesai ia melihat video percintaannya dengan Putri mendengar suara dering ponsel miliknya berbunyi. Ia pun bangkit dari posisi dan mengambil ponsel yang tergolek lemah di atas ranjang.


Begitu melihat kontak wanita yang baru saja disebutkannya, sudut bibirnya melengkung ke atas dan merasa di atas angin.


"Kamu tidak akan pernah bisa pergi dariku, Sayang."


Sengaja Arya membiarkan panggilan karena ingin membuat Putri takut dan merasa bahwa ia telah pergi. Kemudian ia melanjutkan menonton video di laptop dan sesekali menelan saliva.


Bahkan kini ia sudah membayangkan ada Putri di ranjang dan ingin ditelanjanginya, lalu kembali mereguk asmara untuk mencapai puncak kenikmatan.


Saat video percintaannya dengan Putri telah berakhir, ia memilih untuk mengetik pesan. Namun, beberapa saat kemudian bukan balasan pesan yang didapatkan karena ponselnya kembali berdering dan kembali membuatnya tersenyum menyeringai.


"Aku ingin tahu apa yang akan kau katakan padaku."


Tanpa membuang waktu, Arya mengangkat telpon dan sama sekali tidak membuka mulut karena ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Putri. Namun ia seketika memicingkan mata begitu mendengar suara bariton dari seberang yang marah-marah dan mengumpatnya.

__ADS_1


'Jadi dia adalah suami Putri yang tidak berguna itu? Sepertinya dia tidak tahu kalau aku adalah seorang pria dan mengira aku wanita. Memangnya Putri menyimpan nomorku dengan menamaiku apa? Pasti nama wanita.'


To be continued..


__ADS_2