
Calista adalah sosok wanita yang penuh dengan ambisi. Apapun yang sudah menjadi keinginannya, harus terpenuhi dengan cara dan rencana apapun itu.
Selama ini, ia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Meski, awalnya Calista menolak dengan perjodohan, tetapi saat melihat potret Arya dari layar ponsel ayahnya, seketika memiliki ketertarikan sendiri.
Wajah tampan Arya ternyata mampu membius Calista hingga membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
***
Satu minggu kemudian, Arya yang sudah kembali ke perusahaan sang ayah karena tidak menyukai pekerjaan barunya sebagai wakil direktur wanita yang jelas-jelas menyukainya dan sudah menyatakan perasaan padanya.
Tentu saja ia malah merasa sangat muak dengan sikap wanita bernama Tania tersebut yang dengan gampangnya menyatakan perasaan padanya dan seolah mengejar agar bisa mendapatkan hatinya.
Hal itu membuatnya merasa sangat risi dan memilih untuk mengundurkan diri dari kerjasama tersebut. Hingga sang ayah sangat murka dan meluapkan amarah dengan cara mencaci-maki di ruangan.
Sementara Arya yang merasa bersalah, sama sekali tidak melawan ataupun memotong kemurkaan tersebut.
Hingga Ari Mahesa lama-kelamaan menyadari kesalahan dan tidak lagi marah pada putranya yang hanya diam ketika diumpat.
Akhirnya, Ari Mahesa memilih untuk membiarkan putranya berbuat sesuka hati di perusahaan karena lebih memilih menjadi seorang cleaning service daripada iming-iming wakil direktur hanya karena tidak ingin meninggalkan wanita bernama Putri tersebut.
Kini, terlihat Arya tengah menyapu lantai satu. Ia bersama Rani sudah bekerja sejak dua jam lalu di sana.
Lalu, setelah ini adalah jam istirahat mereka. Namun, tiba-tiba saja asisten pribadi Ari Mahesa datang dan memanggil untuk datang ke ruangan pimpinan perusahaan.
Arya yang sudah terbiasa dipanggil hanya untuk dimaki dan dijatuhkan, merasa biasa saja. Ia berjalan mengekor pada asisten ayahnya, hingga sampai di depan sebuah ruangan yang masih tertutup rapat. Asisten itu mengetuk beberapa kali hingga pintu dibuka.
Saat mereka masuk, Arya dipersilakan untuk duduk dan mendengarkan apa yang akan dikatakan sang ayah. Di antara mereka, sudah ada beberapa berkas pekerjaan.
“Ini! Kamu tidak perlu lagi menjadi seorang pekerja kebersihan. Kamu bisa mulai bekerja sebagai staf pemasaran.”
Arya membulatkan matanya, hampir tidak percaya jika ayahnya yang mengatakan hal itu. Apalagi selama beberapa hari ini hanya mendapatkan kemurkaan saja dari pria paruh baya di hadapannya tersebut.
Arya menerima surat tugas secara langsung dari sang ayah.
"Aku sekarang bekerja di tim pemasaran, Pa? Ada angin apa yang membuat Papa berubah pikiran dengan menaikkan posisiku di perusahaan ini."
Seolah merasa seperti mengalami Dejavu dan curiga jika ada rencana dibalik posisinya yang sudah menjadi staf pemasaran, sehingga mengungkapkan perasaannya.
Ari Mahesa yang sudah menduga bahwa putranya pasti akan merasa curiga karena tiba-tiba dipindahkan menjadi tetap pemasaran, hanya ditanggapi dengan wajah datar oleh pria yang menjadi pimpinan perusahaan tersebut.
"Ada satu orang yang mengundurkan diri dan aku berpikir untuk menyuruh staf membuka lowongan pekerjaan untuk posisi itu, tapi tadi ada yang memberikan ide agar kamu mencoba menggantikan orang itu."
"Tidak masalah jika kamu menolak. Aku akan menyuruh staf untuk membuka lowongan pekerjaan. Sekarang pergilah! Nikmati pekerjaanmu sebagai seorang cleaning service. Bukankah kamu sangat menikmatinya?"
Ari Mahesa bahkan tersenyum sinis saat mengejek putranya tersebut dan melihat respon wajah Arya seketika masam. Ingin sekali ia tertawa terbahak karena berpikir bahwa sebentar lagi putranya akan masuk dalam jebakan.
Bahkan saat menghitung di dalam hati, belum selesai melakukannya, sudah mendapatkan jawaban dari putranya.
"Tidak perlu susah-susah membuka lowongan karena ada aku yang bisa bekerja dengan baik sebagai salah satu tim pemasaran di perusahaan ini."
__ADS_1
Tanpa membuang waktu, Arya tidak ingin satu kesempatan hilang dan mencoba untuk berpikir positif jika memang itu adalah hal yang benar, yaitu memang sedang dibutuhkan satu orang untuk mengisi posisi tim pemasaran."
Sementara Arya tersenyum smirk dan sangat senang karena putranya sudah setuju.
"Baiklah. Dalam timmu, akan ada beberapa orang dan kamu harus bisa bekerja sama dengan baik karena ini bukan mengandalkan rasa egois untuk menunjukkan kelebihan masing-masing."
"Kamu pasti sudah tahu apa artinya tim yang harus bekerja sama dengan kompak untuk membawa nama baik mereka yang menjadi satu karena mewakili staf."
“Baik, Pa. Aku akan membuktikan kalau bisa bekerja dengan baik.” Dengan penuh semangat, Arya kini kembali seperti mendapat angin segar karena posisinya sudah naik dari staf rendahan menjadi pemasaran.
“Ya. Jangan terlalu banyak berbicara. Buktikan saja agar Papa bangga menyebutmu putraku.”
Ada penekanan pada kalimat terakhir yang membuat Arya menelan kasar saliva. Namun, ia sangat yakin bisa membanggakan sang ayah dan sekarang mengangguk perlahan, lalu menerima berkas yang ada di atas meja.
"Mulai besok, kenakan pakaian seperti staf lainnya. Jangan menggunakan seragam petugas kebersihan.”
“Aku mengerti, Pa. Tidak mungkin aku melakukannya karena tidak sebodoh itu." Bahkan Arya menjawab kalimat bernada ejekan dari sang ayah tersebut dengan wajah masam dan bibir mengerucut seolah ia saat ini sangat kesal karena mendapat kalimat pedas.
Sementara Arya yang tersenyum simpul karena melihat wajah putranya terlihat sangat lucu, memilih untuk mengibaskan tangan setelah mengungkapkan perintahnya.
“Hari ini kamu bisa mulai melihat tempatmu bekerja. Manajer di bagian itu akan menunjukkan apa saja yang perlu kamu lakukan dengan timmu.”
Arya beranjak dari sana, setelah mendapat pengusiran. Kemudian berjalan keluar dari ruangan itu. Berada di balik meja kerja dengan menggunakan alat-alat perkantoran adalah masa-masa yang sangat ditunggu Arya.
Ia tersenyum menyentuh meja kerja barunya. Dengan penjelasan singkat dari manager di sana, Arya mulai memeriksa berkas yang diberikan oleh sang ayah.
Arya melihat foto beberapa data mengenai orang-orang yang akan menjadi timnya.
Namun, belum selesai melihat satu persatu data dari anggota timnya, ada beberapa wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan dan semuanya mendaratkan tubuh pada kursi masing-masing.
Arya bahkan melihat sosok wanita yang paling cantik itu sudah duduk di hadapannya bersama yang lain.
Bahkan mereka sudah sibuk memperkenalkan diri masing-masing agar saling mengenal.
Begitu juga dengan wanita yang memiliki kecantikan alami tersebut tersenyum mereka deretan gigi putih yang rapi dan menyebutkan nama.
“Saya Calista. Mohon bimbingannya dari semua," ucap wanita itu dengan senyuman di bibir dan sebuah anggukan kepala.
Kemudian Arya pun melakukan hal yang sama dengan memperkenalkan dirinya dan sebenarnya ia tahu bahwa semua orang mengetahuinya, tapi harus melakukan meskipun itu hanya sebuah basa-basi.
Dalam tim pemasaran itu ada lima orang, yaitu tiga perempuan dan dua laki-laki. Mereka kini mulai membahas mengenai pekerjaan yang akan dilakukan tim dan pastinya ingin terjalin kerjasama yang baik.
Mereka semua tampak berbincang santai dan saling bertanya mengenai masing-masing.
Hingga saling memeriksa laporan yang baru saja diberikan dan membahas apa yang akan dilakukan.
Hingga ada satu orang memberikan sebuah ide atas pekerjaan yang akan dilakukan. Kemudian mendapatkan kesepakatan dan membagi tim menjadi dua.
High tim dibagi dua dan tanpa disengaja, Arya kini malah berakhir dengan wanita yang diketahui bernama Calista.
__ADS_1
Hingga mengharuskannya pergi bersama untuk bertemu beberapa klien. Mau tidak mau, ia harus pergi bersama wanita dengan paras cantik tersebut.
Hal yang sama dilakukan oleh tiga orang yang lain sudah berangkat menemui klien di sebuah restoran.
Kini, Arya sudah berjalan bersebelahan dengan Calista yang baru saja membuka mulut.
“Jadi, hari pertamamu sudah harus bertemu klien? Kamu tidak merasa gugup bertemu dengan klien, kan?” Calista seakan memberikan clue pada Arya masalah kesiapannya bekerja.
“Tentu saja tidak! Aku sudah membaca profil mereka. Mereka sudah pernah bekerja sama dengan perusahaan ini. Menurutku, akan dengan mudah saat mengajak mereka bergabung lagi.”
“Ternyata kamu terlalu percaya diri, tapi sepertinya kita lihat apakah yang kamu katakan. Aku ingin membuktikan perkataanmu." Calista memang bersikap sangat natural karena ingin pria dengan paras rupawan di sebelahnya tersebut masuk dalam permainan para orang tua.
'Ternyata dilihat dari dekat seperti ini, ia semakin tampan. Aku sangat menginginkannya dan harus menjadi milikku. Aku akan membuktikan itu,' lirih Calista dengan perasaan percaya diri.
Akhirnya mereka berjalan bersama menuju ke luar gedung. Keduanya menggunakan mobil dari kantor menuju lokasi yang sudah ditentukan.
“Apa aku bisa memanggil namamu saja? Maaf, bukannya tidak sopan, hanya ingin lebih akrab saja.”
“Baiklah, terserah padamu.”
Calista tersenyum, lalu melanjutkan percakapan mereka. “Apa siang ini kamu mau makan bersama atau sendiri?”
“Tergantung.”
“Maksudnya?”
“Tergantung dari pekerjaan ini. Jika selesai tepat makan siang. Mungkin aku akan menjadi teman makan siangmu, tapi jika tidak, cobalah keberuntunganmu lain kali.”
"Rasa humormu boleh juga ternyata.” Calista menyahut dengan seulas senyuman.
Tidak lama setelah percakapan itu berlangsung, mobil yang dikendarai oleh Arya berhenti di depan sebuah gedung perkantoran.
Di sana, Arya dan Calista masuk, lalu menemui seseorang yang sudah membuat janji bertemu.
“Tuan Henry, apa kabar?” tanya Arya yang mencoba untuk mengakrabkan diri dengan bersikap seramah mungkin karena nama baik perusahaan dipertaruhkan dan ia tidak ingin mempermalukan sang ayah dengan bekerja buruk ketika dipercaya mewakili rekannya.
Apalagi tadi Calista sudah menyerahkan semuanya kepadanya, atas dasar sikap percaya diri yang tadi ditunjukkan. Seolah wanita cantik itu tengah mengetesnya Apakah benar bisa membereskan klien perusahaan.
“Baik. Baiklah, silakan duduk. Apa aku bisa melihat proposal yang sudah siap?”
“Tentu saja, silakan." Arya menjawab dan beralih melirik ke arah sosok wanita di sebelah kirinya agar segera memberikan berkas yang tadi disiapkan.
Mengerti dengan arti kode mata dari Arya, Calista kini sudah menyodorkan berkas pada klien bisnis perusahaan yang sebenarnya adalah orang yang disuruh ayah pria itu agar masuk dalam sandiwara mereka.
'Rasanya sekarang aku seperti sedang bermain film dan harus berakting secara natural seperti ini bukanlah permainan. Ternyata Arya sangat lugu dan gampang dipengaruhi.'
'Hingga ia sama sekali tidak mengetahui bahwa semua yang terjadi hari ini, baik di perusahaan maupun restoran ini hanyalah sebuah settingan dari ayahnya,' lirih Calista yang saat ini masih berakting seperti menjelaskan perihal perusahaan agar klien tersebut mau bekerja sama.
Padahal, tanpa susah payah ia berbicara hingga berbuih menjelaskan, pria bernama Henry tersebut akan langsung menerima karena memang sudah mendapatkan uang dari Ari Mahesa.
__ADS_1
To be continued...