
Sang mentari belum terlihat menampakkan cahaya hangatnya meski jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Padahal Putri sudah bersiap sedari tadi untuk mengajak Xander berjemur di bawah sinar mentari pagi yang menyehatkan.
Sang mentari asyik bersembunyi di balik gumpalan awan mendung yang sudah mulai menutupi langit.
Tidak lama kemudian, langit mulai menumpahkan airnya ke bumi dengan deras tanpa peringatan dengan gerimis terlebih dahulu. Xander menangis karena cukup terkejut dengan hujan yang turun dengan tiba-tiba.
Putri terus menenangkan putranya yang menangis, ia mengendong dan memeluk bayi mungil tersebut. Kontrakan itu tidak bisa meredam suara air yang berjatuhan di atas atap yang terdengar begitu jelas.
Sementara itu di kantor, Arya sangat risau memikirkan anak dan istrinya yang hanya berdua di tengah hujan yang sangat deras. Ingin rasanya Arya pulang, tetapi ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Ditambah lagi, hari ini ada klien yang ingin bertemu dengannya untuk melihat langsung apartemen mewah yang ia tawarkan.
Jika klien itu jadi membeli hunian mewah tersebut, maka ia juga yang akan mendapat keuntungan besar. Tentu saja Arya harus lebih bersabar lagi.
Hari yang mendung tidak membuat Calista malas untuk melangkahkan kaki menuju kantor hari ini. Jangankan awan mendung, hujan badai saja akan ia terobos demi melihat wajah pria yang dicintai.
Sepanjang perjalanan, hati wanita itu terlihat begitu ceria.
Berbanding terbalik dengan suasana langit di atas sana. Calista mengendarai mobilnya menuju kantor, di mana ia bisa bertemu dengan sang pujaan hati.
Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat wajah tampan dan senyum menawan Arya. Calista selalu membayangkan hidup bahagia bersama pria tersebut.
Hujan deras turun tanpa bisa dicegah lagi saat Calista tiba di gedung tempatnya bekerja. Senyum pun seketika terbit di wajah cantik wanita itu saat melihat sosok yang menjadi vitamin dan sumber energi untuk hari-harinya.
Ternyata Arya cukup terkejut dengan kedatangan Calissa yang sudah berdiri di sampingnya.
"Arya, Pak Gilbert jadi, ya, datang jam sepuluh nanti?"
Arya pun tersentak dan menoleh.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Calista kemudian untuk memecah keheningan di antara mereka.
"Sudah," jawab Arya singkat. "Pak Gilbert sudah konfirmasi tadi. Mungkin dia akan sedikit terlambat karena hujan yang cukup deras, kemungkinan jalan yang dia lewati akan sedikit macet."
"Baguslah. Semoga ia tertarik dengan hunian apartemen itu, ya," sanggah Calista.
Ia mengikuti arah pandang Arya yang sedang menikmati tumpahan air dari langit begitu deras melalui dinding kaca di depan mereka.
__ADS_1
"Calista ...."
Wanita berparas cantik itu menoleh dan sedikit mendongak saat sang pujaan hati memanggil namanya.
"Terima kasih, ya," ucap Arya kemudian.
Calista termangu untuk beberapa saat dengan mata yang tidak berkedip sedikit pun.
"Calista ... kamu baik-baik saja?" Arya melambaikan tangannya di depan wajah wanita itu.
"Ah, iya." Calista memalingkan wajahnya kembali dan menyembunyikan pipi yang mulai merona.
Senyum Arya benar-benar membuat jantungnya nyaris saja melompat dari tempatnya. Senyum yang menjadi candu dan membuat Calista tergila-gila.
Sayangnya pria itu tidak mudah menampakkan senyum menawan tersebut.
"Sekali lagi terima kasih, Calista. Jika bukan karena kamu, pak Gilbert tidak mungkin menghubungi untuk melihat apartemen yang aku tawarkan.
"Sama-sama. Jangan lupa traktir aku kalau dia deal, ya," balas Calista dengan mengulas senyuman semanis mungkin.
"Siap. Aku akan traktir kamu, tapi jangan di restoran mahal, ya. Bisa habis isi dompetku." Arya terkekeh untuk mengurai ketegangan di hatinya saat akan menghadapi pria kaya dan hebat bernama Gilbert.
Pria hebat itu tertarik untuk hunian yang ditawarkannya.
"Tenang saja. Aku akan memilih tempat makan yang bagus dan nyaman, tetapi tidak membuat isi dompet kamu habis," imbuh Calista untuk menanggapi candaan dari Arya.
Mereka tertawa bersama. Sebenarnya Gilbert adalah salah satu klien yang Calista dapatkan saat ia sedang iseng menawarkan sebuah apartemen mewah yang memiliki letak strategis di kota tersebut.
Gilbert yang merupakan ayah dari teman Calista memang sedang mencari hunian untuk tempat tinggal istri keduanya.
Tentu saja Calista tidak membuang kesempatan emas tersebut. Ia meminta temannya itu agar memberikan kartu nama pada Gilbert.
Namun, alih-alih memberikan kartu nama dirinya, ia justru memberikan kartu nama milik Arya.
Arya sebelumnya memang sudah dikabari oleh Calista jika nanti akan ada seseorang bernama Gilbert yang akan menghubungi untuk bertanya mengenai hunian apartemen mewah yang tengah mereka tawarkan.
Jadi, saat ia menerima telpon dari seorang pria bernama Gilbert, Arya sudah tidak kaget lagi.
__ADS_1
"Kenapa bukan kamu saja yang ambil? Kenapa kamu malah memberikan klien itu padaku?" Itu adalah pertanyaan yang Arya berikan saat itu karena berpikir jika Calista sedang merencanakan sesuatu padanya.
Namun, asumsinya terpatahkan begitu mendengar alasan dari Calista yang terdengar masuk akal.
"Aku sudah punya tiga klien dan rasanya terlalu lelah kalau harus mengambil klien yang satu ini juga. Lagipula, aku merasa kalau kamu lebih bisa meyakinkan pak Gilbert dibandingkan aku."
Itu adalah alasan yang Calista berikan pada Arya untuk menjawab pertanyaan pria itu.
Arya memang tidak meragukan lagi kemampuan Calista dalam mencari klient dan juga sudah beberapa kali mendapat klien dari wanita itu.
Arya tidak tahu jika Calista sengaja melakukan itu agar perlahan bisa mencuri perhatian Arya.
Tidak ada kecurigaan Arya sedikit pun pada Calista karena wanita itu selalu menunjukkan ketulusan di depannya.
Satu kali pertemuannya dengan Gilbert, pria itu langsung tertarik. Melihat bagaimana Arya menyampaikan penjelasan akan sebuah hunian yang ditawarkan pada pria berusia 40 tahun tersebut.
Arya menjelaskan dengan sangat detail dari apa yang ia tawarkan. Gilbert langsung tertarik untuk melihat langsung hunian tersebut dan mereka pun membuat janji temu kedua untuk bersama-sama pergi ke apartemen yang ditawarkan.
Sembari menunggu kedatangan kliennya, Arya dan Calista memilih untuk menikmati secangkir kopi sembari membahas tentang strategi marketing yang akan mereka lakukan untuk menjual beberapa unit apartemen dan rumah yang masih dalam lingkup perusahaan keluarga Mahesa.
Sesekali Calista mencuri pandang pada pria yang tengah duduk berhadapan dengannya.
Calista tidak habis pikir dengan jalan pikiran Arya. Kenapa pria itu mau susah-susah bekerja menjadi seorang marketing pemasaran di perusahaan milik ayah sendiri hanya karena seorang wanita biasa dari kelas rendahan.
Arya bisa saja menduduki jabatan sebagai pemimpin di perusahaan pusat karena adalah putra dari pemilik perusahaan itu sendiri.
Bahkan adalah calon penerus perusahaan tersebut. Namun, ia rela melepas semuanya demi seorang wanita rendahan.
Mungkin jika istri Arya adalah wanita yang memiliki status sosial setara dengan pria itu, Calista tidak akan sakit hati dan merasa terhina.
Namun, Calista dipukul paksa oleh keadaan yang membuat ia semakin tidak diterima jika harus kalah dari wanita yang diketahuinya bernama Putri Wardhani.
Bagi Calista, Putri hanya wanita biasa yang tidak memiliki sesuatu yang patut untuk dibanggakan. Justru wanita itu memiliki aib yang begitu memalukan. Pantas jika kedua orang tua Arya tidak menyukai Putri. Bahkan tidak akan pernah merestui hubungan mereka.
Calista semakin yakin jika ia bisa membuat Arya berpaling dari istri dan melihatnya suatu saat nanti.
To be continued...
__ADS_1