Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
64. Mantan kekasih


__ADS_3

Saat Ririn merasa sangat kecewa karena salah menebak, ia kini menyadari bahwa Arya sedang mengusirnya secara halus agar bisa berduaan dengan Putri di apartemen.


Hal itu membuatnya merasa bahwa bahaya jika Arya berada dekat-dekat dengan Putri yang mungkin akan merayu dan menjebak.


'Ini berbahaya. Bagaimana jika Arya dan wanita ini melakukan hal-hal terlarang? Jika seperti itu, bisa-bisa nanti Arya disuruh tanggungjawab dan membuatnya harus menikahi Putri. Lalu bagaimana dengan nasibku?'


Tidak ingin sahabatnya menikah muda dengan wanita tua, kini ia bangkit berdiri dan mengungkapkan keinginannya.


"Aku ingin bicara denganmu sebelum pergi."


Sengaja Ririn mengambil tasnya agar terlihat seperti akan pergi. Padahal ia hanya ingin berbicara empat mata bersama dengan Arya untuk menasihatinya.


"Ada apa? Katakan saja di sini karena di antara kami tidak ada rahasia." Arya yang berbicara sambil mengunyah makanan yang dari tadi disuapi oleh sang kekasih.


Tidak ingin Putri curiga jika ia menuruti ajakan sahabatnya untuk bicara hanya berdua, ia pun kini sudah menatap ke arah sang kekasih.


"Bukankah seperti itu, Sayang? Aku memang suka kamu cemburu, tapi tidak menyukai saat melihat wajah masammu itu."


Sementara Putri yang kali ini merasa sangat bangga mendengar jawaban dari Arya. Refleks ia melabuhkan kecupan lembut pada pipi putih dengan rahang tegas tersebut.


Perbuatan tiba-tiba dari Putri sebenarnya ingin dibalas dengan ciuman liar oleh Arya, tetapi ia menahannya karena masih ada Ririn di hadapannya.


"Kenapa sekarang kekasihku sangat nakal? Tunggu pembalasanku karena ada hal yang harus kubereskan terlebih dahulu." Kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya pada Ririn. "Cepat katakan apa yang ingin kamu bahas tadi."


Sebenarnya Ririn sangat ilfil melihat sikap Putri yang menurutnya seperti wanita murahan. Namun, ia bersikap seperti biasa dan melihat wanita yang tidak disukainya itu tengah membuka kado darinya yang berisi anting.


"Aku tadi hanya ingin mengingat kalian untuk tidak berduaan di sini. Apalagi kalian berdua belum menikah. Jangan sampai melakukan hal-hal terlarang karena hanya akan berdampak buruk ke depannya. Aku hanya ingin mengatakan hal itu saja karena kamu adalah temanku. Jadi, sudah sepantasnya seorang sahabat mengingatkan untuk kebaikan."


Saat Putri baru saja melihat kado dari Ririn dan membuatnya merasa terkejut atas hadiah mahal dari sahabat Arya. Namun, ia merasa tertampar dengan nasihat dari wanita yang dianggapnya sok suci tersebut.


'Dia bisa berbicara seperti itu karena tidak mempunyai seorang kekasih. Mungkin jika dia yang jadi kekasih Arya, sudah pasti akan terus menempel dan tidak mau berpisah,' umpat Putri di dalam hati yang memilih untuk menunggu jawaban dari Arya dalam menanggapi nasihat dari Ririn.


Arya yang hanya bersikap datar atas perkataan dari sahabatnya, kini memilih bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Ririn. Tidak hanya itu, ia kini sudah melingkarkan tangannya pada pundak sahabat kecilnya tersebut.

__ADS_1


"Kamu tenang saja karena jika ketakutanmu itu terjadi, aku akan bertanggungjawab pada kekasihku dengan menikahinya. Tentunya kamulah orang pertama yang akan kuundang nanti."


Arya kini mendekatkan wajahnya ke arah daun telinga Ririn. "Sekarang pulanglah karena aku sudah memenuhi janjiku untuk memperkenalkan kekasih padamu. Aku ingin berduaan dengan kekasihku. Lebih baik kamu pulang atau mencari kekasih, sana! Biar tidak merasa kesepian."


"Apalagi sekarang aku sepertinya sudah tidak bisa mengantarkanmu setiap saat seperti sebelumnya."


Keduanya kini sudah berada di depan pintu apartemen.


Sebenarnya Ririn tadi enggan untuk pergi dan membiarkan Arya berduaan di apartemen, tetapi ia takut akan membuat sahabatnya kesal dan malah ilfil padanya.


"Baiklah, aku akan pergi. Aku sudah mengingatkanmu. Jadi, jika sampai terjadi hal buruk, tanggung sendiri akibatnya! Sebelum aku pergi, ingin tahu berapa usia Putri. Dia lebih tua darimu, kan?"


"Iya, apa kamu puas? Dia lebih tua satu tahun dariku. Apa itu salah? Sudah sana pergi! Aku mau masuk karena kekasihku sudah menunggu."


Arya kini melangkahkan kakinya yang panjang menuju ke dalam apartemen dan langsung menutup pintu. Namun, ia terkejut begitu berbalik badan, melihat sosok wanita yang ada di hadapannya.


"Kamu mengejutkanku, Sayang."


"Sudah aku usir karena ingin berduaan denganmu. Kenapa? Kamu sudah merindukanku?" Arya sudah melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Putri dan mendekatkan wajahnya.


Putri mengarahkan tangannya ke hadapan Arya. "Mana kadonya? Bukannya tadi kamu bilang ada kado spesial untukku?"


"Ini kadonya." Merentangkan tangannya yang menggenggam erat.


"Mana?" Putri mengerutkan keningnya karena masih mencari-cari sesuatu dari tangan Arya , tapi tidak menemukan apapun.


Arya tersenyum smirk dan beralih mendekatkan wajahnya ke dekat daun telinga Putri.


"Akulah hadiahnya. Kamu bisa menikmatiku sepuasmu, Sayang."


"Astaga!" Putri yang kini memahami apa maksud dari Arya, hanya bisa menepuk jidat dan beralih mencubit gemas paha pria yang sudah mengedipkan mata padanya.


Saat Putri baru saja mencubit gemas paha Arya yang menurutnya sangat nakal, mengerutkan kening karena mendengar suara bel pintu yang berbunyi dan langsung bersitatap dengan iris tajam Arya

__ADS_1


"Siapa yang datang?"


Sementara itu, Arya yang tidak tahu, hanya mengendikkan bahu. Lebih baik kita lihat sekarang!"


Arya yang kini memeluk pinggang ramping Putri, membuka pintu dan melihat bahwa yang saat ini berdiri di hadapannya adalah seseorang yang tak lain adalah mantan kekasih saat masih sekolah dulu dan merupakan teman dari sepupunya.


Arya merasa terkejut ada mantan kekasih yang tiba-tiba muncul di depan mata.


'Mery? Kenapa dia ada di sini? Siapa yang memberitahunya aku ada di sini?' gumam Arya yang kini pertanyaannya terjawab sudah begitu melihat sepupunya berjalan mendekat dan menjadi dalang di balik semuanya.


Ia sudah menatap tajam ke arah sepupunya karena merasa sangat marah. 'Lihat saja nanti. Aku akan memberi pelajaran padanya!'


"Peace, Brother!" ucap Mia dengan memberikan sebuah kode permohonan maaf. "Kebetulan saat kamu tadi menyuruhku untuk mencari orang menyiapkan kejutan ulang tahun, aku sedang bersamanya."


Arya yang saat ini mengkhawatirkan keadaan sang kekasih yang selalu cemburu padanya.


'Bagaimana jika Putri cemburu dan marah padaku saat melihat Mery? Sudah lama tidak bertemu, ternyata dia terlihat lebih dewasa. Sudah empat tahun lebih tidak bertemu dan sekarang berada dalam situasi yang berbeda.'


'Ternyata hatiku sama sekali tidak bergetar seperti dulu saat melihatnya karena hatiku sudah seutuhnya milik Putri,' lirih Arya yang kini menatap ekspresi wajah Putri karena khawatir jika cemburu.


"Hai, Arya. Sudah lama kita tidak bertemu dan ternyata kau sudah banyak berubah."


Mery melirik ke arah wanita yang berada di lengan kekar pria yang masih sangat ia cintai, seraya tak berhenti mengumpat di dalam hati.


'Wanita ini pasti merayu Arya dengan tubuhnya. Arya yang aku kenal tidak pernah berbuat diluar batas. Sekarang berubah seperti tidak merasa malu menunjukkan sikap tunduk pada seorang wanita.'


Sementara itu, Arya kini sudah mengamati penampilan Mery dan menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.


"Ooh ... jadi kamu sudah kembali dari London? Bagaimana? Apa kamu sudah sukses setelah kuliah di London?"


Merasa tersindir dengan kalimat yang di layangkan Arya padanya, membuat Mery hanya bisa tersenyum kecut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2