
Pukul tujuh pagi, Putri sudah terlihat segar setelah mandi. Kaki jenjangnya terlihat melangkah keluar dari kamar mandi dan ia kali ini benar-benar merasa pinggangnya serasa mau patah saja akibat perbuatan sosok pria yang terlihat masih bertelanjang dada di atas ranjang.
Pukul lima pagi tadi Putri kembali dibangunkan oleh Arya yang kembali menghajarnya habis-habisan dengan berbagai macam gaya. Seolah tidak pernah merasa puas bercinta dan berhasil membuatnya mendesah dan merintih untuk kesekian kalinya.
Kali ini, ia sudah mendaratkan tubuhnya di atas ranjang sebelah pria yang malah tadi kembali pergi tidur setelah membangunkannya.
Putri hanya geleng-geleng kepala melihat Arya terlihat pulas dengan telanjang dada.
"Kebiasaan buruk laki-laki adalah selalu tertidur pulas setelah berhasil menyalurkan gairahnya. Sementara para wanita tidak akan bisa tidur lagi setelah dibangunkan."
Tidak ingin mengganggu tidur pria tampan yang membuatnya tergila-gila, Putri kini berjalan menuju ke arah balkon dan berdiri di sana untuk mengamati suasana luar dan terlihat pemandangan kota Jakarta dengan kendaraan yang berlalu lalang.
Masih memakai wardrobe berwarna putih dan handuk kecil yang melilit di rambutnya, Putri seolah sudah menjadi seorang istri dari pria kaya dan sudut bibirnya melengkung ke atas karena mengungkapkan kebahagiaan yang dirasakan.
'Arya akan mengubah takdir hidupku yang awalnya hanyalah seorang wanita miskin, kini berubah menjadi wanita kaya karena aku bisa menginap di ruangan hotel terbaik yang biasanya hanya bisa kulihat di televisi.'
'Namun, semuanya berubah setelah aku bertemu dengan Arya. Ia adalah pria yang mengubah takdir hidupku dari seorang wanita miskin menjadi wanita sosialita nantinya.'
Putri kini masih memuaskan diri dengan memanjakan mata untuk melihat pemandangan indah jalanan ibu kota dari atas bangunan tinggi menjulang untuk pertama kalinya.
Beberapa saat kemudian, ia merasakan tubuhnya terhuyung ke depan satu langkah saat tangan dengan buku-buku kuat mengungkungnya dan tentu saja mengetahui siapa yang melakukannya.
Arya yang tadinya bergerak ingin memeluk tubuh seksi Putri saat masih memejamkan mata, meraba-raba ranjang dan tidak menemukan seseorang yang dicarinya. Ia pun membuka mata dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar hotel.
Begitu melihat sosok wanita yang dicari sedang berdiri di balkon, ia memilih untuk bangkit berdiri dari ranjang setelah memakai celana dan membiarkan dada telanjang terekspose jelas.
Kemudian berjalan mendekati Putri dan memeluknya dari belakang sambil mengendus aroma wangi tubuh wanita yang kini mengusap punggung tangannya.
"Aku mencarimu. Aku pikir kamu sudah pergi tadi."
"Mana mungkin aku pergi saat sedang menantikan rahasia yang kamu katakan semalam. Aku sangat penasaran. Jadi katakan padaku sekarang," ujar Putri yang kini memilih melepaskan kuasa tangan Arya dan berbalik badan agar bisa berhadapan.
Kini ia ber-sitatap dengan iris tajam Arya. Ia memandangi sosok pria dengan tubuh tinggi tegap yang masih memamerkan tubuh atletisnya.
Pria yang terlihat sangat memesona karena memiliki ketampanan khas Indonesia. Mata gelapnya yang berkilat, serta tatapan menantang, seolah menegaskan bahwa wajah tampan itu adalah sebuah pahatan sempurna dan sanggup meluluhlantakkan kaum hawa yang menatapnya.
Lekukan pipi putih yang tajam, hidung mancung, bibir padat yang sensual dan lekukan kecil di dagunya yang sama sekali tidak ditumbuhi bulu-bulu halus sedikit pun, semakin dalam saat pria di depannya tersenyum dan membuatnya meleleh.
__ADS_1
Sementara itu, Arya yang sama sekali tidak tertarik untuk mengatakan kejutan yang akan ia sampaikan, kini hanya menggelengkan kepala dan hanya mendekatkan wajahnya ke daun telinga Putri.
"Ada masanya, Sayang. Aku mau mandi dulu."
Kemudian menjauhi sosok wanita yang terlihat sangat penasaran tersebut sambil tersenyum menyeringai.
Putri semakin merasa kesal dan frustasi begitu mendengar perkataan dari pria yang berdiri dengan bersandar di dinding sambil bersedekap di dada.
Bahkan ia bisa mendengar suara tajam yang semakin menyulut api penasaran. Ia kini menatap tajam seorang pria yang yang menjadikan kenikmatan sebagai tujuan akhir dan tahu bahwa Arya selalu mengedipkan mata, tersenyum dan tampil memesona, sehingga membuat ia jatuh ke tempat tidurnya tanpa harus bersusah payah untuk merayu.
"Kamu sangat menyebalkan, Arya."
"Aku tidak bisa memberitahumu walaupun sangat menginginkannya," jawab Arya yang mencoba menjelaskan pada wanita yang terlihat sangat kesal tersebut.
"Terserah kamu saja!" umpat Putri yang kini memilih untuk berjalan meninggalkan Arya dan tidak ingin bertambah kesal.
Tanpa membuang waktu, Arya sudah melangkah dengan kaki panjangnya untuk mencegah wanita yang berjalan melewatinya.
"Sayang!" seru Arya sambil memegangi pergelangan tangan kiri wanita yang memunggunginya.
Arya yang makin merasa gemas melihat bibir mengerucut wanita yang terlihat sangat kesal tersebut.
"Kamu marah, Sayang?"
"Iya, aku marah."
Tubuh Putri langsung menegang, bagai dialiri listrik saat jemari pria yang ada di depannya menekan rusuknya dan membuat ia menegang dan mendebarkan.
"Aku baru menyadari bahwa kamu terlihat jauh lebih cantik saat marah seperti ini?" ucap Arya dengan tatapan impulsif.
"Jangan mencoba berkata konyol!" Putri yang masih merasa kesal, kini berusaha melepaskan tangan kekar yang menahan bagian belakangnya.
"Aku akan memberitahumu nanti di tempatnya langsung, oke," ucap Arya dengan menatap intens wajah cantik sang kekasih yang merajuk.
Putri menatap tidak berkedip pada pria di depannya, ia baru menyadarinya mata gelap Arya sangat berkilat. Rambut acak-acakan dengan kepala yang elok, wajah keras, tampan, dan sangat indah, membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Sial!" umpat Putri yang menyadari bahwa ia sangat memuja pria di hadapannya hingga tergila-gila.
__ADS_1
Arya benar-benar merasa sangat terkejut. Ekspresi wajah tersiksa ketika nyala api di matanya tampak memercik semakin tinggi.
"Putri." Mencengkeram pinggangnya. "Kamu baru saja mengumpatku?"
Tanpa merasa takut akan reaksi Arya yang kesal padanya, Putri masih bersikap sangat tenang. "Iya, aku mengumpatmu karena telah membuatku tergila-gila padamu."
Arya kini terbahak dan sudah mengacak rambutnya dan beberapa detik kemudian, penampilannya semakin berantakan tampak jelas. Arya sesaat memejamkan kedua mata dan mengumpat beberapa kali di dalam hati.
"Aku tidak akan bisa menahan diri jika kamu terus menggodaku, Sayang. Aku tak bisa menolak karena sekarang ini aku menginginkan apa yang kamu tawarkan padaku," ucap Arya dengan tegas dan mulai sedikit menunduk untuk menyentuh tepi bibir di hadapannya dan menyesapnya.
Awalnya, Putri menikmati sensasi memabukkan yang dikirimkan oleh Arya saat menikmati bibirnya. Namun, saat ia merasa ada warning di otaknya, kini memilih mendorong dada bidang itu agar melepaskan kuasa.
"Stop! Aku sudah mandi, Arya. Sana mandi dan tunjukkan aku kejutan yang tidak ingin kamu katakan sekarang!"
Arya yang merasa sangat kecewa karena penolakan dari Putri, kini terlihat menampilkan wajah masam.
"Astaga! Bukankah kamu tadi yang menggodaku?"
"Mana ada, kamu saja yang salah mengartikan kekesalanku."
"Kalau aku katakan kejutannya, apa kamu mau mandi bersama denganku?" Arya tersenyum smirk karena mengetahui kelemahan dari sosok wanita yang terlihat tengah menimbang-nimbang keputusan atas tawarannya.
"Katakan dulu kejutannya! Baru aku pertimbangkan keputusanku!"
"Baiklah. Aku akan mengajakmu berbelanja. Kamu beli saja semua barang-barang yang ingin dibeli, nanti taruh di apartemen sepupuku. Ia sedang ke luar negeri dua minggu. Jadi, untuk sementara bisa menaruh barang-barangmu di apartemennya."
Arya kini menatap ekspresi wajah Putri yang terlihat berbinar dan membuatnya berpikir usahanya untuk mengajak Putri mandi bersama berhasil.
Tanpa membuang waktu, ia sudah membungkuk dan meraup tubuh seksi itu ke atas lengannya. Kemudian menggendong Putri ala bridal style menuju ke kamar
mandi.
Sementara Putri yang sudah melingkarkan tangannya pada leher belakang Arya, kini hanya pasrah atas semua perbuatan pria dengan rahang tegas tersebut.
'Aku sekarang benar-benar seperti pengantin baru karena Arya tidak pernah puas menikmati tubuhku. Ia sangat kuat dan membuat tulang-tulangku seperti mau lepas dari tempatnya. Namun, inilah yang aku dambakan dari seorang pria. Tidak seperti pria tua dan lemah itu,' lirih Putri di dalam hati.
To be continued...
__ADS_1