
Awalnya tadi Arya hanya ingin mencium bibir Putri karena posisi mereka yang sangat dekat. Ia merasa sangat bergairah begitu menelusuri leher jenjang putih dan diteruskan dengan gerakan tangan yang menelusurinya.
Arya yang saat ini tersenyum smirk saat berhasil membuat Putri meneriakkan namanya. Ia pun melepaskan pagutan dan menatap intens wajah cantik yang sangat dipujanya tersebut.
"Bagaimana, Sayang? Nikmat, kan? Akan lebih baik lagi saat aku melanjutkannya, tapi sayangnya kamu sedang menstruasi."
Mengarahkan tangannya untuk membaringkan dengan lembut tubuh seksi Putri agar berbaring telentang di sebelahnya.
Sementara itu, Putri tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Arya terasa sungguh nikmat. Sebuah kenikmatan murni yang seolah membuat jantungnya berhenti berdetak saat itu juga.
Setiap Arya menyentuhnya, selalu merasakan setiap syaraf yang dimiliki hanya terfokus pada satu titik. Hingga ia tidak yakin bisa menahan lebih lama penyiksaan manis yang dilakukan oleh pria dengan paras rupawan tersebut karena selalu merasakan tubuhnya melebur, mengambang di puncak nirwana paling tertinggi yang bisa digapai bersama dengan puncak kenikmatan.
Wajah Putri semakin berubah memerah begitu mendengar kalimat bernada ejekan dari Arya.
"Saat merasakan kenikmatan, kamu sampai tidak bisa berpikir untuk sekedar berbasa-basi menolakku, Sayang. Sialnya, malam ini aku tidak bisa melihat sikapmu yang sangat menggemaskan."
Arya kini melingkarkan tangan pada perut datar Putri, seolah ingin menunjukkan kekuasaannya. "Kamu adalah milikku."
Kemudian Arya mengusap lembut wajah yang mulai berangsur kembali seperti semula karena sudah tidak semerah tadi.
Hal berbeda kini tengah dirasakan oleh Putri saat ini karena merasa sangat malu pada sosok pria yang baru saja mengungkapkan sejuah kejujuran sekaligus mengejeknya hanyalah wanita lemah yang seperti haus sentuhan.
Bahkan ia ingin sekali lari dari sana dan menyembunyikan diri di tempat yang tidak akan pernah ditemukan oleh Arya. Sosok pria yang telah menjungkirbalikkan perasaan dan mengalihkan dunianya.
'Mau ditaruh di mana mukaku saat ini di depan Arya? Rasanya aku ingin segera pergi dari sini dan tidak ingin melihat wajahnya,' umpat Putri yang saat ini masih enggan untuk membuka kedua mata.
__ADS_1
Hingga suara dari sosok pria yang makin mengeratkan pelukan, kini membuat kulitnya lagi-lagi meremang seketika.
Arya yang dari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari pahatan sempurna yang sangat dipujanya tersebut, kini tersenyum smirk saat menyadari bahwa Airin saat ini tengah malu padanya.
"Aku sangat suka melihatmu malu seperti ini dan tunjukkan wajah seperti ini hanya di depanku," ujar Arya yang kini beralih mengedipkan mata dan bisa melihat raut wajah sang kekasih kembali merona.
Ia semakin merasa sangat senang melihat sikap menggemaskan dari sosok wanita yang berniat untuk memalingkan wajah dan menghindarinya.
Putri yang tadinya mengerti dengan arti dari kalimat bernada vulgar dari Arya, berniat untuk segera kabur dari atas ranjang.
Setelah memalingkan wajah, ia bangkit dari posisi yang awalnya berbaring di atas ranjang dan berniat untuk turun.
Namun, ia tidak berkutik lagi saat tubuhnya ditahan oleh tangan kekar Arya yang melingkar di pinggangnya. Tidak sampai di situ, ia baru menyadari kebodohannya saat Arya semakin mendekati daun telinga dan membisikkan sesuatu hingga membuat bulu kuduknya meremang seketika.
"Lain kali kita main kuda-kudaan lagi setelah kamu selesai menstruasi," bisik Arya yang kini tengah menggoda Putri dan membuatnya terkekeh geli.
'Sialan! Otak kotor ini sudah membuatku menjadi wanita yang terlihat sangat bodoh di depannya.'
Baru saja ia selesai mengumpat di dalam hati, Putri mendengar suara dari sosok pria yang semakin membuatnya seperti tidak mempunyai muka lagi.
"Selama satu minggu, aku tidak akan mengajakmu bertemu karena tanpa bercinta, hubungan ini terasa hambar."
Sebenarnya Arya ingin memanfaatkan waktu dengan bermesraan bersama Putri dengan sebaik-baiknya karena menyadari bahwa kemungkinan untuk bersama setiap hari akan sulit sebelum ia mengurus perceraian wanitanya.
"Aku akan mengurus perceraianmu nanti. Bersiaplah."
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Putri yang kini sudah berbinar wajahnya karena ia belum mengungkapkan keinginannya, tetapi sudah mendapatkan bantuan dari Arya.
"Iya, aku akan mencari informasi dulu mengenai gugatan cerai seorang istri pada suami. Jadi, bersabarlah karena aku akan membantumu untuk bercerai dengan pria tua tidak berguna itu." Arya kini sudah mengusap lembut punggung tangan Putri untuk menyalurkan hawa positif.
Namun, saat ia mengingat sesuatu hal yang penting, kini ingin menyampaikan pada Putri.
"Saat kamu bercerai, aku ingin dua anakmu ikut dengan suamimu karena tidak ingin membesarkan anak orang lain. Apalagi orang tuaku tidak akan pernah menerimamu jika sampai kamu membawa dua anakmu."
"Aku rela mengeluarkan uang banyak untuk membuatmu bercerai, tetapi tidak bisa menerima anak-anakmu. Apa kamu mengerti?" tanya Arya yang kini mengarahkan tatapan mengintimidasi pada sang kekasih yang terlihat seperti ragu untuk membuat keputusan.
Tentu saja Putri menyadari bahwa inilah konsekuensi atas pilihannya dan merasa ia tidak bisa mundur karena sudah melangkah sampai sejauh ini, akhirnya ia memutuskan untuk menuruti perintah dari Arya karena berpikir bahwa dua anaknya lebih baik ikut bersama sang ayah.
"Aku mengerti. Aku rela meninggalkan anak-anakku demi kamu karena sangat mencintaimu. Jadi, jangan meninggalkanku karena aku benar-benar telah mengambil keputusan besar dalam hidup. Aku menyerahkan hidupku padamu dengan merelakan anak-anakku ikut bersama ayah kandungnya."
Sudut bibir Arya kini melengkung ke atas dan membuatnya langsung merengkuh tubuh seksi Putri dan memeluknya.
"Tentu saja, Sayang. Percayakan hidupmu padaku karena mulai sekarang, aku akan bertanggungjawab padamu."
Putri yang saat ini menganggukkan kepala, merasa yakin dan sudah memantapkan hati dengan pilihannya. Berharap setelah menikah dengan Arya, hidupnya akan bahagia dan tidak lagi hidup menderita.
'Aku akan berbahagia bersama Arya karena sangat mencintaiku. Anak-anakku pun sama, mereka akan bahagia hidup bersama dengan ayahnya. Memang tidak mungkin aku membawa dua anak hidup bersama pria yang berstatus masih perjaka. Apa yang akan dipikirkan oleh orang tua Arya nanti,' gumam Putri yang kini mengingat jika ibu dari pria yang dicintai tersebut sangat arogan dan tidak menyukainya.
'Mama Arya seperti tidak menyukaiku saat pertama kali bertemu di salon. Kira-kira nanti ingat pernah bertemu denganku, atau tidak, ya? Apa tanggapan wanita sombong itu saat mengetahui Arya ingin menikahiku? Membayangkan hal itu saja sudah membuat tubuhku memang seperti ini.'
Perasaan gelisah yang dirasakan oleh Putri semakin menyeruak memenuhi hatinya kala khawatir jika mama Arya tidak menyetujui hubungan mereka. Mendadak rasa percaya diri Putri perlahan menciut kala mengingat ekspresi wajah sombong calon mertua.
__ADS_1
To be continued...