
Beberapa saat yang lalu, Arya yang awalnya tengah menghabiskan waktu di ruangan pribadinya dengan bermain game, menghentikan kegiatannya.
Karena suara dering ponsel miliknya berdering dan begitu melihat yang menelpon adalah seorang pengacara yang membantunya untuk mengurus masalah gugatan cerai Putri pada sang suami, membuatnya langsung mengangkat telpon dengan menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo, Tuan Romy. Apa ada kabar baik hari ini?" tanya Tomy pada sang pengacara yang dipercaya olehnya.
"Iya, Arya. Hari ini surat gugatan cerai telah dikirimkan kepada Bagus Setiawan."
Sudut bibir melengkung ke atas kini terlihat sangat jelas dan mewakili perasaan Arya saat ini karena akhirnya ia akan bebas bertemu kapan saja dengan sang kekasih dan berencana untuk menyewa rumah nanti.
Tentu saja ia dan Putri sudah memikirkan banyak rencana ke depannya bersama wanita yang sangat dicintainya itu.
Memiliki rencana besar bahwa ia akan bekerja di perusahaan keluarga dan mengangkat Putri sebagai sekretaris pribadinya. Bahkan ia sudah berpikir akan bersemangat bekerja karena bisa sambil bermesraan dengan wanita yang sangat dipujanya.
"Baguslah kalau begitu. Jadi, masalah ini akan cepat diselesaikan. Terima kasih karena sudah membantuku mengurus semuanya."
Arya yang berniat untuk mematikan sambungan telepon, kini mendengar suara dari seberang telepon yang seolah masih belum selesai berbicara dengannya dan membuatnya mengerutkan kening.
"Tunggu sebentar."
"Iya. Apa ada lagi yang ingin disampaikan?" tanya Arya dengan sesekali mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan pribadinya dengan nuansa cat abu-abu dan terkesan maskulin karena ia sengaja mendesain sendiri sesuai dengan keinginan tanpa melibatkan orang lain.
Sementara ruangan lain di rumahnya menggunakan jasa interior rumah yang merupakan rekan bisnis dari sang ayah. Ia masih menunggu apa yang saat ini akan dijelaskan oleh sang pengacara.
__ADS_1
"Jadi begini. Aku tadi bersiap untuk pulang dan tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Kamu tahu siapa? Dia adalah Bagus Setiawan_ suami dari Putri Wardhani Awalnya aku sama sekali tidak tahu jika itu adalah orang yang digugat cerai oleh istrinya, tapi saat memperkenalkan diri dan mencari temanku, baru aku paham."
Sementara itu, Arya yang saat ini tengah memikirkan apa yang dikatakan oleh sang pengacara, masih mencoba untuk menebak-nebak apa yang dimaksud dan lebih memilih untuk mendengarkan kelanjutan cerita.
'Kenapa pria itu datang ke kantor pengacara? Apa yang akan dilakukannya pada pengacaraku?' gumam Arya yang kini kembali mendengar suara bariton dari seberang.
"Jadi, pria bernama Bagus itu aku pikir datang ke kantor untuk menemuiku, tapi ternyata salah. Dia mencari rekan kerjaku yang juga merupakan pengacara satu kantor bernama Amira Tan."
Kini, Arya mulai mengerti dengan penjelasan dari pengacaranya dan sudah tersenyum smirk.
"Jadi, pria tua tidak berguna itu akan membayar pengacara juga untuk mengurus perceraian? Ternyata aku terlalu meremehkannya. Apa kau mengatakan padanya bahwa ada aku dibalik semua ini? Bahwa bukan Putri yang mengurus gugatan cerai?"
Arya kini merasa khawatir jika nama baiknya disangkutpautkan hingga sampai pada pria yang merupakan suami dari Putri. Ia tidak ingin itu terjadi karena berpikir bahwa melakukan semuanya dengan sangat rapi tanpa ada yang mengetahui bahwa diam-diam telah menjalin hubungan dengan Putri.
Belum sempat ia berpikir, kini semakin dibuat pusing dengan berita yang tidak menyenangkan.
Entah mengapa Arya merasakan ada sesuatu hal yang sangat menarik dari suami Putri dan ingin mendengar semua yang diceritakan oleh sang pengacara dengan masih menutup rapat bibirnya.
'Sebenarnya apa yang terjadi? Apa rencana pria tua tidak berguna itu?' gumam Arya yang saat ini masih dikuasai oleh berbagai macam pertanyaan di otaknya.
"Pria itu datang ke kantor pengacara bukan untuk menggunakan jasa, tapi malah memaki-maki rekanku. Ada hal yang semakin membuatku terkejut dan kamu pasti akan jauh lebih terkejut dariku."
Tidak suka pria yang berada di seberang telepon bertele-tele dengan tidak langsung ke poin penting yang ingin diketahuinya, Arya kini mengungkapkan kekesalannya.
__ADS_1
"Jangan semakin memantik api penasaran di kepalaku, Tuan Romy. Lebih baik cepat katakan padaku tentang apa yang dikatakan oleh pria itu!"
"Pria yang bernama Bagus itu jelas-jelas mengatakan bahwa rekanku adalah saudara perempuan istrinya. Namun, berbeda ibu. Dia menyuruh Amira untuk menarik ucapan yang mengatakan bahwa Putri akan menuntut cerai."
Sang pengacara berhenti sejenak menjelaskan untuk mengambil napas. Beberapa saat kemudian, ia melanjutkan poin penting yang harus disampaikan pada kliennya yang ingin dirahasiakan identitasnya.
"Tidak hanya itu saja, dia ingin Amira menebus kesalahan dengan membereskan masalah gugatan. Bahwa Bagus dengan tegas mengatakan tidak akan pernah menceraikan istrinya!"
Wajah Arya yang seketika berubah memerah begitu kalimat terakhir membuatnya berang. Tidak akan pernah menceraikan Putri, tentu saja membuatnya tidak akan bisa menikah dengan wanita yang membuatnya tergila-gila.
"Apa dia sudah gila? Tidak akan pernah menceraikan istrinya saat sudah digugat cerai? Dia benar-benar sudah tidak normal karena ingin mempertahankan hubungan yang sudah tidak disadari oleh cinta. Istrinya sudah tidak mencintai dan ingin berpisah, tetapi membuat masalah semakin rumit saja. Aku ingin semuanya cepat selesai!"
Tanpa membuang waktu, Arya yang saat ini tengah dikuasai oleh amarah, mematikan sambungan telepon dan memijat pelipis.
Sebenarnya ia beberapa saat lalu melihat panggilan telepon dari Putri saat berbicara dengan pengacara. Namun, tidak bisa mengangkatnya langsung karena sedang berbicara dengan pengacara mengenai hal penting tentang suami wanita itu.
Tentu saja hal yang baru saja didengar itu sangat mengejutkannya karena tidak pernah menyangka jika Putri memiliki saudara tiri yang berprofesi sebagai pengacara.
"Jadi, Putri memiliki saudara perempuan tiri? Selama ini aku tidak pernah menanyakan apapun mengenai keluarganya karena yang kutahu hanyalah ia adalah seorang wanita sederhana yang cantik dan memiliki suami, serta dua anak."
"Sepertinya mulai sekarang, aku harus mengetahui tentang semua hal mengenai Putri, agar tidak seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun mengenai hal-hal pribadi sang kekasih."
Kemudian ia kembali membuka daftar panggilan dan memencet tombol panggil. Hingga ia langsung menjauhkan ponsel dari telinga begitu mendengar suara Putri yang terdengar marah-marah padanya dan kembali membuat Arya memijat pelipis untuk kesekian kali.
__ADS_1
'Saat aku berpikir ingin mengetahui lebih jauh tentangnya, dia malah menuduhku hal konyol. Astaga, Putri. Jika saat ini ada di hadapanku, sudah kubuat kamu meneriakkan namaku dan bergerak liar seperti cacing kepanasan. Aku malah semakin gemas dan merindukannya sekarang.'
To be continued....