
Bagus yang saat ini sedang beristirahat di tempat kerja untuk makan siang, kini terlihat berkali-kali mengembuskan napas panjang. Ia mengingat kejadian di kantor pengacara kemarin.
Satu hari yang lalu ....
Bagus kini berdiri di depan ruangan kerja wanita yang tak lain adalah saudara tiri istrinya.
Sebenarnya ia tahu bahwa apa yang dilakukannya sangat bodoh dan konyol, tetapi saat ini pikirannya seolah tumpul dan konyol karena satu-satunya yang ia ingat hanyalah perkataan dari wanita itu mengenai gugatan cerai Putri padanya.
Setelah bertanya pada seseorang di depan tentang Amira, apakah sudah pulang atau belum, ia kini melangkah masuk dan pemandangan yang dilihatnya adalah seperti biasanya, yaitu sang pengacara tengah sibuk menunduk menatap ke arah beberapa dokumen di hadapannya.
Tanpa membuang waktu, ia sudah meluapkan amarah yang menyeruak di dalam hati dan sudah ditahannya dari tadi.
"Kamu harus memperbaiki semuanya dan menarik kata-katamu yang mengutuk adikmu sendiri akan hancur pernikahannya!"
Sementara itu, Amira yang tadinya sangat terkejut atas perbuatan dari sosok pria yang tak lain adalah suami dari saudara tirinya, refleks hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah arogan dan tidak sopan di depannya.
"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk? Bagaimana jika aku memiliki riwayat penyakit jantung dan langsung terkena serangan jantung akibat perbuatanmu? Kau akan dituntut dan dipenjara seumur hidup dengan tuduhan membunuh orang."
Amira kini menutup dokumen yang diperiksanya dengan kasar dan wajah masam kini terlihat sangat jelas dari wajahnya saat ini. Bahkan ia sudah bangkit berdiri dari posisinya dan berjalan mendekati sosok pria dengan wajah yang tak kalah masam darinya.
"Apa kamu sekarang ingin menyalahkanku atas perbuatan istrimu?" Amira kini mengarahkan tangannya pada pelipis pria yang sudah diketahui semuanya karena dulu pernah menyuruh orang untuk menyelidikinya.
"Sebelum bertindak gegabah, pikir dengan otak!" sarkas Amira yang sudah mengetuk-ngetuk jari telunjuknya pada pelipis Bagus.
Tentu saja saat ini Bagus semakin bertambah kesal karena melihat Amira seperti sangat merendahkannya.
"Kau benar-benar sangat keterlaluan! Tidak cukup kau mengutuk adikmu, sekarang menghinaku tidak memakai otak saat melakukan apapun. Aku sekarang malah berpikir bahwa kau sedang berusaha untuk menghancurkan rumah tangga kami untuk balas dendam karena ibu Putri telah membuat ibumu diselingkuhi oleh ayahmu."
__ADS_1
Jujur saja, Bagus sebenarnya sangat menyadari bahwa perkataannya yang mengungkit masa lalu keluarga, benar-benar telah menyinggung perasaan wanita di hadapannya, tapi egonya jauh lebih tinggi dari sebelumnya karena hanya memikirkan nasib rumah tangganya.
Sementara itu, Amira yang semakin bertambah besar amarahnya, refleks langsung mengangkat tangannya ke atas dan mendaratkan sebuah tamparan di pipi putih dengan rahang tegas tersebut.
Bahkan suara tamparannya kali ini terdengar menggema di ruangan kerjanya dan menimbulkan rasa panas pada telapak tangannya.
"Sekali lagi kau mengungkit tentang masa lalu keluargaku yang telah lama berlalu, aku benar-benar akan menghancurkanmu!"
Kilatan amarah terpancar sangat jelas di wajah Amira dan masih mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi, seolah ingin memangsa pria di hadapannya tersebut.
"Jika istrimu menuntut cerai padamu, seharusnya kau cari tahu apa yang membuatnya ingin bercerai. Bukan malah datang ke sini dengan sikap penuh amarah dan meluapkannya padaku."
"Aku hanya berbicara asal dulu, bukan mengutuk. Namun, jika kutukanku benar, sepertinya Tuhan benar-benar berlaku adil pada setiap umatnya."
Amira sebenarnya sudah mengetahui tentang gugatan cerai Putri melalui pengacara yang tak lain adalah temannya sendiri. Tidak hanya itu saja, ia bahkan mengetahui tentang perselingkuhan adik tirinya tersebut dengan seorang pria yang lebih muda.
Ia bahkan masih menyimpan semua bukti itu di laci meja kerjanya. Dengan sekali buka, ia akan membuka kedok adik tirinya tersebut. Namun, ia tidak mau melakukannya karena itu bukanlah menjadi tujuan hidupnya selama ini.
Amira memang menyewa orang untuk menyelidiki tentang Putri. Namun, itu semua karena sebenarnya ia hanya ingin mengetahui seperti apa sosok adik tirinya tersebut. Ia pernah mendengar perkataan ibunya yang telah meninggal, bahwa mungkin Putri akan terkena karma dari dosa besar yang dilakukan sang ibu.
Hal itulah yang membuatnya merasa terganggu dengan kata-kata sang ibu, sehingga memilih untuk mencari tahu kehidupan rumah tangga Putri. Begitu ia mengetahui bahwa Putri meneruskan jejak sang ibu, ia menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh ibunya benar.
'Putri telah menggali kuburannya sendiri dan mungkin balasan atas perbuatan buruknya akan terjadi sebentar lagi,' gumam Amira yang kini masih melihat ekspresi wajah penuh penyesalan dari Bagus.
Bagus yang seolah tertampar dengan kalimat tajam Amira, kini menatap kosong ke sekitar ruangan. Ia menyadari bahwa saat ini tengah mencari pelampiasan atas kehancuran yang dirasakan.
"Maafkan aku karena menyalahkanmu atas kesalahan diri sendiri. Kau memang benar. Putri tidak mungkin menggugat cerai tanpa ada penyebabnya dan aku sudah tahu apa yang membuatnya ingin bercerai."
__ADS_1
Bagus kini mengingat kekecewaan Putri yang sering terlihat beberapa terakhir ini mengenai penderitaan dari garis kemiskinan yang diberikannya dan juga kegiatan intim mereka selalu berakhir kekecewaan.
Apalagi sampai Putri mengatakan bahwa selama ini hanya menjadi pelayan karena harus mengerjakan apapun sendiri.
"Putri bosan hidup miskin dan juga muak mempunyai seorang suami yang lemah sepertiku. Karena itulah dia menuntut cerai dariku, tapi aku masih sangat mencintainya."
Jika beberapa saat lalu ia berbicara dengan menatap ke sembarang arah, kini ia beralih menatap wajah wanita yang memiliki paras hampir mirip dengan istrinya.
"Aku mohon padamu. Tolong aku. Apa kamu bisa membantuku untuk membatalkan gugatan cerai dari istriku? Bukankah kamu dulu pernah mengatakan akan menolongku? Tolonglah aku, tapi untuk membatalkan gugatan cerai Putri, bukan untuk bercerai dengannya."
Dengan merendahkan harga dirinya, kini Bagus sudah menyatukan kedua tangan di depan Amira yang diketahuinya adalah seorang pengacara.
Sementara itu, Amira yang tidak pernah berpikir akan menolong pria di hadapannya, hanya bisa memijat pelipis karena merasa sangat pusing.
"Kau memang pria yang tidak tahu malu. Setelah marah-marah dan menghinaku, sekarang malah minta tolong. Apa kau berpikir aku akan mau menolongmu setelah semua yang kau lakukan padaku?"
Bagus yang kali ini benar-benar sangat menyesalkan kecerobohannya, kini memilih untuk menyatukan telapak tangannya.
"Aku mohon padamu. Maafkan perbuatanku tadi dan tolonglah aku. Aku tidak ingin bercerai dengan istriku karena sangat mencintainya."
Amira yang sebenarnya ingin mengumpat kebodohan pria di hadapannya, mengurungkan niatnya karena tidak ingin semakin menambah beban pikiran Bagus.
'Dasar pria bodoh! Istrimu bahkan sudah berselingkuh dengan pria lain dan bahagia bersamanya, hingga pria itu yang mengurus gugatan cerai. Apa yang akan dilakukan olehnya jika mengetahui semua ini?'
'Apa aku harus mengatakan semuanya pada pria bodoh ini agar menyadari posisinya?' gumam Amira yang kini tengah menimbang-nimbang keputusannya.
To be continued...
__ADS_1