
Di sisi lainnya, Arya masih mencoba menahan tubuh sang ibu dengan cara melingkarkan kedua tangan pada perut datar itu.
"Mama jangan semakin membuatku menderita setelah diusir dari rumah tanpa membawa apapun. Apa itu belum cukup untuk menghukumku? Sekarang Mama malah datang untuk mempermalukanku di depan semua orang?"
Awalnya Arya berniat untuk bicara baik-baik tanpa mengandalkan emosi saat menanggapi kemurkaan dari sang ibu, tetapi semuanya berubah ketika melihat banyak orang yang berkerumun di depan pintu dan melihat interaksi dari dua wanita yang sama-sama berarti di hatinya.
Tentu saja ia langsung berteriak dengan suara bariton agar sang ibu mau berhenti dan menyadari kesalahannya dengan mengungkit masalah hidupnya sudah cukup menderita setelah diusir dari rumah.
Apalagi bukan ia yang memilih untuk meninggalkan rumah, tetapi sang ayah-lah yang telah mengusirnya karena memilih Putri.
"Bahkan tidak cukup mengusir dan merampas segala fasilitas yang selama ini kudapatkan, tapi papa membuat semua orang yang berniat untuk menolongku tidak berani. Bukankah itu benar-benar sangat keterlaluan? Aku tidak mengemis pada kalian, tetapi seolah menjadikan aku lebih buruk dari seorang gelandangan."
Tersimpan nada kegetiran defensif dari kata demi kata yang saat ini lolos dari bibir tebal pria dengan wajah memerah saat merasa kehilangan kesabaran. Ia benar-benar sangat marah ketika melihat wanita yang dicintai kesakitan karena ulah dari sang ibu yang salah paham tanpa mau mendengarkan penjelasan.
Ia sampai menaikkan nada suaranya pada sang ibu, padahal selama ini tidak pernah melakukannya karena sangat menghormati dan menyayanginya. Namun, semua berubah kala ia menatap wajah pucat dan dipenuhi ulir air mata hingga terlihat sembab dari sosok wanita yang sangat dicintai.
Ya, Arya menyadari bahwa ia memang sangat gila karena mencintai wanita yang masih berstatus sebagai istri orang.
Namun, ia tidak pernah merasa menyesal karena menganggap bahwa Putri adalah wanita yang sangat tepat untuk dijadikan sandaran hati setelah beberapa kali mendapatkan luka dari para wanita yang hanya memanfaatkan hartanya.
Arya bahkan saat ini mengarahkan tatapan tajam pada sosok wanita yang terlihat diam dan sudah tidak marah seperti beberapa menit lalu, sehingga membuatnya melepaskan kuasa.
Saat ia merasa berhasil menenangkan kemurkaan dari sang ibu karena kini hanya diam dan sudah tidak berteriak-teriak seperti orang yang kesetanan.
__ADS_1
Masih mengarahkan tatapan penuh kekesalan, Arus saat ini berpikir bahwa ia telah mampu meredam amarah yang meluap di dalam hati wanita dengan penampilan mewah dan elegan di hadapannya.
Hal itu membuat ia kembali menyerang dengan kata-kata agar sang ibu menyadari kesalahan dan tidak kembali menyakiti Putri.
"Saat tidak ada yang mau membantuku karena takut pada papa, tapi Putri menerimaku dengan tangan terbuka tanpa ragu. Meskipun aku datang tanpa membawa sepeser pun uang. Putri telah membuktikan cintanya padaku, Ma."
"Apa Mama tidak bisa menghargai wanita yang telah menerima aku apa adanya? Kami berdua saling mencintai. Apa ada yang salah dengan cinta kami? Bahkan suaminya telah rela melepaskan dan mau menikahkan kami. Apa itu belum cukup untuk membuat Mama memberikan restu?"
Sontak saja pernyataan dari Arya berhasil membuat bola mata semua orang membeliak seperti hendak keluar dari tempatnya.
Termasuk dengan Rani juga membulatkan mata begitu mendengar kalimat terakhir yang menurutnya sangat konyol dan tidak masuk akal karena ada seorang suami mau menikahkan istri dengan selingkuhan.
Bahkan kali ini ia menatap heran secara bergantian pada putranya serta wanita yang masih berpegangan dan bersandar pada dinding.
"Mama bisa menjelaskan semuanya, Arya. Papa dan Mama sama sekali tidak ingin membuatmu hidup menderita. Kamu salah berasumsi dan juga salah paham pada niat baik kami. Di dunia ini tidak ada orang tua yang ingin membuat anaknya menderita, Sayang."
"Tidak mungkin pria itu mau menikahkan kalian jika tidak ada keinginan jahat di belakang. Mama sangat yakin jika suami dari wanita murahan ini memiliki rencana buruk padamu dan juga keluarga kita. Sadarlah itu, Putraku."
Rani kali ini merasa yakin bahwa apa yang dipikirkannya adalah benar.
"Jika dipikirkan secara logika, itu tidak mungkin terjadi. Lebih baik kamu memikirkan apa yang mama katakan. Pria itu pasti mengincar harta keluarga kita dengan bekerja sama bersama wanita murahan ini untuk merayumu. Apalagi sekarang ini banyak modus penipuan dari orang-orang jahat."
"Mama sangat yakin jika wanita ini termasuk salah satu dari orang-orang jahat itu." Rani menutup mulut sambil menatap tajam ke arah wanita dengan penampilan sangat memuakkan tersebut.
__ADS_1
Bahkan ia merasa sakit mata ketika menodai indra penglihatan kala memandang wanita yang berhasil membuat putranya terjebak dalam pusaran penderitaan
"Astaga, Mama!" Arya awalnya berpikir bahwa sang ibu akan menyadari kesalahan saat ia mengeluarkan banyak tenaga untuk menjelaskan perihal Putri.
Namun, saat yang terjadi malah sang ibu semakin menjadi dengan menghina wanitanya, kali ini ia memilih untuk berjalan mendekati Putri dan langsung memeluknya. Tentu saja ia yang tadi langsung melirik ke arah sosok wanita dengan banjir air mata tersebut, kini sudah sibuk menenangkan perasaan Putri.
"Mama, Putri bukanlah wanita seperti itu. Aku sangat mengenalnya dan ia tidak mungkin membohongimu. Aku bisa melihat kejujuran dari bola matanya. Bahwa ia sangat tulus mencintaiku tanpa memikirkan harta dari keluarga kita."
Arya kini beralih menatap ke arah sosok wanita dengan rambut acak-acakan serta wajah sembab tersebut. Bahkan saat ini ia sudah mengusap lembut wajah yang terlihat sangat menggemaskan tersebut.
"Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dari ulah mama."
Putri yang dari tadi hanya diam karena tubuh dan pikirannya saat ini benar-benar kosong. Ia benar-benar sangat lelah dengan berbagai macam kejadian hari ini.
Terluka, kecewa dan terhina, seolah menjadi satu dan tidak ada lagi yang tersisa dari dirinya saat ini.
'Seandainya ada Bagus di sini, mungkin dia akan langsung mengusir semua orang yang ada di sana. Tatapan semua orang yang terlihat sangat jijik begitu mengetahui bahwa aku telah mengkhianati suami dan hamil dengan Arya.'
Putri yang merasa sedih, kini sedikit terhibur ketika Arya murka pada sang ibu karena telah menyakitinya.
'Semoga Arya akan selalu seperti ini dan menomorsatukan aku daripada ibunya. Biar wanita itu menyadari bahwa putranya lebih memilih aku daripada dia.'
Saat baru selesai bergumam sendiri di dalam hati, ia mendengar suara seseorang dari luar rumah dan membuatnya seketika menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
"Ada apa ini? Bubar ... bubar!"
To be continued...