Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
173. Dendam dan sakit hati


__ADS_3

Sementara itu di lantai tiga, kembali pada pekerjaan Arya. Terlihat pria itu dengan susah payah membersihkan toilet yang entah sudah tidak bisa dihitung olehnya. Hingga akhirnya aroma yang menenangkan membuat Arya lega setelah ia memberikan banyak pewangi di sekitarnya.


Saat melihat hasil pekerjaannya, merasa sangat bangga karena telah berhasil menyelesaikan. Meskipun jika mengingat penghinaan sang ayah di depan para staf lain tadi membuatnya merasa sangat malu dan marah, tapi tidak ingin mengambil pusing akan hal itu karena berpikir bertahan demi bisa mendapatkan kursi kepemimpinan suatu saat nanti.


Hal lain yang membuatnya bertahan hingga saat ini adalah calon keturunan yang sebentar lagi akan lahir ke dunia Meskipun juga ada sang istri yang juga sangat dicintainya, tetapi putranyalah yang telah berhasil mengubahnya menjadi seorang ayah yang bertanggungjawab.


Arya masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling toilet dan membuatnya tersenyum puas.


“Ya, seperti ini seharusnya. Aku sudah membuat tempat ini layak untuk seorang staf perusahaan,” ujar Arya berbangga diri.


Meskipun mungkin itu hanyalah sebuah pekerjaan sepele bagi orang lain, tapi tidak berlaku bagi seorang pewaris utama keluarga Mahesa.


Bagi Arya, pekerjaan yang belum pernah ia lakukan itu sungguh sangat berat, tapi tidak membuatnya menyerah karena ingin menunjukkan pada sang ayah. Bahwa ia bukanlah pria lemah yang tidak bisa apa-apa.


Ia juga ingin putranya bangga karena suatu saat akan menceritakan ini dan menganggap liku-liku perjalanan hidup yang akan dianggap sebagai sebuah semangat saat meraih sesuatu.


Apalagi kini sangat yakin jika sebentar lagi akan segera memimpin perusahaan dan pastinya akan membuat semua orang yang tadi bergunjing di belakangnya, tidak akan berani mengangkat pandangan saat ia lewat.


Embusan napas kasar terdengar sangat jelas menghiasi ruangan toilet yang sepi itu. Menandakan dengan jelas bahwa Arya saat ini sangat lelah dan haus, serta lapar karena sudah memforsir tenaganya cukup keras hari ini.


Ia kini mencuci tangan sambil mengamati penampilan berantakan di depan cermin. Ia bahkan saat ini tengah mengamati wajah, serta tubuhnya yang dibanjiri oleh peluh.


"Rasanya aku ingin masuk ke dalam lemari pendingin agar peluh yang mengalir di tubuhku langsung hilang. Pasti rasanya sangat nyaman sekali."


Selama beberapa menit ia diam di depan cermin dan merasa perutnya keroncongan. Namun, harus menahannya karena jam makan siang masih beberapa jam lagi.


"Tahu jika akan bekerja sebagai seorang cleaning service, aku tadi sarapan banyak. Mungkin besok, aku akan menyuruh Putri membawakan bekal lebih banyak."


Arya kembali melanjutkan pekerjaannya di lantai lima yang merupakan jatah terakhir karena toilet yang berada di lantai lain sudah ada cleaning service lain yang membersihkan.


Dua jam kemudian, ia sudah selesai mengerjakan semuanya. Arya membawa alat-alat kebersihan untuk dikembalikan pada tempatnya. Kemudian jam makan siang pun tiba.


Kini, ia membuka bekal yang sudah disiapkan Putri dari rumah. Meski sudah dingin, ia masih berselera memakannya karena cacing perutnya seolah sudah bernyanyi karena minta segera diisi.


Arya yang saat ini masih mengunyah makanan, kini bergumam sendiri di dalam hati karena tidak ingin suaranya didengar oleh orang lain.


'Putri benar-benar tahu cara untuk membuat aku senang. Hanya saja, apa ia akan menerima jika aku bekerja seperti ini? Apa aku ceritakan tentang semua ini padanya? Atau menyembunyikan hal ini?' gumam Arya di tengah aktivitas makannya.


Ia masih merasa bingung untuk menjawab karena saat ini otaknya seolah tidak bisa berpikir jernih dan membuatnya merasa sangat kesal dan marah jika mengingat kejadian yang mempermalukannya.

__ADS_1


'Nanti saja setelah tiba di rumah. Baru aku akan berpikir untuk mengatakan pada Airin atau tidak,' gumam Arya yang kini melanjutkan makannya dan terlihat sangat lahap menikmati masakan sang istri hingga habis tanpa tersisa.


Setelah makanan itu habis, ia memilih untuk meluruskan kakinya yang terasa pegal setelah bekerja berat untuk pertama kalinya. Setengah jam telah berlalu dan jam istirahat telah selesai.


Terlihat Arya bangkit dari posisinya yang tadi duduk di atas lantai dengan kaki lurus dan kembali melanjutkan pekerjaan lainnya yang belum selesai.


Arya baru saja mendapatkan perintah dari seorang pria. Ia harus membantu staf perusahaan untuk menggunakan mesin copy. Satu persatu kertas dengan tulisan-tulisan yang sangat dimengerti Arya memiliki salinan.


Setelah selesai, ia mengembalikan semua berkas itu pada seorang staf perusahaan dan melanjutkan pekerjaannya yang lain.


Hingga jam kerja semua staf perusahaan berakhir. Ada beberapa orang yang mengambil lembur dan Arya masih tidak diizinkan pulang hingga mereka selesai.


Arya menemani staf-staf itu dengan membuat kopi atau teh. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang meminta bantuan untuk membelikan makanan di luar kantor.


Arya ingin menolak, tetapi ia mendapat bisikan dari salah satu cleaning service mengenai tip yang akan diberikan staf di sana, sehingga membuatnya berubah pikiran dan bersedia melakukannya.


Arya berjalan menuju salah satu outlet makanan yang berjejer rapi, tak jauh dari area perusahaan. Kini, ia memesan beberapa makanan dan minuman, lalu duduk dan menunggu.


Sembari menunggu, ia melihat ponselnya yang seharian ini tidak tersentuh. Sudah ada banyak sekali pesan masuk dari Putri. Wanita yang sangat bahagia karena suaminya telah mendapatkan pekerjaan. Kata-kata penuh semangat didapatkan Arya, lalu senyumannya merekah.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Arya lirih.


Arya memutuskan untuk tidak memberitahu mengenai pekerjaan yang ia dapatkan. Alasannya adalah ia tidak mau membuat Putri kecewa dengan jabatan yang didapatkannya hanyalah seorang cleaning service.


Bukan karena ia takut Putri akan meninggalkannya atau malu, tapi tidak ingin istrinya tersebut merasa bersalah dan bersedih jika menceritakan hal itu. Jika itu terjadi, kemungkinan besar akan berdampak buruk pada bayi dalam kandungan.


Tidak ingin membuat seorang ibu hamil bersedih dan berakibat buruk pada perkembangan calon penerusnya, Arya kini memilih untuk menyembunyikannya dan mungkin akan menceritakan ketika waktunya tepat.


Aku pulang malam karena lembur. Kamu bisa makan duluan dan istirahat.


Sepertinya pekerjaanmu di hari pertama sangat menumpuk. Jangan menyerah, kamu harus bisa melakukannya. Semangat bekerja, Suamiku.


Arya hanya tersenyum, lalu kembali memasukkan ponselnya ke saku pakaian.


Tepat di saat itu juga, pesanan makanan dan minuman telah selesai. Ia kembali ke kantor dan memberikan semua pesanan pada pemiliknya.


“Wah, terima kasih, ya. Ini buat kamu!”


“Terima kasih," ucap Arya dengan wajah berbinar saat melihat pria yang memberikan uang tip padanya.

__ADS_1


Satu lembar uang sungguh membuatnya terharu. Memang sangat sulit untuk mendapatkan itu. Setelah seharian bekerja, Arya mendapatkan upah kecil dari seorang staf yang lembur.


“Kami sudah selesai. Ternyata sudah jam sembilan. Ayo, kita pulang!” ajak salah satu staf.


Arya tersenyum dan kembali ke ruang cleaning service untuk kembali merapikan penampilannya. Ia juga tidak lupa mengenakan jas yang sudah dipakai saat berangkat pagi ini.


Langkah kakinya sangat berat, tubuhnya terasa sakit karena seharian membersihkan toilet dan juga area gedung.


Sampai di halte, ia menghela napas. Ternyata sudah tidak ada lagi kendaraan umum yang bisa mengantarkannya kembali ke rumah. Arya terpaksa berjalan kaki untuk sampai di rumah.


Selama perjalanan, hampir saja terjatuh karena langkah yang gontai. Beberapa kali, ia juga terlihat mengusap perutnya yang terasa lapar.


Ada satu warung di tepi jalan yang menjual nasi goreng dan mie goreng. Ia yang tidak bisa lagi menahan rasa laparnya, menggunakan uang yang dimilikinya untuk membeli satu porsi.


“Satu nasi goreng,” pesan Arya.


Pria itu duduk dan menunggu pesanannya. Hingga akhirnya pesanannya selesai dan mulai melahap semua.


Langkahnya kembali untuk bisa sampai di rumah. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Bagus.


Bagus sedang melintas dan melihat Arya yang berjalan.


“Kenapa berjalan? Tidak mendapatkan kendaraan untuk pulang?” tanya Bagus yang saat ini menatap ke arah sosok pria yang sebenarnya harus ia benci karena merebut istrinya, tapi tidak tega melihat pria itu berjalan kaki.


Sementara Arya hanya menganggukkan kepala karena sangat malas untuk membuka mulut. Ia berpikir jika Bagus hanya berbasa-basi. Namun, ia mengerjapkan kedua mata begitu mendapatkan tawaran.


“Aku antar, masuklah!” lanjut Bagus yang saat ini memberikan sebuah kode dengan kepala.


Sementara itu, Arya yang awalnya ingin menolak, mengurungkan niatnya karena berpikir kakinya sudah seperti mau patah saja. Hingga ia kini memilih untuk masuk ke dalam taksi yang dikemudikan oleh pria yang masih berstatus sebagai suami Putri.


Saat ini, ia tidak perduli dengan perasaan kesalnya terhadap pria itu. Arya menghilangkan rasa itu sementara, hanya sampai di jalanan yang tidak jauh dari rumah.


“Terima kasih,” ucap Arya setelah duduk di kursi sebelah Bagus dan melihat pria itu langsung mengemudikan mobil meninggalkan area pedagang nasi goreng yang tadi dibelinya.


Sementara itu, Bagus yang melakukan perbuatan baik demi rasa perikemanusiaan, sama sekali tidak membuka mulut untuk berbincang dengan Arya karena dari dulu memang tidak akrab.


Bahkan meskipun dulu tinggal dalam satu rumah, tetap tidak pernah mengobrol dengan Arya karena jujur saja rasa dendam dan sakit hati selalu ada dan tidak mudah dihilangkan dari dalam hatinya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2