
Pukul lima pagi, sosok wanita yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang, mendengar suara bising dari dapur. Wanita yang tak lain adalah Putri sebenarnya dari tadi sudah bangun dari alam bawah sadar karena sudah menjadi kebiasaan untuknya bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan bekal untuk suami.
Namun, hari ini ia yang merasa sangat lelah tubuhnya, ingin memanjakan diri dengan bermalas-malasan di atas ranjang.
'Biar ia tahu bagaimana lelahnya saat mengerjakan pekerjaan rumah. Di rumah ini, aku benar-benar seperti pembantu. Aku benar-benar sangat bosan hidup seperti ini.' Putri yang hanya bisa merengut di dalam hati, kini mengingat pesan dari Arya semalam.
'Kira-kira apa lagi yang menjadi syarat untuk menjadi istri Arya? Kenapa ia tidak mengatakan langsung padaku? Kenapa harus membuatku penasaran dan deg-degan seperti ini?'
Putri yang masih tetap tidak ingin bangkit dari tidurnya, kini menunggu hingga jam cepat berlalu. Tentu saja agar sang suami berangkat kerja dan ia bisa langsung menelpon Arya karena sudah sangat merindukannya.
Jika biasanya ia tidur di sebelah sang suami, sedangkan putranya ada di sebelahnya. Namun, berbeda dengan semalam karena ia memilih untuk tidur di tepi ranjang dan putranya di tengah karena tidak ingin berdekatan dengan sang suami.
Ia merasa sangat ilfil berdekatan dengan pria yang dianggapnya hanya membuatnya susah dan hidup miskin. Terkadang ia iri saat temannya-temannya sudah sukses karena suami memiliki pekerjaan yang layak dan bisa membeli rumah dan ada juga yang membeli mobil.
Meskipun bukan mobil baru, tapi pencapaian itu tentunya sangat luar biasa untuk di kampung. Apalagi jika tanpa merantau jauh bisa sukses dan hidup layak. Sementara ia yang sudah bertahun-tahun merantau di luar kota, hanya seperti itu saja kehidupannya.
Apalagi jika di grup alumni sekolah sudah membahas tentang pekerjaan, ia lebih memilih tidak berkomentar karena merasa malu.
Tinggal di kota besar, tetapi tidak kunjung sukses, tentunya menjadi aib tersendiri baginya dan lebih memilih untuk menutup diri dan tidak muncul di grup karena selalu tidak percaya diri dan menganggap bahwa ia yang paling miskin dan tragis kehidupannya.
Putri melirik ke arah jam dinding dan saat melihat sudah waktunya suaminya berangkat, ia mendengar suara pintu depan ditutup dan membuatnya menunggu selama beberapa menit.
Merasa bahwa sang suami sudah berangkat, ia memilih untuk segera bangkit dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar karena ingin segera mandi. Tentu saja rumah kontrakan sempit yang bukan seperti di televisi, ada kamar mandi di dalam dan memudahkan untuk membersihkan diri.
Namun, ruangan kamar hanya berukuran tiga meter dan tidak ada kamar mandi pribadi karena ada di belakang, dekat dengan dapur.
__ADS_1
"Aku harus mandi agar terlihat segar dan cantik, lalu menelpon Arya. Meskipun hanya menelpon biasa, bukan video call, tapi harus berjaga-jaga jika ia tiba-tiba mengganti panggilan dengan panggilan video."
"Tidak lucu, kan jika wajahku kusam karena baru bangun tidur dan jika ia melihatnya, aku akan benar-benar sangat malu."
Ingin selalu tampil cantik karena Arya adalah seorang pria muda yang tampan dan berasal dari keluarga konglomerat, tentu saja ia tidak ingin terlihat tidak pantas bersanding dengan pria pujaan hati jika penampilannya sangat jelek.
Putri buru-buru masuk ke kamar mandi karena tidak ingin putranya terbangun sebelum ia selesai membersihkan diri.
Jika biasanya ia mandi di siang hari setelah semua pekerjaannya selesai. Namun, semenjak bertemu dengan Arya, merasa sangat bahagia dan lebih bersemangat dalam menjalani hari-hari.
Setelah beberapa saat kemudian, Putri keluar dari kamar mandi dan berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengambil pakaian yang dirasa cocok untuknya.
Ia bahkan sebelumnya melihat pada sosok bocah laki-laki yang masih tertidur pulas sambil memeluk erat guling.
"Semalam tidur pukul dua pagi, jadi sekarang belum bangun. Nasib baik putraku tidak panas lagi, jadi tidak rewel dan menangis."
Setelah menemukan pakaiannya, kini Putri telah selesai berpakaian dan berdiri di depan cermin untuk merias diri.
"Jika begini, aku tidak akan malu jika tiba-tiba Arya mengalihkan panggilan biasa ke panggilan video. Semoga putraku bangun siang, agar aku bisa berbicara dengan Arya sepuas hati. Aku sangat merindukannya. Padahal kemarin sore baru berpisah."
Tidak membuang waktu, Putri yang menutup pintu kamar dengan perlahan-lahan seperti pencuri yang mengendap-endap karena tidak ingin putranya terbangun gara-gara ia menutup pintu dengan keras.
Setelah ia berjalan menuju ke arah ruang tamu, mendaratkan tubuhnya di kursi dan langsung memencet tombol panggil pada kontak wanita yang sebenarnya adalah Arya.
Tanpa menunggu waktu yang lama, panggilannya sudah diangkat.
__ADS_1
"Halo, Sayang. Aku sangat merindukanmu."
Tanpa merasa malu, Putri memilih untuk mengungkapkan perasaannya karena memang dari semalam ia tidak bisa tidur karena memikirkan Arya.
Hingga jawaban dari Arya membuatnya tidak berhenti menyunggingkan senyumnya.
"Iya, aku tahu itu, Sayang. Aku tahu kalau kamu merindukanku karena aku pun sedang memikirkanmu. Kamu tahu aku sedang apa untuk mengalihkan kerinduanku padamu?"
Putri yang merasa penasaran, refleks menggelengkan kepala, seolah ia mengetahui bahwa Arya bisa melihat respon tubuhnya.
"Mana aku tahu. Aku tidak bersamamu hari ini. Aku menghubungimu karena ingin bertanya padamu mengenai hal yang semalam. Memangnya apa lagi yang harus kulakukan untuk lulus dari seleksi menjadi calon istrimu?"
Dengan perasaan berdebar-debar, Putri menunggu hingga Arya menjawab pertanyaannya. Namun, yang terjadi adalah seperti dugaannya tadi. Bahwa sekarang Arya mengganti panggilan telepon dengan panggilan video.
Refleks ia langsung menggeser tombol ke atas dan bisa melihat sosok pria tampan yang terlihat sedang melambaikan tangan padanya sambil tersenyum.
"Hai, Sayang. Kamu cantik sekali. Apa kamu tadi sudah mandi?"
Putri saat ini tersenyum malu-malu seperti seorang perawan yang baru pertama kali jatuh cinta.
"Tentu saja aku sudah mandi. Tidak mungkin aku membiarkanmu melihat wajah jelekku saat bangun tidur. Oh ya, kamu di mana sekarang?"
Putri yang baru saja selesai berbicara, kini bisa melihat layar ponsel yang menunjukkan suasana jalanan di area perumahan mewah.
"Aku sedang joging di sekitar area tempat tinggalku, Sayang. Jadi aku menghilangkan kebosanan dengan cara seperti ini saat pagi, tapi siang hari tidak bisa menahannya. Aku harus bertemu denganmu. Siang ini, kita bisa bertemu, kan? Katakan di mana aku harus menjemputmu! Bukankah kamu ingin tahu syarat kelulusanmu untuk menjadi istriku?"
__ADS_1
To be continued...