Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
92. Merasa bersalah


__ADS_3

Putri saat ini ingin segera mengikat Arya agar menjadi miliknya karena setelah menikah, akan mudah untuknya menuntut apapun pada pria yang merupakan keturunan konglomerat tersebut.


Putri benar-benar kesal karena berpikir bahwa sang kakak tidak perlu repot memarahinya. Hanya tinggal memberikan pinjaman uang. Apakah terlalu sulit? Ia bahkan sangat kesal pada sang kakak karena menyalahkannya.


"Kamu benar-benar sangat gila dan tersesat! Jadi, kamu meminjam uang karena membutuhkan biaya untuk menikah dengan pria tidak berguna itu? Pria macam apa yang membebankan biaya pernikahan pada seorang wanita? Sadarlah, Putri! Berhenti sebelum kamu mendapatkan balasan dari Tuhan atas kegilaanmu!"


Tidak ingin mendengar nasihat dari sang kakak, Putri kali ini benar-benar sangat kesal. Jika bukan karena harus segera menikah dengan Arya, ia mungkin sudah langsung menutup telponnya.


Namun, kali ini ia mencoba untuk bersabar demi uang agar bisa segera menikah dengan Arya secara siri.


"Ceritanya sangat panjang, Kak. Dia tidak bersalah. Aku sangat mengenalnya. Jadi, jangan berpikir buruk padanya. Aku muak dengan Bagus karena tidak pernah membahagiakanku. Dia tidak punya apa-apa dan kehidupan kami tidak pernah berubah sejak menikah."


"Kakak tidak pernah tahu seperti apa rumah tangga kami sebenarnya. Aku sama sekali tidak bahagia hidup bersamanya. Namun, semuanya berbeda saat aku bertemu dengan ayah dari janin yang kukandung ini. Dia memberikan aku semua yang kuinginkan dan mencintaiku hingga rela diusir dari rumah hanya untuk bertanggungjawab padaku."


Putri sudah meluapkan semua yang selama ini dirasakan. Ia mengeluarkan semua keluhannya terhadap Bagus. Jujur ia bosan, bahkan sangat muak.


Kehidupan ekonomi mereka tetap sama dan sama sekali tidak ada perkembangan. Tidak berubah dan membuatnya bosan.


"Aku mohon mengertilah karena hanya kamu satu-satunya harapanku. Hanya kamu satu-satunya saudaraku. Kali ini saja, aku mohon bantulah adikmu ini. Apa kamu tidak kasihan melihatku hidup sengsara seperti ini?"


Putra berbicara di ruangan dapur karena tidak ingin putranya mendengar saat ia berteriak dan memohon di telpon. Apalagi tadi ia sengaja mengeraskan suara televisi agar putranya fokus menonton film kartun.


"Kamu memintaku untuk membantumu? Apa kamu tidak memikirkan perasaan Bagus? Dia yang telah membahagiakanmu selama ini. Kali ini, kamu benar-benar membuatku merasa kecewa, Putri."

__ADS_1


"Aku gagal dalam mendidikmu. Jangan pernah berkata apapun lagi tentang pria yang akan kamu nikahi itu. Aku tidak sudi mendengarnya!" sarkas Aini dengan nada penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Putri terdiam sekaligus merasa sangat frustasi.


Ia bahkan rela mendengar Aini mengomel panjang lebar demi uang. Namun, meskipun sudah mendengar Aini marah padanya, tetap tidak akan membantunya. Ia kembali bertanya untuk memastikan apa Aini benar-benar tidak akan membantunya.


"Jadi, kamu benar-benar tidak akan membantuku meskipun aku adalah saudaramu?"


"Jangan harap! Aku tidak akan memberikan apapun jika itu akan membuatmu menikah dengan pria itu! Jangan pernah sekali pun meminta bantuanku karena tidak akan pernah gila meminjamkan uang. Meskipun punya uang, aku tidak akan membantumu yang sedang tersesat di jalan setan. Hubungi saja aku setelah kamu berbaikan dengan Bagus."


Sambungan telpon pun terputus dan membuat Putri merasa sangat kesal. Bahkan kepalanya kembali berdenyut. Pusing ia rasakan saat ini.


Kepalanya terasa begitu berat menghadapi semua ini. Harus kepada siapa lagi ia meminta bantuan? Tidak ada orang lain lagi yang akan membantunya.


Putri tidak mau menghubungi Arya dengan kabar menyedihkan seperti ini. Ia takut Arya malah menyerah dan kembali kepada orang tuanya. Ia tentu tidak mau itu terjadi, tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang? Putri pun merasa sangat bingung saat ini.


"Apa yang harus kulakukan? Tidak ada yang mau menolongku. Bahkan kakakku sendiri pun tidak mau membantu meskipun aku mengatakan bahwa Arya diusir dari rumah."


Putri yang merasa kebingungan karena jalannya untuk bersatu dengan Arya buntu, kini mengempaskan tangan untuk meninju udara di sekitarnya.


Bahkan kali ini, ia menatap kosong ruangan dapur berukuran sempit itu dan merasa sangat bosan dengan kehidupan miskinnya. Ia saat ini tengah berpikir untuk mencari pinjaman, tetapi setelah memikirkannya, menyadari tidak ada jaminan.


"Tidak ada apapun yang bisa kujual karena kami sangat miskin. Ini semua gara-gara pria tua tidak berguna itu yang tidak pernah memberikan uang lebih untukku, sehingga aku tidak punya tabungan sama sekali."

__ADS_1


Putri yang merasa sangat bingung, kini terlihat beberapa kali memijat pelipis dan membuatnya merasa sangat pusing saat memikirkan beban masalah yang sedang dialami.


***


Sosok pria dengan tubuh tinggi agak sedikit kurus dan wajah terlihat sangat kusut yang menandakan bahwa saat ini sedang mengalami banyak masalah. Sosok pria yang tak lain adalah Bagus Setiawan kini terlihat tidak menghabiskan makan siangnya hari ini.


Hari ini ia merasa sangat bersalah saat tadi tidak menanggapi keinginan Putri yang ingin meminjam uang padanya. Sebenarnya ia mengetahui bahwa Putri semalam berbicara di telpon dengan pria selingkuhannya.


Ia yang semalam tidak bisa tidur, awalnya berniat untuk mencari angin di luar dengan duduk di teras depan. Namun, saat berjalan melalui depan pintu ruangan kamar Putri, ia menghentikan langkah kakinya dan tetap berdiri di sana.


Tentu saja untuk mendengarkan pembicaraan dari sang istri dengan pria selingkuhannya. Semenjak Putri hamil, Bagus memang tidak pernah tidur satu ranjang dengan Putri. Semua itu karena ia merasa telah berdosa atas perbuatan istrinya yang telah berselingkuh.


Saat mengetahui Putri hamil, ia langsung menyalahkan diri sendiri karena berpikir bahwa semua itu terjadi karena tidak pernah membuat sang istri merasa puas dalam bercinta, hingga wanita yang sangat dicintainya tersebut memilih mencari kepuasan pada pria lain.


Bahkan hingga hamil dan membuatnya merasa sangat berdosa. Bagus berpikir bahwa ia telah gagal menjadi sosok suami yang baik untuk wanita yang masih sangat dicintai.


'Tuhan, kenapa semua ini terjadi pada rumah tanggaku? Aku memang sangat berdosa karena menyebabkan istriku menjadi salah jalan dengan melakukan perbuatan terlarang. Apa yang harus kulakukan?'


'Tidak mungkin aku menceraikannya saat Putri masih hamil karena ia akan menikahi siri dengan pria itu. Aku benar-benar sudah tidak mempunyai harga diri lagi sekarang di depan istriku.'


Masih larut dalam beban pikiran yang mengganggunya hingga membuatnya tidak nafsu makan dan tidak bisa berkonsentrasi saat mengemudi, membuat Arya sudah satu jam lebih hanya diam di sana.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2