
Arya kini mengerti mengenai apa penyebab Rani tiba-tiba seperti menghilang dan kini hanya mengarahkan tatapan tajam pada sosok wanita dengan wajah terlihat seperti ketakutan saat melihat ia yang datang.
Sementara Rani hanya bisa menelan ludah karena tidak tahu harus menjawab apa atas kalimat bernada pertanyaan dari Arya yang terasa membingungkan.
'Apa maksud Arya berkata seperti itu? Ia seperti orang yang tidak suka dipanggil tuan. Padahal aku hanya memposisikan diriku sebagai karyawan rendahan, sedangkan ia adalah calon pemimpin yang meneruskan kekuasaan dari sang ayah.'
'Jika aku meninggalkan jejak buruk, mungkin tidak akan pernah dimaafkan dan bantu langsung dipecat. Memangnya aku salah saat memilih jalan aman?' gumam Rani yang saat ini kembali menormalkan perasaannya dengan bersikap biasa untuk menghilangkan kecanggungan.
"Maafkan aku karena memanggilmu seperti itu."
Arya yang merasa sikapnya sangat kasar karena baru saja membentak Rani hanya karena hal sepele, kini menyesali perbuatannya, sehingga memilih untuk menurunkan nada suara.
“Maaf. Aku tidak bermaksud untuk berteriak padamu. Hanya saja hari ini aku merasa heran, kenapa kamu ada di sini? Bukankah pekerjaanmu ada di lantai tiga?"
Refleks Rani langsung menggelengkan kepala karena ingin jujur bahwa ia tidak bisa lagi bekerja dengan Arya karena jujur saja setelah mengetahui jati diri pria itu yang sebenarnya, membuat ia tidak nyaman bersama pria itu seharian di perusahaan.
Selain masalah dipecat, juga merasa takut jika ia merasa terbiasa dan akhirnya nyaman, lalu berakhir memiliki sebuah rasa untuk Arya, Perasaan yang tidak boleh dimiliki karena mengetahui bahwa perbedaan di antara mereka ibarat langit dan bumi yang tidak akan pernah bisa bersatu.
“Aku tidak lagi bekerja bersamamu. Aku meminta kepala cleaning service untuk mencarikan pengganti rekanmu. Jadi, kembalilah bekerja karena ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."
Tentu saja kalimat pengusiran dari Rani yang terlihat sangat jelas ingin menghindar, membuat Arya naik pitam.
"Ternyata kamu ini sama seperti mereka! Aku pikir kamu berbeda dan bekerja bersamaku seperti biasa. Bagiku, kamu tidak lebih dari sosok wanita yang suka mencari muka!” umpat Arya dengan kilatan amarah nampak jelas di wajah.
Rani yang merasa kesal, marah, dan terluka dengan ucapan Arya memilih untuk memalingkan wajah dan pergi dari sana. Jika sebelumnya ia bisa bersabar mendapatkan hinaan dari pria itu, tapi tidak kali ini setelah mengetahui siapa sebenarnya seorang Arya.
__ADS_1
Bahkan ia hampir saja meneteskan air mata di depan pria tersebut dan memilih untuk segera pergi karena tidak ingin Arya melihatnya pada posisi menangis karena tidak ingin dianggap sebagai seorang wanita lemah.
Beruntung langkahnya tidak dihalangi, sehingga bisa segera pergi dan menuju toilet untuk menenangkan diri. Bahkan ia berjalan semakin menjauh sambil mengusap bulir air mata yang telah lolos membasahi pipi putihnya.
'Tega sekali dia mengatakan aku selama ini hanya mencari muka padanya. Padahal aku benar-benar tidak tahu apapun mengenai ia adalah putra tunggal dari perusahaan ini. Jika aku tidak membutuhkan uang untuk bayar utang keluarga, mana mungkin bertahan bekerja di sini.'
Saat Rani sibuk dengan rasa terluka dan kesedihan di dalam hati, hal yang berbeda kini dirasakan oleh Arya.
Beberapa saat setelah mengungkapkan kemurkaan pada wanita yang selama ini menjadi rekannya dan memilih untuk pergi begitu saja. Seolah tidak ingin kembali bekerja lagi dengannya, sehingga memilih untuk menghindar.
Arya yang kesal pada situasi itu, kini berjalan kembali ke lantai tiga. Mengerjakan pekerjaannya seorang diri.
Meski ada seseorang yang menggantikan Rani, tetapi rekan Arya itu tidak terlalu banyak melakukan pekerjaan seperti wanita itu. Sebenarnya ia merasakan kehilangan seorang teman kerja karena menyadari tidak akan ada lagi yang mau mengorbankan diri untuknya.
Jika bekerja dengan Rani yang sangat cekatan karena tanpa diawasi, wanita itu sangat rajin bekerja. Bahkan ia tidak terlalu lelah saat hampir separuh pekerjaannya dilakukan oleh Rani.
Jam istirahat, Arya sedang duduk di salah satu kursi yang ada di kantin kantor.
Ia tidak melihat Rani di manapun. Seperti telah terbiasa dengan wanita itu, Arya saat ini merasa ada yang hilang dan terasa sangat sepi.
Namun, ia mencoba untuk tidak perduli dan Arya memutuskan segera menghabiskan makanannya dan ingin memanfaatkan waktu untuk beristirahat sejenak sebelum kembali bekerja.
Setelah selesai makan karena hari ini menyuruh sang istri berisitirahat total karena bengkak di kaki semakin parah ketika berdiri lama di dapur.
Ia tidak tega melihat Putri seperti sudah sangat kesusahan dalam berjalan, sehingga berencana untuk setiap hari makan di kantin dan membeli sayuran dan lauk matang saja untuk makan sehari-hari.
__ADS_1
Arya sudah berjalan menuju ke tempat istirahat dan menghabiskan waktu untuk mengirimkan pesan pada Putri.
Sayang, bagaimana dengan kakimu? Apakah masih bengkak?
Tanpa menunggu waktu yang lama, Arya mendapatkan balasan dan membuatnya tersenyum simpul.
Aku dari tadi pagi hanya berbaring di ranjang seperti perintahmu dan sekarang sudah berkurang bengkaknya. Apalagi tadi sudah minum obat dari dokter.
Syukurlah. Kamu harus banyak beristirahat dan patuh pada perintahku, Sayang. Kalau begitu, aku lanjutkan bekerja dulu. I love you.
Sudut bibir Arya melengkung ke atas begitu mendapat balasan dari sang istri yang mengatakan juga sangat mencintainya. Kemudian ia bangkit berdiri dari posisinya dan mulai berjalan menuju ke arah lantai yang belum dibersihkan.
Setengah jam telah berlalu dan saat sedang membersihkan lantai dua, Arya tidak sengaja melihat Rani sedang membersihkan beberapa vas yang ada di meja. Mendadak mendapatkan sebuah ide di kepala dan membuat ia langsung melancarkannya.
Kini pria itu berjalan tanpa melihat Rani, hingga dengan sengaja menjatuhkan salah satu vas sampai pecah.
Rani membulatkan kedua mata melihat apa yang terjadi, sedangkan Arya sudah pergi dari sana dan tidak mau bertanggungjawab atas kerusakan yang dilakukan.
'Sebenarnya apa yang dilakukan Arya? Apa sedang membalas dendam padaku karena tidak mau lagi bekerja dengannya? Jika ia terus melakukan ini padaku, nanti hanya akan membuat gajiku dipotong karena harus ganti rugi atas kerusakan,' lirih Rani dengan wajah yang penuh dengan kebingungan serta kekhawatiran.
Bahkan satu jam telah berlalu dan itu tidak membuat Arya melupakan rasa kesal pada Rani.
Arya melihat Rani meletakkan kunci loker di samping troli alat kebersihan. Kini, ia mengambil kunci itu tersebut saat Rani lengah dan menyembunyikan kunci itu hingga jam pulang tiba.
'Terima hukumanmu dariku, wanita menyebalkan. Kamu sudah membuat aku kesal, jadi terima saja pembalasan dariku,' lirih Arya dengan tersenyum smirk dan memilih untuk melenggang pergi dengan bersiul.
__ADS_1
To be continued...