
"Hadiah?" tanya Putri yang seolah tidak percaya karena pria di hadapannya tersebut selalu memberikan hadiah serta kejutan-kejutan yang sama sekali tidak diduga dan membuatnya sangat terharu sekaligus bahagia.
Merasa sangat penasaran dengan apa hadiah yang akan didapatkannya, kini Putri membuka suara dan mendekatkan wajahnya di dekat daun telinga pria dengan paras rupawan tersebut.
"Aku mencintaimu."
Kemudian menjauhkan wajahnya dan ingin melihat ekspresi wajah dari pria yang terlihat berbinar setelah ia mengungkapkan cintanya. Tidak hanya itu saja karena saat ini tubuhnya terhempas ke atas ranjang dengan posisi terlentang karena Arya telah mendorongnya.
"Astaga, apa yang kamu lakukan?"
Arya yang berhasil mengerjai Putri, langsung membuat wanita itu pada posisi mudah untuk dicumbunya.
"Bukankah kamu menunggu hadiahnya? Ini adalah hadiah dariku."
Dengan tersenyum smirk, kini Arya mulai menundukkan kepala dan mulai menelusuri semua sudut tubuh bagian atas wanita yang masih telentang di hadapannya. Bahkan saat ini baru saja mengecup lembut bagian atas Putri dan sudah mendengar suara ******* seksi menghiasi ruangan kamar.
Putri yang merasa dibohongi dan sensasi berputar dalam perutnya karena perbuatan Arya yang sibuk mencumbu. Namun, ia tidak ingin jika hasrat dari pria di atas tubuhnya tersebut membuatnya harus kembali bertanggung jawab, refleks mendorong dada bidang Arya agar menyingkir darinya.
"Arya aku sedang menstruasi. Aku tidak mau menelannya lagi. Aku benar-benar muntah-muntah tadi di dalam kamar mandi."
Kini, Arya menarik diri dan memilih untuk duduk di sebelah wanita dengan bagian atas tubuh terbuka tersebut. "Maaf, Sayang. Itu tidak akan terjadi lagi. Sebenarnya bukan itu hadiahnya. Aku hanya ingin mengerjaimu."
Arya kini turun dari ranjang dan berjalan menuju ke arah laci. Begitu membukanya, ia mengambil kotak berukuran sedang yang pas digenggaman dan tersenyum pada sosok wanita yang kini sudah terlihat duduk di atas ranjang.
"Aku belum memberikan hadiah untukmu sebagai kado ulang tahun tadi. Kalau kejutan tadi hanya sebuah hal kecil."
Arya kini memberikan kotak kado di tangannya pada wanita yang terlihat berbinar tersebut.
"Bukalah!"
__ADS_1
Untuk beberapa saat Putri melupakan kesedihannya dan terlihat sangat senang mendapatkan sebuah hadiah. Ia merasa kembali seperti menjadi anak kecil yang sangat suka jika diberikan sebuah hadiah.
"Ini apa?"
Tidak sabar untuk segera mengetahui isinya, kini Putri langsung membukanya karena Arya hanya mengendikkan bahu saja. Seolah tidak ingin memberitahunya agar melihat sendiri.
Begitu membuka tali, ia membuka kotak dan melihat di dalamnya ada sebuah kalung dengan kilauan yang menyilaukan mata dan ada lambang 'AP' di sana yang menandakan namanya dan nama Arya.
Wajah Putri semakin berbinar begitu melihat kalung yang menurutnya sangat indah tersebut.
Sementara itu, Arya yang dari tadi tidak berkedip menatap Putri, kini mengambil kalung yang ada di dalam kotak tersebut dan menunjukkannya tepat di hadapan mata wanita dengan sudut bibir melengkung itu.
Arya tidak memesan perhiasan mewah karena mengetahui bahwa Putri bukanlah seorang wanita yang menyukai sesuatu yang glamor dan tidak berlebihan. Karena itulah, ia memesan kalung sederhana, tetapi bukan murahan dan dengan desain elegan yang pastinya juga membuatnya merogoh kocek dalam.
Apalagi di simbol tersebut bertatahkan berlian dan kini berkilau terkena sorot lampu ruangan kamar.
"Tentu saja aku sangat suka karena ini cantik sekali, tapi tidak bisa setiap hari memakainya sebelum bercerai dengan pria itu," lirih Putri yang sudah sibuk memegang kalung hadiah dari Arya.
"Tenanglah, Sayang karena untuk masalah itu, aku yang akan mengurusnya nanti."
Putri yang saat ini hanya diam saja karena bingung harus berkomentar apa atas kalimat ambigu dari Arya.
'Memangnya apa yang akan dilakukan oleh Arya untuk menyelesaikan ini?' lirih Putri yang saat ini sudah membiarkan Arya memasang kalung di lehernya.
Beberapa saat kemudian, Putri yang saat ini tengah mengamati penampilannya di depan cermin untuk melihat kalung yang melingkar di leher jenjangnya.
Merasa semakin terlihat cantik saat memakai kalung pemberian dari pria yang duduk di tepi ranjang tersebut, Putri kini mendaratkan tubuhnya di sebelah tubuh penuh dengan otot perut tersebut.
"Rasanya aku ingin setiap hari memakainya, tapi sayangnya belum bisa. Maafkan aku dan terima kasih," bisik Putri yang saat ini tengah mendekatkan wajahnya di dekat daun telinga Arya.
__ADS_1
Tidak hanya itu saja karena saat ini ia beralih mencium pipi dengan rahang tegas tersebut, tetapi nahas, saat ia melakukannya, di saat bersamaan malah Arya menoleh ke arahnya. Tentu saja yang terjadi adalah bibir mereka saling menempel dan merasakan getaran masing-masing.
Tanpa membuang waktu, Arya yang sudah tersenyum smirk, tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menyesap habis bibir sensual yang menjadi candunya. Kemudian beralih merambat ke bagian lain.
Pipi Putri seketika terasa seperti terbakar saat merasakan bibir tebal Arya menyesap habis bibirnya hingga membuat urat syaraf menegang.
Ia yang ingin menyelamatkan diri dari kekuasaan pria muda yang selalu bergairah dan seolah tidak pernah padam tersebut, kini mengarahkan tangan untuk mendorong dada bidang kuat pria yang mengungkung posisinya hingga tidak berkutik.
Namun, tenaganya yang tentu saja tidak sebanding dengan Arya, sama sekali tidak bisa berhasil untuk melepaskan diri.
Awalnya ia merasakan tangan Arya berada pada lengan kiri, tetapi beberapa saat kemudian menuruni leher dan meremas puncak menegang miliknya.
Bahkan ia menyadari saat ibu jari Arya menggoda sepanjang tubuhnya yang mulai bergairah. Ia menyadari bahwa pria yang sangat berbahaya tersebut tengah mengirimkan denyut kenikmatan kecil hingga menembus tubuhnya.
Saat ia merasakan sangat sensitif begitu Arya menyentuhnya dengan posisi berpakaian. Menyadari mungkin ia akan meliuk-liuk seperti cacing kepanasan dan tidak bisa menolak setiap sentuhan dari jemari dengan buku-buku kuat itu. Apalagi bibir tebal itu seolah menunjukkan tidak berniat untuk melepaskannya.
Tidak lupa lehernya sudah ditelusuri jauh makin ke bawah oleh pria yang tiba-tiba melepaskan kuasa.
Saat tubuhnya sangat mendamba karena bibir yang menyatu dan merasakan tubuhnya memanas dan gelisah, serta menginginkan jauh lebih banyak dari apa yang saat ini ia dapatkan.
Sejujurnya ia menginginkannya, tetapi memikirkan sebab akibat jika melakukan hal yang tidak bisa dilakukan.
Saat ciuman mulai memanas, semakin mendesak dan saling beradu dalam ritme yang menimbulkan sebuah kenikmatan. Hingga gairah mereka semakin memanas seiiring setiap ******* dan sesapan.
Apalagi Putri yang tadinya hanya diam, tidak bisa melakukannya saat Arya makin beringas mencium bibirnya, sehingga terbawa suasana dengan membalas ciuman.
Bahkan ia kini merasakan kombinasi antara panas dan nyeri yang memenuhinya dan menginginkan puncak dari kegiatan itu.
Putri sudah meneriakkan nama pria yang kali ini makin menyusuri tubuhnya. Seolah seperti tengah mencicipi setiap sudut tubuhnya dan membawa hasratnya berputar-putar semakin tinggi dan kehilangan akal sehat saat itu juga.
__ADS_1
Belum sempat ia menormalkan debaran jantungnya yang tidak beraturan, hingga mengirimkan berbagai sensasi menghantamnya.
To be continued...