Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
227. Tuduhan tidak berdasar


__ADS_3

Begitu putranya sudah meninggalkan ruangan kamar yang meninggalkan ia dan juga wanita yang sangat dibenci, kini Rani menatap sinis dengan penuh kebencian pada sosok wanita yang duduk di tepi pembaringan.


Bahkan ia saat ini melangkahkan kaki jenjangnya beberapa langkah untuk semakin mendekat dan bertepuk tangan serta tertawa mengejek.


Putri saat ini tidak mau menanggapi dengan mengumpat wanita paruh baya tersebut karena menganggap bahwa itu adalah perbuatan yang akan mempermalukan diri sendiri dan pastinya bisa membuat Arya marah padanya.


Putri masih diam dan memilih untuk bersikap elegan atas sikap wanita yang seperti ingin mengejeknya habis-habisan hari ini. Ia seperti sudah sangat kebal dengan kalimat kasar wanita yang merupakan mertuanya tersebut.


'Sebenarnya apa maksud wanita jahat ini bertepuk tangan dan tertawa mengejek seperti itu? Apa ia sudah gila? Bahkan aku sudah melahirkan cucunya, tapi sikapnya sama sekali tidak berubah dan masih saja membenciku.'


'Sebenarnya apa yang bisa membuat ia sadar dan mau menerima putraku sebagai cucu? Apa yang ada di otaknya saat ini hingga menertawakanku seperti ini?'


Saat Putri sibuk dengan berbagai macam pertanyaan yang menarik di otak saat ini, seketika terjawab begitu mertuanya tersebut membuka mulut dan hanya bisa ditanggapi dengan meremas kedua sisi pakaian yang dikenakan.


Puas bertepuk tangan, Rani sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran saat ini. "Apa sekarang kamu merasa menang karena telah melahirkan bayi yang tidak jelas asal-usulnya itu?"


"Jangan pernah bermimpi bisa masuk ke dalam keluarga besar kami dengan bayi yang baru saja kau lahirkan karena aku tidak akan pernah menerimanya. Aku sangat yakin jika bayi itu bukanlah putra dari putraku."


"Kau memanfaatkan serta menipu putraku agar bisa merubah hidupmu yang selama ini penuh kemiskinan menjadi bergelimang harta dengan mengaku bahwa bayi itu adalah benih Arya. Padahal yang sebenarnya adalah merupakan benih dari suami sahmu, bukan?"

__ADS_1


"Kalian bekerja sama agar bisa hidup enak dengan memanfaatkan putraku, bukan? Aku tidak akan pernah membuatmu sukses dalam rencana jahat yang kau susun dengan suami sahmu itu. Selama aku masih hidup, kau tidak akan pernah berhasil masuk dalam keluarga besar Mahesa. Ingat itu baik-baik di otakmu, Wanita murahan!"


Puas, mungkin itu kalimat yang sangat pas dan mewakili perasaan Rani saat ini. Hingga ia yang merasa sangat muak berada lama-lama bersama dengan wanita yang sangat dibenci di dalam satu ruangan, memilih untuk berjalan keluar karena ingin mengecek putranya.


Apakah sudah selesai mengambil sampel untuk tes DNA. Namun, Rani menghentikan langkah kakinya begitu mendengar tanggapan dari wanita yang sangat dibenci.


"Anda akan menyesal saat mengetahui bahwa bayiku adalah putra dari Arya. Aku adalah seorang wanita dan pastinya mengetahui siapa ayah dari bayiku. Aku pun tidak akan pernah mengemis restu dari wanita sombong dan jahat seperti Anda karena itu tidak penting."


"Putraku juga tidak butuh diakui oleh seorang nenek yang tidak punya hati. Anda tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga kami karena saat ini Arya sudah membuktikan bahwa cintanya padaku jauh lebih besar daripada cinta pada keluarganya."


"Apa itu masih belum cukup membuktikan setelah Arya keluar dari rumah dan meninggalkan segala kemewahan hanya demi wanita murahan sepertiku? Jika Anda masih ingin bukti lagi, aku akan menunjukkan dan jangan sampai sakit hati karena Arya lebih memilih aku daripada ibunya sendiri."


Putri yang awalnya hanya ingin membiarkan wanita tersebut menginjak harga dirinya, tetapi pada detik terakhir berubah pikiran karena ingin menghancurkan sikap sombong dari wanita kaya yang menganggap bahwa semua orang dari kasta rendah sepertinya tidak berhak bahagia.


"Satu lagi, Nyonya. Mungkin Anda bisa menuduhku seorang wanita murahan, tetapi itu tidak berlaku pada pria yang menjadi korban dari kebahagiaan kami. Bagus Setiawan benar-benar terluka atas semua ini. Bagaimana bisa wanita berpendidikan dan berkelas seperti Anda tidak bisa menilai seseorang dari tatapan mata."


"Padahal aku yang bodoh saja bisa dengan mudah menilai seperti apa watak seseorang dengan hanya melihat dari mata. Di sini, aku yang bodoh atau Anda yang terlalu pintar menilai seseorang? Ataukah merupakan kebalikannya?"


Suasana di dalam ruangan tersebut seketika berubah menegangkan dan aura dari dua wanita yang penuh kebencian jelas terlihat dari wajah masing-masing.

__ADS_1


Namun, seolah mereka sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak saling menarik rambut masing-masing, sehingga hanya menyerang dengan berbagai macam kalimat pedas yang lolos tanpa di filter karena dikuasai oleh amarah yang memuncak dan menyeruak di dalam hati.


Tentu saja, Rani saat ini masih mengepalkan kedua tangan dan posisinya memunggungi wanita yang baru saja menghinanya habis-habisan.


'Sialan! Rasanya sekarang ini aku ingin menampar wajahnya, menarik rambut, serta meninju perut wanita murahan ini. Hanya saja, jika melakukannya sekarang, rencanaku bisa gagal dan Arya akan marah.'


'Jika sampai itu terjadi, kemungkinan besar ia akan membatalkan tes DNA dan rencanaku pasti gagal. Tidak, aku tidak boleh gegabah dan ceroboh. Tinggal satu langkah lagi untuk menghancurkan wanita murahan dan miskin ini.'


'Biarkan saja ia merasa menang. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah ini merupakan titik awal kehancuran. Sabar ... aku tidak boleh mengandalkan emosi hari ini. Mungkin setelah hasil tes DNA keluar yang menyatakan bahwa bayi itu bukan putra Arya, aku baru bisa membalaskan dendam hari ini.'


Lamunan Rani seketika buyar begitu mendengar suara dari putranya yang seperti sedang berbicara dengan bayi yang baru saja dilahirkan tersebut. Benar saja, beberapa detik kemudian ia melihat Arya menggendong bayi dan terlihat wajah berbinar ketika berbicara.


"Sayang, putra Papa akan menjadi jagoan kecil yang sangat hebat. Putraku sangat tampan dan menggemaskan sekali," ucap Arya yang saat ini baru saja masuk ke dalam ruangan dan mengerutkan kening ketika melihat sang ibu berdiri mematung di hadapannya.


Kemudian ia mengalihkan pandangan pada sang istri dan memicingkan mata karena seperti mengetahui apa yang terjadi di antara dua wanita tersebut.


"Apa kalian bertengkar lagi?" tanya Arya dengan tatapan tajam mengintimidasi pada sang ibu dan juga istrinya.


Sementara itu, Putri yang saat ini masih dikuasai oleh amarah karena tuduhan tidak berdasar dari ibu pria dihadapannya, memilih untuk bangkit berdiri dan menghampiri sang suami, meskipun sedikit kesusahan saat berjalan.

__ADS_1


"Sayang, tadi mamamu mengatakan bahwa ...."


To be continued...


__ADS_2