
***
"Maksud ucapan kamu apa Ling?" Tanya Ailee. Ling tersenyum miring mendengar nada tidak suka keluar dari mulut wanita ini.
"Lo ngerti ucapan gue kan? Lo murah*n! Seharusnya lo nolak pas gue cium lo, tahunya lo malah menikmatinya," ucap Ling. Ia bangun dari atas tubuh Ailee.
"Ailee gak murah*n! Kalo pun iya, Ailee murah cuma sama kamu aja," ucap Ailee.
"Berarti bener murah*n. Lo gak ada bedanya sama bit*h," ucap Ling.
"Beda lah, bit*h layanin semua pria. Sedangkan Ailee baru sama Ling," bela Ailee. Benar bukan? Ailee memang rela banting harga demi Ling. Namun pria itu bukannya menerimanya tapi malah menolaknya. Belum lagi lontaran kata kata pedas itu seperti sudah menjadi makanan sehari hari untuk Ailee.
"Sekali murah*n tetep murah*n. Gak perlu menyangkalnya lagi," ucap Ling. Ia pun bangun dan pergi dari sana. Namun Ailee buru buru menahan tangan pria itu dan sedikit menariknta sehingga Kalingga kembali duduk. Ailee langsung duduk diatas paha Ling dan kembali menyatukan bibit mereka. Bahkan Ailee dengan sengaja mengigit keras bibir Kalingga sampai berdarah juga.
"Kamu yang ambil ciuman pertama dan kedua aku. Sekarang giliran aku yang ambil ciuman ketiga aku ke kamu, kamu boleh aja terus hina aku dengan kata kata pedas kamu itu. Tapi kamu harus tahu kalo aku belum menyerah sejauh ini. Aku belum menyerah untuk mendapatkan kamu Kalingga. Anggaplah kesabaran aku masih ada untuk kamu," ucap Ailee panjang lebar. Setelah mengatakan itu Ailee pun bangun dari atas pangkuan Ling dan pergi masuk ke kamar Briella.
Ling masih duduk terdiam disana. Ia menatap kepergian Ailee dengan senyum miringnya. Tangannya terangkat untuk menyentuh bibirnya yang terluka karena ulah gadis itu. Sialan! Dia sepertinya sengaja membuat luka di bibirnya paling depan. Awas saja, Ling akan membuat perhitungan untuknya.
Sementara itu di dalam kamar, Ailee mengambil kunci motornya dan segera pergi dari sana. Ia meninggalkan Briella dan tas punggungnya. Hujan masih cukup lebat. Ailee melirik ke ruang tv, disana sudah tidak ada kedua orang tua Briella. Kesempatan bagus, ia bisa pulang. Ailee buru buru berjalan menuju garasi dan menaiki motornya.
"Kamu mau kemana? Ini hujan loh," sebuah suara menginterupsinya untuk menghentikan aksinya pergi.
"Hehe, tante. Ailee pulang dulu, nanti kesini lagi kok. Soalnya malam nanti mau cari jajan sama Briella sama Kai," ucap Ailee.
"Ling enggak diajak?" Tanya Ashel.
__ADS_1
"Dia batu tante. Palingan males keluar, ya udah kita bertiga aja," ucap Ailee.
"Jangan pulang, kamu bisa demam loh. Ganti baju pake baju Briella aja. Ukuran kalian kan sama," ucap Ashel.
"Gak usah tante. Serius, lagian Ailee juga mau pergi dulu, ada urusan," ucap Ailee.
"Kamu pikir tante percaya? Masuk Ailee," ucap Ashel.
"Gak bisa tante. Please, Ailee balik lagi kok nanti. Yang ada kalo gak balik Briella ngamuk sama Ailee. Please tante," ucap Ailee memohon.
"Tante takut kamu kenapa napa sayang. Jalanan juga licin," ucap Ashel. Ia turun dan menarik anak itu untuk naik lagi ke rumahnya. Mau tak mau Ailee menurut saja, niatnya untuk hujan hujanan pupus sudah.
Ashel mengantarkan Ailee kembali ke kamar anak perempuannya dengan memberikan sebuah paper bag. Katanya itu dari Magi. Magi memang selalu siap sedia untuk menyiapkan perlengkapan Ailee. Disana ada sebuah baju santai untuk wanita itu. Legging sport dengan sweater rajut oversize beserta dalaman Ailee.
"Jangan coba coba kabur kayak maling lagi. Mandi kamu, nanti masuk angin. Bajunya basah loh ini," ucap Ashel.
"Tadi tante mau ke kamar Briella ngecek keadaan kalian. Tapi kamu gak ada dan samar samar tante dengar suara kamu lagi teleponan sama papi kamu," ucap Ashel.
"Ah, iya."
Ailee pun pamit masuk ke kamarnya. Sedangkan Ashel kembali ke kamar utama. Disana ada suaminya, menatap datar sebuah rekaman cctv yang berada di balkon kamar anak anaknya.
"Mas, Ling keterlaluan ih. Kok udah cium cium anak orang aja, mana tangan dia juga nakal banget," ucap Ashel.
"Mau gimana lagi, kita kan berusaha pura pura gak tahu sayang. Sebatas kiss? Biarin aja, toh dia kiss sama anak yang kita kenal sejak dia kecil. Lagian aku setuju itu anak sama Ailee," ucap Kavin.
__ADS_1
"Serius?" Tanya Ashel dengan mata berbinar.
"Kok kamu tiba tiba bahagia gini? Jangan kira aku cuek gini gak merhatiin Ailee sayang. Aku selalu berusaha juga buat dia selalu aman disaat kedua orang tuanya lengah. Kamu tahu sendiri keadaan keluarganya kayak gimana. Utuh tapi anggotanya rapuh," ucap Kavin.
"Iya juga mas. Aku kasihan banget pas dikasih tahu Magi soal ini. Mana dulu dia sering banget nangis gara gara Ling. Eh pas udah gede dia duluan nyerobot bibir Ailee," ucap Ashel.
"Sama sama tukang serobot sayang. Tadi kan Ailee juga cium balik anak kita. Aku sih yakin kalo ada sedikit perasaan di hati Ling untuk Ailee. Dia cuma gengsi aja untuk mengakuinya. Kamu gak lihat tadi saat Ailee duduk dipangkuan dia, dia kalungkan tangannya ke pinggang anak itu," ucap Kavin
"Iya. Mana tadi pas Ailee jatuh dia juga langsung nahan tubuh anak itu. Ah, seneng banget deh rasanya kalo Ailee jadi anggota keluarga kita," ucap Ashel.
"Anak anak udah pada besar. Sebentar lagi mereka juga bakalan minta pindah karena pekerjaan. Aku mau punya anak lagi," ucap Kavin.
"Heh, enggak ya. Apaan udah tua juga," ucap Ashel.
"Tapi kamu gak bisa nolak sayang," ucap Kavin tersenyum miring. Ia naik ke atas tubuh istrinya. Ashel yang sudah paham seperti apa suaminya hanya diam saja dengan sikapnya ini. Melawan tidak ada gunanya, jatah uang bulanannya nanti yang bermasalah.
***
Ling baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Ia baru selesai mandi. Hanya ada lilitan handuk di pinggangnya. Ia berdiri di depan cermin wastafel yang ada di kamar mandi. Tatapannya terpaku pada jari miliknya yang tersemat cincin.
Ling mengangkat tangannya dan mencoba melepaskan cincin itu. Berhasil.
Ia menatap ukiran nama yang ada di dalamnya. Ailee Fox. Ternyata gadis itu seniat ini. Ia pun mengambil sebuah kalung berwarna perah polos dan memasukan cincin ini. Diluar dugaan ternyata Ling memakainya. Cincin pemberian Ailee dipakai setelah dijadikan kalung.
Lagi dan lagi otaknya kembali mengingat kejadian bersama Ailee tadi. Ia masih ingat dengan jelas seperti apa rasa bibir itu, aroma tubuh Ailee, dan tangan besarnya yang menggeggam juga merem*s milik Ailee.
__ADS_1
Tbc.