
***
Ternyata apa yang dikatakan kakeknya dulu benar adannya. Jika ilmu bela diri pun sangat penting untuk seorang wanita.
Ailee sudah belajar karate sejak ia kecil. Ini semua karena kemauan kakeknya. Dulu, Ailee di urus kakeknya dari ia berumur empat tahun sampai berumur sembilan tahun. Karena kakeknya harus kembali ke Indonesia alhasil ia di urus dan dirawat oleh Magi. Magi yang menggantikan kakeknya mengantarkan Ailee ke tempat karate. Jadi sejak kecil ia sudah diajarkan ilmu bela diri.
Ailee dengan cepat menangkis semua sasaran meskipun pipinya tadi terkena bogeman mentah dari preman itu. Namun Ailee tidak cepat mundur. Serangan paling mematikan untuk pria adalah di bagian alat vitalnya. Sama halnya seperti preman pertama yang saat ini masih kesakitan, Aille juga memberikan hal yang sama untuk kedua preman itu. Cukup susah sampai Ailee harus beberapa kali adu otot dengan mereka namun akhirnya ia berhasil membawa Vanesha kabur dari sana dengan mobilnya. Ketiga preman itu kesakitan akibat slengkinya yang ditendang dengan ujung depan sepatu Ailee yang cukup runcing karena wanita itu menggubakan sepatu boots.
Vanesha masih terdiam. Entah terkejut atau speechless Ailee tidak tahu. Yang jelas Ailee tidak berminta menanyakan keadaannya. Ia masih kesal karena cewek ini dia menderita sakit bokong. Baru kali ini ia jatuh dengan tidak etisnya ke atas aspal sampai bokongnya sakit. Ailee tak banyak bertanya pada cewek ini. Ia akan mengantarkan cewek ini ke rumah Lingga saja.
Perjalanan menghabiskan waktu sekitar lima belas menit. Ailee sejak tadi terus menggerak gerakan pipinya yang kebas akibat pukulan orang tadi. Sialan, lagi dan lagi dia harus kesakitan akibat cewek ini.
Ailee masuk ke dalam gerbang rumah Kavinder setelah ia memuculkan wajahnya pada seorang bodyguard. Mereka mengetahuinya karena Ailee sudah sering lalunlalang di rumah Kalingga.
Vanesha masih terdiam. Bahkan sepertinya dia masih syok karena kejadian tadi. Terbukti dia diam saja saat mobil Ailee berhenti. Ailee pun menekan klakson mobilnya sampai cewek ini berjingkrak kaget.
"Biasa aja bisa kan lo?!" Ucapnya galak.
"Nyesel gue nolongin lo. Kenapa enggak gue biarin aja lo di gilir sama tuh preman. Dasar gak tahu diri, turun lo," ucap Ailee mengusir Vanesha. Vanesha melemparkan tatapan tajamnya dan keluar begitu saja dari dalam mobil Ailee tanpa mengatakan apapun.
"Cih, najis banget. Bukannya bilang makasih malah nyelonong aje, dia anaknya om Fello bukan sih? Kok sikapnya beda jauh sama bapaknya," gumam Ailee. Tiba tiba ada yang mengetuk kaca mobilnya. Ailee yang sedang bergumam pun dibuat terkejut.
"Apa?" Tanya Ailee saat kaca mobilnya dibuka.
__ADS_1
"Tuan minta kamu masuk dulu Ailee," ucap seorang maid.
"Males, gue ngantuk astaga. Jam tidur gue udah berkurang dari tadi," erang Ailee.
"Tapi tuan menunggu anda di dalam. Beliau bilang ada yang ingin beliau tanyakan," ucap maid itu.
Astaga, kenapa lagi ini? Kenapa tidak si cewek saddako saja yang menjelaskan semuanya pada om Kavin? Kenapa dia harus ikut?
Meskipun malas dan bermuka masam, Ailee tetap masuk ke dalam rumah Kalingga. Waktu tidurnya benar benar sudah dikuras lagi. Ini sudah pukul sepuluh, Ailee ingin tidur lagi.
"Malam om, tante, Bri, Kai, sama calon masa depan," ucap Ailee. Ia akan tetap bersikap slengean di depan Kalingga.
"Duduk Ailee," ucap Kavin.
"Tuh saddako belum ngomong?" Tanya Ailee pelan pada Briella.
"Belom, dia ngemis kasih sayang sama cowok lo," bisik Briella. Benar, saat ini Vanesha sedang memeluk Kalingga seperti ketakutan. Halah, modus dia.
"Ailee jelasin om? Kenapa enggak dia aja? Dia kan yang jadi korbannya tapi gak jadi," ucap Ailee.
"Vanesha cerita kalo dia di hadang tiga preman dan preman itu adalah orang suruhan kamu. Apa itu benar?" Tanya Kavin.
"Daebak!!! Gue nolongin lo ya sadakko, lo malah putar balik fakta. Nyesel sumpah gue nolongin lo, tahu gitu gue pergi aja tadi kagak usah nolongin lo," ucap Ailee kesal pada Vanesha.
__ADS_1
"Logikanya gini deh, kalo emang tiga preman itu suruhan gue, ngapain gue nyuruh mereka mukul gue beneran? Dan ngapain gue nendang slengki mereka sampe mereka kesakitan? Kalo lo nanya kenapa gue ada disana, gue gak sengaja lewat dan ngeliat demek lo yang lagi ketakutan sama tiga preman itu. Harusnya lo bilang makasih kek, gue masih tetep baik ya sama lo meskipun lo jahatnya keterlaluan," sambung Ailee kesal.
"Sabar bung sabar," ucap Briella menepuk bepuk tangan Ailee yang kembali mengeluarkan darah.
"Sakit anjir," ucap Ailee. Briella hanya cengengesan saja dan meniupi luka sahabatnya itu.
"Terserah sih om mau percaya atau enggak. Ailee gak mau nyari pembelaan karena Ailee gak salah dan gak ngerasa bersalah. Udah malem om, tante. Ailee pulang dulu," ucap Ailee. Ia benar benar kesal dengan Vanesha. Bisa bisanya wanita sadakko itu memutar balikan fakta dan menuduhnya. Menyesal, sangat menyesal Ailee menolong wanita tidak tahu diri seperti dia.
"Kebetulan mobil Ailee, Ailee pasang cctv. Nanti Ailee kirim ke om buat bukti. Dan buat lo cewek saddako, lo bakalan dapet apa yang lo tanem hari ini dan kemarin. Lo bakalan tuai apa yang udah lo perbuat sama gue. Udah narik gue sampe masuk rumah sakit, sekarang fitnah gue. Lengkap banget kelakuan buruk lo," ucap Ailee. Ia pun bangun dari sana dan segera pergi. Ia bahkan mengabaikan panggilan Ashel dan Kavin saking kesalnya.
"AILEE, TANTE BELUM SELESAI SAYANG," teriak Ashel. Namun Ailee tidak mendengarnya. Gadis itu terus saja berjalan pelan dan memegangi bokongnya. Sepertinya bokong gadis itu kembali sakit.
Briella hendak mengejar Ailee namun Kalingga menahan adiknya. Ia sendiri yang akan mengejar Ailee. Ia melepaskan paksa pelukan Vanesha dan berlari mengejar Ailee.
Ailee tidak menyadari jika Kalingga berada di dekatnya. Ia lebih fokus pada rasa sakit di tubuhnya. Tubuhnya kembali sakit dan itu semua gara gara Vanesha. Astaga!!!
Kalingga tidak banyak berbicara, pria itu langsung menarik tubuh Ailee dan menggendongnya di samping tubuhnya. Kalingga seperti sedang membawa anaknya saja.
"WOI BANGZAT NGAPAIN SIH?! GUE MAU PULANG, KOK JADI GUE YANG DISALAHIN SIH?! KAN SI DEMEK YANG SALAH," teriak Ailee. Ia tidak terima dibawa seperti ini. Perutnya tertekan tangan orang yang membawanya. Kakinya menendang nendang angin..
"Diem."
Tbc.
__ADS_1