
***
Ailee ikut bergabung bersama Petter, teman abangnya yang sejak tadi duduk sendirian. Ailee hanya diam saja karena ia tidak mengerti topik pembicaraan yang dibahas oleh Alvaro dan Petter. Bahkan Alvaro tidak memperkenalkannya. Tapi tak apa, toh Ailee juga tidak terlalu berminat untuk berkenalan.
Ailee hanya duduk diam menikmati cake cake kecil yang dibawakan pelayan atas perintah Alvaro. Ia juga meminta orange juice, tadinya dia ingin guava juice tapi tidak ada. Jadi ya sudah, orange juice saja. Ailee sejak tadi tidak terganggu sama sekali dengan tatapan yang di layangkan Petter. Karena ia tidak memperhatikannya dan lebih terkesan acuh.
"Pette, aku hampir lupa mengenalkannya. Dia adik sepupunku, Ailee Fox," ucap Alvaro membuat atensi Ailee teralih menatap kedua pria yang umurnya sekitaran dua puluh tujuh tahun.
"Brixcya Ailee Fox? Right?" Tanya Petter.
"Iya, itu nama lengkapnya," ucap Alvaro.
"Its beautiful name," ucap Petter. Ia mengulurkan tangannya ke arah Ailee. Dengan ragu Ailee menjabatnya.
"Petter Anderson," ucapnya.
"Ailee," ucap Ailee singkat. Ia buru buru melepaskan tautan tangan itu dan kembali memakan kue kue kecil itu menggunakan sendok.
Bosan sekali rasanya, kenapa tidak ada keluarga Kavinder disini? Bukannya mereka selalu ada di setiap pesta? Ah, mungkin saja mereka tidak mengenal orang ini jadi tidak datang.
Sedangkan sejak tadi, Petter terus melihat ke arah Ailee. Anak ini sangat cantik sekali. Mukanya sangat imut ditambah dengan dress yang dia gunakan semakin menambah kesan gadis lugu dan imutnya.
"Dia umur berapa?" Tanya Petter.
"Delapan belas," ucap Alvaro.
"SMA kelas sepuluh?" Tanya Petter.
Alvaro menggeleng, "Dia udah kelas dua belas. Umurnya aja yang muda soalnya dia masuk sekolah pertama kalo umur empat tahun di TK."
"Pantas saja wajahnya masih sangat terlihat lugu. Tapi cantik," ucap Petter.
"Kau menyukai adik ku?" Tanya Alvaro.
"I don't now. But she's look beautiful," ucap Petter.
"Menurut ku kau menyukainya. Terlihat dari tatapan mu sejak tadi, berbeda dengan tatapan mu pada wanita lain yang terkesan datar dan tidak nyaman. Tapi melihat cara mu menatap adik ku, sangat berbeda. Cinta pada pandangan pertama?" Ucap Alvaro.
"Kau yakin aku menyukainya? Really dude? Umur kami terpaut sangat jauh, orang orang nanti akan mengatakan jika aku seorang pedofil," ucap Petter.
"Sejak kapan kau pernah memikirkan omongan orang?" Ucap Alvaro. Selama mengenal Petter, Alvaro memang tidak pernah melihat pria ini memikirkan tentang omongan orang padanya. Manusia yang menjadi temannya ini terkesan acuh dan tidak peduli pada sekitarnya.
__ADS_1
"Abang, keluarga Natapraja gak kesini? Adek bosen," ucap Ailee.
"Mereka pasti datang. Kamu mau cari mereka?" Tanya Alvaro.
Ailee menganggukan kepalanya. Ia benar benar bosan disini, jika ada tante Ashel atau si kembar tiga setidaknya dia tidak akan kebosanan. Mungkin akan lebih menyenangkan jika dia menjahili si kemnar tiga dari pada diam saja seperti patung sejak tadi.
"Pergi lah. Hati hati, pulang nanti temuin abang lagi," ucap Alvaro.
"Ok."
Ailee pun pergi dari sana membawa tas miliknya. Ia berjalan celingukan mencari keberadaan keluarga Lingga. Namun sudah berjalan beberapa meter dari tempatnya, dia tidak menemukan mereka sama sekali. Apa mungkin sudah pulang? Haish, lalu Ailee harus kemana? Dia benar benar bosan dan ingin pulang saja rasanya. Tapi ia tidak mungkin mempermalukan Alvaro.
Ailee menghela nafas panjangnya. Ia berjalan keluar ballrom hotel. Mungkin disini ia bisa menikmati udara segar. Dari pada di dalam, udaranya sangat tidak ramah. Apalagi banyak sekali alkohol.
Ailee berdiri di dekat pilar hotel yang tinggi dan sangat besar. Entah apa yang akan ia lakukan saat ini, yang jelas ia benar benar bosan dan tidak tahu harus apa.
"Ekhem."
Ailee berjingkrak kaget saat mendengar deheman dari seseorang di sampingnya. Ia lantas menolehkan kepalanya dan melihat ke araha samping. Disana ada Kalingga. Berdiri dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ayang," ucap Ailee. Gadis itu langsung memeluk Kalingga.
"Gak mau. Maunya meluk kamu," ucap Ailee.
Memang sejak tadi di dalam hotel, Kalingga memperhatikan gerak gerik Ailee. Saat ia melihat Ailee keluar, ia pun ikut keluar dengan alasan ingin ke toilet.
"Bri ikut? Aku bosen dari tadi kayak orang bego," ucap Ailee. Namun sedetik kemudian ia melepaskan pelukannya dan berjarak sedikit jauh dari Ling. Sekitar satu langkah.
"Gak jadi meluk. Ailee masih kesel sama kamu," ucap Ailee.
Kalingga mengernyitkan keningnya. Gadis ini sehat kan?
"Kenapa emangnya?" Tanya Ling.
"Kenapa, kenapa. Gak inget tadi kamu nuduh aku yang ajak ajak adik kamu pake baju kaos sama celana pendek? Udah tahu kan kalo yang ajaknya itu adik kamu bukan aku," ucap Ailee.
"Belum. Gue gak nanya siapa pun, buat apa," ucap Ling.
"Terserah."
"Bri dimana?" Tanya Ailee.
__ADS_1
"Di dalam," jawab Kalingga.
"Iya, spesifiknya dimana? Kan Ailee gak tahu dimana dimananya," ucap Ailee.
"Gak usah kesana. Disini aja," ucap Ling.
"Boleh, minta maaf dulu tapi," ucap Ailee.
"Gue gak bikin salah ngapain gue minta maaf," ucap Ling.
"Dih, serah lah. Kesel lama lama," ucap Ailee. Ia memilih pergi dari sana dan kembali mencari Briella. Mungkin rasa kesalnya akan sedikit hilang dengan banyak mengobrol dengan gadis itu. Namun belum juga melangkah Kalingga sudah menahannya dan menariknya.
"Apa lagi sih?!" Ucap Ailee kesal.
"Temenin gue disini," ucap Ling.
"Buat apa nemenin orang kayak kamu. Udah salah bukannya minta maaf malah bikin orang kesel mulu," ucapo Ailee.
"Ya udah maaf," ucap Ling.
"Gak ikhlas banget minta maafnya," ucap Ailee.
"Bodo amat," ucap Kalingga. Ia mengajak Ailee duduk di salah satu kursi kayu yang ada di dekat dinding hotel.
Lagi lagi mereka hanya diam. Ailee masih kesal dengan pria ini sedangkan Ling, dia diam karena sedang menatap ke arah langit. Tumben tidak ada bintang disana.
"Siapa cowok yang bawa lo kesini?" Tanya Ling.
"Kepo," ucap Ailee.
"Jawab yang bener," ucap Ling.
"Abang sepupu," ucap Ailee.
"Bukan cowok lo?" Tanya Ling lagi.
"Cowok Ailee cuma kamu. Meskipun Ailee bukan cewek kamu, kamu tetep cowok aku. Segimana pun kamu nyakitin aku, perasaan aku bakalan tetep sama buat kamu. Kalo pun berubah, mungkin aku udah pake logika aku," ucap Ailee.
Tanpa sadar hati Kalingga sedikit mencelos saat mendengar ucapan dari Ailee. 'Kalo pun berubah mungkin aku udah pake logika aku' apa jika dia menggunakan logikanya, dia tidak akan pernah mengganggunya lagi?
Tbc.
__ADS_1