
***
Semalam setelah Kalingga pulang bukannya tidur Ailee malah berdiam diri diatas kasur. Tidur terlentang namun tidak memejamkan matanya. Dia masih teringat ucapan Kalingga tadi. Jadi yang membuatnya celakan dulu adalah adiknya tante Ayu? Tapi kenapa? Kenapa dia ingin mencelakai Briella? Apa kedua orang tua Briella pernah berbuat salah? Tapi apa iya?
Pertanyaan pertanyaan seperti itu sering muncul di otaknya sejak tadi. Tadi Kalingga juga menceritakan semua kronologinya. Tentunya itu akurat karena Kalingga mendengarnya langsung dari papinya, yaitu om Kavin. Sudah pasti beritanya akurat. Namun yang masih jadi pertanyaan kenapa dia melakukan itu? Tante Ayu menikfs4ah dengan om Rafello dan om Rafello adalah adik kandung om Kavin yang tidak lain dam tidak bukan adalah om Briella. Jika benar, lalu kenapa tante Ayu masih memiliki muka untuk bertemu dengan keluarga om Kavin?
“Kalo emang beneran, kenapa tante Ashel masih baik ya sama keluarga tante Ayu? Apa karena ada om Fello jadi tante Ashel masih menghargainya?” Tanya Ailee pelan.
“Tapi kalo dipikir pikir ngapain gue mikirin masalah itu? Toh udah lewat, si Bagas Bagas itu juga udah ada di tangan om Kavin. Dia pasti udah dapet ganjarannya. Harusnya si Vanesha malu kan buat ketemu dan lihat Kalingga. Karena om dia, pertumbuhan Kalingga waktu kecil hampir terhambat,” ucapnya.
“ASTAGA AIL, TIDUR GUBLOK!! BESOK KAN UDAH JANJI MAU NGAJAK BRIELLA KELUAR SEKALIAN KE ARENA BUAT LIHAT KONDISINYA,” ucap Ailee. Gadis itu menarik selimutnya dan tidur dengan keadaan wajah tertutup oleh selimut.
Memang benar, Ailee sebenarnya masih tidak habis pikir dengan kejadian itu. Kejadian dimana dia harus melihat Briella dlam keadaan yang sangat jauh dari kata baik. Bahkan nyawanya terancam. Namun untungnya saat itu dengan segala pertimbangan dan oemikiran akhirnya Ailee mengambil resiko yang tinggi. Untuk menyelamatkan Briella, nyawanya jadi taruhannya. Namun untungnya bantuan cepat datang waktu itu. Nyawa Ailee terselamatkan namun dia harus koma beberapa minggu dan mental Briella terganggu karena hal itu.
Namun beberapa tahun kemudian kedua gadis itu mampu melupakan masalah itu dan berdamai sehingga mereka bisa melanjutkan kehidupan mereka. Kisah kelam yang mungkin sudah jadi jalan hidup keduanya, baik Ailee atau pun Briella tidak akan pernah melupakannya. Dari kejadian itu pula mereka belajar untuk tidak terlalu percaya pada seseorang meskipun itu adalah kerabat sendiri.
***
Pagi hari pun menyapa. Ailee sudah mandi sejak beberapa menit yang lalu namun dia masih belum berangkat ke rumah Briella. Kondisinya memang sudah sedikit fit, apalagi setelah mandi air hangat dan berendam di dalamnya. Hidung mampetnya juga sudah sedikit mereda karena Aikee berendam menggunakan aromatheraphy yang mampu menyehatkan juga merilekskan tubuhnya.
Ailee memakai celana legging kebanggaanya. Dia memang sangat menyukai celana legging. Selain lentur celana itu juga sangat nyaman untuk dipakai beraktifitas. Atasannya Ailee menggunakan tanktop crop yang dibalut lagi dengan sweater bulu bulu. Ailee memang lebih menyukai tampilan santainya seperti ini dibandingkan dengan menggunakan celana levis.
__ADS_1
“Magi, Ailee pergi dulu,” ucap Ailee berpamitan pada asisten di mansionnya.
“Tuan dan nyonya besar akan pulang hari ini,” ucap Magi.
“Biarin aja. Lagian mereka janjinya semalam sama Ailee, mau datang atau enggak pun tersrah. Udah kenyang makan janji,” ucap Ailee acuh.
Magi terdiam dan tersenyum tipis. Nonanya ini memang sudah sering dikecewakan oleh kedua orang tuanya dengan janji janji yang terucap dari bibir mereka namun mereka selalu mengingkarinya. Menurut Magi wajar saja jika nona mudanya ini bersikap seperti ini, siapa pun pasti akan kecewa. Apalagi ini buka satu kali atau dua kalinya mereka mengecewakan nona mudanya ini.
“Lalu nona akan kemana?” Tanya Magi.
“Hari ini ada janji sama Briella sekalian mau ke arena sirkuit buat lihat kemajuan renovasinya. Dari kemarin juga Ail belum ketemu Rici. Ada hal yang harus Ailee bahas,” ucap Ailee.
“Sudah lebih baik. Aku pergi dulu,” pamit Ailee.
“Iya nona, hatti hati.”
Ailee mengangguk sekilas dan pergi dari sana. Pusing di kepalanya sudah hilang, ia bisa mengendarai motornya. Ia sengaja bersikap acuh kepada kedua orang tuanya, lagi lagi mereka hanya memberikan janji palsu. Ailee kembali dibuat kecewa dan muak.
Setiap dia sakit, dia hanya selalu mengobatinya sendiri. Tidak pernah ada sosok mama di dekatnya saat ia sedang demam tinggi pun. Hanya ada Magi. Sesekali juga tante Ashel, itu pun jika Magi memberitahunya padahal sudah Ailee larang.
Ailee bukan bermaksud ingin jadi anak durhaka, namun dengan sikap kedua orang tuanya ini, anak yang mana yang akan tahan? Rumah bukan lagi tempat ternyamannya. Selain apartementnya, markas dan rumah keluarga Kalingga, tidak ada lagi tempat nyaman untuk Ailee. Ada, hanya saja itu di Indonesia. Dan jarak dari Boston ke Indonesia sangat jauh.
__ADS_1
Ailee menaiki motornya setelah memakai helm miliknya lalu melesat pergi. Di depan gerbang, dia melihat sebuah mobil BMW hitam masuk. Ailee hanya menekan klakson motornya dan pergi. Dia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran mobil itu.
Sementara itu di dalam mobil, Alvaro langsung menghentikannya. Dia bersama kedua orang tua Ailee berada di mobil itu. Mereka bertiga melihat jika Ailee pergi dan hanya menekan klakson. Anak itu sama sekali tidak menunggu mereka di rumah.
"Kenapa Brixy pergi? Dan kenapa dia tidak berhenti padahal ada mobil ini masuk?" Tanya Cya.
"Mungkin dia akan ke arena, biarkan saja ma," ucap Alex.
"Gak bisa pi, dia harus nyambut kita dong. Kenapa dia malah pergi," ucap Cya.
"Ma, mama gak sadar apa yang kita lakukan? Jika saja semalam mama langsung ikut ke bandara dan tidak bertemu dengan teman teman sosialita mama itu, mungkin malam tadi kita sudah bersama di rumah. Ingat, mama sendiri yang berjanji akan pulang malam tadi. Tapi apa," ucap Alex.
Cya terdiam. Benar juga. Seharusnya dia tidak menyalahkan anaknya. Cya pun terdiam sedangkan Alvaro hanya diam saja. Ia pun kembali melajukan mobilnya ke depan pintu masuk. Ternyata lagi lagi adik sepupunya itu dijanjikan namun tidak ditepati.
"Ingat ma, setelah Brixy mendapat ijin libur semester, kita akan pulang ke Indonesia. Papi harap mama kosongkan jadwal mama. Kita sudah berjanji pada Brixy," ucap Alex mengingatkan.
"Iya pi, mama inget kok. Mama akan kosongkan jadwalnya selama satu minggu," ucap Cya.
Untungnya suaminya kembali mengingatkan lagi, jika tidak mungkin dia akan melupakan janjinya pada anaknya itu. Cya benar benar merasa bersalah, padahal dia sudah bertekad untuk tidak kembali mengecewakan anaknya.
Tbc.
__ADS_1