Mengejar Cinta Mr. Ling

Mengejar Cinta Mr. Ling
271. Rata Dengan Tanah


__ADS_3

***


Suara ketukan jari jemari milik Gail dengan papan keyboard terdengar cukup keras. Bahkan suara ketikan itu sangat kencang, mungkin karena Gail sudah terbiasa berkutat dengan keyboard seperti ini.


Sesampainya di Boston, dia sudah meminta nonanya untuk istirahat dulu ke mansion keluarga Fox, namun gadis itu menolaknya dan memaksa untuk langsung ke tempat tujuannya. Gail tidak bisa menolaknya, gadis itu cukup keras kepala.


Setelah mendapatkan kabar dari big boss, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Alexander Fox, Gail langsung terbang dari Dubai menuju ke Indonesia untuk menjemput majikan kecilnya. Dulu dia hanya seorang bodyguard penjaga mahluk kecil, tapi seiring berjalannya waktu, Gail diminta untuk membantu Alex di perusahaannya. Gail memang bukanlah lulusan universitas bergengsi. Dia hanya lulusan D3 sebuah universitas biasa saja. Tapi jangan salah, kemampuannya sangat mumpuni. Makanya, Alex memintanya untuk mengurus kantor cabang miliknya.


"Kenapa kau kesini? Bagaimana dengan mahluk kecil itu? Kenapa ditinggal?" Tanya Gail, pandangannya tetap fokus pada layar PC komputer di depannya.


"Ayolah Gail, dia sudah dewasa. Lagi pula dia jago bela diri. Tidak mungkin akan celaka," ucap Max.


"Musibah tidak pandang bulu kalau kau lupa," ucap Gail.


"Ck. Aku dimintanya untuk memberikan ini. Dia bilang kau tahu siapa yang akan bisa memperbaiki chip ini," ucap Max. Pria itu menyodorkan sebuah chip pada Gail. Wanita itu tidak menerimanya karena masih sibuk dengan komputer miliknya.


Max berdiri di belakang wanita itu. Dia ingin tahu apa yang sedang dikerjakan oleh Gail. Ternyata isi komputer ini hanya sebuah coding. Entah apa artinya, Max tidak tahu. Mungkin Gail sedang menghubungi seseorang menggunakan bahasa coding.


"Menurut mu siapa yang melakukan ini?" Tanya Max.


"Mana aku tahu, kau pikir aku cenayang?" Tanya Gail balik.


"Dasar wanita tukang ngegas. Bisa tidak jika bicara dengan ku pakai nada yang lembut?" Tanya Max. Heran memang, selama ia mengenal Gail, tidak pernah satu kali pun dia mendengar nada halus dan lembut dari bibir wanita ini. Selalu saja dengan nada tinggi dan sedikit ngegas. Berbeda sekali ketika wanita ini berbicara dengan big boss, dia pasti akan terlihat biasa saja dalam mengeluarkan kata katanya.


"Kau lupa kalau aku seorang bodyguard?" Tanya Gail.


"Iya, iya. Kau memang mantan bodyguard," ucap Max mengalah.

__ADS_1


Ditengah pertengkaran Max dan Gail, Ailee pun datang menghampiri. Ailee tiba tiba merasakan suasana yang sedikit awkard alias canggung antara Gail dan Max. Apa yang telah terjadi?


"Tuan Alex mengirim coding untuk mu," ucap Gail. Wanita itu meminta Ailee mendekat untuk melihat email yang di berikan oleh big bossnya. Ailee menurut dan mendekat ke arah Gail.


Tanpa perlu meminta penerjemah, Ailee sudah tahu isi dari bahasa coding yang diberikan oleh papinya.


"Bang, security yang meninggal udah di urus?" Tanya Ailee.


"Sudah. Sepertinya polisi dan tim medis juga sudah selesai mengotopsi korban. Apa kamu mau ke rumah sakit?" Tanya Max.


Ailee menggelengkan kepalanya, "Aku ingin pergi ke rumahnya. Aku harus memberikan kompensasi."


"Abang sudah pergi ke rumah security tersebut dan sudah menjelaskan semuanya pada keluarga korban. Mereka mengerti dan sudah merelakannya. Abang mengatakan ini semua murni karena kecelakaan. Abanh juga sudah memberikan kompensasi, tapi mereka tidak menerimanya," jelas Max.


Beberapa jam setelah kejadian, Max langsung menemui anggota keluarga korban di rumahnya. Bahkan Max memberi mereka tumpangan menuju ke rumah sakit saat korban sedang melakukan otopsi. Max juga sudah memberikan sebuah cek berisi uang jutaan dolar untuk keluarganya, namun mereka menolaknya. Alasannya, karena ini semua kecelakaan murni bukan disengaja.


"Aku tetap harus menemui mereka. Aku adalah majikannya. Sudah seharusnya aku datang untuk mengucap bela sungkawa juga," ucap Ailee.


Ailee dan Gail pun mengikuti arah langkah kaki Max yang berjalan keluar ruangan office dari sirkuit ini.


Sementara itu di Indonesia, waktu sudah menunjukan siang hari. Kalingga baru bangun sebab semalam dia begadang cukup larut untuk menyelesaikan beberapa tugas yang diberikan papinya. Saking fokusnya bahkan Kalingga tidak menghubungi kekasihnya.


Kalingga menggeliat dan memeluk sebuah bantal guling yang selalu di semprotkan bau parfume milik Ailee. Kalingga memang sengaja menjiplak parfume milik kekasihnya untuk disemprotkan pada bantal guling ini.


"Bau parfume Ail," gumam Kalingga saat wajahnya tenggelam dalam bantal guling tersebut.


"Kangen pengen cuddle sambil main mainin tangan," gumamnya lagi.

__ADS_1


Tanpa sadar Kalingga terkekeh sendiri saat mengingat sifatnya yang berubah seratus delapan puluh derajat ketika menjalin asmara dengan Ailee. Kalingga yang dulunya stay cool dan sedikit bicara kini berubah ketika bersama dengan Ailee. Bahkan minusnya lagi Kalingga sangat mesum sekali dengan gadis itu. Ternyata gadis yang dulu sering ia bully bahkan sering ia sakiti dengan kata kata yang menusuk, kini malah menjadi kekasihnya dan malah merubah sikapnya.


Kalingga mengambil ponsel miliknya yang ada di nakas samping tempat tidur.


"Ternyata habis baterai," ucap Kalingga. Pria itu pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju meja belajar miliknya untuk mencarger ponselnya. Di meja tersebut, ada sebuah foto masa lalu. Fotonya dengan kedua saudaranya beserta Ailee. Foto itu diambil saat mereka masih sangat kecil, namun entah di usia berapa.


Kalingga menyimpan ponselnya yang sudah diisi daya sembari menghidupkannya. Lalu tangannya mengangkat frame foto tersebut. Senyum tipis tercipta di bibirnya. Rasanya cukup deja vu sekali melihat foto ini. Entah kapan foto ini ada disini, mungkin maminya yang sengaja menyimpannya.


"Lucu, kuncir dua," komentar Kalingga saat melihat foto tersebut. Namun komentarnya itu ditujukan pada Ailee, kekasihnya.


"Sabar ya sayang, satu jam lagi kita bertemu. Aku siap siap dulu," ucap Kalingga. Pria itu pun lantas bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum menemui sang kekasih di rumahnya.


Kalingga mandi dengan cepat, dia hanya menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk mandi dan bersiap siap. Kalingga hanya memakai kaos putih serta celana levis. Tidak memakai jaket, karena memang tidak dingin juga.


Kalingga mengecek ponselnya yang sudah hidup. Banyak sekali notifikasi yang masuk. Kalingga mengeceknya satu per satu. Namun tiba tiba pintu kamarnya diketuk.


"Masuk," ucap Kalingga, pria itu melihat maminya muncul dibalik pintu kamarnya.


"Waktunya makan kak, kamu belum makan dari semalam," ucap Ashel.


"Iya mami, kakak mau turun ke bawah," ucap Kalingga.


Ashel mengangguk, "Cepat ya."


"Iya mami," jawab Lingga.


Pria itu menarik kabel carger yang terhubung ke ponselnya dan bergegas turun untuk makan. Mungkin nanti di meja makan dia akan mengecek notifikasi yang masuk sembari menelepon kekasihnya.

__ADS_1


Tbc.


Hehe, gak up 2 hari soalnya males makin sepi😌


__ADS_2