
***
Kalingga menghela nafasnya saat tidak mendapatkan balasan pesan dari Ailee. Ia pagi pagi tadi sudah berangkat ke kantor papinya bersama dengan abangnya. Hari ini Kalingga memakai tampilan formal. Jas hitam senada dengan celana bahannya ditambah juga dengan kemeja putih.
Kalingga dan Kairav tidak terlihat seperti murid SMA, mereka saat ini terlihat seperti seorang bussiness man sama seperti papinya. Saat ini sudah masuk waktu istirahat namun Kalingga belum juga mendapatkan balasan pesan itu. Ia jadi uring uringan tidak jelas.
"Kamu ini kenapa kak?" Tanya Kavin.
"Biasa pi, gak ada kabar dari doinya jadi gitu," ucap Kairav.
"Diem lo bang," ucap Kalingga ketus.
Kavin menghela nafasnya, ternyata anaknya ini sudah bucin pada Ailee. Hanya tidak mendapatkan kabar selama beberapa jam saja anaknya ini sudah uring uringan tidak jelas.
Kavin pun menelepon Magi, menanyakan keadaan Ailee agar anaknya ini tenang dan fokus belajar. Magi menjawabnya dan memberitahunya.
"Kenapa gak tanya Magi?" Tanya Kavin.
"Magi bilang Ailee baik baik aja. Tapi Lingga gak percaya," ucap Kalingga.
Apakah ini yang dinamakan insting seorang kekasih? Magi memberitahu keadaan Ailee saat ini. Dan Magi mengatakan jika Kavin tidak boleh memberitahu keadaan Ailee pada Kalingga. Alasannya simpel saja, Ailee tidak mau Kalingga khawatir.
Kavin jadi bingung harus apa. Memberitahu atau tidak. Jika tidak kasihan anaknya, jika memberitahu anak ini pasti akan meminta pulang saat ini juga.
"Ya sudah kamu pulang saja, abang juga. Pelajari sisanya di rumah," putus Kavin.
"Loh, kok gitu pi?" Tanya Kairav.
"Makasih pi," ucap Kalingga. Pria itu langsung ngacir dari ruangan kerja papinya. Entah kenapa perasananya terus tidak tenang sebelum melihat wujud Ailee.
"Ya sudah kalo kamu gak mau pulang," ucap Kavin.
"Ya gak bisa, Kai mau ngebo sesorean. Bye papi," ucap Kairav. Pria itu juga langsung pergi menyusul adiknya. Sedangkan Kavin terheran. Sesorean? Benar juga sih, waktu sebentar lagi akan sore. Tapi kenapa harus bilang sesorean.
__ADS_1
Di lobby kantor Kavin, Kalingga di hadang Vanesha. Entah dari mana munculnya mahluk itu. Sudah tahu Kalingga sedang buru buru, ini malah di hentikan.
"Mau lo apa sih, minggir gak?!" Ucap Kalingga marah.
"Gak mau kak, aku kangen sama kamu. Kamu main pergi aja," ucap Vanesha.
"Gila," umpat Kalingga. Pria itu terus mundur saat Vanesha mendekat. Dia tidak mau menyentuh apalagi bersentuhan dengan gadis ini. Dia benar benar merasa jijik dengan Vanesha.
"Kamu kenapa mundur terus sih kak? Kamu jijik sama aku?" Tanya Vanesha.
"Iya. Puas? Minggir lo," ucap Kalingga. Namun bukannya menghindar Vanesha justru semakin maju dan malah memeluk Kalingga. Namun Kalingga dengan cepat menghindar dan langsung berlari. Di belakangnya juga ada Kairav yang ikut ikutan berlari. Dia tidak mau naik taksi, jadi dia akan menumpang di mobil jemputan.
Vanesha tentu saja mengejar Kalingga. Dia tidak mau ketinggalan jadi dia berlari sekaligus berteriak memanggil nama Kalingga. Sumpah demi apapun Kalingga benar benar malu sekali saat ini. Bagaimana tidak, namanya di teriaki seolah dia seperti maling.
"Jalan Jorse," ucap Kalingga saat dia sudah masuk ke dalam mobil.
"Tungguin gue anjir," ucap Kairav sembari masuk ke dalam mobil. Pria itu ngos ngosan. Jorse selaku supir keluarga Kavinder langsung melajukan mobilnya sesuai dengan perintah Kalingga.
“Tuh demit ngapain lagi astaga, gue yang lihatnya aja udah gedek. Gimana sama lo yang tiap ketemu di ganggu?” Tanya Kairav.
Kalingga menghela nafasnya. “Jangankan tiap ketemu bang, berapa kali gue ganti nomor aja dia tetep dapet. Gak tahu gimana caranya.”
“Emang gila ya tuh demit. Udah di tolak bukannya sadar diri malah makin menjadi,” ucap Kairav.
Iya, memang cinta boleh tapi tidak sampai banting harga diri seperti itu. Bahkan sampai saat ini Kalingga masih diam soal Vanesha yang selalu mengiriminya foto vulgar dirinya. Memang gila, rasanya Kalingga akan stress saja jika semuanya diambil pusing. Tapi untungnya dia sangat cuek terhadap hal itu. Bahkan nomor baru Vanesha selalu di blokir olehnya.
"Lo anterin dulu gue ke rumah Ailee. Baru lo pulang," ucap Kalingga.
"Ngokeh."
***
Sejak perutnya sakit akibat sedang datang bulan, Ailee benar benar tidak turun dari atas tempat tidur. Bahkan dari pagi dia juga baru makan sedikit. Lapar tentu saja, tapi dia tidak bisa makan lagi sebab perutnya terus terasa sakit.
__ADS_1
Perutnya terus ditempeli oleh kantong air hangat. Magi sejak tadi naik turun untuk mengganti air yang ada di dalam kantong itu. Bahkan dia sangat khawatir, sebab nonanya belum makan cukup banyak.
Ailee meringis kesakitan. Wajahnya pucat bahkan keringat terus menetes di pelipisnya. Dia terus bergerak mencari posisi nyaman. Namun posisi nyamannya hanya sebentar sebentar saja.
"Magi, lepas. Ailee gak mau di peluk," ucap Ailee pelan. Dia mencoba melepaskan tangan Magi yang ada di perutnya. Namun tangan itu tidak mau lepas dari sana. Ailee pun bergerak untuk melihat Magi. Entah kenapa Magi sangat menyebalkan, sudah tahu Ailee sedang kesakitan, seharusnya dia diam saja. Ailee tahu ini bentuk kasih sayang Magi untuknya. Tapi tidak sekarang, Ailee benar benar tidak mau di ganggu.
"Magi gak denger omongan Ailee ya? Lepas dulu, ini gak enak banget perutnya sumpah," ucap Ailee.
"Magi? Lo gak kenal cowok lo sendiri?"
Ailee seketika terdiam mendengarnya. Jadi dia bukan Magi tapi Kalingga?
"Lingga," ucap Ailee pelan. Gadis itu bergerak jadi berhadapan dengan Kalingga dan memeluk pria ini.
"Bukannya tadi gak mau di peluk?" Tanya Kalingga.
"Kalo sama kamu beda cerita," ucap Ailee.
"Gak usah so kuat, sini gue gantiin air di kantongnya. Udah gak anget ini," ucap Kalingga.
"Gak mau, cukup peluk aja. Ailee ngantuk tapi gak bisa tidur gara gara sakit perut," ucap Ailee.
"Beneran? Makanan aja gak lo makan tuh, cuma baru kemakan dikit. Buah sama susu juga," ucap Kalingga.
"Nanti kalo udah mendingan Ailee makan. Sekarang peluk Ailee, elusin punggung Ailee," ucap Ailee.
"Ya udah," putus Kalingga. Pria itu pun melakukan apa yang diinginkan gadisnya. Jadi ini alasan Ailee tidak membalas pesannya?
Mata Kalingga yang tadi terpejam kini terbuka saat tangannya merasakan sesuatu. Tanpa ijin atau bertanya, dia melepaskannya begitu saja.
"Squishy lo harus tumbuh dan berkembang. Gue gak suka yang kecil soalnya."
Tbc.
__ADS_1