Mengejar Cinta Mr. Ling

Mengejar Cinta Mr. Ling
233. Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya


__ADS_3

***


Tak lama setelah kepulangan Rafello dan Virendra, ternyata di hari yang sama hanya saja berbeda jam, Ayu dan Vanesha juga ikut menyusul hanya saja berbeda beberapa jam. Kedatangan Vanesha dan Ayu tentu saja atas undangan Sarah. Masalah yang terjadi bukanlah masalah yang bisa dianggap biasa saja. Jelas saja harus dibahas dan harus dirundingkan. Yang dirugikan bukan hanya Vanesha, namun Kalingga juga. Selain itu posisi Kalingga saat ini sudah memiliki kekasih, dan kejadian itu juga sepertinya tidak terjadi hanya satu atau dua kali saja. Maka dari itu Sarah sebagai orang tua disini meminta semuanya berkumpul di rumah besarnya ini.


Ayu dan Vanesha datang tanpa sambutan seperti biasanya. Namun baik Sarah atau pun Nata tetap memperlakukan mereka dengan baik. Sedangkan Ashel tidak datang menyambut. Wanita itu tidak berhenti muntah sejak kemarin. Tubuhnya lemas dan membutuhkan banyak istirahat.


"Ayu bagaimana kabar kamu?" Tanya Sarah basa basi. Disana hanya ada dia, Ayu, Vanesha, dan Nata. Tidak ada Faraz dan Praja, kedua laki laki itu berada di belakang rumah sedang bermain catur sedangkan Kavin menemani istrinya. Rafello sendiri sedang beristirahat.


"Baik ma. Hanya saja yang tidak baik anak ku, dia sama saja sudah di lecehkan oleh Kalingga," ucap Ayu.


Nata benar benar tidak suka mendengarnya. Namun dia harus menahan kekesalannya. Jangan sampai masalah baru datang dulu. Sebab masalah yang ini juga belum dirundingkan.


"Kak Lingga mana? Aku kangen sama dia," ucap Vanesha.


"Gak tahu diri," gumam Nata.


"Ada, semuanya sedang istirahat. Kalian juga istirahat dulu," ucap Sarah.


"Kenapa gak langsung dibahas aja sih oma? Suruh kak Lingga nikahin aku, dia udah tahu semua bentuk tubuh aku tanpa baj-,"


"Tahu diri dan jaga batasan. Jangan mentang mentang kamu selalu dimanjakan kamu juga bisa manja disini. Ikuti perintah oma mu atau keluar dari rumah ku," ucap Nata tak tertahan.


"Ma," peringat Sarah. Bukan apa apa, Nata memiliki riwayat penyakit jantung, jika dia memiliki emosi tinggi jelas saja akan memicu gerak cepat jantungnya.

__ADS_1


"Mama bener bener gak tahu lagi, urus ini semua Sarah," ucap Nata. Wanita parug baya itu pun pergi dari sana meninggalkan Vanesha dan Ayu yang sedang menatap jengah ke arahnya.


Lihatkan, orang yang dulunya terlihat baik belum tentu selamanya akan baik.


"Vanesha, selama ini oma selalu memperlakukan kamu sama dengan yang lain. Oma harap kamu bisa mendengar perintah oma, ini semua demi kebaikan kamu. Pergi ke kamar kamu dan istirahat," ucap Sarah.


"Ck. Bertele tele sekali, tinggal kumpulkan semuanya dan langsung ke intinya. Menikahkan aku dengan kak Lingga," ucap Vanesha.


Sarah menghela nafasnya. Dia harus sabar, dia tidak boleh terpancing emosi gara gara bocah ingusan ini.


"Vanesha dengar omongan saya?" Tanya Sarah.


"Ya," ucap Vanesha malas. Gadis itu pun pergi dari sana meninggalkan Ayu dan Sarah. Dia menuju ke kamar yang biasa ia tempati. Namun sepertinya lebih menarik jika dia pergi ke kamar Kalingga. Lebih baik sebab mereka akan segera dinikahkan juga kan?


"Ada apa? Saya bingung dengan pola didikan kamu pada anak kamu itu. Kenapa kamu terlihat gagal dalam mendidik Vanesha, sedangkan dalam mendidik Virendra kamu terlihat baik?" Tanya Sarah.


"Kamu sudah memiliki dua anak yang sudah remaja dan sebentar lagi akan dewasa. Artinya umur kamu juga tidak muda lagi, seharusnya kamu bisa berpikiran luas sebagai orang tua. Jadi orang tua yang baik setidaknya untuk anak anak kamu," ucap Sarah.


"Perasaan, aku gak salah dalam mendidik Vanesha. Dia seperti itu karena terus mendapatkan penolakan dari Kalingga. Seharusnya yang disalahkan itu Kalingga bukan Vanesha," ucap Ayu.


Sarah menggelengkan kepalanya tidak percaya. Sekarang dia yakin dan sangat percaya jika anak bungsunya menikahi wanita yang salah.


"Jika sudah ditolak seharusnya sadar diri dan menjauh. Bukan malah mendekat dan semakin menggila. Jangan sampai karena perbuatan anak kamu dan sikap kamu ini membuat kecanggungan antara saya dan anak bungsu saya," ucap Sarah.

__ADS_1


"Tapi dia sudah jadi suami aku ma. Dia milik aku," ucap Ayu.


Sarah terkekeh meremehkan dan menatap sinis ke arah Ayu. "Harusnya kamu tahu, setelah anak laki laki menikah dia tetap milik ibunya. Sampai dia mati. Kamu dan dia hanya berstatus dalam pernikahan dan menjadi suami istri. Lagi pula status pernikahan bisa putus kapan saja. Sedangkan hubungan anak dan ibu tidak akan pernah putus bahkan maut sekalipun yang memisahkannya."


Ayu tertegun mendengarnya. Dia menatap ke arah Sarah. Tersorot jelas jika ada raut kekecewaan disana. Namun...


"Awalnya saya ragu dan terus menekan pikiran jika anak saya telah salah menikahi wanita seperti mu. Tapi sekarang saya yakin jika anak bungsu saya benar benar telah salah menikahi wanita. Saya pikir kamu wanita baik sama seperti image yang kamu tampilkan saat pertama kali datang ke rumah ini. Tapi ternyata setelah menyandang status sebagai istri dari anak bungsu saya kamu benar benar menunjukan jati diri kamu yang sebenarnya," ucap Sarah.


"Ma, maksud mama ap-,"


"Saya tidak bermaksud apa apa. Tenang saja, yang salah disini bukan hanya kamu atau pun anak bungsu saya. Tapi saya juga. Anak bungsu saya telah salah memilih seorang istri dan ibu yang baik untuk anak anaknya dan saya telah salah merestui hubungan kalian berdua. Ingat baik baik, saya tidak pernah sekecewa ini dalam hidup saya," ucap Sarah. Wanita itu pun segera pergi dari sana meninggalkan Ayu dengan diamnya.


Ayu terdiam mendengar ucapan Sarah. Ucapan wanita itu cukup menohok dan sangat menyakitinya. Namun dia tidak bisa membela dirinya saat ini. Dia harus membantu anaknya dulu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya itu. Sebab Ayu sangat setuju dan sangat merestui hubungan anaknya dengan Kalingga. Tidak peduli dengan salahnya.


Vanesha dan Kalingga memang sodara sepupu. Namun tidak ada salahnya jika melawan kehendak dan takdir. Dia rela melakukan ini semua demi kebahagiaan anaknya.


Sementara itu Sarah, wanita itu langsung masuk ke dalam kamarnya. Disana ada suaminya. Dia benar benar tidak kuasa dengan masalah yang sedang menimpa keluarganya ini. Sebelumnya tidak pernah ada kejadian seperti ini.


"Menangislah, namun jangan menangis di depan orang lain apalagi Kavin dan Rafello," ucap Faraz.


"Aku hanya tidak percaya jika wanita yang menjadi istri dari anak bungsu ku seperti itu," ucap Sarah.


"Sifat manusia memang selalu berubah ubah."

__ADS_1


Tbc.


Huehueheuehe😀👍


__ADS_2