
✊️✊️😔
***
Meskipun kebahagiaan yang hinggap ke kehidupan Ailee selalu sekejap, setidaknya Ailee merasa bersyukur. Tuhan masih memberikannya secercah kebahagiaan di balik kesedihan yang selalu ia dapatkan beberapa hari terakhir. Bukan maksud Ailee tidak mau menerima kesedihan itu, hanya saja kenapa rasa sedih dan pikiran over selalu datang bersamaan. Mau tak mau Ailee selalu mencari cara untuk melupakan sedikit rasa sedih dan overthinking itu meskipun terkadang caranya dengan menyakiti dirinya sendiri.
Menjadi anak tunggal mengharuskan ia melakukan apa apa sendiri. Bahkan mungkin sejak bayi jika tidak ada Magi Ailee sudah pasti diberikan ke panti asuhan. Kejam memang, namun itulah pikiran Ailee sejak dulu.
Sejak ia mengenal Kalingga, rasanya ia menemukan sedikit kebahagiaan. Meskipun feedback yang diberikan oleh Kalingga tidak pernah baik, namun Ailee tidak pernah menanggapinya meskipun terkadang hatinya merasa sakit.
"Minum obat lo," ucap Kalingga.
"Iya. Makasih banyak ya Ling," ucap Ailee.
"Hm."
Ailee tersenyum mendengar tanggapan Kalingga. Ia pun meraih obat di samping meja tempat menyimpan makanan dan minuman untuk Ailee. Total obatnya ads empat. Entah obat apa saja ini.
"Obatnya segede gede gajah anjir," gumam Ailee. Ia sempat melirik Kalingga. Mata tajam pria itu serasa sedang memaksanya untuk cepat cepat meminum obat itu. Ailee pun dengan terpaksa meminumnya. Jika saja bukan Kalingga, mungkin Ailee akan menolaknya.
"Kenapa enggak keluarga lo yang jaga lo disini? Kenapa harus keluarga gue yang repot?" Tanya Kalingga saat Ailee sudah selesai meminum obat.
"Keluarga? Mereka mungkin kesini kalo sempet. Maaf kalo dengan Ailee kayak gini buat keluarga kamu repot. Tapi selain keluarga kamu, kayaknya gak ada yang peduli kayak gini. Aku iri sama kalian bertiga, tapi mau gimana lagi. Keluarga yang kamu maksud itu berbeda dengan keluarga aku Ling. Keluarga aku terlihat utuh, tapi enggak di dalamnya," ucap Ailee. Pandangannya menatap ke arah langit. Jika saja Ling bisa melihat mimik wajah Ailee dan maksud dari ucapannya, mungkin dia akan mengerti sebagaimana Ailee bertahan selama ini.
__ADS_1
"Makasih udah gendong aku ke kamar mandi sama suapin aku. Kamu bisa pulang sekarang Ling, bilang sama Kairav sama Rixel juga mereka gak perlu kesini, kayaknya mama sama papi mau kesini," sambung Ailee. Matanya menatap ke arah Kalingga yang sedang bersidekap dada menatap ke arahnya.
"Oke."
Tidak ada ucapan lain selain itu. Pria tinggi berwajah datar itu pun pergi dari ruangan Ailee meninggalkan gadis itu sendirian. Kairav dan Rixel sudah pulang sejak satu jam yang lalu.
Ailee menatap kepergian Kalingga. Sebenarnya ia ingin ditemani, namun mendengar ucapan Kalingga tadi membuatnya berpikir. Benar adanya, kehadirannya di keluarga Kalingga hanyalah beban.
Aille membalikan tubuhnya miring. Ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal yang sejak tadi ia pakai. Ailee menangis. Lagi dan lagi ia harus menangis dan menanggung bebannya sendirian. Rasanya Ailee ingin sekali mengatakan jika ia tidak kuat menjalani kehidupan ini. Tidak ada penyemangat selain dirinya sendiri. Jika ditanya kenapa Ailee masih bertahan sampai saat ini, jawabannya hanya satu. Ailee bertahan untuk dirinya sendiri dan mungkin untuk Kalingga.
Sementara diluar ruangan, Kalingga belum pulang. Ia memutuskan untuk tinggal satu malam disini. Kairav sudah mengiriminya pesan, mau tak mau Lingga disini, demi semua fasilitasnya agar tidak disita oleh papinya.
Kalingga menyandarkan kepalanya pada dinding yang berada di belakangnya. Ia memejamkan matanya dengan kedua tangan yang bersidekap di depan dadanya.
"Uncle, Lingga lagi jaga Ailee disini," ucap Ling.
"Kenapa gak di dalem? Kan disana ada sofa. Kalo pun mau kami bisa tidur di brankar bareng Ailee. Brankarnya kan besar," ucap Ardian.
"Gak sudi. Mendingan Lingga tidur disini aja. Kalo aja papi gak ngancam mau sita fasilitas Ling, mungkin Ling enggak mau jagain dia disini. Udah beban ngerepotin lagi," ucap Kalingga membuat Ardian terkekeh.
"Kalo benci sama seseorang, jangan terlalu benci. Kalo nanti berubah jadi cinta gimana? Kamu tahu sendiri kan kisah Rafello sama Ayu. Itu nyata Ling, uncle hanya memperingatkan kamu saja," ucap Ardian membuat Lingga terdiam.
"Kalo gitu uncle pulang dulu," sambungnya.
__ADS_1
"Hati hati uncle," ucap Lingga. Ardian hanya mengangguk sekilas saja.
Sepeninggal Ardian, Lingga tidak bisa tidur dengan posisi seperti ini. Dengan terpaksa ia pun masuk ke dalam ruang rawat Ailee dan masuk ke ruangan lain yang terdapat kasur untuk tidur. Ruangan ini memang diperuntunkan untuk keluarga yang menginap atau berjaga.
***
Sayup sayup Ling mendengar ada pembicaraan dari beberapa orang. Entah dimana, apa mungkin hanya perasaannya? Ling mencoba kembali tidur lagi namun tidak bisa. Percakapan itu semakin mengganggunya. Dengan kesal ia pun membuka matanya. Ia melirik jam yang melingkar di tangannya, baru pukul tiga dini hari.
Ling pun bangun dari tidurnya dan berjalan keluar untuk mengeceknya. Namun gerakan tangannya terhenti di gagang pintu saat mendengar percakapan cukup keras dari luar ruangan ini.
"Papi tahu kamu kecewa sama papi, tapi ini demi kebaikan kamu. Ikut pindah ke Jerman bersama papi agar papi bisa selalu melihat kamu," ucap Alex.
"Mama juga setuju sayang, malam ini kita berangkat," ucap Cya.
"Apa kalian bisa menjamin jika di Jerman kalian tidak akan telat pulang kerja bahkan memutuskan untuk tidak pulang ke rumah? Jika sama akan seperti itu apa bedanya?" Ucap Ailee.
Ailee yang baru akan tertidur lagi terganggu akibat ulah kedua orang tuanya yang tiba tiba datang dan memaksanya pergi ke Jerman saat ini juga.
"Kami bekerja untuk kamu Ailee, cobalah mengerti," ucap Alex.
"Jadi selama delapan belas tahun ini Ailee kurang ngertiin kalian? Bukannya sebaliknya? Ternyata apa yang Ailee pikirkan selama ini benar adanya, kalian memang tidak pernah menyayangi Ailee. Dimana kalian saat Ailee butuh? Gak ada, alasannya simpel namun memuakan. Sibuk bekerja, meeting penting, perjalanan bisnis dan masih banyak lagi," ucap Ailee membuat kedua orang tuanya bungkam.
"Janji papi dan mama akan pulang saat Ailee naik kelas atau kelulusan. Tapi buktinya mana? Bahkan hanya Magi yang selalu datang atau orang suruhan papi yang datang. Udah cukup pi, ma, selama ini Ailee selalu percaya dengan kalian. Tapi dengan kejadian ini, kalian memaksa Ailee pergi sama sekali membuat Ailee kecewa dengan kalian. Jika kalian ingin pergi silahkan, lagi pula Ailee bisa jaga diri Ailee sendiri tanpa kalian. Masih ada yang peduli sama Ailee. Entah itu keluarga om Kavin atau pun Magi. Kehadiran kalian bahkan tidak pernah Ailee nantikan."
__ADS_1
Tbc.