Mengejar Cinta Mr. Ling

Mengejar Cinta Mr. Ling
128. Klaim Lagi


__ADS_3

***


Sejak ditarik Kalingga tadi, Ailee hanya diam saja dalam pelukan pria itu. Ia tidak munafik jika dia memang menikmati pelukan itu. Apalagi dia dipeluk oleh orang yang dia suka, jelas saja dia tidak menolak. Sebelumnya memang iya, Ailee menolaknya. Selain jual mahal dan jaga image, dia juga terpaksa menolak karena sudah sakit hati dengan sikap Kalingga sebelumnya. Ailee paling tidak suka jika Kalingga sudah membahas hal hal yang sangat sensitif. Sedangkan Kalingga sejak kemarinterus membahas hal hal yang sensitif. Ailee benar benar tidak suka.


Ailee membalikan tubuhnya jadi terlentang setelah dia tiduran dengan posisi membelakangi Kalingga. Ia menatap langit langit kamar apartement Kalingga, entah kenapa pikirannya kembali bimbang antara masuk ke Harvard atau universitas lain. Jangan salahkan dia yang bimbang, salahkan Kalingga yang terus tarik ulur padanya. Ailee jadi kebingungan sendiri karena pria ini.


Ailee menolehkan kepalanya ke arah samping, dia menatap Kalingga yang sudah kembali tertidur lelap.


“Ayang,” panggil Ailee.


“Ayang.”


“Ayang Lingga.”


Masih tidak ada jawaban dari Kalingga, sepertinya pria itu sudah kembali tertidur lelap. Ailee menghela nafasnya, dia masih belum mendapatkan ponselnya. Dia bisa mati kebosanan jika terus seperti ini. Ailee pun mengfelus pelan pipi Kalingga, berharap pria itu terusik dan bangun. Namun bukannya bangun pria itu malah mengeratkan pelukannya.


Ailee benar benar pusing sekali dengan tingkah random Kalingga setiap harinya. Bisa bisanya dia menyukai pria ini. Ailee masih tidak habis pikir kenapa ada spesies manusia seperti ini. Sialnya dia mencintai pria dengan spesies aneh ini.


Ailee kembali bergerak agar pelukan itu sedikit melonggar, namun bukannya melonggar justru Kalingga semakin menjadi jadi. Dia bahkan meringkus Ailee dengan kedua tangan dan kedua kakinya. Ailee terlihat seperti gulingnya saja.


“Lingga lepas. Ailee gak bisa nafas,” ucap Ailee.


“Gak mau. Nyaman gini soalnya,” gumam Kalingga.


“Iya kamu nyaman, tapi enggak dengan Ailee. Ailee susah gerak belum lagi nafas jadi sesek gini. Ailee bukan guling kamu,” ucap Ailee.

__ADS_1


“Gue melakukan apa yang gue suka,” ucap Kalingga.


“Ya enggak bisa gitu lah, lepasin gak?” ucap Ailee galak. Namun Kalingga terus memeluknya sekuat yang ia bisa. Bahkan ia bisa menahan berontakan Ailee karena kedua tangan dan kakintya mengunci pergerakan Ailee. Sungguh menyenangkan bisa menggoda sekaligus mengganggu Ailee.


Mungkin ke depannya setiap weekend dia akan memaksa Ailee lagi untuk ikut bersamanya ke apartementnya. Tetapi mami dan papinya pasti akan kembali menyidangnya. Kalingga harus kembali memikirkan alasan yang pas agar kedua orang tuanya percaya padanya dan tidak membatasi kemauannya dekat dengan Ailee.


"Ling, seenggaknya kasih ponsel Ailee. Ailee harus hubungin temen Ailee. Kasihan loh dia dari semalem dia nungguin Ailee. Ailee bahkan gak ada kasih kabar ke dia," ucap Ailee.


"Lo lebih mentingin temen lo itu?" Tanya Ling.


"Kan kamu temen aku juga. Bayangin kalo kamu yang aku gituin. Emang mau?" Tanya Ailee.


"Lo bukan temen gue, lo milik gue," ucap Kalingga.


"Dih, klaim lagi. Mana ih ponsel Ailee," ucap Ailee. Tentu saja dia harus menghubungi Rici, kasihan anak itu pasti menunggu kabarnya. Bodohnya Ailee tidak langsung bertanya tentang hal itu. Jika saja sudah bertanya mungkin hal ini tidak akan membuat Rici menunggu. Tapi masih untungnya yang mendapat Rici bukan William, jika saja yang mendapatkan kabar itu William, sudah pasti Ailee akan kesusahan. Pria itu sangat pandai memanfaatkan keadaan.


"Kamu nyaman, Ailee enggak. Pegel tahu dari semalem gak kamu lepasin. Ailee manusia bukan guling," ucap Ailee.


Kalingga mendengus kesal lalu melepaskan Ailee dan bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah depan ranjang, disana ada sebuah meja tv dan dibawahnya ada beberapa laci. Kalingga menarik satu laci itu dan ternyata dia mengeluarkan ponsel Ailee. Kalingga melemparnya ke aras kasur kemudian pergi dari sana menuju ke kamar mandi.


"Cih, ngambekan. Dasar cowok," ucap Ailee. Ia mengambil ponselnya dan langsung membukanya. Benar dugaannya, ada banyak pesan masuk. Paling banyak di pesan grup anak inti SBA.


Disana mereka membahas soal Albert yang kembali ke arena semalam. Albert bahkan meminta bertemu dengan Ailee. Namun di dalam chat itu, Rici tidak mengatakan apapun. Apa pria itu menutupi hal itu?


"Gue telepon Ici aja kali ya? Takutnya emang penting," gumam Ailee. Gadis itu pun beranjak dari dalam kamar menuju ke balkon kamar apartement. Disana dia langsung mendial nomor Rici.

__ADS_1


Cukup lama menunggu sepertinya memang Rici masih tidur. Apa semua pria di dunia ini akan kebo seperti itu? Padahal ini sudah siang tapi rata rata dari mereka pasti ada saja yang masih tertidur.


"Lama banget lo Ci," semprot Ailee saat telepon sudah terhubung.


"Hoammm. Sorry Ail, gue semalem nemenin bang Max di sirkuit. Sama William Willem juga, kita bertiga belum tidur sama sekali," ucap Rici.


"Emangnya ada apa?" Tanya Ailee keheranan. Biasanya mereka tidak akan begadang jika tidak bermain game. Bahkan sirkuit sudah dijaga juga. Lalu kemapa mereka harus menemani bang Max? Sepertinya sudah terjadi sesuatu.


"Albert adu jotos sama Fade. Sialnya mereka pake sirkuit lo. Alhasil kita semua harus begadang karena banyak kerusakan juga," ucap Rici.


"Tunggu dulu, kenapa bisa? Gue masih belum ngerti," ucap Ailee.


"Albert datang karena hasutan seseorang, entah siapa dia. Dia bilang dia kesini karena suruhan lo, lo bilang Fade mau jahatin lo ke Albert. Makanya Albert dateng kesini, sedangkan Fade enggak merasa akan melakukan hal yang dibilang Albert. Justru Fade datang karena hal sebaliknya ke Albert. Dia datang karena ada chat yang mengatas nama kan lo kalo lo bakalan dijahatin Albert," jelas Rici.


"Apa?!" Tanya Ailee syok.


"Semalam bahkan gue gak pegang ponsel sama sekali. Bentar gue cek isi chat gue," ucap Ailee. Ia tidak mematikan teleponnya, sengaja agar bisa kembali cepat berbicara dengan Rici.


Di dalam pesan whatsappnya, tidak ada sama sekali riwayat apapun. Dan dia baru ingat jika dia tidak memiliki nomor Albert dan Fade.


"Ci, coba lo tanyain nanti sama Albert sama Fade nomornya. Minta sekalian langsung kasih tahu gue nanti. Gue ke sirkuit sekarang buat lihat kekacauannya. Kalo sampe papi tahu, bisa berabe," ucap Ailee.


"Telat ***! Semalem bokap lo kesini. Tapi kelihatannya dia biasa aja pas bang Max jelasin ini semua. Justru dia bilang mau temuin lo sekarang," ucap Rici.


Ailee terdiam. Berarti papinya sudah ada di mansion?!

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2