Mengejar Cinta Mr. Ling

Mengejar Cinta Mr. Ling
270. Gedung Otomotif


__ADS_3

***


Antara marah dan kesal, namun Ailee tidak bisa apa apa lagi selain menerima semuanya saat ini. Perjalanan dari Indonesia menuju ke Boston cukup singkat sebab Ailee menggunakan jet pribadi. Setelah sampai disana pun, Ailee tidak langsung istirahat. Gadis itu langsung menuju ke sirkuit miliknya saat sudah sampai di bandara.


Ailee menatap ke arah gedung samping yang ada di depannya. Gedung itu dibangun untuk menyimpan semua alat otomotif yang ia akan butuhkan. Bahkan disana juga ladang uang. Sebab gedung itu dijadikan tempat untuk memodif dan dijadikan bengkel untuk motor motor yang sering balapan di sirkuit miliknya.


Awalnya pembangunan itu hanya diperuntukan untuk Ailee seorang. Namun semakin kesini, sirkuit semakin ramai dan motor yang harus diperbaiki juga semakin banyak. Wajar saja jika harus bolak balik ke bengkel disana, sebab tidak jarang motor yang digunakan balapan pasti akan ada yang kurang. Entah kurang nyaman digunakan dan yang lainnya.


Namun kini gedung itu sudah hancur dalam waktu semalam. Semua barang otomotif maal yang disimpan disana tidak ada satu pun yang tersisa. Jelas saja Ailee akan rugi besar. Kalian tahu sendiri lah harga sebuah helm bermerek saja hampir erapa digit angkanya. Dan seagian besar helm yang dipajang disana untuk dijual benar benar sudah hancur berkepinng. Tidak ada satu barang pun yang bisa diselamatkan. Selain kehilangan banyak barang berharga yang mahal, Ailee juga kehilangan satu orang security.


"Maaf."


Tanpa Ailee menoleh pun dia sudah tahu itu siapa. Ailee tidak menoleh bukan karena marah, namun ia hanya syok dan sedidkit marah dengan ini semua. Entah appa yang terjadi disini. Padahal banya yang berjaga.


"Abang gak salah, buat apa minta maaf," ucap Ailee.


"Ini semua karena kelalaian abang. Harusnya abang semalam gak pergi," ucap Max.


"Semua ini memang udah seharusnya terjadi bang. Tanpa abang stay atau pun pergi pun, kejadian ini semua memang sudah harus terjadi. Mungkin memang sudah seharusnya juga. Gak ada yang tahu kita semua akan kecelakaan malma tadi," ucap Ailee.


Max menghela nafasnya. Dia adalah penanggung jawab atas bangunan ini dan seisinya. Namun saat kejadian dia malah tidak ada di tempat. Jelas saja Max merasa gagal menjadi penanggung jawab apalagi satu nyawa harus hilang karena kejadian ini semua.


"Bagaimana kronologinya?" Tanya Ailee.


"Cctv tidak menunjukan kejadian janggal apapun. Semalam saat security sedang berpatroli, tiba tiba terjadi ledakan dengan posisinya sangat dekat dengan bangunan ini. Dia tidak bisa melarikan diri karena reruntuhan bangunan ini langsung menimpa tubuhnya. Bahkan cctv yang berada di dalam ruangan pun sudah hancur," jelas Max.


"Memangnya chip yang disimpan di cctv tidak bisa diselamatkan? Setahu ku, chip itu tidak akan rusak meskipun tertimpa reruntuhan," ucap Ailee.


"Itu anehnya. Chip itu tidak bisa dibuka, file di dalamnya sudah rusak," ucap Max.

__ADS_1


Ailee mengernyit mendengarnya. Bagaimana bisa sebuah chip rusak? Jika memang iya seharusnya itu rusak karena virus yang sengaja disebar pada chip itu. Apa mungkin iya?


"Ini chipnya," ucap Max. Pria itu memberikan sebuah chip kecil berwarna hitam pada Ailee. Ailee menerimanya dan menatap chip itu. Hanya chip ini harapannya. Harapan untuk mengetahui kronologi sebenarnya.


"Apa tidak ada kejanggalan lainnya?" Tanya Ailee.


"Ada, setelah di interogasi para bodyguard, mereka menemukan kaleng kaleng oli yang sudah terbuka. Bahkan kaleng lem khusus yang sering digunakan untuk mengkilapkan ban juga terbuka. Lem itu mudah terbakar," ucap Max.


Ailee menatap ke arah Max, pria itu mengangguk. Pikiran Ailee dan Max sama. Sama sama mengarah pada satu kemungkinan.


"Aku ingin mencari sesuatu di reruntuhan bangunan ini," ucap Ailee.


"No, Ail. Semuanya sudah di sisir dengan rapi, tidak ada kejanggalan lain selain yang aku katakan tadi," ucap Max.


"Abang udah masuk ke area reruntuhan?" Tanya Ailee.


Max mengangguk, "Sudah. Abang tidak menemukan apapun."


"Iya."


"Aku tidak percaya jika bukan aku yang kesana. Aku akana tetap masuk," ucap Ailee. Gadis itu memasukan chip di tangannya pada saku jaket hoodienya lalu berjalan meninggalkan Max. Max tentu saja tidak tinggal diam. Pria itu ikut masuk lagi ke dalam reruntuhan bangunan itu. Bagaimana pun dia tidak akan membahayakan majikannya.


"Richi dan William serta Willem sedang mencari bukti lain di sekitaran jalan menuju ke sirkuit. Mereka sedang mencari cctv yang ada di jalanan. Semoga saja kita menemukan sedikit titik terang dari sana," ucap Max. Ailee hanya mengangguk sekilas.


"Menurut mu, apa ini semua perbuatan musuh bisnis tuan Alex?" Tanya Max.


Ailee menggelengkan kepalanya. "Jika pun iya, yang ia hancurkan bukan gedung otomotif ini tapi gedung berkas milik papi. Aku hanya berspekulasi, ini ulah orang yang sama."


"Orang yang sama?" Tanya Max.

__ADS_1


Ailee menghentikan langkahnya. "Iya," jawabnya.


Mata Ailee menyusuri area gedung miliknya yang sudah tidak seperti dulu lagi. Gedung ini benar benar sudah rata dengan tanah. Bahkan tidak ada satu pun barang otomotif yang bisa diselamatkan. Semuanya sudah cacat dan banyak yang hancur.


"Apa ada kerusakan selain gedung ini?" Tanya Ailee.


"Tidak ada. Mereka hanya meruntuhkan gedung otomotif saja. Mungkin karena disini banyak barang berharga dengan nilai jual tinggi," ucap Max.


"Benar," ucap Ailee.


"Benar apanya?" Tanya Max.


Ailee menunjuk ke arah reruntuhan di depannya menggunakan kepalanya, "Abang ingat di depan kita ini apa? Ini adalah lemari tempat penyimpanan helm helm bermerk dengan visornya juga. Tapi disini tidak ada helm dan visor yang kita simpan waktu itu."


"Benar juga. Kenapa aku tidak menyadarinya," ucap Max. Pria itu berjalan lebih dulu sembari membuka sedikit jalan. Reruntuhan ini memang cukup menyulitkan untuk dilewati. Bahkan Ailee harus sangat berhati hati, takutnya ada sesuatu yang akan menancap di kakinya. Untungnya dia memakai sepatu boots.


"Lihat, bahkan body dan spare part motor gede juga hilang. Jika memang terkena reruntuhan, kita harus melihat bangkainya. Tapi, tidak ada," ucap Ailee.


"Aku benar benar bodoh karena terkejut. Aku akan melaporkan ini pada Gail, hati hati disini," ucap Max.


"Bawa chip ini, Gail tahu siapa yang akan bisa membuka isinya," ucap Ailee.


Max menerima chip itu dan membawanya pergi. "Hati hati, jangan sampai terluka. Aku tidak mau lagi mendengar ceramahan Alvaro."


"Ya."


Ailee ditinggalkan oleh Max, namun dua bodyguard datang untuk menjaganya. Ini semua karena perintah Max. Sebenarnya bukan karena dia tidak mau mendengarkan ceramahan Alvaro yang memarahinya karena tidak becus menjaga Ailee. Namun karena dia juga tidak rela melihat Ailee terluka.


"Apa ini?" Gumam Ailee.

__ADS_1


Tbc.


Aile rugi bandar😔✋️


__ADS_2