
ramein weeeee
***
Setelah sampai di kediaman kakeknya, Ailee langsung pamit ke kamarnya untuk mandi dan bersih bersih. Tubuhnya benar benar lengket dengan keringat yang sejak beberapa jam yang lalu keluar. Ingat, tadi Ailee berlarian cukup jauh. Bahkan kakinya sampai lecet. Untungnya setelah diberikan obat oleh Kalingga, kakinya tidak begitu sakit. Masih, namun tidak sesakit tadi.
Ailee berendam di bathup cukup lama. Mungkin karena segarnya air dingin yang menerpa kulitnya. Biasanya jika di Boston, dia tidak pernah mandi dengan air sesegar ini. Sebab air mandi di rumahnya pasti selalu setengah hangat. Tidak dingin juga tidak panas. Aneh memang, tapi biasanya air disana memang seperti itu.
Selesai berendam Ailee langsung memakai pakaian tidur. Ia cukup buru buru ketika memakai pakaian, bahkan Ailee tidak memakai skin care seperti biasanya, alasannya karena dia lapar. Ia belum makan lagi sejak tadi siang. Seharusnya Ailee kenyang dengan drama yang ia hadapi hari ini. Namun entahlah, perutnya sepertinya masih membutuhkan makanan pokok. Ailee pun turun ke lantai bawah, sepertinya semua keluarganya juga sedang menunggunya untuk makan malam bersama.
Benar dugaannya, semuanya sudah berkumpul di meja makan. Disana juga ada Alvaro. Pria itu benar benar bermalam di rumah kakeknya. Tumben sekali, biasanya Alvaro akan menolak dan memilih tinggal di apartementnya. Iya, dia memiliki apartement. Bahkan dia juga mampu membeli perumahan elite yang ada di Jaksel, jika ia mau. Alvaro pengusaha, perusahaannya sedang maju majunya saat ini. Jadi jangan tanya setiap detik berapa penghasilan pria itu. Bahkan hanya rebahan seharian pun, uang akan tetap masuk ke dalam rekeningnya. Nominalnya juga bukan rupiah, tapi dollar.
"Malam semua," sapa Ailee. Gadis itu mengambil duduk di kursi yang biasanya dipakai olehnya ketika berada disini.
"Malam sayang," sapa Alex dan Cya.
"Malam cucu grand," ucap Atma.
"Malam dek," ucap Alvaro.
Ailee tersenyum. Kapan terakhir kali dia berada di posisi seperti ini? Rasanya sudah lama sekali. Semuanya berkumpul lengkap disini. Bahkan ada tambahan Alvaro, abang sepupunya. Rasanya dia sangat bahagia sekali.
__ADS_1
Meskipun ini hanya hal kecil, namun hal sekecil inilah yang selalu ia mimpikan sejak dulu. Kalian ingat, dulu Ailee selalu makan seorang diri di meja makan besar yang ada di rumahnya di Boston. Bahkan tak jarang juga Ailee selalu memilih untuk makan di kamarnya.
"Melamun?" Tanya Atma.
Ailee tersadar dan menggelengkan kepalanya, "Tidak grand. Brix tidak melamun, hanya terdiam sebentar saja."
"Apa karena makan malam bersama seperti ini?" Tanya Atma.
"Maybe," jawab Ailee.
"Santai saja, grand juga selalu sendiri. Grand bahkan merasa deja vu saat ini. Tempat yang kamu duduki adalah tempat favorit grandma," ucap Atma tersenyum.
"Grand kesepian ya setelah grandma tidak ada?" Tanya Ailee.
"Apa Brix ambil kuliah disini saja untuk menemani grand juga?" Tanya Ailee.
"Tentukan impian mu sayang. Grand sudah terbiasa dengan kesendirian grand. Lagi pula, grand ingin kamu memilih kemauan kamu sendiri tanpa adanya paksaan dari pihak lain termasuk kedua orang tua kamu. Selama ini grand tahu hidup kamu seperti apa. Makanya grand ingin, kamu benar benar menikmati hidup kamu. Sesuai dengan apa yang kamu inginkan," ucap Atma.
Alex, Cya juga Alvaro hanya terdiam saja. Alvaro terdiam karena tidak paham dengan topik yang dibicarakan. Sedangkan Alex dan Cya terdiam karena mereka tertampar dengan ucapan Atma. Meskipun Atma tidak terang terangan mengatakan hal itu, namun keduanya merasa jika itu adalah ucapan untuk mereka berdua.
Sudah mereka akui, jika mereka kurang memperhatikan anak semata wayang mereka sejak kecil. Bahkan mereka melewatkan masa pertumbuhannya. Semua itu tidak pernah bisa terulang lagi. Mereka hanya bisa menyesalinya dengan cara menebus semua kesalahannya saat ini. Yaitu dengan meluangkan waktu mereka untuk anak mereka. Namun sayangnya, saat mereka akan meluangkan waktu mereka untuk Ailee, anaknya. Ailee justru akan segera lulus. Yang artinya anak ini akan segera masuk ke dunia perkuliahan. Dan lagi, Ailee masih belum menentukan kemana dia akan melanjutkan pendidikannya. Cya dan Alex berharap jika Ailee akan berkuliah di sekitaran Boston saja.
__ADS_1
"Brix sudah tahu apa keinginan Brixy," ucap Ailee.
"Lalu jika kamu berkuliah disini, apa kamu sanggup menjalani hubungan jarak jauh dengan Kalingga?" Tanya Atma.
"Hal itu masih kami bicarakan grand. Meskipun Brix dan Kalingga masih berstatus sebagai pacaran, tapi kami akan tetap merundingkannya dulu. Apalagi hubungan ini sudah diketahui keluarganya, Brix gak mau sampai membuat tante Ashel kecewa," ucap Ailee.
"Kamu menyayangi Ashel?" Tanya Atma.
"Sangat. Tante Ashel sudah seperti nyawa kedua untuk Brixy. Tapi Brixy juga tetap menyayangi mama kandung Brixy," ucap Ailee tersenyum ke arah mamanya. Cya juga ikutan tersenyum.
"Apapun pilihan kamu, tentukan saja. Nanti grand yang akan mengikuti kamu. Entah Boston, Indonesia atau negara mana pun itu, grand yang akan ikut kamu. Grand sudah tua, grand ingin menghabiskan waktu tua grand dengan kamu," ucap Atma.
"Lalu, bagaimana dengan grandma?" Tanya Ailee. Setahunya, kakeknya ini tidak pernah mau meninggalkan Indonesia karena mendiang sang nenek di kuburkan disini. Hampir setiap hari juga Atma akan mengunjungi makam Rozz. Itu alasannya selama ini kenapa kakeknya tidak bersamanya di Boston. Selain itu juga kakeknya memiliki bisnis disini.
"Akan Brixy pikirkan nanti. Lagi pula liburan baru saja dimulai," ucap Ailee.
Atma hanya mengangguk sebagai jawabannya. Semua keluarga pun melanjutkan makan malam mereka. Disini yang menjadi penyimak adalah kedua orang tuanya beserta Alvaro. Semoga saja setelah mendengar ucapan kakeknya, kedua orang tuanya ini akan mulai berubah dan tidak perlu terlalu memikirkan bisnis.
Yang Ailee khawatirkan bukanlah perusahaannya, namun kesehatan kedua orang tuanya. Bagaimana pun bekerja di perusahaan dan membangun bisnis sebesar ini tentu saja akan ada hal besar yang dikorbankan. Contohnya waktu istirahatnya yang kurang. Ailee tentu saja dapat melihat guratan hitam di kelopak kedua mata orang tuanya.
Ailee bukan egois karena waktunya yang tidak diberikan oleh kedua orang tuanya. Waktunya untuk bersama dan menghabiskan akhir pekan bersama. Namun Ailee egois demi kesehatan kedua orang tuanya. Ditinggal pergi oleh neneknya sudah cukup membuatnya terpukul berat. Butuh waktu untuk berdamai dengan waktu. Ailee tidak bisa membayangkan jika nanti kedua orang tuanya dipanggil oleh pencipta. Dengan lantang dia akan berteriak jika dia tidak siap. Sangat tidak siap.
__ADS_1
Makanya sejak hari ini dan seterusnya, Ailee akan mencoba untuk membuat kedua orang tuanya mengerti manage waktu.
Tbc.