
***
Missed call from Mrs. Alister
Missed call from Mrs. Alister
Missed call from Mrs. Alister
Missed call from Mrs. Alister
Missed call from Mrs. Alister
Mrs. Alister
Mr. Ling, aku pergi sebentar ke Boston hari ini. Ada urusan mendadak, gak lama kok. Aku pasti cepet pulang. Jangan susul aku, kamu masih punya tanggung jawab dari om Kavin. Jangan kecewain dia. Maaf gak pamit langsung, jangan marah. Aku sayang kamu :*
Missed call from Mrs. Alister
Kalingga terus mengumpat saat ia melihat banyak panggilan yang masuk dari kekasihnya. Bukan hanya satu tapi banyak. Apalagi pesan yang dikirimkan oleh gadis itu. Umpatan Kalingga di dalam hati terus menjadi jadi. Sial sekali, seharusnya semalam dia mengecek ponselnya sebelum ponselnya ini mati karena kehabisan daya. Dan sekarang, dia malah ditinggal pergi kekasihnya.
"Lingga, kenapa?" Tanya Kavin.
Kalingga menaikan wajahnya, "Pi, Lingga boleh ke Boston gak?"
Bukan hanya Kavin, anggota keluarga yang lain juga langsung mengalihkan atensinya ke arah Kalingga.
"Lo mau ngapain kesana? Kan kita lagi liburan," ucap Kairav.
"Doi-nya pergi kesana tadi malem," ucap Briella.
"Ail hubungin lo dek?" Tanya Kalingga.
__ADS_1
Briella menganggukan kepalanya, "Dia telepon Bri semalam. Katanya kakak gak angkat telpon dari dia, terus tiba tiba gak bisa di hubungi. Ailee titip pesan, kakak jangan susul dia kesana. Ailee gak lama disana. Ada urusan mendadak, tapi gak tahu apa Ailee gak cepuin ke Briella. Kayaknya sih, urusannya emang sepenting itu," jelasnya.
"Wajar saja, dia anak tunggal. Sudah pasti semua aset dan kekayaan apalagi perusahaan akan dia urus sendiri," ucap Kavin.
"Maksud papi?" Tanya Kalingga tak paham.
"Ya elah kak, dia bakalan sama kayak lo kali. Kalian berasal dari dua keluarga yang sama. Sama sama punya tanggung jawab di perusahaan. Kita masih mending bertiga, bisa bagi tugas buat urus perusahaan nantinya. Lah Ailee, dia cuma seorang diri aja. Gak ada kakak apalagi adik," ucap Briella.
"Bener juga. Dia anak tunggal kan?" Tanya Kairav.
Briella menganggukan kepalanya, "Jangan marahin Ailee nanti kak. Selama ini sebenarnya Ailee sudah sering keluar masuk kantor papinya. Selain itu juga dia udah diberi amanah buat urus perusahaan cabang, ya meskipun masih dibawah naungan papinya. Cuma ya Ailee gak intens masuk kantor. Dia cuma kerjain sisanya aja."
Kalingga menghela nafasnya setelah mendengar ucapan adiknya. Jadi selama ini Ailee sudah membohonginya? Tapi kenapa? Kenapa tidak jujur saja soal itu?
"Kak, jangan marahin dia. Awas aja kalo marahin dia, Bri sebenarnya udah di suruh gak buka mulut soal ini. Dia bilang dia sendiri yang akan bilang sama kakak. Tapi beberapa waktu ini kalian berdua sibuk dengan urusan kalian. Kalo ada waktu buat barengan pun, kayaknya Ailee segan buat bahas. Ailee itu orang yang sangat pengertian, dia tahu kakak capek makanya dia gak nambahin beban sama kakak," ucap Briella panjang lebar. Dia memang sudah mengetahui hal ini sejak lama.
Waktu itu, dia tidak sengaja melihat beberapa berkas di meja belajar Ailee. Dan di dalam berkas itu juga terdapat tanda tangan Ailee. Tanpa bertanya pun Briella sudah yakin dan pasti jika Ailee memang bekerja di perusahaan papinya.
"Anjir, omongan lo," ucap Kairav tertawa. Baru kali ini adik bungsunya ini menyerang kakaknya dengan kata katanya. Lumayan, tontonan yang jarang sekali dia dapatkan.
"Pi, boleh ya ke Boston?" Tanya Kalingga.
Kavin menggelengkan kepalanya, "Jangan gegabah. Ailee udah bilang kan jangan susul dia? Lagian besok kamu harus ke kantor bareng Kairav. Kalian harus ikut rapat juga sekalian tambah ilmu. Kamu sudah janji bukan, dalam waktu libur panjang ini, setengah waktunya akan kamu gunakan untuk belajar di perusahaan?" Tanya Kavin.
"Sudah, sudah. Makan dulu, nanti lagi bahas pekerjaannya," ucap Ashel menengahi.
"Pi," panggil Kalingga.
Kavin tersenyum tipis, "Ailee udah bisa pegang perusahaan cabang. Apalagi tahun kemarin papi kalah tender dari dia. Kamu gak malu kalo kamu masih gini gini aja sedangkan kekasih kamu sudah satu langkah di depan kamu?" Tanya Kavin membuat Kalingga terdiam.
***
__ADS_1
Beberapa jam setelah makan pagi, Kalingga dan Kairav benar benar pergi ke perusahaan. Berikut dengan Briella yang memaksa ikut. Katanya bosan terus di rumah.
Ketiga kembar memakai pakaian yang sangat casual. Kairav dan Kalingga memakai jas berwarna berbeda. Kalingga berwarna hitam sedangkan Kairav berwarna abu abu tua. Sedangkan Briella memakai dress biasa saja, namun tetap terlihat menawan.
Ketiganya berjalan di belakang papinya. Banyak pasang mata yang melirik ke arah ketiga anak tersebut. Jarang sekali bahkan tidak pernah CEO membawa serta anak anaknya ke perusahaan. Selama ini dia hanya membawa istrinya saja.
"Selamat pagi tuan Kavinder," sapa seorang pria.
Kavin tersenyum, "Selamat pagi Mathew."
"Selamat pagi tuan muda dan nona muda," sapa Mathew.
"Pagi," sapa ketiganya.
"Semuanya sudah menunggu di ruang meeting. Mari," ucap Mathew. Pria itu mempersilahkan Kavin untuk berjalan lebih dulu diikuti oleh anak anaknya. Mathew adalah manager di perusahaan milik Kavin. Dia adalah anak asisten lama Kavin yang sudah meninggal dunia.
Ketiga kembar bersama papinya masuk ke dalam sebuah ruangan. Di ruangan tersebut sudah duduk beberapa orang yang sudah menunggu mereka. Ketiga kembar duduk di kursi yang sudah disiapkan. Seperti biasa, Briella selalu duduk diantara kedua kakak laki lakinya.
"Mulai saja," ucap Kavin. Rapat pun dimulai saat orang dari inti perusahaan hadir.
Selama rapat berlangsung, hanya rasa bosan yang hinggap. Namun baik Briella atau pun kedua saudara laki lakinya tetap diam mengikuti rapat sampai selesai.
Sejak tadi, ponsel Kalingga terus berdering. Dia menduga jika itu adalah Ailee. Kekasihnya pasti menghubunginya. Namun sial sekali dia tidak bisa mengangkatnya. Dia masih di ruangan meeting.
Namun lama lama, Kalingga juga penasaran sebab ponselnya terus berdering. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan mengeceknya. Pesan? Kalingga kira telepon dari kekasihnya.
"Nomor tidak dikenal?" Gumam Kalingga saat melihat notifikasi pesan yang muncul. Kalingga mengkliknya. Itu sebuah foto. Tapi foto apa dan dari siapa?
Mata Kalinggga langsung menatap tajam ke arah foto tersebut. Dia tidak mungkin salah mengenalinya. Tapi siapa yang mengirimkan foto ini padanya? Nomornya bahkan tidak terdaftar di kontak miliknya.
Tbc.
__ADS_1
Saha cing🤨