Mengejar Cinta Mr. Ling

Mengejar Cinta Mr. Ling
255. Ditinggal Tanpa Pamit


__ADS_3

***


"Ya udah sih gak usah dibahas lagi. Mending siap siap aja, bentar lagi kita harus ke rumah kamu. Katanya mami kamu ajak aku makan malem," ucap Ailee.


Seolah tidak ada kata kata lain setelah terjebak dalam ucapannya sendiri. Hanya kata kata itu saja yang terucap. Ailee benar benar tidak memikirkan dampak dari kecerobohannya. Seharusnya dia bertanya biasa saja, bahkan seharusnya memasang ekspresi yang biasa saja. Tapi ini.., entahlah Ailee benar benar bodoh.


Sedangkan Kalingga hanya tersenyum miring. Gadis ini tidak pandai berdalih namun pandai sekali menjebak dirinya pada ucapannya sendiri. Tidak perlu memastikan lagi, Kalingga sudah yakin seyakin yakinnya jika kondisi mental Ailee memang terganggu. Namun bukan gila, ingat bukan gila. Ailee hanya perlu berkonsultasi saja. Dan dengan begitu Ailee tidak akan melakukan hal hal bodoh lagi.


"Baiklah, kita berangkat sekarang," ucap Kalingga. Ailee tersenyum dan mengangguk.


Sementara itu di kediaman Kavin, Ashel tengah sibuk masak dibantu suaminya dan anak sulungnya. Sementara si bungsu terus mengurung dirinya di kamar. Dia bilang, katanya dia lemas dan tidak bertenaga. Jadi dia memilih diam di kamar saja.


Kairav tentu saja mengganggunya tadi, namun satu teguran dari Ashel langsung menghentikannya. Ketiga kembar memang sangat menurut pada maminya itu.


Entah ada apa dan kenapa dengan perasaan Briella. Pikirannya terus saja memikirkan pria dewasa itu. Iya, Briella terus memikirkan Klein. Pria itu tiba tiba menghilang tanpa kabar. Seharusnya Briella bersikap biasa saja kan? Toh Klein hanya kenalannya saja. Tapi entah mengapa rasanya sangat aneh sekali.


Selama di Boston juga, Briella tidak pernah bertemu dengannya lagi. Bahkan Briella tidak lagi mendapatkan pesan dari pria itu.


"Apa mungkin dia udah punya cewek ya? Yang namanya pria dewasa apalagi orang kayak Klein gak mungkin kalo gak punya pacar," gumam Briella. Gadis itu tengah tidur terlentang sembari memegang ponselnya dengan kedua tangannya diatas wajahnya. Briella terus mengamati chat terakhirnya dengan Klein yang tidak mendapatkan balasan apapun. Jangankan balasan, dibaca pun tidak.


"Apa jangan jangan dia udah nikah?" Tanya Briella terkejut. Bahkan saking terkejutnya gadis itu sampai bangun dari tidurannya dan terduduk.


"Bisa jadi. Dia udah usia usia mateng buat nikah. Syukur kalo dia belum nikah setelah deketin gue kemarin. Kalo udah kan gue pastinya dianggap pelakor anjir," ucap Briella.


Ada baiknya setelah mendekati Briella kemarin Klein memang belum menikah. Bayangkan jika sudah menikah. Briella menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak boleh lagi memikirkan pria itu. Kasihan istrinya nanti jika suaminya terus dipikirkan oleh Briella yang hanya orang lain.


"Masih banyak cowok tajir, bahkan sugar daddy juga. Yang penting harus pinter pinter nyarinya. Yang penting jangan sama orang modelan kayak Klein," ucap Briella. Gadis itu pun menghapus nomor Klein berikut dengan percakapan terakhir mereka.

__ADS_1


Inilah sifat asli Briella. Jadi jangan heran, Briella tidak akan pernah sudi menangis gara gara cinta seorang laki laki. Karena menurutnya laki laki di dunia ini masih banyak. Meskipun nantinya semisal dia memang tidak ditakdirkan memiliki kekasih sampai ia mati, ia sama sekali tidak masalah. Yang penting saat ini, dia hidup dengan aman dan damai serta berkecukupan. Itu sudah lebih dari cukup.


"Ini waktunya liburan. Artinya gue harus seneng seneng, besok gue ajak Ailee, kak Ling sama bang Kai jalan jalan kota Jakarta. Kalo perlu besok ke Bandung juga buat ketemu oma sama opa. Ahh, bayanginnya aja udah bikin gue semangat," ucap Briella.


"Gue harus siap sediain perut ini. Kuliner Indonesia apalagi jajanannya gak keitung. Gue harus coba semuanya, harus pokoknya," ucap Briella bersemangat.


"BUKA PINTU WOI, ANAK AYAM AJA JALAN JALAN DILUAR MASA ANAK MANUSIA DIEM DI DALEM KAMAR MULU. GAK SENEWEN LO?!"


Briella mendengus kesal mendengarnya. Pengganggu seumur hidupnya kembali berulah. Entah kenapa Kairav selalu saja membuat darahnya naik sampai mendidih. Sepertinya kakaknya itu tidak pernah bisa sehari saja membuatnya tenang dan tentram.


"DIEM BANG!!" Teriak Briella tak mau kalah.


"KELUAR GAK LO? GUE SERET JUGA SEKALIAN."


"LO PUNYA ATTITUDE BAIK GAK SIH?! TERIAK TERIAK GAK JELAS, GUE EMANG ADEK LO TAPI YANG SOPAN DIKIT. KITA SEUMURAN," ucap Briella.


"Gak putus cinta bang, tapi ditinggal tanpa pamit," ucap Briella pelan. Gadis itu pun berjalan menuju ke pintu kamarnya lalu membukanya. Disana Kairav tengah berdiri dengan bersidekap dada. Saat Briella muncul, tatapan heran dilemparkan oleh abangnya itu.


Briella meliriknya lalu memutar bola matanya dan menarik pintu kamarnya cukup keras, hingga...


Blammm..


Kairav terjingkrak kaget mendengar pintu kamar yang ditutup keras. Tubuhnya bahkan sampai bergerak, tangannya dengan refleks memegang dadanya.


"WOI ANJIR DOSA LO SAMA GUE," teriak Kairav. Sedangkan Briella sudah berlari ngacir sejak tadi guna menjauhi Kairav.


Briella berlari menuruti tangga. Bodohnya tidak memakai lift. Mungkin karena takut abangnya keburu mengejarnya dan memitesnya. Tidak boleh, itu tidak boleh terjadi.

__ADS_1


Briella terus berlari sampai tidak memperhatikan jalannya ke depan. Matanya terus menatap ke arah bawah. Tepat di depannya, Kavin sedang berjalan membawa sup yang cukup panas. Mata pria itu melotot melihat anaknya yang tengah berlari ke arahnya.


Meskipun sudah berumur, ketangkasannya masih tetap sama. Kavin mengangkat sup itu dan menghindar secepat kilat dari sana.


"Adek!!"


"Pi," cicit Briella saat ia melihat raut wajah papinya yang tidak bersahabat.


Di belakangnya berdiri Kairav yang baru turun tangga. Pria itu bergumam, "Mampus."


***


"Papi gak ngerti lagi gimana caranya buat kalian disiplin dan gak terus terusan kayak anak anak kecil. Kalian udah remaja."


Yah, sesaat setelah tragedi penabrakan tidak jadi, Kairav dan Briella langsung diminta duduk menghadap Kavin. Gunanya hanya untuk memberitahu anak anak bandel ini agar tidak selalu saling berkejar kejaran. Beruntung jika tidak menimbulkan bahaya, bayangkan jika sampai menimbulkan kecelakaan seperti tadi. Untungnya Kavin sigap.


"Abang yang salah pi, harusnya abang gak kejar kejar adek," ucap Kairav.


Briella yang sejak tadi menundukan kepalanya menoleh sedikit ke arah abangnya. Selalu seperti ini. Kairav memang selalu mengganggunya bahkan selalu membuatnya naik darah. Namun Kairav jugalah yang selalu melindunginya. Pria ini selalu berada di garda terdepan untuk melindunginya.


"Bang," bisik Briella. Kairav hanya tersenyum dan mengedipkan matanya.


Kavin tentu menyadarinya. Kedua anaknya yang cukup tidak diam ini memang selalu ini ketika sedang ia nasehati.


"Abang salah pi, papi boleh kasih apa hukuman. Asal jangan adek."


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2